Kisah Nyata: Ditipu Lelaki Berkalung Basmalah

Sebuah handphone bekas merek Ericson yang bila ditelpon harus dalam keadaan dicas supaya tak putus karena baterenya drop sejak dibeli menerima telpon suatu kali. Gaya bahasanya Islami. Luar biasa. Saya membayangkan kini, lelaki itu sangat tahu cara berkumur-kumur assalamu’alaikum, alhamdulillah, subhanallah, masya Allah, insya Allah, dan sebagainya.

Ia datang ke kontrakan jelek saya dengan membawa mobil Carry mulus–sekarang sekelas Innova, lah. Dua orang. Penampilan mereka rapi, wangi, sangat Islami. Yang satu tambun, satu lagi kurus.

Mereka bilang dari Jakarta hendak belanja buku-buku terbitan saya. Sebuah kartu nama mewah diberikan. Dengan minder, saya persilakan mereka masuk ke ruang tamu yang tak punya kursi. Hanya dilambari karpet plastik motif kembang-kembang dan lemari plastik teronggok di sudut yang pula bermotif identik. Di lemari plastik itu, saya tulisi pakai spidol: My Mother’s Choice. Sebab memang karpet dan lemari plastik itu dibelikan dan dipilihkan ibu.

Sebagai orang kecil yang dikunjungi orang kaya, Jakarta lagi, saya berusaha menghormati mereka sebaik bisa. Teh panas disajikan. Camilan sejenis kripik disuguhkan.

Saya bertanya, “Bapak kok tahu saya, ya, kan saya baru punya 3 buku.”

“Wah, buku-buku Anda berkelas, Mas. Makanya saya buru sampai ke Jogja.” Telinga saya mekar. “Jadi saya hendak belanja buku-buku Anda masing-masing 300 eks.”

Saya kaget! Hah, 300 eks?! Hebat sekali kabar ini!

“Saya tak ada, Pak, stok segitu.”

“Oh gitu, ya. Ya sudah, Mas, seadanya. Saya bayar cash.”

Allah karim.

Saya langsung menyiapkan buku-buku yang ada. Nilainya sekitar 8 juta. Kau bayangkan, di awal merintis, nilai segitu jantung banget.

Saya tentu tak lugu-lugu amat. Sebuah nomor kantor di kartu nama itu saya telpon dari dapur. Mengkonfirmasi. Jawaban di seberang, betul, betul, betul. Itu bos kami.

Berbunga benarlah hati saya. Setelah semua buku selesai dipaking oleh saya seorang, saya sodorkan nota tagihan. Bapak itu merogoh tasnya. Suara astaghfirullah, ya Allah, dan subhanallah, berkali-kali diperdengarkan. Lama-lama ia menatap saya.

“Mas, Maaf, ternyata saya ketinggalan uang cash di hotel. Ini saya ada cash 500.000. Gimana kalau sisanya saya kasih BG, ya?”

BG? Oke, karena saya sudah pernah dapat BG, meski tak pernah mencairkannya sendiri, saya setuju. Saking tambunnya ia, saat hendak menulis BG-nya, ia izin tengkurap. Tentu, dengan komat kamit bismillah, bismillah, bismillah. Hanya doa mandi junub yang seingat saya tak dibacanya di depan saya.

Saya angkat 3 dus buku itu mobilnya. Ditukar selembar BG dan uang cash 500.000. Mengucapkan banyak terima kasih. Lalu mereka pergi.

Di rumah kontrakan, saya timang selembar BG Bank Danamon itu. 8 juta. Ya Allah, ini banyak sekali!

“Aku butuh motor, gimana kalau uang ini kubeliin motor,” kataku.

Istri ini menjawab, “Ya, tapi yang bekas saja, biar ada sisa untuk modal lagi.”

“Modal kan sudah ada DP di percetakan.”

“Ya, baiknya yang murah aja, eman-eman duitnya.”

Saya pun membayangkan segera punya motor. Besoknya, saya ke bank untuk mencairkan BG itu. Saya pucat saat teller mengatakan bahwa BG itu sudah lama diblokir.

“Maksudnya gimana, Mbak?” Suara saya tercekat.

“Jadi rekening ini sudah ditutup. Di-black list karena bermasalah. Otomatis BG ini tak bisa dicairkan, Mas.”

“Maksud Mbak saya tak bisa dapat uang itu?”

“Iya.”

Allahu akbar …

Habislah saya! Mati saya! Dengan lemas saya pulang. Naik bus kota. Lalu jalan kaki ke liak-liuk gang yang mengantar ke kontrakan saya.

“Aku kena tipu,” kataku setiba di kontrakan pada istri ini.

Ia menangis setelah mendegar cerita lengkapnya. Perutnya yang lagi hamil besar terguncang-guncang. Saya pun menangis. Usai tangis-menangis, saya menelopon abah di wartel dan mengisahkan semuanya. Terdengar isak Abah di seberang. Sejenak.

“Ya udah, Cong, kamu bikin buku lagi. Itu memang bukan rezekimu. Sabar saja.”

“Masalahnya, Bah, aku tak punya modal lagi, barang juga tak ada. Tapi aku tak mau merepotkan Abah …” Suaraku terisak.

“Cong, kamu nanti malam shalat tahajjud yang lama, secapeknya kamu tahajjud, ya. Lalu berdoa pada Allah, menangislah pada Allah. Mohonlah bantuan Allah. Besok, kamu shalat Dhuha, oh ya, kamu masih shalat Dhuha, kan?”

“Iya, Bah …”

“Habis shalat Dhuha, kamu shalat hajat, terus baca ini 100 kali. Lalu kamu datang saja ke bapak percetakan langgananmu itu, cerita jujur saja semuanya, lalu minta tolong padanya untuk bantu kamu nyetak buku lagi. Akiu dan ibumu akan mendoakanmu secara khusus nanti malam, insya Allah dimudahkan ….”

Saya ikuti semua petunjuk Abah. Tetapi di tengah jalan menuju Kota Gede, saya berbelok arah. Tak tahu mau ke mana. Saya malu luar biasa untuk utang melulu sama bapak Kota Gede itu. Meski masih ada DP kecil itu. Motor pinjaman yang saya tunggangi melaju tanpa arah sampai saya nyasar ke sekitaran utara JEC kini. Saya mengerem mendadak di sebuah plang percetakan. Lalu masuk.

Seorang lelaki muda menemui saya. Saya ceritakan apa adanya, bahwa saya ingin mencetak buku, tetapi saya tak punya uang selain diutangi. Ia memberi saya minum air dingin, lalu mengajak ke ruangannya yang dingin.

“Dengan percetakan Kota Gede itu apa ada masalah, Mas?” tanyanya sambil menyebut nama percetakan yang ternyata dikenalnya.

“Nggak, Mas, cuma saya malu mau utang ke sana lagi. Mas boleh cek kebenaran cerita saya. Saya sudah serahkan BG dari buku-buku sebelumnya.”

Ia lalu menelpon seseorang, entah siapa. Lalu duduk kembali dan mengangguk. “Boleh, Mas, cetak saja di sini.”

“Utang dua bulan, ya, Mas?”

“Iya.”

“Tanpa DP, kan, Mas?”

“Iya.”

“Tanpa bunga, kan, Mas?”

“Iya.”

Alhamdulillah, seru saya dalam hati. Saya langsung pulang, menyiapkan naskah yang sudah di-lay-out, lalu melesat lagi ke percetakan ini.

Sekitar dua minggu kemudian buku itu jadi. Ia mengantar sendiri ke kontrakan saya pakai mobilnya yang bagus. Seusai memasukkan buku-buku, ia duduk di ruang tamu. Menatap berkeliling. Mengamati setiap jengkal isi kontrakan saya. Mungkin hatinya terenyuh.

“Besok-besok kalau mau nyetak buku lagi, ke saya saja, Mas,” ujarnya kemudian.

Saya kaget.

“Kan utang saya belum lunas, Mas….”

“Saya percaya Mas Edi kok.”

“Ini serius, Mas?”

“Iya, serius.”

Girang luar biasa saya. Habis Maghrib, saya ke wartel lagi dan bercerita pada Abah. Abah menangis di seberang.

“Cong, kamu harus jaga kepercayaan orang. Jangan sampai dicederai. Pokoknya kamu harus pakai prinsip pahitnya.”

“Gimana jelasnya, Bah?”

“Jika kamu bisanya bayar satu bulan setengah, kamu janjinya dua bulan. Dibikin aman. Jaga-jaga meleset. Orang akan dinilai sesuai kesesuaian lisan dan kenyataannya.”

“Iya, Bah …”

“Jangan lupa Tahajjud, Dhuha, ngajinya. Aku sama ibumu hanya bisa mendoakan kelancaran usahamu dari sini.”

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Saya mulai bisa beli tivi bekas hasil barter dengan sekardus buku pada seorang pedagang di Papringan–setelah sebelumnya rumah kami hanya dihiasi suara radio tape Sony dari fee cerpen di Kompas. Kau tahu, itulah prestasi paling dahsyat di tahun awal perjalanan usaha ini. Kuliah saya di S-2 masih separuh jalan. Untungnya, saya dapat beasiswa, sih. Sampai lulus.

Keinginan saya memiliki motor sendiri tercapai juga akhirnya. Di awal tahun kedua. Sebuah motor Tornado GS bekas. Saya tak perlu lagi naik-turun bus kota bila hasrat pinjam motor sama teman-teman tak terpenuhi karena lagi dipakai atau karena tak sanggup hati ini menanggung malu bolak-balik pinjam.

Saya mulai berpikir untuk nyetak buku lebih banyak lagi. Sebuah percetakan di Jalan Timoho, milik bos Dwi Suwiknyo, menjadi tujuan saya. Beliau sangat baik. Baik sekali. Sebaik Mas Dwi Suwiknyo, hanya kalah jenggotlah. Beliau berkenan mengutangi saya tanpa kesulitan. Mungkin track record saya pernah beliau dengar.

“Sementara pakai plafon, ya, Mas Edi,” katanya.

“Maksudnya plafon, Pak?”

“Ya boleh nyetak hutang di sini dua bulan, tapi dibatasi. Kalau belum lunas, jangan nyetak lagi dulu ya. Juga dibatasi maksimal 20 juta. Sebab modal saya juga terbatas, kan.”

“Oh ya, Pak, saya mengerti. Terima kasih sekali.”

Alhamdulillah.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

1 thought on “Kisah Nyata: Ditipu Lelaki Berkalung Basmalah”

Tinggalkan Balasan