Ilustrasi dari alihamdan

Kisah Nyata: Keajaiban Surat Yasin

“Assalamu’alaikum, Bu. Nanti sore ba’da ashar di rumah mboten?”

“Wa’alaikumsalam. Iya, Mbak, insya Allah kami ada di rumah.”

“Alhamdulillah. Kami sowan, nggih, Bu.”

Mangga, silakan, Mbak.”

Itulah percakapan antara Farah denganku yang kami lakukan lewat aplikasi Whats App (WA) baru saja. Pasangan suami istri Farah dan Ahsan adalah yang mendiami rumah kami di perumahan Villa Bahagia Asri 2 (selanjutnya disingkat menjadi VBA 2). Mereka sudah tinggal di sana sejak enam tahun lalu, saat rumah mungil itu baru saja resmi menjadi milik kami. Ternyata menawarkan rumah untuk disewa itu tidak mudah. Aku pernah merasakannya. Harus memiliki ketekunan dan kesabaran yang lebih, sembari pasrah penuh pada Allah Sang Maha Penentu.

Saat itu Maret 2011. Bulikku yang tinggal di Jakarta minta tolong aku untuk mencarikan rumah di Yogya. Maka aku segera bergerak mencari brosur penawaran perumahan. Aku buka koran lokal di halaman iklan property, lalu kupilih dua di antaranya, yang harga dan lokasinya kuperkirakan sesuai dengan selera bulikku. Kucatat alamat kantor pemasarannya, dan kudatangi untuk meminta brosur. Dalam waktu seminggu kuperoleh dua brosur dari dua kantor pengembang yang berbeda. Lokasi perumahan berada di daerah Sleman dan Bantul Barat.

Waktu itu belum ada aplikasi WA untuk mengirim foto, oleh karena itu aku kirim kedua brosur itu lewat pos. Ternyata bulikku tidak ingin semuanya. Alasannya, lokasi perumahan terlalu jauh dari pusat kota. Ya, sudah. Hal itu tak jadi masalah buatku. Sebulan  berlalu, bulikku telpon lagi, minta dicarikan brosur lagi. Rasanya aku sudah malas untuk melakukannya, kalau saja aku tidak ingat bahwa beliau adalah adik kandung ibuku. Dalam dua tahun terakhir, ini adalah kali ke empat aku diminta bulik mencarikan rumah, dan ini adalah kali ke empat pula bulik menolak brosur yang kukirim.

Ada sebuah kantor pengembang di dekat rumah. Kebetulan aku kenal dengan pemiliknya dan beberapa pegawainya. Maka aku minta brosur di sana. Kenapa aku tidak minta brosur di situ sejak dulu? Karena aku sudah tiga kali minta brosur di situ, namun tidak jadi beli. Ulah bulikku juga. Lalu kukirim brosur itu kepada bulikku. Ketika bulikku lagi-lagi menyatakan tidak selera, aku jadi tidak enak dengan pengembangnya. Maka kuambillah rumah itu, dan jadilah namaku tercantum dalam daftar nasabah di BTN karena aku harus membayarnya selama sepuluh tahun.

Pada Juni 2012 rumah diserahkan. Rumah kecil, dengan luas tanah 72m2, merupakan satu di antara 51 unit rumah yang baru dibangun. Aslinya, rumah itu hanya berupa bangunan tipe 21. Terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruang serbaguna yang bisa difungsikan sebagai ruang makan atau ruang tamu. Tidak ada ruang khusus yang disebut dapur. Jika penghuni rumah mau, bisa menaruh kompor di depan  kamar mandi atau di seberang pintu kamar tidur. Sudut itu memang menyatu dengan ruang serbaguna. Kesimpulannya, semua isi rumah tersebut dapat dilihat hanya dalam sekali lirikan mata.

Kami berharap agar rumah itu mendatangkan manfaat dan barokah, terutama untuk keluarga kami. Maka di rumah yang masih asli dan belum terisi mebelair itu kami melakukan do’a bersama. Bersama ibu, bapak, para bulik, paklik, sepupu, keponakan, dan prunan, kami membaca al Quran surat-surat pendek dan memanjatkan doa keberkahan dan keselamatan. Acara yang dipimpin sendiri oleh suami berlangsung hidmat, namun tidak mengurangi kemeriahan pertemuan keluarga. Dapat dibayangkan kami berdesakan di rumah itu, sampai ada yang duduk di luar.

Kami menyebut rumah itu villa. Rencanaku villa itu akan kusewakan. Disamping untuk menambah pemasukan, juga untuk mengurangi urusanku terhadap rumah itu. Artinya, jika ada yang menyewa, maka villa itu akan ada yang merawat, ada yang bayar listrik, dan ada yang bayar air. Namun yang lebih penting dari itu semua: aku ingin membantu keluarga muda yang belum memiliki rumah. Jadi aku berharap pasangan mudalah yang akan menjadi penyewa. Di awal masa pernikahan, kami pun sempat dua tahun menyewa rumah sebelum menempati rumah sendiri.

Menurut kami, villa itu akan lebih menarik para calon penyewa jika diperluas. Maka kami menambah dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan garasi yang bisa memuat satu mobil kecil. Kami juga melengkapinya dengan kanopi di sepanjang muka rumah. Kanopi juga dipasang di depan pintu garasi hingga regol. Warna dinding untuk dua kamar tidur tambahan dan dua kamar mandi kupilihkan warna salem. Kamar tidur utama, ruang tamu, dan garasi berdinding putih natural. Semua pintu dan jendela kupilihkan cat warna putih.

Halaman yang hanya seluas dua kali enam meter kualasi menggunakan conblok yang berlubang di tengahnya, untuk ditanami rumput Manila. Pagar tak usah mewah, kami pilihkan pagar besi sederhana, seperti pintu regolnya. Kalau dilihat dari depan, sungguh rumah kami tak kalah dengan istana raja-raja nusantara, apalagi teralis yang terpasang untuk jendela ruang tamu dan kamar utama bermotif bunga-bunga yang menawan. Alhasil, villa itu kami perluas dan kami rias seindah mungkin agar, ibarat bunga, ada kupu-kupu atau kumbang yang segera hinggap.

Kami sering berkunjung ke villa dan bertemu beberapa tetangga. Di antara mereka ada yang bercerita tentang rumah-rumah lain yang sudah laku disewakan atau ditempati sendiri. Untuk rumah yang ditinggali sendiri, aku tak begitu memasalahkan. Sebaliknya, untuk rumah yang sudah disewakan aku agak jealous. Sudah dua teman yang kutawari agar menyewa villaku, namun mereka belum jodoh. Yang pertama berdalih lokasi villa jauh dari tempat kerja. Yang ke dua beralasan harga sewa belum cocok. Tentang harga sewa, aku tak bisa apa-apa, sebab sudah ditentukan oleh hasil diskusi kami dengan para tetangga.

Tadinya kami bermaksud memasang papan pengumuman di depan villa kami itu: “Dikontrakkan, hubungi no. hp xx …”, tapi aku tidak suka mengobral nomor telepon. Akibatnya hanya para penghuni rumah di sekitarku yang tahu bahwa villa akan kusewakan. Oleh karena itu, ketika kami menghadiri acara syawalan warga perumahan VBA 2, aku gunakan kesempatan tersebut untuk sekaligus menyebar informasi tentang itu. Seorang tetangga dari blok lain bahkan minta nomor handphoneku untuk dihubungi apabila suatu saat ada calon penyewa yang ingin menghubungiku.

Dua bulan sudah berlalu sejak hari syawalan itu, aku mulai resah. Villa belum juga ada yang menyewa. Padahal sudah kuperluas, tralis sudah ada, cat sudah diperbarui, pagar dan kanopi ada. Kurang apa lagi? Kami kembali melakukan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran dan memanjatkan doa memohon barokah dan keselamatan. Kali ini, di samping keluarga, kami juga minta ditemani kelompok pengajian malam Sabtu di mana suami ikut menjadi anggotanya.

Waktu berlalu hampir tiga minggu sejak malam pengajian itu, namun villa kecil kami belum juga ada yang menyewa. Aku ingat betul, waktu itu hari Kamis, kebetulan aku bisa pulang kerja sebelum ashar. Kebetulan lagi, suami juga sudah pulang kerja. Sesudah sholat ashar dia mengajakku ke villa. Aku mau, dan tiba-tiba aku mempunyai niat untuk bermunajat di sana. Aku bawa al Quran besar, yang tulisannya besar-besar. Sebenarnya di sana aku juga sudah menyimpan al Quran, tetapi kecil.

Sesampai di villa, aku langsung masuk salah satu kamar. Dengan serius dan tak terasa berlinang air mata, aku memohon pada Allah agar segera mengirim penyewa villa. Aku duduk di atas sajadah, membaca surat Yasin tiga kali tanpa jeda. Suami yang mengajak bicara tentang lampu, pompa air, dan shower tidak aku tanggapi. Lalu kudengar dia bertegur sapa dengan tetangga depan rumah. Yang paling kukhawatirkan, jika tetangga itu tiba-tiba masuk villa, dan mengajakku berbicara. Untunglah, hal itu tidak terjadi. Akhirnya selesailah bacaanku. Lalu aku berdoa lagi agar Allah mengabulkan keinginanku.

Begitu selesai berdoa, aku keluar bergabung dengan mereka, berbasa basi sebentar. Tak disangka, si tetangga minta nomor hp suami, untuk jaga-jaga kalau ada yang mencari kontrakan. Lalu kami pulang, dan karena malam Jumat, maka sesudah sholat magrib kami menambah surat Yasin dan surat al Kahfi sebagai bacaan kami. Pukul delapan suami berangkat ke masjid karena ada pengajian rutin setiap malam Jumat Paing. Kira-kira suami baru sampai masjid yang jaraknya hanya seratus meter, hp nya berdering tanda ada telpon. Kuangkat.

“Assalamu’alaikum …”

“Waalaikum salam … benar ini nomor pak Bagus yang punya rumah di Villa Sumber Bahagia Asri dua?” tanya seseorang dari seberang.

“Ya, kenapa? O ya, ini siapa?”

“Saya Ahsan, Bu,” jawabnya dalam bahasa Jawa halus.

“Ya, gimana Mas?” Tanyaku.

“Begini Bu, besok tanggal 19 kan saya mau nikah, tapi sebelumnya saya ingin cari kontrakan dulu. Terus, tadi sore saya sampai ke rumah Ibu, saya mau kontrak Bu..”

“O ya, tahu nomor hp suami saya dari siapa?”

“Dari tetangga depan rumah Ibu, yang dari Irian.”

“Ya, boleh. Silakan sewa rumah itu, harganya tadi sudah dikasih tahu kan?”

“Iya Bu, lima juta.”

“Ya, betul. Jangan nawar ya, sebab harga segitu sudah kesepakatan para pemilik rumah di komplek situ, jadi saya tidak bisa melanggar kesepakatan,” jawabku serius.

“O, begitu Bu?”

“Ya, bagaimana? Jadi?”

“Iya Bu, jadi.”

“Tadi kan belum masuk rumah ya? Belum lihat dalamnya?” tanyaku.

“Baru lihat dari luarnya saja, saya sudah mantap, Bu,” jawabnya, yang bikin aku senang.

“Ya, kalau begitu, silakan.”

“Terimakasih Bu. Kapan saya bisa ke rumah Ibu? Saya mau menyerahkan uang tanda jadi.”

“Besok bisa jam berapa?” tanyaku.

“Sehabis sholat Jumat bisa Bu?”

“Ya, bisa.”

“Besok ketemu Ibu atau Bapak?”

“Dengan bapak ya,” jawabku mantap. Aku pasti belum pulang pada jam segitu. Sementara aku hapal betul, Jumat Paing adalah jatah suami khutbah di masjid dekat rumah. Jadi, dapat dipastikan dia ada di rumah sehabis sholat Jumat.

“Ya Bu, terimakasih. Assalamu’alaikum.”

Waalaikum salam.”

Alhamdulillah, akhirnya ada yang mau nyewa. Aku segera melakukan sujud syukur. Tak habis-habisnya aku berterimakasih pada yang maha pengatur. Aku langsung teringat pada bacaan Yasin yang kulakukan beberapa jam sebelumnya. Ya Allah, terimakasih telah Kau kabulkan permintaanku. Terimakasih, ya Allah!!!

***

Aku sangat bersyukur kepada Allah, akhirnya sudah ada yang menyewa villa. Sebagaimana sudah kutulis di awal, bagi kami yang terutama adalah membantu pasangan muda yang belum memiliki rumah. Maka ketika harga sewa rumah akhirnya merangkak naik sesuai selera pemiliknya, kami tidak terpengaruh. Sampai saat ini harga sewa untuk villa kami masih yang terendah di antara para tetangga di perumahan VBA2. Hal ini kami ketahui dari cerita Fatika dan Ahsan saat sesekali mereka main ke rumah. Tak apa. Aku yakin Allah akan memberi tambahan uang sewa rumah lewat jalan lain. Aku masih berterimakasih pada Allah karena aku sudah punya rumah.

Oleh: Tituk Romadhona, kenangan Oktober 2012.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan