Kuncinya Yakin dan Jangan Lelah Berdoa

Kubaca koran pagi itu. Satu persatu nama kulihat, lama sekali hingga akhirnya namaku nihil. Tidak ada tertulis dalam pengumuman SPBM. Kuulangi lagi membolak balikan koran, ternyata memang tidak ada. Huh.

Aku mendengus kesal. Kenapa namaku tak ada, ini berarti aku tidak lulus SPMB. Berat sekali kuterima berita pagi itu, aku tidak lulus. Walaupun aku merasa sudah belajar dan ikut juga bimbingan belajar yang bagus di kota ini.

Apa yang harus kulakukan, pikirku. Dengan perasaan kecewa, patah hati, malas-malasan aku melakukan aktivitas seharian di rumah. Rasanya ingin marah tapi tidak tahu marah sama siapa. Aku hanya tidur-tiduran di tempat tidur. Siangnya aku coba baca-baca iklan tentang penerimaan mahasiswa baru. Harus gimana lagi, terpaksa kampus swasta, batinku.

Kalau memilih bukan keingginanku begini. Kulihat uang masuknya. Wow, mahal juga ya, batinku lagi. Tapi aku harus kuliah tahun tahun ini. Dan aku tidak ingin jadi pengangguran untuk mengulang SPMB berikutnya.

Aku ditanya oleh ibuku, “Kamu sudah cari kampus swasta di koran.”

Aku dengan malas-malasan menjawab. “Sudah bu,” dengan jawaban malas.

“Sudah, pergi sana daftar sekarang! Nanti pendaftarannya ditutup, lho.” Kata Ibuku lagi.

Aku melihat batas akhir pendaftaran kampus swasta yang aku minati. Ternyata memang batas akhir pendaftarannya dua hari lagi

“Ayo, ke Padang besok ya, kalau tidak kamu akan terlambat untuk mendaftar.” Teriak ibuku. Aku heran kenapa ibuku bersemangat untukku kali ini. Saat kakakku masuk kuliah, ibuku tidak seperti ini.

Ibuku yang menyemangatiku pada saat aku benar-benar malas dalam melakukan apa pun. Hanya ingin tidur di kamar

Sementara ayahku tampak biasa saja. Biasanya ayahku yang semangat mengajak anak-anaknya untuk melanjutkkan sekolah. Tapi beliau biasa saja. Datar. Bahkan cendrung kelihatannya menginginkan aku tidak kuliah saja. Ayah mengalami persoalan ekonomi yang besar. Aku tahu itu.

Aku tahu, ayahku sedang banyak masalah dengan tokonya. Alhamdulillah, toko kami banyak sekali pembelinya, orang-orang masih banyak yang berbelanja. Tapi ada kendala dalam usaha ayahku ini, ayahku lemah dalam mengelola keuangan usahanya. Ia kurang paham dalam memanajemen keuangan.

Alhamdulillah, empat hari setelah pendaftaran, namaku lulus di universitas swasta itu. Walaupun lulus di universitas swasta, akau sangat senang sekali namaku ada di koran sebagai calon mahasiswa universitas tersebut. Masalahnya sekarang adalah tentang biayanya

Pemasukan utama keluarga kami hanya dari toko. Pengeluaran pada saat itu banyak sekali. Bayar sewa toko, bayar angsuran bank (saat itu ayahku masih berhutang pada bank), dan pengeluaran untuk uang kuliah kakakku yang sedang menyelesaikan skripsinya, pengeluaran rumah tangga. Biaya adik-adikku karena mereka ada di setiap jenjang sekolah, dan masih banyak lagi. Aku saja pusing memikirkannya, apalagi ayah dan ibuku.

Biasanya kalau curhat, ayahku langsung menemui nenekku di rumah beliau. Kalau sudah balik dari rumah nenek, pasti ayahku menyampaikan apa yang dikatakan nenek. “Ngapain kuliah, mending di rumah saja. Toko kita butuh banyak duit.”

Ayahku semakin kurang semangat untuk membiayai uang kuliahku. Masalahnya duitnya memang tidak ada. Berapa kali ayahku menyuruhku tidak kuliah saja. “Kamu ngapain kuliah, udah di toko ini saja.”

“Ya Allah, bagaimana ini, haruskah aku tidak kuliah.” Aku berdoa terus sepanjang waktu. Setiap selesai sholat aku berdoa agar Allah memberi jalan keluarnya. Aku selalu berdoa dan berdoa baik di dalam waktu sholat ataupun di luar sholat. Aku juga terus bicara pada Allah dan memahamkan ke ayah. Sebenarnya ayah mengerti tapi ayah benar-benar kesulitan keuangan sekarang untuk membayar biaya uang masuk kuliah itu. Itu masalahnya.

Aku binggung mau ngapain. Pasrah. Aku berdoa pada Allah. “Jika ini terbaik maka mudahkanlah, berikanlah jalan. Ya Allah, kalau ini bukan jalanku, maka berikanlah aku jalan keluarnya.”

Akhirnya, dua hari sebelum pembayaran, aku mendapat kabar. Ada langganan ayahku yang beberapa bulan yang lalu menjualkan motornya ke ayahku dengan harga delapan juta. Dia ini terdesak banget. Perlu uang. Dijualah ke ayah dengan harga delapan juta. Lama motor itu tidur di toko ayah. Sekarang motor yang menganggur itu ada yang mau beli, dan orang itu mau membelinya dengan harga dua belas juta rupiah!

Alhamdulillah. Aku bersyukur. Ayahku bilang, “Akhirnya kamu bisa kuliah, motor teman ayah sudah terjual. Setengah untuk uang kuliah kamu dan setengah lagi untuk ayah.” Aku tersenyum bahagia saat itu. Terima kasih ya Allah.

Oleh: Ifdhal Febrioza.

Tinggalkan Balasan