Tidak semua orang yang sudah menikah akan mendapatkan karunia yang sama, yakni mempunyai sang buah hati. Betapa sunyinya kehidupan rumah tangga Holis dan Yanti, yang usia pernikahannya sudah seumur jati belum jua dihadiri  sosok mungil kecil yang memang menjadi impiannya.

Sore itu Holis meminta pendapat istrinya, bagaimana jika ia menjadikan anak ketiga kakak kandungnya, Irwan, sebagai anak angkat dan akan diasuhnya.

“Ma, bagaimana jika kita minta Irwan kepada kang Zainal untuk dijadikan anak angkat kita?” tanya Holis kepada istrinya.

“Saya setuju, Pa. Tapi, apakah kang Zainal mengamini apa yang menjadi kemauan kita?” respon Yanti lirih penuh ta’dzim.

“Dan yang lebih penting lagi, apakah Irwan mau menjadi anak angkat kita?” Tambahnya sembari menuangkan air putih ke dalam gelas yang bening.

“Bagaimana kalau kita coba langsung menghubungi keluarga di Madura sekarang ini juga?” Kata Holis dengan penuh keyakinan akan rencananya.

“Ya, Pa. Itu lebih baik.”Timpal Yanti mengamini rencana suaminya tercinta.

Holis beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya, untuk mengambil handphone. Beberapa detik kemudian ia datang dengan HP merek Lenovo di tangan kanannya, dan langsung menghubungi kakaknya di Pulau Madura.

“Kang Zainal, Irwan kan sudah tamat SD. Menurutmu, bagaimana jika Irwan diasuh saya dan dijadikan sebagai anak angkat saya? Kamu kan tahu sendiri Kang, kalau sampai saat ini saya tidak punya keturunan dan percuma saya banyak harta Kang jika tidak punya keturunan. Jika diizinkan, saya mau Irwan yang meneruskan perusahaan saya sekaligus menjadi anak angkat saya.” tuturnya gamblang kepada kakak kandungnya yang merupakan saudara tertuanya.

“Biar saya yang tanggung kehidupan Irwan dan juga pendidikannya sampai dia sukses, itupun jika kakang izinkan saya dan Irwan mau dengan ini semua.” tambahnya.

“Akan saya tanyakan ini semua kepada Irwan dulu, Dik.”

“Iya, kang.” Holis yakin rencana itu disetujui. 

Dua hari dari dari perbincangan itu, Zainal memberikan kabar kepada adiknya bahwa Irwan bersedia dan setuju dengan rencananya.

“Baiklah, saya akan ke Madura besok untuk menjemput Irwan.” ucap Holis berjanji.

Fajar sudah menyapa pagi kala itu. Holis tiba di rumah Zainal untuk menjemput calon anak angkatnya, Irwan. Secara logika medis, istrinya tidak bisa hamil karena mandul. Berbagai ikhtiar dilakukan. Mulai periksa ke dokter, minta doa kepada seorang ustadz maupun kiai untuk diminta doa barokahnya. Namun, tiga belas tahun bernaung di bawah payung pernikahan, selama itu pula mereka hidup tanpa seorang anak.

Tanggal 5 Juni 2011, Irwan meninggalkan Madura, karena ia harus ikut pamannya ke Gersik. Di tanah Gersik ia melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi setelah SD. Awal menginjakkan kakinya di sana, ia merasa asing dan dirasa asing oleh warga di sana. Maklumlah, ia tidak pernah datang ke sana kecuali saat itu. Tak salah jika dikatakan bahwa semua serba baru baginya, teman baru, keluarga baru dan alam baru.

Bulan Juli minggu kedua, Irwan sudah resmi menjadi siswa SMP Negeri Gersik. Ia menjadi peserta terbaik masa Orientasi Siswa Baru (MOS) pada waktu itu. Sejak saat itulah ia mulai dikenal oleh siswa yang lain, dan Irwan mulai akrab dengan teman-temanya yang notabene sama-sama siswa baru bahkan dengan kakak kelasnya ia juga akrab.

Selama Irwan menjadi siswa di sekolah itu, tidak pernah menjadi juara kelas kecuali berada pada posisi juara satu. Suatu ketika, gurunya pernah bertanya kepada Irwan ihwal cara belajar yang ia lakukan. Ia menjawab tidak belajar kecuali setelah melakukan shalat tahajud dan tidak lupa berdoa kepada Allah juga tak lupa meminta doa orang tua agar diberi semangat dalam belajar dan keterbukaan pikiran.

Tidak terasa Irwan sudah menjalani pendidikannya di sekolah itu sudah hampir tiga tahun, pelaksanaan ujian nasional pun tinggal menghitung hari. Dua hari sebelum UNAS ia menelpon orang tuanya di Madura, agar didoakan supaya lancar dan sukses dalam mengahadapi ujian akhir yang menentukan kelulusan baginya.

***

Hari itu merupakan pengumuman hasil UNAS yang dilaksanakan satu bulan sebelumnya. Semua siswa SMP Negeri I Gersik diharuskan masuk ke sekolah tidak terkecuali dengan Irwan. Irwan sangat bersyukur karena ia termasuk siswa yang memperoleh nilai teringgi diantara teman-temannya yang juga mengikuti ujian penentuan kelulusan. Lulus SMP,  Irwan  melanjutkan SMA di daerah yang sama. Selepas SMA, ia melanjutkan ke perguruan tinggi di kabupaten Malang, disanalah ia menekuni bidang Psikologi.

***

Menginjak semester tujuh, ia sudah mulai disibukkan dengan proposal skripsinya. Lima kali menyetorkan judul, lima kali pula judul itu ditolak oleh dosennya. Judulnya baru diterima pada kali keenam menyetorkan. Skripsinya diselesaikan dalam jangka waktu dua bulan, ternyata tugas akhir yang ia kerjakan tidak dalam matematika waktu pendek itu membuat ia putus asa karena ditolak dengan alasan tidak objektif oleh dosen pembimbingnya. 

Semenjak skripisinya tidak ACC oleh dosen pembimbingnya dan diperintahkan untuk membuatnya kembali dengan judul yang berbeda, ia sering menyendiri dan jarang sekali bergabung dengan teman-temannya.

Sore itu kakak tertuanya, Fikri, menelponya dan menanyakan kapan ia akan wisuda. Ia hanya menjawab dengan singkat, “Sudahlah Kak, nanti kalau sudah tiba waktunya akan saya kasih kabar.”

***

Satu minggu dari pembicaraan dengan kakaknya, temannya yang juga berasal dari Madura, Reza, menelpon kerumah Irwan sekaligus menanyakan apakah Irwan ada di Madura atau tidak. Namun, orang tuanya menjadikan kata “TIDAK” sebagai jawaban atas pertanyaan yang Reza lontarkan dari sebrang.

“Memangnya Irwan ke mana?” tanya ibunnya Irwan dengan rasa heran dan penasaran.

“Saya juga tidak tahu juga, Bibi. Tapi yang jelas Irwan sudah satu minggu tidak ada kabar. Biasanya ia ngasih kabar kalau mau bepergian, baik jalan-jalan sama teman kampusnya atau juga keperluan kuliahnya, nah kali ini tidak. Tapi, yang saya ingat waktu malam minggu kemarin ia meminjam pisau ke salah satu teman kos di sini. Saat ditanya mau rujaan atau mengrisi sayur, ia menjawab dengan geleng-gelang saja. Setelah ia meminjam pisau ia kembali ke kamarnya dan keluar lagi dalam keadaan bercelana pendek, dan pergi ke arah utara, entahlah ia pergi ke mana, kami teman-temen kos tidak tahu.” Cerita  Reza ihwal kejadian yang dianggap aneh oleh dirinya.

Mendengar semua apa yang sudah diceritakan oleh Reza, ibunya Irwan jatuh ke lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. HP yang berada di gengamannya terlepas dan jatuh dengan baterainya terpisah.

Kakaknya Irwan segera menghubungi pamannya yang tak lain adalah adik ayahnya di Gersik. Kakaknya menanyakan apa yang terjadi sebenarnya dengan Irwan. Holis juga menceritakan hal sama dengan apa yang sudah diceritakan Reza kepada ibunya di via telepon. Holis sengaja tidak memberikan kabar kepada pihak keluarga Irwan di Madura, karena ia sudah menyebarkan selembaran dan pemberitaan di surat kabar yang berisi foto Irwan dengan keterangan hilang dan dalam pencarian. Sehingga siapa yang menemukan sosok Irwan diharapkan segera menghubungi nomor yang sudah tertera dalam selebaran dan juga di surat itu, atau bisa menghubungi pihak kepolisian.

“Kenapa Paman tidak menceritakan semua ini?” dekik kakak Fikri, kakak kandung Irwan  dari sebrang.

“Maafkan pamanmu ini, Fikri. Paman hanya tidak ingin keluarga di Madura kaget dan biar kami di sini yang mencari Irwan dengan usaha yang bisa kami lakukan.” Ujar Holis lirih.

Kesokan harinya Fikri pergi ke indekos Irwan di Malang. Ia seorang diri datang ke Malang untuk memastikan kebenaran kabar akan hilangnya Irwan yang tanpa jejak. Namun, Irwan belum juga ditemukan walaupun sudah dicari.

Karena tak ada kabar tentang adiknya, Fikri datang ke Gersik. Ia mendatangi pamanya dan pulang bersamanya ke Madura. Tiba di Madura, Holis dan Yanti mengiba minta maaf di depan Zainal atas kejadian yang di luar dugaan.

Di tengah-tengah obrolan antara Zainal dan Holis, Fikri mendapat kabar dari Reza kalau Irwan ditemukan. Kabar itu membuat mereka lega dan sedih. Mereka lega karena Irwan masih hidup. Tapi sayang, Irwan habis dihakimi massa karena mencuri di pasar Lawang dan sudah ada di dalam pengamanan kepolisian.

“Kak, ini salahku. Maafkan aku yang tidak bisa mendidik Irwan.”

“Sudah, sudah. Jangan bicara seperti itu. Saat ini juga, kita harus ke Malang.”

***

Di Malang, mereka mendapat cerita langsung dari Irwan ihwal kejadian yang diceritakan Reza. Ternyata waktu itu ia hendak membunuh dosennya. Tapi usaha itu gagal dan ia kabur. Untuk bertahan hidup, ia mencuri bahkan menjarah di pasar-pasar.

Dengan negosiasi dan penyelesaian secara damai dengan pihak korban pencurian yang dilakukan Irwan, akhirnya ia bebas dengan janji damai dan minta maaf kepada korban. Ia pulang ke Madura kemudian diberangkatkan ke pondok pesantren salaf untuk belajar agama.

***

Selama di pesantren, ia membuktikan tobatnya. Bahkan ia sering dikirim ke luar negeri untuk ikut lomba tahfidz tingkat internasional.

“Ayah, ibu, semoga hafalan al-Quranku dapat menebus sedikit demi sedikit mengobati rasa sakit kalian karena kenakalanku dulu.” tutur Irwan dari Arab Saudi saat mewakili Indonesia MTQ.

“Ibu dan ayah sudah memaafkanmu. Kamu juga juga perlu minta maaf kepada paman di Gersik. Nanti sebelum pulang ke Madura, sebaiknya kamu mampir ke Gersik habis dari Bandara.”

Irwan pun tiba di Gersik. Ia pun sungkem kepada Holis dan Yanti, orangtua angkat yang masih sedarah. Tangisan yang sebelumnya karena sedih, saat itu juga berubah tangisan kebahagiaan.

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: