SEBELUM masuk pada pengenalan sosok kali ini, aku ingin bercerita sedikit, nih. Aku mengenal nama orang yang akan dibahas ini, dari novel ‘Karena Aku Tak Buta’ karya Redy Kuswanto. Dari sana, aku mendapatkan ide untuk mengenalkannya kepada kalian, akan sosok yang sangat mencintai negeri kita ini. Sosok asing berjiwa nasionalisme, yang begitu bangga akan negeri kita, Indonesia. Melalui tangan kanannya–Redy Kuswanto–aku mengulik informasi tentangnya.

Dia adalah Rudi Corens, lelaki keturunan asli Belgia. Namun, sejak tahun 1985 dia sudah berada di Indonesia, jadi telah berapa lama dia ada di sini? Yap, 34 tahun Pak Corens hidup di tanah Indonesia, menghirup udara Indonesia, serta menikmati segarnya air Indonesia.

Pak Corens ternyata seorang seniman dan kolektor mainan tradisional yang gemar berkelana. Sebelum berada di Indonesia dia pernah berada di negara lain seperti, Belanda, Italia, Sri Lanka, India, Nepal, Vietnam dan Thailand. Awalnya, Yogyakarta bukanlah tujuan utamanya. Ketika itu dia menjadi dosen terbang di UGM dan ISI. Namun, setelah berulang kali datang ke Yogyakarta, Indonesia pun berhasil membuatnya nyaman dan enggan untuk meninggalkan negara ini.

Pak Corens juga sosok yang sangat mencintai anak-anak dan dunianya. Menurut Pak Corens, anak-anak adalah makhluk Tuhan yang lucu, paling jujur dan tawanya begitu membahagiakan. Ketika belum ke Indonesia pun, dia sudah memiliki komunitas anak-anak, mendirikan sekolah teater untuk anak, menulis buku, dan membuat film untuk anak.

Begitu berada di Yogyakarta, dia merasakan ada yang tidak beres dengan anak-anak dan remaja Indonesia. Mereka, cenderung lupa atau bahkan tidak tahu budaya bangsanya, salah satunya mainan dan permainan tradisional. Mereka cuek. Mereka enggan mengenal dan mencintainya. Padahal, pada awal kedatangannya, di beberapa desa Pak Corens masih melihat anak-anak bermain di luar saat sore atau saat purnama tiba. Mereka menari dan bernyanyi. Saling kejar dengan keceriaan yang tiada henti. Namun, semakin lama dia mengecap kehidupan di Yogyakarta, keasyikan itu seolah semakin sirna. Pak Corens pun prihatin.

Nah, berawal dari keprihatinan inilah, dia bertekad ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak Indonesia, Yogyakarta khususnya. Pak Corens tidak ingin anak-anak Indonesia buta akan tradisi dan budayanya sendiri yang merupakan ciri khas bangsa.

Terlihat ya, saking dekatnya dengan dunia anak, dia begitu mengenal bagaimana anak-anak di lingkungannya. Dari sana juga dia berupaya agar kebudayaan, serta tradisi itu tidak hilang dari negeri ini.

Kebetulan sekali, dia membawa koleksinya yang berkaitan dengan dunia anak ke Yogyakarta. Koleksi tersebut berupa alat-alat permainan, buku cerita lama dan foto-foto kehidupan anak tempo dulu. Dia ingin koleksinya menjadi media belajar bagi masyarakat, terutama anak-anak. Atas usulan beberapa teman dekatnya, pada tanggal 2 Februari 2008 dibukalah museum yang konsen pada dunia anak tempo dulu. Koleksi tersebut ditempatkan pada lemari kaca di sebuah ruangan yang dinamakan Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga atau biasa disebut Museum Anak Kolong Tangga.

Dinamakan Kolong Tangga ini ada alasannya, lho, karena letak bangunan tersebut persis berada di bawah tangga concert hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) lantai dua.

Unik, kan? Mari kita mengenal lebih dekat dengan museum tersebut dan pendirinya.

Pada awalnya, untuk mengisi Museum Anak Kolong Tangga menggunakan milik pribadinya, saat itu sekitar 1000 buah. Seiring berjalannya waktu dan museum sudah dikenal karena kegiatannya bersama anak-anak, banyak donatur yang memberikan tambahan koleksi, ada juga hasil menukar barang museum dengan kolektor lain, hadiah dari para kedubes luar negeri di Indonesia, atau harus membeli lagi jika kebetulan ada dana. Saat ini objek yang terkumpul hampir 22.000-an. Bukan saja dari Indonesia, banyak di antaranya dari luar negeri, seperti Italia, Belanda, jerman, Polandia, Korea dan beberapa negara lainnya.

Untuk kegiatan museum, Pak Corens tidak sendirian. Dia menghimpun anak-anak muda yang memiliki visi serupa dengannya untuk menjadi relawan cuma-cuma. Nah, merekalah yang membantu menghidupkan Museum Anak Kolong Tangga. Di ruangan yang berukuran 5 x 27 meter itu pun, sehari-harinya dipenuhi oleh keceriaan anak-anak dan para relawan. Selain kunjungan, anak-anak juga berkegiatan di sana. Semua pengunjung anak di bawah 14 tahun, bisa datang dan berkegiatan secara gratis di sana. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan para relawan meliputi: Kelas workshop keterampilan, kunjungan ke sekolah-sekolah di pedalaman, membuka taman baca, pemandu museum dan menerbitkan majalah.

 “Jangan berhenti meyakini, apa yang kita lakukan adalah baik dan bermanfaat.”

Kalimat tersebut merupakan moto hidup dari Pak Corens. “Bermanfaat di sini, bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri, yakni hidup, waktu, dan tenaga yang bermanfaat untuk banyak orang,” jelas Redy Kuswanto.

Pada Juli 2017, Pak Corens dan para relawan menangis. Baru saja mereka kembali beraktivitas setelah libur lebaran, tiba-tiba saja mendengar kabar yang mengejutkan. MUSEUM KOLONG TANGGA HARUS TUTUP!

Rasa tak percaya membawa dirinya bertemu Direktur TBY untuk meminta kejelasan mengapa halaman museum sudah diobrak-abrik tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pak Corens tidak yakin Direktur TBY bersikap begitu. Ini pasti ada kesalahan, pikirnya saat itu.

Namun, ini bukan kesalahan. Ini bukan sebuah mimpi. Museum Anak Kolong Tangga memang harus meninggalkan Taman Budaya Yogyakarya, disebabkan tempat yang biasa digunakan oleh museum akan dipakai oleh pihak Taman Budaya untuk kepentingan program kegiatan mereka.

Bagai dihantam godam, Pak Corens terpaku dan tak mampu bicara. Dia tak paham, mengapa manusia bisa sekejam itu? Memang, Pak Corens paham, Direktur TBY tidak mau memperpanjang kontrak sejak enam tahun yang lalu, tetapi bukan berarti semena-mena mengobrak-abrik museum begitu saja, bukan?

Jadi, semua benda milik Museum Anak Kolong Tangga digudangkan di RC. Studio Yogyakarta (tempat Redy bekerja). Mereka pun memindahkan basecamp dan sekretariat sementara ke sebuah ruangan di kompleks RC. Studio Yogyakarta. Meskipun museum masih tutup dan belum menemukan gedung yang baru, untuk kegiatan sebenarnya tidak sepenuhnya vakum. Masih ada agenda kunjungan relawan ke sekolah, ruang baca, dan kelas workshop.

Sejak tak memiliki gedung, museum memiliki kendala yang pelik. Sebelumnya semua berjalan sesuai harapan dari pendirinya; gedung tersedia, relawan dengan senang hati membantu berkegiatan, perlengkapan museum tercukupi dan anak-anak gembira belajar dan bermain.

Mau tahu apa yang dilakukan Pak Corens dan relawannya supaya museum tetap hidup?

Setelah museum tutup, Pak Corens dan beberapa relawan menemui pengurus salah satu perpustakaan di Yogyakarta. Sebab kepala perpus suatu ketika pernah berkata, mereka sedang membangun gedung tambahan ke sisi selatan. Dia menawarkan Kolong Tangga boleh menempati salah satu ruangan tersebut. Namun, ketika ditagih kepala perpus bilang, “Ini bukan wewenang saya.”

Pak Corens terus tak mau berhenti, dia bertemu teman-teman lama dan beberapa pejabat pemerintah Yogya untuk memohon bantuan. Berulang kali itu dilakukan, tapi hanya jawaban kosong yang dia dapat.

Selain itu, selama ini Pak Corens masih dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, karena menurut kebanyakan orang, mana mungkin bisa belajar dari mainan tradisional. Padahal setiap benda yang ada di dalam museum tentunya memiliki edukasi tersendiri, di antaranya:

  • Pengenalan sejarah bangsa.
  • Filosofi mainan dan permainan.
  • Mengenalkan fungsi permainan.

Dari poin-poin tersebut, sudah sangat membantu dalam penyebaran ilmu yang jarang ditemui pada pendidikan formal. Pak Corens suatu waktu pernah mengatakan, kalau harapan terbesarnya di usia 86 tahun ini adalah bisa melihat koleksinya terpajang rapi, museum ramai kembali oleh kecerian anak-anak yang datang dari berbagai penjuru.

Pertanyaanya: Sejauh mana peran pemerintah mengetahui kondisi museum saat ini?

Usaha-usaha untuk meminta bantuan ke pemerintah sudah dilakukan sejak tahun 2013. Pada saat itu perpanjangan kontrak lima tahun kedua penggunaan gedung Taman Budaya Yogyakarta ditolak, dengan alasan tempat yang dipakai untuk museum, akan digunakan untuk kepentingan kegiatan pementasan teater dan sejenisnya.

Sejak itu, Pak Corens dan para relawan melakukan pendekatan ke Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, bahkan ke keluarga Keraton dan Pakualaman untuk mendapatkan kemudahan meminjam aset-aset berupa rumah yang kosong dan tidak digunakan. Namun, usaha itu hingga kini tidak ada tanggapan serius. Satu-satunya tanggapan dari Dinas Kebudayaan menyarankan untuk menyerahkan seluruh koleksi museum kepada Pemerintah Yogya untuk dikelola.

Parahnya, ada pihak-pihak yang seolah ingin ‘memeras’ Pak Corens dengan mengatakan, kalau apa yang Pak Corens berikan itu, belum seberapa dengan yang dia dapatkan.

Padahal, menurut sumber yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, Pak Corens tidak bekerja. Dia hidup sederhana dari uang pensiun yang tak seberapa. Bahkan, karena lebih mementingkan museum untuk terus hidup, terkadang dia tak peduli keadan fisiknya yang harus diperhatikan.

Sampai kemudian, mereka terpaksa harus melakukan audiensi ke Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan dan Badan Aset Daerah Kabupaten Bantul. Mereka berpikir peluang di sana lebih terbuka. Namun, lagi-lagi harapan belum bisa terwujud. Baik Dinas Pendidikan maupun Dinas Kebudayaan sebenarnya welcome banget jika Museum Anak Kolong Tangga bisa merapat ke Bantul. Namun, karena tidak adanya aset yang bisa digunakan, mereka pun angkat tangan.

Pak Corens paham bagaimana para pejabat bekerja. Maka, jawaban-jawaban sejenis ini tidak membuatnya heran, karena keberadaan Museum Anak Kolong Tangga bukan untuk komersil. Kolong Tangga ada untuk memperbaiki pendidikan dan moral anak-anak bangsa, bukan untuk mencari penghasilan. Dia sudah pernah menerima jawaban yang lebih parah dari ini, misalnya dianggap mengkavling ruang publik di TBY untuk kepentingan pribadi.

Pak Corens sedih, bahkan sampai menangis mendengar omongan-omongan seperti itu. Seolah, ingin berbuat baik saja sangat dipersulit di negeri ini. Apakah karena orang asing? Entahlah, Pak Corens pernah ingin menyerah. Pernah ingin menjual seluruh koleksinya dan kembali ke negeri asalnya. Namun, cita-cita, harapan dan semua yang pernah terucap adalah janjinya kepada anak-anak Yogyakarta. Itu adalah hutang yang harus dia bayar. Harus, apa pun taruhannya. Begitu tekadnya.

Saat ini Pak Corens belum bisa bernapas lega sebelum memiliki gedung sendiri yang bisa memajang seluruh koleksinya, dan mengajak anak-anak bermain serta belajar kembali di museum tersebut.

Sungguh, perjuangan yang panjang. Di usianya yang sepuh masih juga memikirkan anak-anak Indonesia. Aku berharap kelak bisa mengikuti jejak beliau yang begitu gigih dan peduli akan budaya dan tradisi negeri ini.

Semoga Pak Corens selalu diberi kekuatan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

***
Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: