Ilustrasi dari Islamozaik.

Kini Aku Yakin, Takdirku Selalu yang Terbaik

Dari kecil aku sudah kenyang dibully. Di kelas aku lebih sering duduk sendiri, gak ada yang mau duduk bersebelahan denganku. Kalaupun ada yang mau duduk bersamaku itu karena paksaan dari guru.

Ejekan terang-terangan atau sindiran menjadi santapanku setiap hari. Pernah aku mogok gak mau sekolah. Beruntung aku punya ibu yang selalu memotivasi.

“Bu, kenapa Alloh begitu kejam kepadaku, kenapa aku diciptakan berbeda?” tanyaku suatu hari.

Lembut ibu membelaiku. ”Alloh itu sayang sama kamu, coba kamu lihat di desa kita, adakah orang yang sama seperti kamu?”

Aku menggeleng.

“Itu artinya kamu istimewa, kamu dipilih oleh Alloh,” lanjut ibu dengan senyum khasnya.

Ejekan dari teman-temanku, membuat aku dendam pada mereka. Aku bertekat akan sekolah tinggi, akan kubuktikan, aku sama dengan mereka, hanya kulitku saja yang berbeda. Aku terlahir dengan kulit berwarna pucat, begitupun rambutku. Ya aku albino. Kelainan bawaan yang membuatku dikucilkan.

Kuhabiskan hari-hari sepulang sekolah dengan membantu ibu menjahit. Aku membantu ibu memasang kancing, atau menjahit lipatan baju. Kata ibu jahitan tanganku sudah rapi.

Aku baru saja melepas sepatu saat sebuah salam tertangkap telingaku. Aku keluar buru-buru. Seorang gadis dengan jilbab biru muda senada dengan bajunya tersenyum ramah.

“Ibu ada?” tanyanya.

Aku mempersilakan masuk dan memanggil ibu. Ibu sedikit terkejut melihat tamunya.

“Eh …. Mbak Winda, apa kabar lama gak ketemu?”

Mbak Winda anak pelanggan ibu, ia datang mau menjahitkan kebaya untuk wisuda. Selembar kain warna hijau toska dikeluarkan dari tas oleh Mbak Winda. Tampak payet-payet cantik menghiasi kain itu saat Mbak Winda membuka lipatannya.

“Cantik sekali!” seru ibu.

“Ini aku buat sendiri lo, bu …” kata Mbak Winda.

Itulah awal pekenalanku dengan Mbak Winda. Dari Mbak Winda aku belajar menyulam payet.

“Sulamanmu bagus, Ra, rapi.” Puji Mbak Winda saat melihat hasil pekerjaanku.

“Kalau kamu mau, besok kamu bisa bantu mama, buat pasang payet. Pesanan jilbab dan gamis banyak, tenaga sulam kami kurang,” tawar Mbak Winda.

Tentu saja tawaran itu, aku terima. Aku bisa membantu orang tuaku, paling tidak untuk uang saku.

Selain menyulam, aku juga diminta Mbak Winda jaga stand bila ada even-even. Uang dari hasil kerja, sebagian aku tabung untuk biaya kuliah.

Aku baru jaga stand saat, HP-ku bergetar.

“Ra, cepat pulang bapak kecelakaan!” suara ibu panik.

“Di mana bu?” Gugup aku menjawab.

“Sekarang sudah di rumah sakit, cepat ke sini!”

Jantungku berdegup lebih kencang. Bergegas aku menuju rumah sakit.  Aku langsung menuju UGD. Bapak dan ibu duduk berdampingan menghadap dokter yang tengah memegang hasil rontgen, bertiga kami mendengarkan penuturan dokter.

“Bapak cidera patah tulang di bahu dan patahannya tidak bagus, jadi harus segera dilakukan tindakan operasi.”

Bapak nampak masih ragu mengambil keputusan.

“Kalau tidak segera ada tindakan, patahan bisa bergeser dan bisa melukai syaraf yang ada di sekitarnya,” lanjut dokter.

“Iya, dok, segera operasi saja,” ujar ibu.

Dua jam bapak menjalani operasi. Selama beberapa hari bapak dirawat di rumah sakit. Hari ketiga bapak sudah diizinkan pulang. Bagian penetapan biaya mengabarkan biaya operasi dan rawat inap sebesar sepuluh juta rupiah.

“Sepuluh juta,” desisku. “Uang dari mana ya Alloh,” aku bingung.

“Ibu ada tabungan, tapi paling cuma lima jutaan, Ra.” Ibu menangkap kebingunganku. “Ibu juga bawa uang kas RT, nanti ibu bilang bu RT, kalau uang ibu pinjam.”

Aku juga punya tabungan, tapi uang itu akan aku gunakan untuk kuliah. Hampir tiga tahun aku mengumpulkan. Kalau aku gunakan untuk bapak, kuliahku akan tertunda. “Ya, Alloh mudahkanlah urusan kami,” rintihku.

Bapak akhirnya dapat pulang dengan uang tabungan ibu dan tabunganku. Sedih, namun lega. Uang bisa dicari lagi yang penting bapak bisa pulih. Kuliah juga bisa tahun depan bila tahun ini aku belum diizinkan.

“Jangan menyerah, coba ikut program bidikmisi,” kata Mbak Winda saat kuceritakan keresahanku.

“Banyak jalan yang bisa kamu coba Ra, biar bisa kuliah,” Mbak Winda menyemangatiku.

Aku mengikuti saran Mbak Winda mencoba keberuntungan mengikuti program bidikmisi. Sebenarnya aku tidak terlalu berharap, karena peminat program itu sangat banyak. Kemungkinan lolos sangat kecil.

“Tidak ada yang tidak mungkin, bila Alloh sudah berkehendak. Tinggal kita mementaskan diri untuk layak dipilih. Perbaiki ibadahmu, banyak-banyak mengingatNya,” tutur Mbak Winda.

Sejak kelas tiga aku tidak membawa pekerjaan ke rumah. Semua pekerjaan memasang payet aku kerjakan di rumah Mbak Winda. Itu pun seminggu hanya satu dua kali bila aku punya waktu senggang. Waktuku banyak tersita untuk persiapan ujian akhir. Baru setelah selesai ujian aku membawa pekerjaan pulang.

Suara getaran HP menghentikan tanganku mengemas gamis yang baru selesai aku sulam.

Sebuah pesan WA masuk. Kulihat dari Mbak Winda.

“Selamat Ra, kamu lolos bidikmisi, coba buka Webbnya.”

Dadaku berdesir lembut membaca pesan Mbak Winda. Gugup jempolku mencari Web SNMPTN. Beberapa detik mencarianku menemukan hasil. “Raisya Amalia, yah benar namaku ada di situ,” pekik kutertahan.

Subhanallah, Fa bi’ayyi aalaa’irobbikumaa tukazzibaan.

Oleh: Siti Nurhayati.

Ilustrasi dari sini

Tinggalkan Balasan