Ilustrasi dari the vital spirit.

Kiat Membaca Isi Hati Melalui Indikator-Indikatornya

Isi hati siapa yang tahu? Sebab hati manusia lebih dalam dari samudera yang paling dalam. Begitu tutur pepatah.

Betul, perkara hati memang merupakan ranah yang sangat privat dan personal. Tak ada orang di luar diri pemilik hati yang mampu menjangkau kandungan suatu hati. Kecuali pemiliknya dan Allah tentu saja.

Ini ‘aksioma’, sengaja saya kasih tanda petik. Maka mengklaim-klaim isi hati orang lain begini dan begitu atas suatu status dan komentar di media sosial jelas tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia hanya rawan terjatuh jadi tudingan, sentimen, cermin egoisme, bahkan fitnah.

Andai ada seorang kawan Fesbuk mengunggah fotonya lagi menghadiahkan buku pada seseorang, semua kita tak tahu sama sekali dan karenanya semestinya tak punya hak sama sekali pula untuk memvonis pengunggah foto itu sedang riya’ atau pamer atau merangsang orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama. Waallahu a’lam.

Celakanya, di sosmed, amatlah mudah kita menemukan orang-orang yang dengan enteng mendaku orang lain sedang riya’, pamer, sombong, belagu, dan sebagainya–dalam seabrek-abrek klaim yang negatif.

Selain klaim begitu menunjukkan adanya masalah logika berpikir di diri pengklaim, sisi lainnya juga memperlihatkan kurang arifnya ia dalam mengelola hasrat negatif pada dirinya. Hawa nafsu tepatnya. Padahal, jika ia bisa lebih mengedepankan sikap positif dan husnudzan, jelas terbuka baginya untuk menepis klaim negatif yang tak bisa dipertanggungjawabkan itu, menggantinya dengan apresiasi-apresiasi positif yang tentu saja lebih berguna baginya dan orang lain sekaligus.

Seberapa banyak dari kita yang memilih mengedepankan husnudzan dan inspirasi ketimbang suudzan dan negasi?

Tegasnya, maaf-maaf kata, klaim-klaim negatif kepada isi hati orang lain niscaya hanya mungkin lahir dari pribadi yang bermasalah dengan dirinya sendiri.

Itu bagian pertama.

Di bagian berikutnya, sembari tetap meyakini kebenaran bagian pertama tadi, saya memandang bahwa ‘eksklusivitas isi hati’ bukannya sama sekali tidak bisa diraba. Ada indikator-indikator (bahkan pula berbasis dogma yang lazim kita anut) yang bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis, yang bisa dipakai untuk mengukur mutu isi hati diri/seseorang.

Tentu, agar membuahkan hal yang positif dan inspiratif–sebab ini poin saya di tulisan ini—afdhalnya metode ini tidak dipakai untuk menghakimi orang lain: hatinya begini dan begitu lalu kita rayakan dengan intimidasi, negasi, atau penghakiman buruk. Tidak. Sekali lagi, itu tiada guna, tidak inspiratif sama sekali buat diri kita, malah menyebabkan diri kita jatuh pada label pendengki, penghasud, dan kaum negative thinking. Cukuplah buah dari metode ini kita jadikan pengingat (i’tibar) buat kebaikan diri di masa depan–seminimnya agar kita tidak meniru persoalan-persoalan hati yang terindikasi sedang menginfeksi seseorang.

Contoh, ya.

Orang yang melontarkan nyinyiran kepada orang lain atas nama suatu pandangan agama yang berbeda.

Dapat ditarik indikasi bahwa pelaku tersebut tidak memiliki pengetahuan keagamaan yang luas dan dalam. Kenapa begitu? Sebab sangat jelas bahwa fanatisme paham agama yang meruah dalam ungkapan-ungkapan negatif (seperti rundungan atau makian) kepada orang lain yang berbeda paham anutannya hanya mungkin lahir dari orang yang tak memahami bahwa paham-paham agama tidaklah tunggal, mutlak, dan eksklusif. Timbaan paham agama secara asali jelas selalu luas tak terbatas, meski bersumber dari sumber teks naqli yang sama.

Orang yang menyatakan paham agama adalah tunggal dalam konteks sosial yang majemuk niscaya rawan terseret pada fanatisme berlebihan pada dirinya sendiri, mendaku paham anutannya terbenar, terbaik, terlurus, dan tersesuai al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah Saw., sembari di detik yang sama ia menegasi, merendahkan, menyalahkan, menista, bahkan menyesatkan pandangan mazhab orang lain. Ujung paling tragisnya ialah sikap mengkafirkan orang lain. Naudzubillah min dzalik.

Dapat dipastikan bahwa tentulah orang yang beginian tidak fasih dalam membedakan hal-hal yang berskala ushuliyyah dalam studi Islam atau sebutlah metodologi tafsir al-Qur’an. Apa-apa yang ushuliyyah adalah pilar-pilar yang bersifat besar, pokok, dan utama. Misal pilar kesejarahan asbabun nuzul, ilmu kebahasaan (ya Nahwu, Sharaf, Mantiq, hingga Balaghah), hingga tabir-tabir simbolisme atau semiotika–sebutlah pengkategorian ayat-ayat muhkamah dan mutasyabihat—dan finalnya metodologi tafsir yang dipakainya.

Sekadar tamsil, dengan meninggalkan dulu metode ‘irfani, kita kenal metode tafsir yang lazim dilakukan selama ini ialah metode Bayani dan Burhani. Tekstual dan Kontekstual. Keduanya jelas menghasilkan capaian paham, mazhab, dan aliran hukum yang berbeda.

Tentunya ini menjadi bukti betapa sangat tak sederhananya proses lahirnya dan meluasnya kemajemukan paham, pandangan, dan mazhab dalam sejarah panjang Islam kita. Ibnu Taimiyah, misal, yang merujuk kepada mazhab Imam Hanbali jelas tak terpisahkan dari konteks historis-ideologis yang berkembang di masa kekhalifahan Abbasiyah masa itu. Sama sekali tak semudah mengklik sebuah link, lalu mengklaimnya ke sana ke mari sebagai paham yang tunggal benar, bukan?

Belum lagi bila kita masuk ke diskursus yang lebih filosofis yang dulu melahirkan banyak aliran teologi dalam Islam. Misal antara al-Qur’an sebagai kalamullah yang berkebenaran mutlak dengan teks-teks yang kita kenal dan kaji kini dalam teks-teks berbahasa Arab dalam mushaf-mushaf al-Qur’an yang dengannya kita melakukan tafsir dan takwil yang faktanya sangat majemuk sehingga setiap mujtahid dan jamaahnya lalu menyebutkannya benar dan itulah yang kini kita mafhumi sebagai kebenaran-kebenaran yang mejemuk.

Sungguh tak sesederhana satu klik di halaman pertama mesin pencarian Google lalu Anda salah-salahkan paham dan amaliah orang lain. Siapa yang bisa melakukan negasi demikian pada kemajemukan pandangan dan paham hukum Islam hari ini? Dapat dipastikan hanyalah orang-orang yang fakir pengetahuan metodologi dalam pelbagai studi Islam. Dan kemampuannya menyalahkan pihak lain mencerminkan dengan empiris bukan hanya keawamannya, tapi sekaligus arogansinya yang dipantik oleh fanatismenya yang berkeawaman. Maaf.

Misal lain.

Hijrah.

Tentu saya seturut bahagia pada saudara-saudara seiman yang memutuskan berhijrah dalam perjalanan hidupnya. Yang saya maksud pada perayaan syukur dan bahagia ini ialah al-harakah al-jauhariyah (dalam istilah Mulla Sadra) atau gerakan transformatif dari kesuraman menuju kecemerlangan. Minad dhulumati ilan nur.

Dalam realitas di lapangan hijrah yang menguar riuh di beranda kita, sayangnya hijrah yang al-harakah al-jauhariyah itu cenderung sekadar dihingarkan sebagai semata performa lahiriah yang bernuansa gimik dan heroik kepada orang-orang lain yang dalam pandangan mereka belum terhidayahi, belum hijrah.

Tepat di waktu yang sama, kesibukan menyeru-nyeru orang-orang lain yang dianggap masih berada dalam kezaliman peradaban (seringnya diistilahkan belum Syar’i) jatuhnya jadi tendensi-tendensi tendensius yang hegemonik (saya sengaja pakai istilah tersebut untuk memberikan penekanan). Jilbab harus panjang begini rupa, warnanya harus putih begitu rupa, plus dilarang ada ini itunya, plus lagi dikonsepkan kaffah paripurna melalui ikon-ikon lahiriah kearaban semata macam niqab, abaya, burqa, dan lainnya.

Mengapa kesibukan merayakan label-label lahiriah sampai mencerabut tugas ruhani untuk berhijrah yang al-harakah al-jauhariyah?

Apa benar hijrah haruslah dilabelisasi dengan emblem-emblem lahiriah kearaban? Bukankah corak dan karakter peradaban umat Islam amatlah tak terbatas luasnya, sebagaimana luasnya dinamika yang melingkupi hidup umat Islam selalu bergerak maju dan pesat?

Penting digarisbawahi di sini bahwa saya sama sekali (sekali lagi sama sekali) tidak anti pada emblem-emblem apa pun, termasuk arabian style. Buat apa dimasalahkan? Apa gunanya? Tak ada. Itu hanya kostum, label, lahiriah. Ada pun hijrah adalah denyar-denyar ruhani, yang sekali lagi esensinya adalah al-harakah al-jauhariyah. Tak ada lainnya.

Maka senarai-senarai negatif kepada orang lain atas nama hijrah yang labelistik tersebut sangat patut dicemaskan hanya akan mengasingkan pelaku hijrah dari ruhani al-harakah al-jauhariyah­i-nya. Tatkala benar-benar jatuh pada ungkapan-ungkapan negasi dan peyorasi, tepat di titik inilah telah terjadi pembanggaan diri sediri: kesombongan, keangkuhan, egoisme, yang semata dibingkai oleh artikulasi-artikulasi dan performa-performa lahiriah yang tiada makna mendasar.

Siapa yang mampu melakukan anomali hijrah sejenis itu?

Maaf, niscaya hanya mungkin mampu dipanggungkan oleh orang-orang yang baru kemarin sore mengerti hijrah, belum ke mana-mana belajar madzah, apalagi memiliki kedalaman pengetahuan yang mengantarnya pada kebijaksanaan-kebijaksanaan–dalam istilah Nabi Saw: akhlaqul karimah.

Tepatnya, yang bersikap performance begitu masihlah kalangan hijrah ABG. Di jiwa spiritualnya ada lubang ruhani yang menjadikannya berjarak dengan hal yang paling mendasar dalam gerakan hijrah yang lillahi ta’ala, yakni al-harakah al-jauhariyah, ia adalah ekspresi kerendahan hati yang pasti mampu terpancar berkat ketundukan ‘ubudiyah dan kewara’an muamalah.

Mereka yang begitu memerlukan bimbingan ruhani yang lebih lanjut dan jauh serta dalam, agar fokus pada hijrah yang melahirkan jiwa ‘ubbad, ahli ibadah, dan hadiah langsung dari posisi ini ialah kerendahan hati. Tidak bakal selainnya.

Maka, tegasnya, perilaku menyindir, apalagi menyinyiri orang lain yang tidak setara performa lahiriahnya dengannya sembari merayakan kibar-kibar lahiriah hijrah–apa pun istilah populernya—dapat dijadikan indikasi bahwa ‘ubbadnya belumlah menyinari ruhaninya. Ruhaninya belumlah menyinari lelampah kesehariannya. Ia sibuk berjibaku dengan semata lahiriah dan kerontang dari pancuran air ruhani yang sejuk dan menyejukkan.

Misal lainnya lagi.

Narasi-narasi sufistik, arif, dan makrifatullah jelas memutlakkan kezuhudan yang mendalam pada batin. Tidak bisa selainnya. Ini aksioma.

Dalam nasihat Imam Junaid al-Baghdadi, misal, muskillah pelaku narasi tasawuf yang hakiki memiliki kemampuan untuk meletakkan bukan selain Allah pada seluruh aspek kehidupannya. Bahkan tauhidnya pun tiada lain semata dinisbatkan kepadaNya, bukan capaian dirinya. Hijrahnya pun semata karena pertolongan Allah, bukan dirinya atau pergaulannya sama akun-akun hijrah apa pun.

Maka jika ada pengkhotbah-pengkhotbah narasi makrifatullah yang masih melekatkan dan mengidentifikasikan dirinya pada segala apa pun yang terjadi padanya dan selainnya, yang itu dipantik oleh gejolak hawa nafsu dan ambisi dalam segala bentuk kediriannya, niscaya itu adalah indikasi kuat bahwa ia hanya sedang berteori makrifatullah, tidak melakoninya.

Ahli mistik mustahil sibuk dengan manajemen keuangan atau faksi-faksi politik. Ia sungguh semata nirtendensi. Ia sungguh pastilah hanya semata Ihsan. Dan Ihsan dalam ekspresi nyatanya hanya memuat dua hal: ‘ubbad dan zuhud.

Salik yang sungguh salik sudah pasti tidak mungkin menyatakan ia penting, ia berharga, ia berpengaruh, dan ia tahu ini itu. Salik yang sejatinya salik senantiasa bergumul hanya tentang dan dengan Allah. Tiada selainNya.

Terakhir, saya nukilkan saja satu hadits Rasulullah Saw yang amat popular ini, “Ketahuilah sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh dirinya dan jika segumpal daging itu buruk maka buruklah seluruh dirinya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim)

Imam Ghazali menjelaskan bahwa hati adalah raja bagi manusia, pikiran adalah panglimanya, dan perbuatan adalah prajuritnya. Semua perilaku kita (ucapan, status, komentar, klaim, pujian, ataupun hujatan) adalah sekadar ekspresi yang dikendalikan oleh pikiran dan puncaknya oleh hati. Maka baiknya sebuah ucapan adalah cermin dari baiknya hati, begitupun sebaliknya.

Ya, ini ‘hanyalah’ metode secara nalar kritis. Bukankah ini adalah indikator-indikator isi hati manusia yang berharga buat kita jadikan pegangan demi kebaikan diri sendiri di hari esok, bukan untuk mengolok-olok orang lain?

Waallahu a’lam bish shawab.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan