Gugup, deg-degan, berbunga-bunga, senang, pipi merah, semuanya bercampur menjadi satu di satu waktu.

Malam itu aku lamaran. Tanggal 28 Juli, aku mencatatnya, pula mengabadikannya pada salah satu media sosialku. Kamis, 9 Agustus terpilih sebagai hari akad. Aku mulai membayangkan bagaimana aku pada hari itu, disaksikan banyak mata, sudah pasti lebih gugup dari lamaran yang sekarang. Kemudian aku tak lagi tinggal di rumah yang selama ini memberiku rasa nyaman dan berpisah dengan orang tua.

Manusia hanya bisa merencanakan, namun hanya Allah yang memiliki kuasa menentukan segalanya. Siapa yang menduga pagi-pagi sekali, saat semua orang dengan harapan baru di awal hari, saat sebagian ibu sibuk di dapur, sebagian anak asyik menonton kartun, sebagian bapak bersiap untuk kerja, atau sebagian orang memilih melanjutkan tidur setelah shalat subuh, bumi tiba-tiba bergoyang. Tidak ada pertanda sama sekali.

Duaaaarrrr …

Aku yang sedang di kamar mandi terkejut bukan main. Aku menoleh ke arah pintu, pikirku ada yang menggedorku, ternyata suara rumah tetangga yang roboh. Lantai mulai bergetar, dinding bergoyang, tubuhku bergerak-gerak ke arah selatan dan utara, yang kupikirkan hanyalah keluar secepatnya.

Kamar mandi ini memiliki dua pintu, pertama pintu yang jalan masuknya dari dalam rumah, kedua, pintu yang jalan masuknya dari luar rumah. Andai aku bisa berpikir jernih sedikit saja, aku pasti memilih keluar melalui pintu yang kedua. Tidak ada ucapan lain yang terus keluar dari mulutku selain, “Ya Allah.”

Aku berhasil keluar dari kamar mandi yang disambut pemandangan mengerikan, ruangan penuh debu, barang-barang berjatuhan, lemari-lemari terbuka beserta isinya yang jatuh berserakan. Aku tersungkur, menyisakan memar di lutut.

Di ruang keluarga kulihat ayah dan ketiga cucunya saling tarik, berusaha keluar. Anehnya aku seolah tak menghiraukan mereka, aku seperti egois yang hanya ingin menyelamatkan diri sendiri. Tak ada seruan untuk mereka agar segera lari atau seruan-seruan lainnya. Selangkah kaki maju selangkah pula kaki mundur. Tubuh seperti tertarik ke belakang. Hingga akhirnya kami berempat berhasil sampai di teras setelah gempa berhenti.

Di luar, ibu dan kedua kakakku berteriak histeris, memanggil-memanggil nama kami. Mereka mengira kami sudah tertimbun reruntuhan bangunan rumah karena terlambat keluar.

***

Pagi itu, Minggu, 29 Juli menjadi pagi yang menyeramkan. Keluargaku bersama tetangga-tetangga yang lain berkumpul di halaman rumah kosong di pinggir jalan. Ya, 6,4 SR berhasil memangsa sebagian orang. Kepanikan kian menyelimuti kami dengan suara klakson mobil pick up dan sirene ambulans yang tak putus-putus, pertanda darurat.

Kami menyaksikan langsung korban-korban yang berlumuran darah. Beberapa jam kemudian tersiar kabar bahwa sudah ada korban yang meninggal.

Semua masih terekam jelas dalam ingatan. Ketakutan yang teramat kentara. Tenda-tenda yang dibangun dadakan di sawah, di pinggir kali, di pinggir jalan, atau lahan kosong yang lumayan jauh dari bangunan.

Malam hari, calon suamiku mengirim pesan, bertanya kabar dan memberitahu lokasi pengungsiannya. Kami tidak menyinggung tentang pernikahan, karena yang terpenting adalah keselamatan.

***

Malam keempat di pengungsian, angin bertiup kencang sekali membuat kami (enam kepala keluarga) tidur dalam timbunan debu dan sampah-sampah yang beterbangan. Ya, tenda kami memang jauh dari kata layak. Hanya ada atap tanpa ada dinding. Terpal dibentang, diikat di tiang teras rumah dan bambu tempat ditempelnya spanduk di pinggir jalan. Maka keesokan harinya kami memutuskan pindah ke teras rumah tetangga yang dinding rumahnya dari bahan kayu.

Memang sebaiknya kami membuat tenda yang lebih bagus sejak hari pertama gempa, karena malam Senin, 5 Agustus, lalu getaran 7,0 SR kembali menyapa pada waktu shalat isya. Sembalunku kembali tak bersahabat.

Teras yang sempit memaksa kami berebutan turun, listrik yang padam membuat kami saling injak, ada yang lari ke arah timur dan sebaliknya. Aku sudah sampai di halaman saat mengingat keponakanku yang sedang tertidur. Dengan tubuh bergetar aku kembali ke teras, rasanya dia ringan sekali dalam gendonganku meski berat badannya tak bisa disebut ringan.

“Ya Allah!”

“Allahuakbar!”

“Astaghfirullah!”

“Laailaahaillallah!”

“Anakku!”

“Suamiku!”

Teriakan-teriakan itu masih terekam dengan jelas di pikiranku. Tangis histerisku sambil memanggil-manggil nama ayah, karena hanya ayahlah yang belum kelihatan. Sama sepertiku di hari pertama gempa, ayah juga terjebak di kamar mandi, dan semakin terjebak oleh listrik yang padam.

Bumi lagi-lagi berguncang tanpa henti. Malam itu, kami semua tidur beratapkan langit. Tidak ada yang peduli tubuh menempel pada tikar atau tanah. Beruntung langit tidak ikut menangis mengiringi air mata kami. Kepanikan kami tak cukup dengan adanya gempa, karena malam itu orang-orang juga berlarian mengejar maling bersamaan dengan suara sirene ambulans.

Bagaimana nasib pernikahanku? Jawabannya hanya satu: tertunda!

BMKG menjadi perbincangan yang hangat. “Coba cek BMKG, berapa koma berapa?”

“Apa kata BMKG?”

“Katanya nanti delapan koma ya? Ada juga yang bilang sembilan koma.” dan pembahasan-pembahasan lain yang berhubungan dengan BMKG.

Hingga, entah siapa yang pertama kali memikirkan kepanjangan BMKG adalah: Batal Menikah Karena Gempa. Kemudian orang-orang mulai menjulukiku BMKG.

***

Ketakutan dan kekhawatiran rupanya belum ingin meninggalkan kami. Allah kembali memerintah bumi-Nya berguncang pada malam Senin, 19 Agustus. Meski BMKG mencatat 6,9 SR, tapi bagi kami yang tinggal di Sembalun malam itulah yang paling dahsyat.

Bangunan seperti tidur, lalu mengembalikan dirinya ke bentuk semula. Longsor di mana-mana, batu-batu di pegunungan dan perbukitan berjatuhan, warga yang rumahnya tepat berada di bawah bukit dijemput TNI untuk diungsikan di lapangan umum. Kami berpikir gunung-gunung sudah rata dengan tanah.

Aku bertanya pada diriku sendiri, apa ada kehidupan di hari esok? Masihkah keselamatan kami rengkuh? Sebab harapan untuk hidup seperti tak lagi ada. Calon suamiku mengirim pesan, bertanya apa aku baik-baik saja, tapi tak kuhiraukan.

Sekali lagi, semua masih terekam jelas dalam ingatan.

Hari-hari berikutnya julukan-julukan yang ditujukan padaku semakin beragam. BMKG, pengantin tertunda, pengantin cancel, pengantin gantung, dan julukan-julukan aneh lainnya.

Aku berusaha merasa biasa-biasa saja, karena tak mungkin memaksakan kehendak dalam kondisi yang sulit. Rumahku rusak, rumahnya juga. Bisa selamat dari gempa dalam kondisi sehat saja sudah sangat bersyukur.

Yang terus kulakukan adalah mempercayai dan meyakini rahasia Allah pasti yang terbaik. Kapan pun pernikahan yang sudah direncanakan ini akan berlangsung sudah pasti menjadi waktu terbaik yang dipilih Allah. Ya, hanya Allah yang tahu.

Lombok Timur, ditulis oleh Lesparina.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: