ya Allah siapa jodohku dan ciri-ciri jodohku

Kunjungan Seorang Lelaki dan Kemarahan Ibu

Yuli menarik selimutnya hingga menutupi wajah, sedang ibu kian putus asa memaksanya untuk bangun dan menemui tamu yang baru saja tiba di waktu malam. Semakin lama, suara ibu makin melemah. Kini, kalimat-kalimat permohonan yang dia keluarkan, agar putrinya mengasihinya. Ibu tidak ingin tamu itu kecewa karena Yuli tidak mau menemui dan kemudian membuat malu keluarga juga saudara. Sedikit pun tubuh Yuli tak tergerak. Ada gemuruh di dada Yuli, campuran perasaan marah, kesal, sedih, kecewa, juga tidak tega yang bergelora di sana.

“Kenapa mereka datang malam-malam pas Yuli sudah tidur, Bu?” tanya Yuli, merasa keberatan.

“Ibu juga tidak tahu, Yul. Kemaren mereka bilang akan datang sore hari. Ayo bangun, pakai jilbabmu. Temui mereka. Jangan buat Pakdemu malu.”

“Salah siapa pake acara ngenal-ngenalin Yuli ke anak temannya, Bu. Yuli nggak mau.” Kini, amarah Yuli mulai memuncak.

Yuli bersikukuh. Nadanya tegas meski dengan suara yang cukup pelan. Jika bukan tersebab rasa hormatnya pada Pakde, sudah pasti dia langsung menolak tawaran Pakde untuk dikenalkan dengan anak temannya. Yuli benci dengan sikap Pakdenya yang sok tahu tentang lelaki yang baik untuk Yuli. Pakde yang lebih memilih Kak Adin daripada Kak Soleh tersebab secara ekonomi lebih mapan.

Sejatinya Yuli sudah lama dibuat penasaran dengan sosok Kak Soleh. Bude yang selalu memuji-muji kealimannya dan keelokan parasnya, juga ibu yang tahu betul kepribadian Kak Soleh di masa kecil. Namun, harapannya untuk ta’aruf dengan Kak Soleh pupus seketika saat Pakde memutuskan pilihannya untuk mengenalkan Yuli dengan Kak Adin.

Dari dalam kamarnya, Yuli mendengar suara ibu yang baru saja meninggalkannya seorang diri, kini sedang menyuguhi para tamu dengan beberapa makanan dan teh hangat. Ada perasaan lega di dadanya. Yuli berharap ibu tidak akan kembali membangunkan Yuli hanya untuk menemui tamu-tamu itu.

Suara pintu dibuka. Ibu kembali datang, mendekati Yuli, duduk di samping Yuli berbaring. Diam di sana, barangkali sedang mencari cara agar Yuli mau beranjang dari ranjangnya. Tak lama kemudian, Yuli merasakan usapan ibu di punggungnya.

“Yuli, temui mereka. Sebentar saja. Sekali ini saja. Ibu mohon ….” ujar ibunya sangat lembut dengan berbisik.

Yuli hampir menangis. Dia menyesal telah mengiyakan tawaran Pakde. Seharusnya dia mempertimbangkan dengan baik dan lebih tegas dalam menentukan dengan siapa dia hendak ta’aruf. Namun, nasi telah menjadi bubur. Yuli merutuki dirinya sendiri.

“Apa pantas tamu datang malam hari, Bu?” tanya Yuli parau, “Apa salah kalau Yuli menolak untuk menemui mereka?” lanjutnya lagi.

“Ibu mengerti perasaan, Yuli. Ibu pun kecewa mereka berkunjung di tengah malam begini. Tapi, Yuli, mereka datang dari jauh. Baru saja sampai di rumah Pakde beberapa saat yang lalu dan langsung ke sini.”

Yuli diam. Semejak pulang dari kantor, dia memang sudah mempersiapkan mental untuk menerima kedatangan Kak Adin ke rumahnya. Meski keberatan tersebab Pakde yang mendadak memberikan kabar jika Kak Adin akan pulang dari luar kota untuk bertamu. Pakde yang seakan memutuskan segala hal alur perkenalannya dengan Kak Adin secara sepihak, dan Yuli hanya menurut saja untuk menjaga hubungan baik sesama saudara. Namun, segala hal yang dipersiapkannya runtuh begitu saja saat di tengah lelapnya Yuli dibangunkan agar menemui lelaki itu bersama perwakilan keluarganya. Padahal, sebelum tidur dia telah mengira jika lelaki itu batal berkunjung.

Pintu kamar diketuk. Suara pakde yang terdengar dari dalam kamar. Yuli dengan sigap mengenakan jilbabnya. Benar, Pakde masuk ke dalam kamarnya, duduk di samping ranjang Yuli. Membujuk Yuli untuk ke luar. Kalimat yang paling menohok dada Yuli ialah ketika Pakde mengatakan, “Keluar, Yul. Jangan bikin malu Pakde.”

Rasanya Yuli ingin memberontak, menanyakan kenapa sekarang Yuli yang bersalah dan terus didesak. Ingin dia meluapkan segala amarah. Namun, dia tahan.

“Maaf karena kami datang terlalu malam. Tapi cobalah Yuli kasihani mereka yang letih selepas perjalanan dari luar kota dan langsung ke sini. Ayolah, Yul, bangun. Sikat gigi. Cuci muka. Pake baju ini saja nggak papa, Yul.”

Yuli terpaksa bangkit. Sebelum ke luar, ibunya berpesan, “Jaga sikap, Yul. Berusaha seramah mungkin. Ganti wajah cemberutmu dengan wajah senyummu.”

***  

Yuli menemui mereka dengan dada berdebar-debar. Perkenalan dimulai. Kak Adin datang bersama paman dan sepupunya. Dia tampak tenang dan pendiam. Sama seperti yang digambarkan Pakde sebelumnya. Orangnya kalem dan tidak akan bicara jika tidak ada yang memulai. Kesan pertama, Yuli merasa biasa saja. Tidak ada ketertarikan sedikit pun pada lelaki bernama Adin tersebut. Namun, sesuai pesan ibu dia berusaha terbuka, ramah, dan tetap menjaga norma kesopanan meski sudah jengah tersebab duduk terlalu lama.

Yuli banyak diam di sana. Hanya sesekali mengangguk saat ditanya atau diberitahu sesuatu. Pertemuan ini lebih tepat dikatakan sebagai pertemuan orang tua daripada ta’aruf antara dirinya dan Kak Adin tersebab ayah dan paman Kak Adin-lah yang lebih banyak bertukar cerita atau obrolan-obrolan. Mereka baru pamit pulang ketika tengah malam tepat di pukul dua belas. Sebelum meninggalkan rumah Yulina, Kak Adin dan dirinya sempat bertukar nomor telepon.

Keesokan harinya saat Yulina sedang bekerja Kak Adin menyapa Yulina melalui WhatsApp, awal sapaan yang diutarakan hanyalah ulukan salam. Namun ketika Yulina menjawab salam tersebut, Kak Adin kembali membalasnya dengan perhatian-perhatian layaknya menanyakan tentang kesibukan Yulina saat ini. Untuk pesan tersebut, Yulina sengaja tidak membalasnya. Namun, tak lama selepas itu dia menerima beberapa telepon masuk dari Kak Adin yang tak juga dia angkat. Yulina merasa terteror saat Kak Adin kembali mengirimkan pesan ke whatsApp dan juga menelponnya kembali beberapa saat selepas itu.

Sepulang kerja ibu menanyakan kelanjutan hubungan Yulina dengan Kak Adin. Yulina dengan gamblang mengatakan bahwa dia akan mendapatkan jodohnya sendiri dan menegaskan jika di lain waktu dia tidak mau dikenal-kenalkan oleh orang lain. Mendengar itu, amarah ibu meluap, dia menuduh Yulina telah mengabaikan Kak Adin dan merespon sapaan-sapaan Kak Adin dengan perlakuan yang buruk.

“Ibu lihat Kak Adin orang yang baik, dan dia juga mapan. Orang seperti apa lagi yang kamu cari, Yul?” tanya ibu dengan nada tak suka, “Sampai kapan kamu akan terus-terusan menolak lelaki yang mendekatimu? Coba ibu ingin lihat seperti apa jodohmu nanti. Apa dia akan lebih baik dari Kak Adin?” lanjut ibu lagi, ada kekecewaan pada nada bicaranya.

“Insya Allah, Bu.”

“Buktikan saja, ibu ingin lihat.”

***

Hubungan Yulina dengan ibu terus memanas dari hari ke hari hingga suatu saat ibu mendapatkan kabar dari temannya tentang keburukan Kak Adin dan saat itu ibu tersadar jika selama ini dia terlalu gegabah dalam menilai kepribadian Kak Adin hanya dari kesan pertamanya saja. Dia merasa bersalah sebab selama ini berusaha memaksakan kehendaknya tanpa mau mempedulikan keinginan dan perasaan anaknya. Mulai sekarang ibu memutuskan untuk memberikan kebebasan pada Yulina dalam menentukan pasangan hidupnya. Dan dia berniat memberikan kepercayaan penuh pada Yulina jika anaknya tersebut dapat memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya. Sedang, sebagai seorang ibu, hal terakhir yang bisa dilakukannya ialah terus mendoakan anaknya tanpa mengenal lelah.

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan