Jikalau disuruh memilih, kamu memilih calon suami yang mapan atau yang tampan? Jawabannya pasti beragam, kembali kepada subjektivitas masing-masing. Ya, kan?

Kalau disuruh memilih, aku pasti memilih calon suami yang tidak tampan, tapi mapan orangnya. Karena aku adalah makhluk Allah yang benar-benar tahu diri. Aku bukanlah gadis cantik yang biasanya pasang kriteria yang tinggi. Harus tampan plus mapan juga. Kayaknya terlalu egois dan berlebihan, kalau aku memilih pria tampan. Lagian pria tampan mana yang mau dan suka sama aku?

“Ngaca, dong!” kata teman dekatku.

Tapi terkadang juga pingin punya calon suami yang tampan, kan bisa untuk perbaikan keturunan, he-he-he …

Sebagai seorang gadis yang sederhana, salahkah jika aku mendamba seorang calon suami yang mapan?

Ingin meningkatkan derajat ekonomi, itu ceritanya. Bukan berarti aku ini cewek matre lho. Tapi tak apalah, namanya juga keinginan, syah-syah saja kan? Tidak ada yang berhak menghakimi keinginanku. Tapi sebenarnya pada waktu itu aku benar-benar mendamba dan berharap pria mapan tetangga kampungku itulah yang kelak akan menjadi jodohku. Pendamping hidupku selamanya.

Tapi di sisi lain, muncul juga keraguan itu, apakah pria mapan tersebut mau denganku? Lama-lama aku kok jadi Ge-Er sendiri, ya?

Sebenarnya itu hanyalah sebuah dambaan dan harapan, seandainya dia bukan jodohku, tak apalah. Karena aku yakin, jodoh adalah ketentuan Allah yang benar-benar telah diperhitungkan untuk kebaikan hamba-Nya. Tapi sayang, banyak orang yang mengabaikan atau bahkan tidak percaya akan hal itu.

Sebagai hamba Allah yang beriman, aku benar-benar yakin kelak jodohku adalah yang terbaik untukku. Kalau yakin, Allah pasti akan mengabulkan. Kuncinya hanya terletak pada keyakinan.

Jujur ya, sejak dulu aku kurang seberapa suka jika melihat pria tampan. Bukan berarti aku bukan pengagum pria tampan, tidak. Teman-temanku sejak remaja sampai sekarang memang banyak yang tampan, tapi untuk ke arah hubungan yang lebih serius, aku memang kurang sreg dengan pria tampan. Bukan masalah karakter atau playboy atau apalah, intinya aku hanya suka berteman saja, hanya sebatas teman. Itu saja, tida kurang tidak lebih.

Bagiku, punya calon suami mapan adalah lebih membanggakan daripada calon suami yang tampan.

Dengan kemapanannya, aku bisa mengubah kekurangtampanannya, menjadi bisa agak tampan, he-he-he … kok jadi ngarep.  Bisa di makeover istilahnya. Tapi, ngapain harus di makeover ya, seharusnya yang di makeover itu, aku. Yah kalau bisa dua-duanya deh.

Mumpung uang ada. Terus ketika jalan berdua, tidak ada orang yang bisik-bisik, aduh kok antara langit dan bumi ya …. Dari segi wajah, alhamdulillah sepadan, sama. Aku tidak terlalu cantik, biasa saja, dia juga begitu sama.

Pada waktu itu, aku pikir bahwa punya suami yang mapan itu enak banget. Suami punya pekerjaan tetap dan punya gaji yang tinggi. Jika aku punya keinginan bisa tercapai. Pingin rumah bagus dan mobil, sudah ada. Pengin beli perhiasan, langsung dibelikan. Pingin beli baju dan tas yang bermerk, pasti terealisasi. Pingin ke salon, kapan pun terpenuhi. Koleksi sepatu dan tas mewah, pasti bisa.

Pokoknya enak deh kalau punya calon suami mapan. Aduh kesannya kok matre banget ya? Padahal aku sosok yang sederhana, lho. Untungnya itu hanya sebatas lamunanku.

***

Lamunanku yang begitu menggebu, membuatku lupa, bahwa aku sedang duduk bersama ibuku di teras rumah. Tiba-tiba ada seorang laki-laki paruh baya menghampiri ibuku. Ternyata orang tersebut ingin bertamu ke rumahku.

Orang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Dengan percaya diri menyampaikan keinginannya untuk melamarku untuk anak perjakanya. Seketika itu juga ibuku menyetujuinya. Aku sangat heran, mengapa ibuku langsung menyetujuinya?

Mengapa tidak ngomong dulu ke aku?

Paling tidak memberiku tawaran, kamu mau nggak, nduk?

Lagian ibuku juga belum tahu anak dari orang tersebut.

Apakah dia laki-laki yang baik atau bagaimana?

Pekerjaannnya apa juga belum tahu.

Meskipun tadi orang tua tersebut menyebutkan bahwa pekerjaan anaknya adalah seorang guru, tapi belum tentu dia guru beneran.

Sebenarnya perlu diselidiki dulu seharusnya. Bingung juga menghadapi situasi ini. Sempat berseteru juga sih. Tapi akhirnya kami hanya bisa diam. Pasrah dengan apa yang akan terjadi.

***

Satu minggu kemudian, orang tersebut datang lagi ke rumah bersama putranya. Betapa terkejutnya aku, ternyata putranya tampan sekali. Aku nggak pernah membayangkan kalau putra orang tersebut tampan sekali, kalau melihat ayahnya sih biasa-biasa saja.

Ternyata ketampanannya itu ada sebabnya. Ibunya yang sungguh cantik sekali. Istilahnya dia nurun ibunya. Jika melihatnya, aku jadi sangat minder. Sempat terpikir dalam hati, yang kudamba pria mapan ternyata yang datang pria tampan.

Meskipun yang kudamba pria yang mapan, tapi Allah telah mengatur sedemikian rupa urusan jodohku. Dalam waktu dua bulan, proses menuju pernikahan benar-benar lancar sekali. Aku hanya bisa terdiam menerima jodohku, seorang pria tampan.

“Seharusnya kamu bersyukur,” kata teman dekatku.

Aku cuma bingung, sebenarnya minder juga, sih …

“Nggak usah merasa rendah diri, seharusnya kamu bersyukur bisa berjodoh dengan pria setampan itu. Kamu nggak usah mikir lagi untuk mendapatkan pria mapan, yakinlah kemapanan seseorang itu tergantung proses dan kesungguhannya.”

Lama kelamaan aura ketampananya menyinari hatiku. Hingga tumbuhlah cinta yang sebelumya tak pernah ada. Kelahiran buah hati pertama adalah bukti cinta kami. Kesabarannya dalam membina biduk rumah tangga, yang mengantarku menggapai sakinah. Aku berharap landasan sakinah ini kelak akan mengantarku menuju mawaddah wa rahmah, meskipun aku yakin itu semua butuh proses.

Akhirnya aura ketampanannya juga mengalir ke aura wajahku juga. Ada usaha untuk berhias diri agar kelihatan cantik. Rajin perawatan walaupun dengan minimnya budget. Maklumlah kami harus merintis rumah tangga dari nol. Kami bisa saling bahu membahu beradaptasi dan memperbaiki sistem ekonomi rumah tangga kami. Meskipun cobaan demi cobaan bertubi-tubi mendera, Alhamdulillah kami bisa bertahan menghadapinya.

Seiring dengan bertambahnya buah hati, bertambahlah anugerah yang tak terpikir sebelumnya, min haitsu laa yahtashib, istilahnya. Seiring dengan berjalannya waktu, suamiku yang tampan bisa menjadikan kehidupanku lebih mapan, tidak hanya mapan secara lahir bahkan mapan batin juga.

Amazing rasanya!

Akhirnya kudapatkan suami yang tampan dan juga mapan. Dapat dua-duanya. Benar-benar paket lengkap. Subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar. 

Oleh: Siti Zainab Yusuf.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: