Perjalanan ke SMA Negeri 1 Karangkobar ini membuatku mual. Kelokan, jalan naik, jalan menurun khas pegunungan menyapaku di sepanjang perjalanan. Hari ini adalah hariku mengikuti lomba. Aku mewakili sekolahku, SMP Negeri 1 Mandiraja, menjadi kandidat lomba mata pelajaran Bahasa Inggris. Saat pertama kali aku dipanggil Bu Ary, aku tak tahu menahu kalau aku akan mencoba sisi lain seorang siswa. Mewakili sekolah untuk perlombaan adalah sesuatu yang mendebarkan bagiku.

“Na, kamu belajar buku ini ya? Kisi-kisi lomba mapel kemarin juga dari sini.” Bu Ary adalah guru bahasa Inggrisku di kelas 3. Guru yang cara mengajarnya keren. Aku terkagum-kagum dengan kelihaiannya mengajar. Dari kelas 4 SD, aku memang sudah belajar bahasa Inggris di SD. Di kecamatanku, SD-ku satu-satunya yang mulai belajar pelajaran itu. Aku yang dari dulu ngefans sama Westlife dan terbiasa mendengarkan lagu-lagu berbahasa londo itu, cepat sekali menyerapnya.

I have a dream

A song to sing

To help me cope

With anything

Suara Shane Westlife menggema di kamarku. Aku sering mendengarkan lagu boyband asal Irlandia ini sambil belajar. Tanteku menyukainya duluan. Dan aku, ponakannya, yang selalu mengikutinya, tentu saja ikut menyukainya.

“Na, kamu sudah siap ikut lomba?” Bapak menanyaiku lewat celah pintu kamarku. Aku melongok dan menjawabnya mantap.

“Sudah dong. Bahasa Inggris mah kecil.”

Aku tertawa lebar. Bapak memanyunkan bibir.

“Sombongnya Nana. Hahaha.” Bapak tertawa keras sekali lalu meninggalkanku untuk belajar kembali. Besok hari penentuan, apakah aku memang jagoan di kabupaten ini atau tidak.

Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya aku sampai juga di SMA tempat lomba diadakan. Sudah banyak anak-anak seusiaku yang memakai seragam biru putih mengerumuni sebuah papan pengumuman. Aku menarik diriku mendekat. Ternyata pengumuman tersebut berisi pembagian nomor peserta lomba. Nomor 13 adalah nomorku.

Dari ke-50 peserta se-Kabupaten itu, aku menduduki peringkat pertama. Aku pulang mengabarkan berita gembira ini. Apa kubilang, ini hal kecil.

“Tuh kan, Pak. Aku juara satu. Hahaha.”

Alhamdulillah. Tetap rendah hati, ya. Katanya ada lomba lagi ya setelah ini?”

“Katanya gitu, Pak. Tapi bukan lanjutannya. Ada acara ulang tahun SMA gitu.”

“Oh ya. Tetep belajar dan berdoa.”

Aku hanya tersenyum. Aku bahagia sekali hari itu. Rasanya seperti sebuah perayaan dari ketekunan melakukan hobi dan bonusnya berbuah kejuaraan. Hobiku menyanyikan lagu dan membaca buku bahasa Inggris. Aku berpikir lagi, kemarin memang aku tak banyak belajar karena aku yakin aku bisa.

“Na, lomba besok dekat SMP kok. Jadi nanti berangkatnya bareng Pak Edi pakai motor saja. Oya, kali ini SMA membolehkan sekolah membawa 2 kandidat.”

“Oh ya, Bu. Siapa yang ikut nanti?”

“Kirana, anak kelas 3A. Kamu kenal kan?”

Hah? Dia kan teman les bahasa Inggrisku dulu. Kami jarang bertemu sekarang karena aku sudah keluar dari tempat les itu. Wah, dia ikut juga. Aku belum terlalu tahu bagaimana kemampuan bahasa Inggrisnya sekarang. Selain aku sudah tak ikut les bersama dia, aku juga tidak sekelas. Ah, gampang. Seperti biasa saja. Toh aku lebih dulu berpengalaman ikut lomba. Santai saja.

“Na, kok kamu nggak belajar? Beberapa hari lagi lomba, kan?”

Aku yang sedang menonton TV malam itu menoleh ke Bapak.

“Iya, Pak. Ini sedang santai sebentar.”

Aku merasa tak perlu tekun belajar. Toh aku sudah tahu seperti apa ikut lomba bahasa Inggris. Jadi aku merasa, aku hanya perlu banyak berdoa. Belajarnya nanti saja, malam sebelum lomba. Ternyata, pemikiranku salah.

Aku menginjakkan kakiku di SMA Negeri 1 Purwonegoro. Ini SMA kedua yang menyelenggarakan lomba mapel bahasa Inggris. Aku dan Kirana jadi kandidat lomba mewakili sekolah.

“Gimana, kalian berdua siap?”

Pak Edi yang mendampingi kami tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu kami.

“Siap.”

Aku dan Kirana menjawab serempak sambil nyengir.

Pengumuman lomba mapel kali ini terasa singkat. Tapi aku kecewa, sangat. Lomba kali ini ternyata bertahap. Aku tak masuk di ujian penyisihan. Ujian speaking. Aku tersingkir, menempati juara ketiga.

Kirana dengan bahagianya memasuki ruangan penyisihan dengan satu kandidat dari SMP lain. Ternyata dia lebih unggul dariku.

“Na, selamat ya dapat juara ketiga.”

Pak Edi menghiburku. Beliau pamit untuk melihat Kirana. Aku melihat punggung guruku dari belakang. Entah kenapa aku merasa telah membuat beliau kecewa. Pun Bapak dan Ibu nanti di rumah. Aku sudah sesumbar mengatakan pasti aku akan juara satu lagi. Aku menambahi juga bahwa mereka tak perlu khawatir. Toh aku sudah biasa berkutat dengan bahasa ketiga yang kukuasai ini, setelah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

“Nak, ingatlah bahwa di atas langit itu masih ada langit.”

Bapak memberiku nasihat. Aku mengernyitkan dahi, masih belum paham maksudnya.

“Langit? Maksudnya bagaimana, Pak?”

“Begini. Kamu dari kemarin kan selalu menyombongkan diri bahwa kamu pasti juara. Bapak tahu, kamu pintar dalam pelajaran tersebut. Tapi, kamu belum tahu bahwa ada teman lain yang lebih tekun darimu namun tidak ditunjukkan.”

Aku kembali merenung. Memang aku dari dulu selalu membanggakan diriku atas pencapaianku dalam bidang ini. dari SD, akulah yang pertama kali menyanyikan lagu berbahasa Inggris di saat ujian vokal untuk kelulusan. Pun aku selalu memiliki nilai paling baik di sekolah untuk pelajaran ini. Tapi aku tak pernah mau menyadari bahwa Tuhan memberi kepandaian kepada orang lain juga, yang lebih dariku.

“Ini termasuk ujian untukmu, Na. Bagaimana kamu bisa mengambil hikmah dari ujian ini, hanya kamu yang bisa memutuskan.”

Bapak menutup nasihatnya kali ini sambil memelukku. Ah, aku masih harus banyak belajar. Tak boleh berhenti di sini saja. Pun aku tak boleh sesumbar sekarang. Rendah hati, seperti nasihat Bapak sebelumnya.

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: