SAYA selalu punya pertanyaan tentang definisi bahagia, apakah benar bahwa bahagia itu lahir karena kita memiliki sesuatu? Tetapi, semakin saya mencari tahu, saya menemukan satu hal: bahwa memiliki saja tidak cukup membuat rasa bahagia itu jadi sempurna. Berbagi, iya benar, membagikan apa yang kita punya—tak selalu berwujud benda—adalah sebuah fungsi kuadrat. Semakin kita memberi, semakin rasa bahagia itu berlipat-lipat meningkat.

Ya … itu hanya kesimpulan saya sendiri, atas cerita di balik berdirinya sebuah taman baca anak-anak di Mlangsen, Blora. Tentang dia yang mendirikan taman baca itu. Dia yang membagikan kebahagiaan, menularkan bagaimana bahagianya berdekatan dengan buku-buku kepada anak-anak di sekitarnya. Oh, tak hanya itu, guru bahasa Inggris itu pun mencoba menghidupkan taman baca dengan kegiatan lain, seperti belajar bahasa Inggris, lomba membaca puisi, mewarnai, bahkan bercocok tanam.

Saya penasaran, apa sih, yang dia cari dari menjadi pemilik taman baca? Dan pertanyaan itu, membawa saya bercakap dengannya. Percakapan panjang lebar lewat dunia maya, tapi … ketulusan hatinya benar-benar nyata. Dia bukan perempuan muda yang biasa-biasa saja. Masyaallah.

Beruntung sekali saya bisa berkenalan dengan perempuan ini, panggilannya Mbak Rizqi. Seorang teman—perempuan Blora juga—suatu hari pernah bercerita tentangnya. “Temanku, dia bikin perpustakaan gitu di rumahnya, Masyaallah. Dia balik kampung, terus beneran mbangun itu semua sendiri. Keren!”

Senang sekali, saya bisa menuliskan sosoknya. Perempuan yang saya kagumi, bahkan sebelum saya pernah bertemu. Ada sedikit rasa malu, saya yang sebaya dengannya, kadang masih berpikir bagaimana mencari uang sebanyak-banyaknya. Tanpa saya sadar, di luar sana, ada seseorang yang berpikir tentang bagaimana bisa berbagi untuk orang lain sebanyak-banyaknya. Berbagi, sebisa yang dia lakukan.  

“Keinginan saya sederhana: ingin agar ada ruang baca di rumah saya.”

Kalau dipikir-pikir keinginannya memang sederhana sekali. Bahkan, kita bisa saja merasa itu sepele. Iya, kalau hanya ingin punya ruang baca, itu mudah kan? Sediakan rak dan rajin beli buku, selesai. Apa spesialnya? Ternyata, jawabannya tak sampai di situ,”Sederhana saja, saya ingin ada area membaca di rumah saya. Enggak perlu besar, yang penting saya juga bisa mengajarkan apa yang bisa saya ajarkan. Setidaknya, satu pekan sekali bisa membaca dan bermain bersama anak-anak.”

Satu pekan sekali, memang hanya satu hari. Keinginan sederhana itu, dibayar dengan tenaga yang mahal. Bagaimana tidak? Mbak Rizqi dengan kegiatan yang seabrek itu merelakan hari Minggunya untuk taman baca.

“Pagi, saya membantu Ibu ngurus rumah, ada warung kelontong di rumah,” ucapnya membuka cerita soal kegiatan rutin yang dia jalani.

“Nanti jam sembilan atau sepuluh … bantu Ibu jualan di pasar induk kota Blora. Ibu ada kios sepatu dan sendal di sana. Siangnya, saya ngajar les bahasa Inggris di sebuah lembaga. Lalu, sepekan sekali saya ngajar bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar di Blora.”

Apa? Dia masih rela memberikan hari Minggunya untuk orang lain? Kalau saya, mungkin sudah memilih me time. Istirahat, apalagi hari-hari sebelumnya, sudah disibukkan dengan aktivitas lain. Iya, kan?

Keinginannya memang sederhana, tapi pengorbanannya bukanlah hal biasa bagi perempuan yang usianya masih relatif muda. Usia dewasa muda yang masih dihantui godaan untuk nongkrong, posting kegiatan di media sosial atau sekadar jalan-jalan hanya untuk memenuhi instagram story.

“Memulai memang tidak mudah, tapi saya meyakini Allah pasti membantu.”

Akhir tahun 2016, keinginan mendirikan taman baca itu masih di angan. Masih sebatas ada di pikiran, dan semakin menggebu setelah seorang teman—rekan mengajar di sebuah program mengajar di Thailand—membuka sebuah taman baca di Gunungkidul. Mbak Rizqi memang terinspirasi oleh temannya itu. Sampai, ia beranikan diri untuk menemuinya di Jogja, bertanya perihal mendirikan taman baca.

Sempat ada keragu-raguan yang menghantuinya. “Gimana ya, kalau bikin taman baca di rumah? Kira-kira ada yang mau dateng enggak, ya anak-anak? Gimana caranya ngajak anak-anak ke rumah buat baca?”

Tapi keraguan itu ditepisnya, niat sederhana itu terus ditancap dalam-dalam. Memang, tak ada teman atau sekumpulan pemuda—semisal karang taruna—yang bisa diajak kerja sama. Cukup baginya, mem-follow, bertanya dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang lebih dulu membangun taman baca. Sampai akhirnya, 27 Agustus 2017 taman baca RIZQI LUTHFIA berdiri.

Bagi saya, cerita Mbak Rizqi mendirikan taman baca adalah gambaran dari sebuah ungkapan, tak perlu menunggu sempurna untuk memulai, karena pada akhirnya kesempurnaan itu pun tidak akan didapat oleh manusia. Mbak Rizqi hanya memulai itu semua dengan 40 eksemplar buku, itu bermodal sekitar Rp250.000 dari uang pribadinya.

  Soal tempat, dia pun hanya menggelar tikar di teras depan dan samping rumah, persis di dekat warung kelontong milik ibunya.

“Kendalanya kalau udah masuk musim hujan, Mbak. Enggak bisa gelar tikar di luar. Apalagi kalau sudah telanjur menata buku di luar, eh … turun hujan. Saya mendadak harus membereskan buku-buku. Bacanya pindah ke dalam rumah.” Saya bisa membayangkan betapa repotnya saat adegan hujan turun itu terjadi. Mbak Rizqi yang hanya mengurusnya sendiri harus sigap memindah buku-buku yang jumlahnya tidak sedikit—kadang memang dibantu anak-anak.

“Kalau mood anak-anak lagi turun, yang datang cuma satu dua orang,” tuturnya, ketika saya tanya tentang kendala yang dihadapinya. Ah, kalau dua kendala datang bersamaan, apa jadinya, ya? Musim hujan dan mood anak-anak turun. Dia menyelamatkan buku-buku dari jatuhnya air hujan … sendirian?

Niat itu … memang tidak kenal alasan, ya? If you really want to do something, you’ll find a way. If you don’t, you’ll find an excuse. Kalau kita benar-benar berniat melakukan sesuatu, pastilah kita akan terus mencari cara. Kalau tidak, ya sudah, yang ada cuma beralasan. Orang lain—saya saja, mungkin—bisa saja beralasan, “Saya bikin taman baca nanti saja lah, kalau sudah punya ruang khusus. Kalau belum, repot pas hujan.”

Iya, nanti.

Nanti …

Nanti …

Nanti …

Lalu, tidak pernah terjadi.

Tapi, Mbak Rizqi punya satu prinsip yang membuatnya tidak memilih untuk beralasan. Dia bilang, “Saya yakin bahwa niat baik itu akan selalu menemukan jalan. Mungkin, memang tidak mudah tapi Allah pasti bantu.”

Titik Tersulit: antara Bapak, anak-anak, dan tetangga

Ujian kesulitan itu, bukan saja soal keterbatasan buku dan tempat, melainkan tiga titik pertemuan antara bapak, anak-anak dan tetangga. Ya, bisa dibayangkan, tidak mudah membuat semua orang senang. Niat baik sekalipun, tidak selalu diterima dengan baik.

Ada satu alasan, kenapa Mbak Rizqi memilih untuk kembali ke Blora setelah merantau ke Jogja. Meski dia memiliki pengalamannya mengikuti sebuah program ke luar negeri, itu tidak membuatnya merasa perlu mengepakkan sayapnya ke tempat jauh.

“Saya kembali ke kampung halaman untuk orangtua saya, Mbak. Setelah itu, saya berpikir juga bagaimana bisa tetap produktif meski saya bersama orangtua.”

Sayangnya, niat baik itu sempat terganjal rida bapaknya sendiri.

“Bapak adalah orang yang emosional, saya enggak berani sama Bapak.” Mbak Rizqi menceritakan dengan hati-hati. “Biasanya, kalau anak-anak datang, rumah jadi ramai. Ya, namanya juga anak-anak. Nah, di situ Bapak kelihatan enggak nyaman. Terlihat sekali beliau terganggu.”

Pelan-pelan, dia mencoba meyakinkan sang ayah, lewat ibunya. “Iya, karena saya enggak berani melawan Bapak, saya cerita semuanya ke Ibu. Alhamdulillah, sekarang Bapak sudah terbiasa.”

 Selain sang ayah, rupanya riuh kehadiran anak-anak jadi sebab beberapa tetangga merasa terganggu. Kadang, saat banyak anak-anak yang datang, teras rumah orang lain juga jadi sasaran anak-anak. Mereka duduk-duduk di tepi rumah tetangga yang berdekatan, kadang namanya anak-anak, mereka menerobos pagar dan berlarian tanpa peduli kondisi sekitar.

“Saya sudah izin sih, karena kalau pas banyak yang datang, teras rumah enggak cukup. Saya sebisa mungkin berusaha memberi pengertian ke mereka, bagaimana menghargai tempat yang bukan milik kita,” tutur Mbak Rizqi.

Tapi, yang namanya anak-anak, masih saja ada beberapa yang tetap bandel. Biasanya, mereka meninggalkan sampah di tempat sembarangan. Bisa dibayangkan ya, setahun ini stok kesabaran Mbak Rizqi dalam menghadapi anak-anak masih utuh. Dia bercerita, ketika salah satu tetangganya menampakkan ketidaksukaannya saat sedang menyapu halaman.

“Maaf ya, Mbak, anak-anak buang sampah sembarangan,” kata Mbak Rizqi kepada tetangga samping rumahnya.

“Enggak apa-apa.” Begitu yang terucap dari lawan bicara Mbak Rizqi, tapi jelas terlihat mimik muka yang dingin. Dengan rasa bersalah yang memuncak, Mbak Rizqi coba bantu memungut sampah yang berserakan, tapi responnya masih tetap saja dingin, “Enggak usah, tak sapune aja.

Satu-satunya cara untuk tetap membuat tetangga berkenan adalah dengan memberi arahan pada anak-anak. Saat itu juga, Mbak Rizqi lalu meminta anak-anak untuk minta maaf. Entahlah, bagaimana isi hati si tetangga yang sebenarnya, setidaknya selalu ada usaha untuk melunakkan hati orang-orang yang demikian.

Kembali lagi keyakinan Mbak Rizqi akan bantuan Allah memang tergambar dari bagaimana dia bijak menghadapi kesulitan yang ada.

“Taman baca ini harus aktif, agar anak-anak senang membaca. Tentu, untuk umat Nabi Muhammad yang lebih baik”

Keterbatasan tidak pernah membuat harapan itu mati. Impian sederhana, agar anak-anak senang membaca perlahan menemukan wujud nyatanya. Seorang anak, pernah mengungkapkannya secara langsung pada Mbak Rizqi, “Miss, semenjak belajar sama Miss Rizqi, aku tuh jadi suka baca. Dulu, kalau mau baca rasanya males duluan. Eh, sekarang kalau udah baca, enggak mau berhenti. Hehehe ….”

Alhamdulillah … ya Allah, this is all that I want. Begitu ucapan syukur Mbak Rizqi setelah mendengar ucapan anak itu. Itulah momen paling menyentuh bagi dirinya. Setidaknya, dari sekian banyak anak-anak yang pernah datang, ada yang telah jatuh cinta dengan buku. Hal semacam itulah, yang membuat semangatnya terus terjaga.

“Selagi saya mampu, saya akan terus jalankan. Ke depannya, harus lebih kreatif lagi sih, cari kegiatan supaya anak-anak lebih rajin datang,” ucapnya yakin. Baginya, budaya membaca harus ditanamkan kepada anak-anak karena wahyu yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad adalah iqra’. Jadi, taman baca adalah salah satu wadah, jalan untuk mengajak mereka membaca agar kelak, bisa menjadi umat nabi Muhammad yang lebih baik.

Mengajarkan apa-apa yang kita mampu melakukan ternyata bisa jadi sumber kebahagiaan dan kebahagiaan itu akan selalu bertumbuh seiring banyaknya hal yang kita bagikan. Mbak Rizqi, selamat berbahagia ya! []   

Ditulis oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: