Kisah Nyata: Kalung Emas Kawin yang Malang

Saya menikah tanggal 1 Desember 2000, di usia sangat muda, baru lulus kuliah S-1. Saya tak pernah berpacaran dengan istri ini, tetapi memang telah kenal baik. Kami “dekat” saja selama 4 bulan. Dia yang mengejar saya, bukan saya lho. Sejarah ini perlu diluruskan saya kira. Haaa. Lalu nikah. Tanpa kemewahan. Bukan anti pesta, tapi nggak ada duit!

Sejak semester awal kuliah, saya rajin menulis. Terutama cerpen. Selebihnya ada esai, artikel, dan jarang-jarang resensi dan khutbah Jum’at. Di era 1997-2000, nama Edi AH Iyubenu termasuk “anggota arisan” media massa. Jika bukan cerpen Agus Noor yang dimuat, atau Teguh Winarsho, atau Satmoko Budi Santoso, atau Indra Tranggono, ya karya saya. Kira-kira macam Ken Hanggara dan Sam Edy kini. Nama terakhir ini cah alim banget, saya tahu, cuma tetap selalu nyebelin. Huah …

Saya merintis penerbitan buku dan membawa hutang ke percetakan untuk buku pertama menjadi problem serius saya. FYI, saya bukan dari keluarga (maaf) miskin banget, tapi kaya juga tidak. Standarlah, kayak ortu-ortu kalian kini.

Buku kedua, gimana nasibnya? Saya tahu kesinambungan terbit merupakan kunci keberhasilan. Sebulan satu saja, tekad saya. Gimana ini, ya Allah, utang lama belum lunas, masak nambah utang lagi?

Dalam setiap tahajud yang berlinang air mata, hanya kepadaNya saya menyerahkan keyakinan bahwa saya pasti diberi jalan. Saya lalu memutuskan datang kembali ke sebuah percetakan di Kota Gede dan bercerita apa adanya. Jujur dan apa adanya merupakan cara baik yang saya yakini akan menghantar pada kebaikan berikutnya.

Beliau yang sudah saya anggap bapak sendiri (semoga Allah selalu memberkahimu, Pak) menatap saya dalam-dalam–seolah mencari cahaya kejujuran. Saya mafhum, ini uang jutaan. Tanpa agunan. Kenal juga baru sejengkal. Hanya murni kepercayaan.

Alhamdulillah, dia percaya. Allah menolong saya untuk kesekian kalinya. “Ya nggak apa-apa, Mas Edi, cetak sini lagi aja. Kasih DP, ya …”

“Saya hanya ada satu juta, Pak.” (Hasil jualan buku pertama).

Ya, perkara makan sehari-hari cukuplah dari fee tulisan–tepatnya dicukup-cukupin, sih. Misal, sampo sachet dipake berdua sama istri. Saya ngambil dikit aja, sebab istri rambutnya panjang sehingga butuh shampo lebih banyak. Misal lain, istri saya jago memasak dengan cara out of the box: sebutir telor dicampur kol sehingga menggembung besar sekali dan cukup dimakan sehari-semalam. Cerdas, kan? Allah karim

“Ini kan cetaknya total 14 juta, Mas Edi. Kalau bisa ditambahin DP-nya, ya,” sahutnya.

“Maaf, Pak, saya tak ada lagi.”

“Ya sudah. Kalau nanti ada uang di tengah jalan, tolong kasihkan saya, ya. Buat belanja kertas.”

“Iya, Pak. Saya janji.” Dalam hati saya menjerit, ya Allah tolonglah aku …

Saya pulang ke indekos di daerah Gendeng Jalan Timoho dengan hati bungah. Tetapi, masalah tersenyum lagi. Buku kedua ini tebal. Judulnya Seven Theories of Religion karya Daniel L. Pals. Saya tak punya uang untuk menyiapkan pracetaknya: fee terjemahan dan lay-outnya. Kalau editing, bisa saya kerjakan sendiri.

Saya temui kawan penerjemah itu suatu sore di tempat indekosnya. Saya katakan padanya, “Mas, saya tak bisa bayar sekarang. Paling lama tiga bulan lagi saya lunasi. Boleh, ya?” Sembari dalam hati saya baca shalawat Nariyah sebanyak-banyaknya.

Alhamdulillah, ia setuju, sembari berkata, “Kalau di tengah jalan ada duit, tolong dibantu nyicil ya, Mas.”

Saya mengangguk. Lalu saya datangi kawan baik saya sejak di pesantren di Jombang yang ahli page maker. Lalu dibikinkanlah lay-out buku itu. Setelah jadi, saya langsung serahkan ke percetakan untuk diproduksi sebanyak 1.000 eks. Sengaja saya cetak sedikit karena bukunya tebal, biayanya mahal, khawatir utang terlalu banyak.

Sekira 10 hari dari selesainya buku itu dilay-out, kawan baik itu menemui saya dan mengatakan kalau ada uang, fee lay-out mau diminta. Mati saya! pekik saya dalam hati. Total fee-nya 400.000. Saya hanya ada uang 200.000, honor tulisan. Saya bilang padanya, saya usahakan secepatnya. Mohon sabar dulu, ya.

Malamnya, saya berembuk sama istri. Bukan tentang halal/haram Valentine atau penting/nggaknya khilafah. Tapi tentang gimana cara bayar fee lay-out itu. Solusinya sungguh cerdas: menggadaikan kalung emas kawin.

Kalung mahar! Seumur-umur saya tak pernah berhubungan dengan pegadaian. Tapi memang hanya ini jalan keluarnya. Saya takkan pernah sambat pada Abah untuk perkara uang–apalagi sudah menikah. Masak mau orgasmenya mulu, giliran uang kok masih ke Abah. Malu.

Besoknya, dengan pinjam motor spektakuler Kiai Faizi, saya ke pagadaian Lempuyangan. Dengan gemetar, saya serahkan kalung itu ke tukang taksir. Ditaksir 600.000. Saya bilang, apa boleh jika saya ambil 250.000 saja? Dia jawab, boleh. Tapi apa nggak sayang? Saya jawab: saya butuhnya hanya segitu, khawatir keberatan nebusnya. Urusan fee lay-out selesai dengan cara menggadaikan kalung emas kawin.

Begitulah. Saat buku itu jadi, kabar buruk menjungkalkan saya. Ternyata, buku sejenis juga telah diterbitkan oleh kawan penerbit lain di Jogja yang jauh lebih mapan dari saya. Gambarannya, saya jalan kaki, pemilik penerbit itu bawa mobil. FYI, di era itu, peristiwa kembar terbitan begini lazim belaka.

Saya cemas luar biasa. Pasti distributor buku itu tak mau ambil buku saya. Dan, benar! Ketika saya datang ke kantornya, masih dengan kebiasaannya menemui saya sembari mematut-matut diri tampan di depan cermin, ia menggeleng. “Bikin buku kok dobel-dobel gini. Yang jual yang pusing. Kamu sih enak, saya pusing….”

Kau bayangkan, udah nggak diambil, masih dinasihati dengan orasi tampan-tampan gitu. Benar kata Mas Gunawan Tri Atmodjo, ketampanan memang acap lebih keji dari aroma sempak paling hajinguk. Heuuu ….

Apa daya, dengan lelah, saya ceritakan masalah ini kepada bapak pemilik percetakan itu. Niat saya, agar beliau maklum bila pembayaran utang saya akan rada seret. Tapi demi Allah saya tak ingin mati dengan membawa sejumput utang! Beliau menyimak kisah saya, lalu memberikan nomor telepon seorang kawannya yang juga mendistribusikan buku. Saya disuruh menemuinya. Saya pun menemuinya di bilangan Jalan Solo.

Rupanya, ia distributor kecil. Tak ada kantor. Rumahnya sekaligus kantornya. Agak ragu awalnya, tapi ya sudahlah, saya pasrahkan pada Allah. Tak ada jalan logis lain lagi bagi saya.

Pada masa itu, adat distribusi buku di Jogja menggunakan akad kredit retur. Jadi buku dibayar pakai BG (sejenis cek mundur 3-4 bulan) lunas, tetapi jika kelak tak laku, otomatis sisa barang akan dikembalikan dan dipotongkan dengan tagihan buku-buku baru berikutnya. Jadi, kesinambungan buku baru menjadi pertaruhan benar.

Saya pun menerima BG senilai 20 juta. Saya bawa BG itu ke percetakan, lalu menyerahkannya semua.

“Utangmu semua 18 juta. Ini sisa 2 juta. Apa mau saya cash yang 2 jutanya?”

“Nggak usah, Pak, anggap saja saya titip untuk DP cetak buku berikutnya jika Bapak masih berkenan mengutangi lagi,” jawab saya.

Dia tersenyum. “Tentu saya berkenan sekali. Saya tahu kamu orang jujur, amanah, suatu hari kamu akan sukses jika terus berhasil menjaga watak ini.”

“Amin, Pak,” sahut saya. “Abah saya mendidik saya untuk selalu demikian dalam keadaan apa pun. Kata beliau, kejujuran akan membukakan jalan kebahagiaan abadi padamu.”

“Hari ini susah mencari orang amanah,” lanjutnya. “Awal kamu datang ke sini, bilang mau hutang cetak buku, saya bimbang. Saya ada modal nyetak, tapi khawatir kamu tak amanah. Kayak yang lain-lain, yang pada lari entah ke mana. Tapi alhamdulillah, feeling saya benar bahwa kamu orang amanah.”

Saya tersenyum–sementara isi kepala sesak oleh bayangan kalung emas kawin yang harus saya tebus. Saya tak ada uang lagi selain untuk makan. Tentu, beli sampho sachet pula. Yang jomblo takkan ngerti maksud kalimat barusan.

Tak pernah secuil pun saya ngimpi gaya-gayaan beli motor duluan, kredit gitu. Tidak. Inves untuk kemajuan usaha di atas segala-galanya. Jangankan beli motor bekas, beli sepeda busuk yang tak pakai ban dan rantai saja saya tak mampu kok. Selama ada Ruslani, Faizi, dan Hendra yang sering saya pinjamin motornya, saya aman. Heu … heuu …

Waktu berjalan dan saya tak kunjung punya uang untuk nebus kalung emas kawin itu. Semua uang yang ada saya pakai menerbitkan buku-buku berikutnya. Perkara fee desain dan lay-out sudah tak perlu utang. Bisa didapatkan dari hasil jual buku-buku di beberapa bakul kecil. Kalau ngedit, tentu tetap dikerjakan sendiri.

Jelang jatuh tempo, saya datang ke pegadaian. Hanya membayar bunganya sebesar 25.000. Alias diperpanjang 3 bulan lagi. Tak kuat nebus 250.000.

Kau tahu, Kawan, bahkan sampai jatuh tempo kedua kalinya, kalung itu tak pernah kuasa saya tebus! Kalung itu pun lesap ditelan sejarah perjuangan.

Andai saya tahu takkan kuat nebus, akan saya ambil semua taksiran harga sebesar Rp. 600.000 itu. Begitu guyon saya sama istri sekadar untuk menghadirkan hiburan di antara sesal tak kuasa menebusnya.

Saya mulai kuat mengontrak sebuah rumah kecil, sederhana, terjepit, setelah 6 bulan menguni kos-kosan bersama istri, hingga pada suatu hari, seseorang yang bertampang dan berperilaku sangat Islami datang dengan mobil kerennya dan menipu saya habis-habisan. Duh.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan