kisah tes CPNS

Ketika Tes CPNS Datang dan Perihal Kekuatanku

At times I may think everything is going wrong. Yet I don’t realize that. Allah is setting everything right (halaman 99).

Membaca dari manapun, buku Allah, Aku Rindu kepada-Mu adalah bagian dari perantara Allah untuk episode yang sedang aku jalani. Sebelumnya, aku selalu mengeluh. Okay jujur, aku dulu tak pernah merasa bahwa aku mengeluh. Hatiku tertutup kesombonganku.

Ya Allah, ampuni aku. Ampuni atas segala kesombonganku (halaman 9).

Namun, aku tak pernah menyadarinya. Selalu menyalahkan orang lain atas semua keburukanku, menuduh bahwa semua yang mereka lakukan terhadapku menjadi penyebab nasibku saat ini. Ya Rabb.

Terlebih, aku menyalahkan orangtuaku. Orang-orang yang kasihnya lebih besar dari siapapun manusia di dunia ini kepadaku. Bapak, Ibu, maafkan anakmu ini …. Pikiran sempit yang jarang mengingat Allah ini dengan naifnya menyalahkan keadaan. Keadaan yang dengan tepat Allah ciptakan untukku tanpa kurang suatu apapun.

Jika dengan hatinya seseorang berpikir tentang keburukan perilakunya dan melihat kenyataan-kenyataan negatif di dalamnya, maka dalam sanubarinya timbul kehendak untuk taubat … (halaman 127).

Ah, ini toh yang dulu aku selalu aku rasakan. Iya, selama aku merasa cemas dan akhirnya divonis depresi, kok Allah selalu menunjukkan kesalahan-kesalahanku. Aku selalu overthinking dengan semua yang telah aku perbuat. Ya Rabb, ini jalan-Mu atas semua doa-doaku selama ini. aku meminta diberikan petunjuk, maka Kau beri. Tapi aku malah tidak sadar.

Dalam episode yang lain, aku mulai merasakan ketenangan. Ini adalah pengalaman batin yang baru pernah kurasakan. Saat aku sedang halangan sholat, hari itu datanglah undangan tes CPNS kepadaku. Kejadian-kejadian yang tak pernah kuduga, yang semuanya telah Allah atur tentunya.

Do only for Allah’s pleasure and I will never be disappointed. Sungguh, karena Allah menggerakkan tanganku untuk membuka sembarang halaman di buku Allah, Aku Rindu kepada-Mu, halaman 67 terpampang. Mengajarkanku untuk menghadapi episode sebelum tes CPNS ini. Dhit, kembalikan semua kepada Allah. Ada bisikan hati—yang tentunya adalah petunjuk Allah—menuntunku harus bersikap apa sekarang.

Hari sebelum tes tiba.

Matahari mulai menarik dirinya untuk menjauhi timur. Kepalaku terasa pening. Sepertinya aku kelamaan tidur siang. Kulemaskan persendian, mengulet agar badan lebih santai. Ah, sudah jam berapa sekarang? Aku ingat telah menaruh ponselku di atas meja samping kasur. Di sanalah letak jam yang aku tanyakan tadi. Ah, ternyata sudah jam 16.00 WIB. Pantas saja, tubuhku menolak lamanya tidur siang ini dengan mengirimkan sinyal pening di kepala.

Eh, ada beberapa pesan di ponsel. Tumben sekali banyak yang menghubungi diriku. Tapi, sebentar, Ibuku mengirim pesan. Tepat H-1 sebelum aku tes CPNS. Ada apa gerangan?

Dhit, insyaallah … Bapak/Ibu nanti malam ke Jogja. Posisi di mana?

Allahu Akbar! Allah menjawab doa-doaku. Selain aku meminta didoakan agar tes CPNS lancar mengerjakan dan diberi kemudahan, aku sebenarnya rindu mereka. Bapak dan Ibuku. Aneh enggak sih kalau aku yang sudah hampir delapan tahun menikah ini, masih saja merindukan mereka? Tapi tak apalah dibilang aneh, toh aku hidup lebih lama dengan mereka. Wajar saja aku masih saja ingin manja. Kehadiran mereka seperti oase di tengah gurun, menyejukkan.

Alhamdulillah, nanti malam masih di rumah, Bu. Tesnya kan besok sore. Jam berapa berangkatnya?

Aku dengan cepat membalas pesan Ibu. Sudah satu jam ibu mengirim pesan dan aku baru membalasnya. Semoga ibu tidak menunggu terlalu lama untuk mendapatkan kepastian jawaban putrinya ini.

Perihal tes CPNS ini, persiapan yang telah aku lakukan berada di kisaran 70%. Sisanya, aku memfokuskan diri pada keluarga dan kesukaanku menulis. Aku telah berjanji pada-Nya untuk selalu memprioritaskan keluarga setelah Dia.

Jujur saja, ada ketidakpercayaan diri yang muncul saat aku harus mengikuti rangkaian pendaftaran tes CPNS. Sudah hampir 4 tahun aku selalu mendapati ibuku bercerita akan hebatnya PNS itu. Dulu, aku sangat sebal mendengarnya. Hahaha. Seperti kaset yang berulang disetel. Butuh proses bagiku untuk bisa menerima semua cerita demi cerita tersebut.

Ketika aku mendapat ujian-Mu, seharusnya aku bergegas tersadar dari kelalaian … (halaman 112).

Aku merasa ini ujian bagiku. Di mana aku dan suami sudah mematangkan program keluarga untuk anak, tapi ada wejangan dari orangtua yang membuat kami bimbang karena berbenturan dengan progam tersebut.

Lalu, aku mulai meraba-raba, apakah benar itu permasalahannya? Bagaimana dengan ibu lain yang bekerja karena kebutuhan, namun program keluarganya juga jalan. Apa sih yang sebenarnya mengganjal dalam hati kami ini?

Aku suka menulis, sangat suka. Menulis sudah menjadi bagian hidupku semenjak aku kecil. Aku memang tak pernah mempublikasikannya. Lah wong aku menulis tentang diriku kok di diary. Tapi, aku sangat menceritakan hal detail tentang perasaanku waktu itu. Rasanya, semua yang aku khawatirkan mulai menguap setelah aku menulis. Belakangan ini kusadari, ternyata menulis itu adalah salah satu terapi mengelola emosi.

Ya, aku suka menulis dan mulai bergabung dengan komunitas sealiran dua tahun yang lalu. Jadi, apa hubungnnya dengan tes CPNS-ku? Ada, pastinya sangat berhubungan. Kamu mau menyimak lebih lanjut, kan?

Kalau kamu ingin tahu, aku menyiapkan diri untuk tes CPNS ini sekitar 4 bulan yang lalu. Membeli sebuah buku penuh soal-soal sesuai kisi-kisi sudah kulakukan. Tak lupa juga aku mengerjakannya saat malam tiba. Ya, walaupun tidak selalu tiap malamku kuisi dengan membuka buku tadi. Seperti yang sudah kubilang, aku lebih memprioritaskan diri kepada hal-hal yang menurutku grade-nya lebih tinggi.

Tulisan yang dikutip dari buku Mas Dwi Suwiknyo Seri Mardhatillah ini, “Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau serahkan aku pada diriku sendiri meskipun sekejap mata. Perbaikilah segala urusanku, tiada Tuhan selain-Mu,” selalu menemani setiap langkahku.

Setelah semua kegagalanku dalam hidup, aku tak segan meminta pertolongan-Nya. Walau mungkin belum benar semua langkah yang kuambil, aku akan tetap meminta petunjuk Sang Maha Pemilik Segalanya itu.

Sampai matahari meninggalkan cakrawala di ujang barat, ibu belum lagi membalas pesanku. Tak apa, Allah pasti sudah mengatur segala sesuatuya dengan rapi. Aku hanya tinggal menjalankan saja sesuai perintah-Nya. Aku semakin khusyuk membaca. Bukan tentang soal-soal yang besok akan keluar. Aku sudah cukup bercumbu dengan mereka.

Sebuah buku berisikan muhasabah diri ini, Allah Aku Rindu kepada-Mu. Iya, aku merasa ini yang sedang aku butuhkan sekarang. Aku tak mau menaruh tumpuan hidupku pada tes. Aku sudah berusaha dan berdoa. Sekarang, aku akan bertawakal.

Tepat pukul 05.30 WIB, sebuah ponsel berdering kencang.

Aku terkesiap demi menyeimbangkan tubuhku. Aliran darah mengalir deras karena aku melonjak. Yes, bapak ibu sudah sampai Jogja. Semalam tak terdengar kabar lagi dari mereka. Pukul 01.00 WIB, aku menutup mata untuk sementara, mengistirahatkan badan, memberi hak untuk tubuhku. Maka, pesan pukul 02.30 WIB tak sampai kepadaku. Dari jarak 150 km di sana, bapak ibu mendatangiku untuk memberikan dukungan. Masyaallah.

Bu, Pak, jika kamu tahu aku dulu pernah sebal kepadamu, maafkan aku. Aku hanya merasa kebutuhanku saat ini telah Allah mampukan melalui suamiku. Namun, aku juga tak boleh berhenti berharap. Aku akan berjuang sejalan dengan doa-doamu yang mengalir deras. Ingin anaknya menjadi PNS. Aku tak memberikanmu hal-hal yang muluk, aku berjuang sesuai kemampuanku. Semoga Allah memberikan rida-Nya

Aku bergumam dalam hati saat Bapak dan Ibu beristirahat di kasur kamarku. Kulihat kelelahan yang menaungi mereka berdua. Rasanya aku ingin memeluk mereka masing-masing, tapi aku tak mau menganggu waktu tidur mereka. Ya Rabb, berikanlah kemurahan rezeki kepada Bapak dan ibuku.

Saat siang, ibu dan bapak telah bersiap. Aku, anak-anak dan suami pun telah menanti. Kami menuju tempat tes sembari membicarakan hal-hal menyenangkan di jalan. Suami yang bertugas mengendarai mobil, menyetir dengan tenang. Memancarkan aura-aura melegakan saat aku melihatnya. Aku berharap, Allah memberikanku ketenangan persis seperti itu saat aku mulai mengerjakan tes.

Panitia tes CPNS mulai mengumumkan hal-hal yang harus ditaati selama tes berjalan, aku menunggu di ruang tunggu. Peserta sesi ke-4 masih mengerjakan tes di dalam ruangan. Aku, peserta sesi ke-5, dan teman-teman seperjuangan lainnya, menyimak pengumuman dengan khusyuk.

“Tiga baris ke belakang untuk peserta perempuan. Peserta laki-laki nanti ya setelah perempuan. Kalian nanti yang akan melindungi teman-teman perempuan di belakang.” Seorang panitia yang mengumumkan aturan masuk ruangan tes menyampaikan dengan humoris.

Aku tersenyum di antara barisan. Tidak ada 30 menit kami menunggu untuk masuk. Petugas memeriksa barisan kami dengan mengecek telinga, pundak, baju, pinggang, saku baju kami, menghalau kalau-kalau ada yang berbuat curang. Tes CPNS tahun ini sangat ketat. Kecurangan diminimalisir. Sebelumnya, aku mendapatkan nomor pin pribadi untuk masuk ke dalam program CAT (Computerized Assessment Test) yaitu tes berbasis program di dalam komputer untuk SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) CPNS.

Allahuma salli ‘ala Muhammad, wa ‘ala Ali Muhammad. Aku merapal sholawat berkali-kali hingga panitia memgumumkan cara masuk ke progam CAT. Aku menyimak dengan tenang. MasyaAllah, semesta mendukung apa-apa yang aku harapkan. Allah mengijabahnya. Bahkan tak ada kekhawatiran akan apa yang akan terjadi, apapun hasilnya aku terima.

Aku keluar dengan tenang. Jalanku teratur, kaki kanan maju lalu kaki kiri setelahnya. Ya, tidak berlebihan. Aku mencari-cari sosok suamiku, teman hidupku. Juga sosok cinta pertamaku, Bapak. Aku tahu pasti mereka sedang berada di antara puluhan orang yang berjubel. Mengamati layar LED yang menampilkan skor tiap bagian, TWK, TIU dan TKP.

Kata-kata kekhawatiran Bapak untukku, akan kegagalanku dan apa yang seharusnya aku perbuat tadi saat tes, tak sedikitpun membuat senyumku berhenti mengembang. Ya, aku kini yakin Allah sudah menjamin rezekiku. Jadi, untuk apa aku harus kecewa, kan?

Lalu, kau tahu apa yang Allah berikan padaku dua hari setelahnya? Tawaran menulis sebagai kontributor suatu instansi dan job blogger datang. Bahkan tak perlu menunggu dalam jangka panjang. Allah, dua hari Kau sudah memberikan jaminan rezeki untukku. Tinggal, aku sekarang berikhtiar. Bismillah.

Maka segala hal yang kumiliki itu bermanfaat, bila dengan adanya semua itu semakin membuatku taat kepada-Mu (halaman 66).

Terima kasih Allah, telah memberikanku perantara untuk menuju pertaubatanku melalui buku ini.

Buku Seri Mardhatillah

Judul Buku: Allah, Aku Rindu kepada-Mu.

Penulis: Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Cetakan: Pertama, November 2018

Tebal: 168 halaman

ISBN: 978-602-52799-0-4

***

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan