Sekali lagi, kuamati surat pengunduran diri dalam genggaman tangan. Ada kelegaan yang kurasakan sebab akhirnya aku mampu bertahan selama tiga tahun di toko tempatku bekerja part time. Sebelumnya, beberapakali aku sempat hendak ke luar, sebab rekan kerja yang selalu saja membuat ulah. Hingga bukannya meringankan tugas, perilakunya yang impulsif dan sulit dipahami justru seringkali membuat beban dalam batin.

Seharusnya, aku tidak terkejut saat mendapati rekan kerjaku yang sudah berkepala empat marah-marah tanpa sebab. Semenjak hari pertama kerja, Bu Sekar—rekan kerja yang lain—telah mewanti-wanti untuk berhati-hati dengannya yang galak dan hobi membuat onar.

Bahkan keluar masuk karyawan sudah biasa, mereka mengundurkan diri karena tidak tahan terus-terusan dibenci, difitnah, dan diperlakukan semena-mena tanpa alasan pasti. Adapun Bu Sekar merupakan karyawan senior hingga masih cukup dihormati.

“Mungkin awalnya belum terlihat, tapi nanti perlahan-lahan kamu akan tahu sendiri,” jelas Bu Sekar kala itu, “Dia itu sudah tua, tapi belum nikah. Sekarang memasuki masa menopause. Di rumah tinggal seorang diri. Karena wataknya yang kurang meyenangkan, tidak banyak kerabatnya yang peduli. Kuharap kamu bisa memahami.”

Namanya Sari (bukan nama sebenarnya), tidak ada yang ganjil dari kesan pertama pertemuan kami. Dia ramah menyambut kedatanganku saat memasukan lamaran kerja. Mengajakku ngobrol tentang asal-usulku dan di mana tempat sekarang ini aku tinggal. Awalnya aku tidak ingin memakan mentah-mentah perkataan Bu Sekar, hanya saja belum sampai satu minggu bekerja, Bu Sari telah memperlihatkan rupa aslinya.

Rasanya, kepalanya yang dulu normal kini terdapat dua tanduk di sana. Juga kulit wajahnya yang awalnya sawo matang kini lebih ke merah padam ketika meneriakiku.

“Emang sekarang jam kerjanya siapa? Enak aja kamu nyuruh-nyuruh aku yang baru datang!” serunya dengan suara menggelegar di depan banyak pembeli sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi.

Terkejut bukan kepalang aku dibuatnya. Padahal, aku baik-baik minta bantuan untuk melayani pembeli yang sedang ramai. Dan saat itu jam di dinding toko telah menunjukan pukul empat sore lebih sekian menit, yang itu artinya dia datang terlambat dan pergantian shift seharusnya dilakukan  beberapa menit lalu. Bentakannya barusan sungguh menohok dada. Sakit hati masih bisa ditahan, tapi rasa malu ini di mana harus kusembunyikan?

“Mbak, itu teman kerjanya?” tanya bapak-bapak yang berada di depanku dengan nada heran.

“Iya,” jawabku dengan tatapan tak lepas dari mesin kasir dan tangan yang masih sibuk memasukan kode barang belanjaan.

“Ya Allah, yang sabar, ya. Galak bener temen kerjanya. Semoga Allah memberi Mbak ketabahan.” Kini, perempuan yang berdiri tepat di samping sang bapak yang berujar.

Kuanggukan kepalaku. Tak berani berucap lagi karena suaraku pasti akan serak seperti orang hendak menangis dan memang saat itu aku susah payah menahan air mata agar tak tumpah. Aku tidak ingin banyak pasang mata yang merasa iba.

Lama sekali Bu Sari mendekam di kamar mandi. Entah apa yang sedang dilakukan, sedang di hari Minggu itu Bu Sekar mengambil jadwal libur. Kuberjalan ke depan, melayani pembeli lain yang sudah menunggu.

***

Hari-hari selanjutnya, ada saja masalah yang Bu Sari buat. Dia yang datang terlambat tanpa mengabari lebih dulu atau caraku bekerja yang salah di matanya. Meski, aku sudah banyak menuruti kemauannya, tetap saja ada hal lain dalam diriku yang tak dia suka. Hingga rasanya ingin aku mengundurkan diri secepat mungkin.

Beruntung, seseorang selalu mengingatkanku untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Toh, di mana pun kita bekerja pasti akan selalu ada saja satu-dua orang yang kurang menyenangkan di sekeliling kita.

“Kamu nggak usah sedih saat Bu Sari memarahimu. Dia memang selalu membenci karyawan baru. Kalau saja dia lebih dulu bekerja di sini daripada aku, mungkin aku juga mendapat perlakuan yang sama. Sama aku aja kadang masih bikin ulah, cuman takut aku laporin Bu Bos.” Bu Sekar menenangkanku,” Kamu tahu sendiri kan, dengan karyawan toko parfum sebelah juga nggak akur. Makanya mereka nggak mau beli ke sini kalau Bu Sari yang jaga. Itu, karyawan laundry depan juga sudah berbulan-bulan didiamkannya.”

Di toko ini ada dua Shift, pagi dan siang. Shift pagi jaga seorang diri, dan shift siang jaga berdua karena ketika malam toko cenderung lebih rame.

Lama-lama aku mulai berusaha menerima dan memahami sikap impulsif Bu Sari. Apalagi selepas mendengar lebih banyak latar belakang kehidupan Bu Sari. Dari dia yang gagal nikah dengan kekasihnya hingga dirinya yang hampir depresi selepas ibunya meninggal.

Bu Sari yang terbiasa hidup enak saat orang tuanya masih ada mendadak harus menjalani hari-harinya seorang diri. Barangkali itu menjadi goncangan besar yang mempengaruhi kepribadian dan wataknya. Dia yang kesulitan mengatur emosi dan berbuat sekehendaknya.

Sabar harusnya memang tak terbatas, hanya saja, kembali menghadapi masalah dari orang yang sama terus-menerus membuatku bosan dan lumayan tertekan. Sebelumnya beberapakali sudah terpikir untukku ke luar dari pekerjaan ini hanya untuk tidak bertemu dengan Bu Sari lagi. Namun, aku butuh pekerjaan ini, selain dekat kos, toko ini juga dekat dengan tempatku menimba ilmu. Belum lagi pekerjaan ini tidak terlalu menguras pikiran juga tenaga sehingga pulang kerja aku masih bisa belajar. Namun, siang itu ingin rasanya aku megundurkan diri saat itu juga.

***

“Minggu besok pokoknya aku yang libur. Nih sudah aku lingkari menggunakan pulpen,” ujar Bu Sari ngotot sambil menatapku tajam.

Aku hanya bisa menunduk. Padahal sudah kukatakan sejak awal bulan jika minggu besok aku minta libur karena ada acara penting. Bu Sari dan Bu Sekar tahu itu. Mereka juga sudah mengiyakan, tapi mendekati hari H, Bu Sari justru bersikukuh jika dia yang akan libur. Aku dan Bu Sekar diam saja, kami sama-sama tahu, percuma mendebat Bu Sari. Dia takkan mengalah. Keputusannya tak bisa diganggu gugat.

“Besok, kamu libur aja nggak papa. Aku bisa kok lembur dan jaga sendirian. Bu Bos juga nggak akan marah jika tahu. Beliau kan sudah paham dengan sikap Bu Sari,” Ini adalah kesekian kalinya di mana Bu Sekar menjelma seperti malaikat penyelamat dalam permasalahanku dengan Bu Sari.

“Beneran, Bu? Duh, tapi nggak enak aku.”

Nggak papa.”

Lagi-lagi aku batal mengundurkan diri. Bukan karena Bu Sekar telah memberikan solusi dalam masalahku. Tetapi sebab guruku pernah menasihati teman satu jurusan yang pindah kos sebab pria yang tinggal di sebelah kamarnya adalah seorang homo yang seringkali hendak main ke kamar dan dia memiliki firasat jika cowok itu tertarik padanya.

“Pergi dan menghindar bukan cara menyelesaikan masalah. Sebaiknya, kamu katakan padanya bahwa kamu pria yang normal sehingga dia berhenti mendekatimu,” ujar guruku kurang lebih.

Benar, masalah bukan hal yang seharusnya dihindari tetapi dihadapi. Ketika hari ini aku pindah kerja karena perilaku impulsif Bu Sari. Bukan berarti di tempat kerja yang baru nanti, aku akan terhidar dari masalah yang sama atau bahkan lebih besar.

***

Waktu berlalu dan bulan berselang, aku tetap bersikap baik dengan Bu Sari, mencoba memahami dengan apapun yang dia lakukan padaku hingga datanglah masa di mana dia mulai menerima kedatanganku. Dia bahkan mulai membagi kehidupan personalnya, termasuk beberapa bagian masa kelam yang belum bisa dia terima.

Ketika surat pengunduranku telah disetujui, berat rasanya meninggalkan Bu Sari. Seperti pepatah, ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Setiap perbuatan baik selalu ada ganjaran kebaikannya. Tiga tahun bekerja sama dengan Bu Sari telah membuatku banyak belajar kita tidak bisa memaksa orang lain berubah sebagaimana harapan kita. Akan tetapi kita selalu punya pilihan untuk mengubah sikap kita dalam menghadapinya.

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: