Tahun 2002-2003, motor terkeren adalah Supra. Supra generasi pertama. Harganya 6 jutaan. Karena belum ada matic, jelas belum ada pula masalah emak-emak di jalanan naik matic nyalaian sein kiri tapi belok kanan. Emak-emak dulu tampaknya memang lebih syar’i ketimbang emak-emak kekinian yang selain gemar bepergian tak penting juga gigih upload foto-fotonya lagi meniru bebek-bebek. Tapi, ya, bagaimanapun, emak-emak tetaplah pemilik surga di telapak kakinya, lho. Heu-heu.

Saya meluncur ke percetakan di Jalan Timoho itu dengan sumringah. Menghadap bagian administrasi, lalu saya keluarkan uang sebesar 10 juta dan sehelai nota merah. Nilai nota yang harus saya bayarkan itu saya ingat betul, Rp. 9.850.000. Takkan pernah lupa saya sama angka sakral ini, karena di sinilah tercatat titik balik kehidupan saya dan sekaligus sebuah pelajaran hebat.

“Mas, mau bayar utang nih. Ini nota tembusannya,” kata saya.

Mas admin menerima nota itu. “Belum jatuh tempo lho, Mas, masih dua minggu lagi.”

“Nggak apa-apa, sudah ada kok uangnya.”

“Wah, sampeyan ini terlalu rajin, he he he.” Tangannya menjamah map tebal dan besar dari rak di belakangnya. Cekatan ia membolak-balik tumpukan arsip nota itu. Agak lama, berpuluhan menit. Lalu beralih ke map satunya, dan satunya lagi.

Ia lalu menyodorkan nota tembusan itu kepada saya, “Udah lunas ini, Mas.”

“Lunas gimana? Belum kok.”

“Ini nota aslinya yang warna putih nggak ada lagi kok. Artinya sudah lunas.”

Saya menggeleng. “Nggak, Mas, saya belum bayar.”

“Atau dianggap lunas sajalah, wong nota aslinya nggak ada lagi….” Senyumnya saya tanggapi dengan gelengan. Setan yang tak pakai sempak itu menari di dada saya. Ingatan meluncur pada Supra yang keren, yang pasti nggak mogokan kayak Tornado lawas di halaman. Beli Supra baru hanya 6 juta, sisanya banyak sekali. Bisa beli GoPro.

“Sudahlah, Mas, anggap saja lunas,” ujarnya lagi.

Wajah Abah melintas di mata saya. Juga ibu. “Kejujuran adalah kunci kesuksesanmu. Kalaupun yang kamu curangi tak tahu, Allah Maha Tahu. Jangan pernah memasukkan barang haram ke dalam tubuhmu, Nak, agar hidupmu bahagia….”

Sontak saya pukul keras setan sialan itu, pula tampang manis Supra. Saya menggeleng. “Wong belum bayar kok mau dianggap lunas, Mas. Kecuali kalau mau diikhlasin oleh bos sampeyan, hee..hee. Mas lapor saja sama bos itu,” kata saya sambil menunjuk lelaki paruh baya berjenggot itu. “Atau buatin nota baru saja.”

Ia diam sejenak, lalu masuk ke ruangan bosnya, tak lama keluar lagi. Menuliskan nota baru untuk tagihan saya. Saya pun membayarnya, memasukkan sisa uang 150.000 ke dompet yang tipis. Saya pun pamit.

Belum sempurna pintu keluar saya buka, bos itu memanggil saya. Meminta saya ke ruangannya. Sebuah tivi gede teronggok di meja yang menyebelahi meja kerjanya. Kapan saya bisa beli tivi kayak gitu, ya?

“Mas Edi, saya mau tanya sesuatu, ya,” ujarnya.

“Iya, Pak.”

“Sampeyan tadi kan sangat bisa untuk tidak bayar tagihan itu. Pura-pura lupa, gitu, kan bisa. Lha kok sampeyan ngotot bayar minta dibuatkan nota baru? Uang segitu kan banyak.”

Tak enak hati saya untuk mengatakan bahwa kejujuran adalah kunci mendulang kepercayaan. Kepercayaan adalah kunci kuatnya relationship. Dan relationship adalah kunci derasnya rejeki. Tapi saya pun menjawab kemudian dengan kalimat lebih pendek. “Abah ngajarin saya harus jujur, Pak.”

Ia manggut-manggut sejenak, lalu berkata, “Mas Edi mau nyetak buku apa lagi ini?”

“Ada sih, Pak, tapi nanti dulu, saya belum siap dana, setidaknya untuk uang mukanya.”

“Ada berapa yang mau dicetak bulan ini dan bulan depan?”

“Ada tiga, Pak.”

“Sudah siap cetak?”

“Dua sudah, satu lagi paling seminggu lagi. Masih disetting.”

Ia berdiri menepuk bahu saya, “Besok yang sudah siap itu bawa ke sini, ya. Cetak sini semua. Seminggu lagi yang belum siap itu bawa sini juga jika sudah siap cetak.”

Saya terperangah. “Utang saya masih ada lho, Pak, nanti over plafon.”

“Sudahlah, tak usah plafon-plafonan, cetak saja sini, mau oplah berapa, soal berapa total utangnya gampanglah.”

“Saya takut, Pak, kebanyakan hutang nanti.”

“Bisa diaturlah, Mas. Gampang.”

“Kalau temponya harus dua bulan masih berat, Pak?”

“Saya percaya Mas Edi akan sanggup melunasi sebelum dua bulan bahkan. Kalaupun pahit Mas Edi tak bisa melunasinya dalam dua bulan, nanti temui saya, bisa kita rembukkan.”

Ya Allah, ya Karim, ya Qadir….

***

Secepat kilat saya pulang, menyiapkan dua naskah yang sudah jadi dan belum berani saya ajukan ke percetakan karena keterbatasan dana. Besoknya, saya datang lagi, masing-masing saya cetak 1.500. eks. Dada saya deg-degan ketika tahu utang baru saya sejumlah 30.000.000.

Di parkiran, saya papasan sama si bos baik hati itu. Ia menentang sebuah plastik. Dikeluarkannya satu bungkus, lalu diberikan kepada saya sambil tersenyum. “Nih, Mas, makanan enak.” Saya terima sembari berterima kasih. “Gimana udah jadi nyetaknya?”
“Iya, Pak, dan kini utang saya mengerikan, 30 juta!”

Ia terkekeh. “Ah, itu kecil buatmu. Suatu hari, saya harus berguru pada sampeyan.”

“Ah, kebalik, Pak.”

“Betul ini, Mas. Suatu hari saya yakin sampeyan akan main duit 50 kali lipat atau 100 kali lipat dari utangmu sekarang.”

“Amin,” sahut saya, lalu pamit lagi.

***

Pertolongan Allah kepada saya kian bandang. Relasi distributor saya yang Jalan Solo, bukan yang suka mematut-matut diri tampan tanpa menoleh ketika bicara sama saya, menelepon suatu sore. Minta saya datang ke rumahnya.

Saya pun datang. Ia menunjukkan dua buku kecil, buku saku, karya Kahlil Gibran.

“Mas Edi bisa bikin buku-buku sejenis ini?”

“Bisa, Mas, kebetulan saya penggemar Kahlil Gibran dan cukup banyak belajar menerjemahkannya.”

“Wah, klop ini. Mas, bikinkan saya buku-buku sejenis ini, seukuran ini, perjudul boleh 3.000 eks.”

Saya terbelalak. Kaget.

“Harganya kisaran 12.500 sampai 15.000 saja,” sambungnya.

“Kalau sebulan saya bikinin dua judul gimana, Mas?”

“Kok cuma dua judul, bikinkan sepuluh judul juga boleh, Mas. Mumpung lagi banyak pesanan ini. Usahakan cepat, ya.”

10 judul? Kali 3.000 eks perjudul? Berarti sebulan produksi 30.000? Dikalikan 15.000 misal? Hah, Rp. 450 juta?!!!!

Saya langsung menyanggupi. Buru-buru pulang, menyalakan komputer, melacak file-file terjemahan Kahlil Gibran. Semuanya ketemu. Tapi tak cukup untuk sepuluh judul. Saya lalu menemui Kiai Faizi di Losmen Hantu yang saya tahu punya buku Kahlil Gibran dalam versi bahasa Arab. Saya pinjam buku itu, foto kopi, lalu menghubungi beberapa kawan IAIN yang pintar menerjemah. Saya minta mereka menerjemahkan dengan cepat–dengan bayaran lambat. Heu-heu.

Tiba-tiba saya teringat satu masalah besar! Pertanyaannya, dari mana modal nyetaknya? Jika modal nyetaknya Rp. 5.000/judul, berarti saya butuh modal 150 juta. Ya Allah, jumlah yang mustahil!!!

Saya memberanikan diri menelepon relasi distributor itu. Setelah 4.444 kali membaca shalawat Nariyah, saya berkata. “Mas, maaf sebelumnya, saya lupa saking girangnya, saya nggak punya modal cukup untuk nyetak buku sebanyak itu.”

“Oh gitu, terus punya ide gimana?”

“Maaf lagi, Mas, apa mungkin untuk biaya cetaknya dibantu gitu?”

“Ehm, kalau sebagian boleh, Mas.”
“Maaf lagi, Mas, kira-kira njenengan bisa bantuin biaya cetak berapa, ya? Maaf lho, Mas, saya rewel, bukan apa-apa, saya hanya perlu informasi jelas ini.”

“Sebentar….” Mungkin ia sedang memencet-mencet kalkulator. “Halo, Mas Edi, saya bisa bantu separuh tagihan bukunya nanti.”

“Wah, terima kasih sekali, Mas.”

“Besok sebelum siang ke rumah saja, ambil uangnya ya.”

“Siap, Mas. Sekali lagi, matur sembah nuwun.”

Besoknya saya dikasih BG senilai 150 juta!!! Jatuh tempo hari itu juga. Saya langsung ngibrit ke Bank Permata (kini tak ada lagi), mencairkan BG itu–sesuai dengan BG bank itu. Inilah kali pertama saya mencairkan BG. Dalam jumlah yang tak pernah terbayangkan lagi. Dan di Bank Permata ini pulalah saya menuai kisah tak terlupakan betapa ndesonya saya aslinya.

Saya langsung bawa uang itu ke Kota Gede, percetakan pertama itu. Saya berkisah pada beliau bahwa saya mau nyetak buku dalam jumlah banyak, minta waktu pengerjaan cepat, harus selesai dalam 3 minggu. Order ke saya kan sebulan, jadi pahitnya harus siap dalam 3 minggu. Hukum pahitnya warisan abah saya pakai–sampai kini.

“Wah, banyak sekali ordermu, Mas Edi. Saya bantuin DP, ya, diusahakan banyakan, sebab ini paling besar di belanja kertasnya,” kata beliau.

Saya tersenyum congkak. Tenangkan hatimu, Pak, kali ini saya tak pakai utang-utangan. Nggak zaman lagi utang-utangan atuh. Heu-heu.

“Pak, saya bayar cash saja,” sahut saya yang serentak membuat mata beliau berkerut dan dahinya menyipit.

“Cash?”

“Iya, Pak, saya bawa uangnya.” Saya keluarkan segepok uang dari ransel. “Berapa, Pak, tadi total biaya cetaknya?”

“140 juta.” Ia tampak sangat shock melihat uang yang saya keluarkan.

“Maaf, Pak, apa bisa dikasih diskon gitu, heee…”

Ia tersenyum. “Ya udah, kamu bayar 135 juta saja.”

Saya pun membayarnya. Tersisa 15 juta di tangan. Saya mau beli apa ya dengan uag cash sebanyak ini? Mobil? Alphard? Haa, mobil apaan seharga 15 juta. Salam hati, saya berencana beli kalung.

“Mas, dulu kamu datang ke sini minta utang. DP hanya sejuta. Sekarang, tiba-tiba datang order cetak segini banyaknya, bayar cash lagi. Apa rahasianya?”

“Duh, apa ya, Pak?” Saya kebingungan sendiri. Lama saya mikir, sampai akhirnya hanya terucap, “La haula wala quwwata illa billah, Pak, kayaknya itu rahasianya.”

Ia terbahak. “Benar kan perkiraan saya dulu. Kejujuran Mas Edi tak dimiliki anak-anak muda lainnya.”

Saya diam, malu. Buru-buru saya pamit, mampir ke Semar, toko emas. Saya beli kalung. Akan saya hadiahkan pada istri ini–pengganti kalung mas kawin yang tak pernah tertebus itu.

Ia kaget luar biasa menerima kalung itu. Saya ceritakan padanya lengkap perihal rezeki itu. Ia menitikkan air mata. Anak pertama saya, panggilannya Diva, telah lahir dan masih kecil sekali. Dari nama anak pertama inilah nama DIVA Press Group diambil dan dimulai dengan buku-buku Kahlil Gibran ini. Alhamdulillah ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: