“Bro, kamu segera saja maju nyeriusin doi. Kabarnya doi sekarang jomblo lho!” kata seorang teman suatu hari di warung mie ayam langganan kami.

“Ih beneran ya? Aku cuma denger gosip aja sih kalau masalah itu. Toh sekarang aku memang udah lumayan dekat sih. Doanya aja bro!”

Sore itu tiba-tiba seorang sahabat karibku mendadak membicarakan seseorang yang kala itu cukup menyita hati dan perhatianku.

Yumna Khairunnisa, dialah gadis yang aku bicarakan bersama temanku sore itu. Gadis ini perawakannya cukup tinggi, sekitar 163 cm, hanya beda 5 cm denganku. Parasnya manis, tutur katanya lembut, gerak tubuhnya penuh sopan, tidak ada kesan urakan atau pecicilan.

Secara umum Yumna termasuk gadis dengan kriteria di atas rata-rata dan pantas untuk diselenggarakan kompetisi alami untuk mendapatkannya. Apakah aku salah satu peserta kompetisi itu? Entahlah!

Dari temanku yang lain aku mengetahui bahwa memang ada beberapa pria yang saat itu sedang berlomba-lomba untuk dekat dengan Yumna. Dari beberapa pria yang disebutkan kawanku, tidak ada satu pun yang aku kenal.

Aku juga tidak tahu sejauh mana kedekatan para pria itu dengan Yumna saat ini. Namun bagiku semua adalah takdir. Ikhtiar adalah wajib bagiku. Perkara hasil semua tinggal dipasrahakan saja.

Nyatanya bermula dari perkenalan tidak sengaja, aku sekarang kini dekat dengannya. Saat ada acara kantor, aku dan Yumna sama-sama datang dalam acara tersebut. Aku mengobrol dengan seorang teman. Ternyata Yumna adalah teman satu kantor temanku tersebut.

Kini aku dan Yumna tidak hanya dekat di dunia maya, dalam dunia nyata kami pun benar-benar dekat. Tidak hanya dalam whatsapp kami dekat sering kali kami kopi darat sekedar ngobrol tentang pekerjaan, hobi atau buku.

Tidak jarang kami sharing terkait permasalahan di kantor. Mulai dari hal-hal kecil sampai hal besar yang tidak jarang menguras hati dan pikiran. Dari obrolan-obrolan itu aku sedikit memahami suasana hatinya yang sebenarnya.

Aku merasakan ada celah terbuka untuk aku masuki lebih dalam. Aku berharap bisa tahu lebih jauh tentang dirinya yang sesungguhnya. Beberapa pertanyaan pun aku lancarkan. Aku mulai berani menyakan hal-hal yang termauk dalam ranah pribadinya.

Darinya aku tahu bahwa saat ini, Yumna adalah seorang gadis dalam posisi dikhitbah seorang pria. Proses lamaran telah berlangsung beberapa bulan sebelum dia dekat denganku. Lamaran dilangsungkan tidak hanya disaksikan kedua keluarga. Tetangga dekat pun sudah ikut menyaksikan acara sakral tersebut.

Yang menjadi masalah saat ini ada pada diri Yumna sendiri. Dia merasa tidak diterima oleh keluarga calon suaminya. Sedangkan calon suaminya saat ini bekerja di luar Jawa. Otomatis tidak ada upaya dari keduanya untuk lebih dekat dengan keluarga masing-masing.

Aku mulai menyadari bagaimana keadaan Yumna sesungguhnya. Di balik wajah ayunya, di balik keceriaannya, tersimpan masalah yang begitu berat. Yumna sempat berpikir untuk mengembalikan khitbah yang telah diterimanya. Ia merasa ragu dapat menjalani kehidupan bersama pria yang telah mengkhitbahnya itu. Faktor keluarga si pria adalah penyebabnya.

Yumna pernah berujar kepadaku untuk mengembalikan lamaran calon suaminya. Wajahnya tampak serius menyampaikan hal itu kepadaku. Entah apa yang dia pikirkan kala itu. Aku tidak berani menebak. Menebak bahwa dia akan mengembalikan lamaran itu, lalu memilih menikah denganku. Entahlah.

Aku sadar dan paham, bahwa seorang lelaki, haram hukumnya mengkhitbah di atas khitbah saudaranya sesama muslim. Aku sangat paham hal tersebut dan aku tidak akan melanggar larangan itu.

Mungkin aku salah telah dekat dengan seorang gadis yang sedang dalam posisi menerima khitbah dari seorang pria. Namun, aku benar-benar tidak tahu posisi Yumna kala itu. Posisi sesungguhnya baru aku ketahui seiring berjalannya waktu. Bersama bertambahnya frekuensi kedekatan kami.

Hingga suatu siang, saat aku berkunjung ke kontrakannya. Kami sedang asyik menikmati soto ayam kesukaan kami. Sambil mengobrol tentang rencana jalan di malam minggu, tiba-tiba dia terlihat lesu membaca notifikasi pesan di HPnya.

“Pesan dari siapa?” tanyaku penuh selidik.

“Sebentar aku keluar dulu ya Mas!” balasnya tanpa menjawab pertanyaanku.

Tidak sampai lima menit aku duduk sendirian di teras rumah kontrakannya. Dia telah kembali di hadapanku. Tanpa berbicara apa pun dia kembali melanjutkan makan soto bersamaku. Seakan tidak terjadi apa-apa. Aku pun mengikutinya menikmati soto berdua.

Di tengah-tengah asyiknya makan tiba-tiba dia bersuara.

“Tadi itu Masku. Dia sedang cuti. Sudah seminggu ini pulang kampung. Selama seminggu pula setiap hari dia ke sini. Namun, aku selalu menolak untuk bertemu dengannya. Perlakuan keluarganya kepadaku terlampau sakit aku rasakan Mas. Entah mengapa perasaan cintaku kini berubah menjadi benci padanya.”

Aku hanya diam. Aku merasa bersalah kala itu. Meskipun aku mulai merasakan getaran cinta dalam dada, namun aku tetap memegang teguh prinsipku. Yumna adalah gadis dalam khitbah orang lain. Aku tidak boleh melanjutkan kedekatanku ini.

Acara makan soto siang itu menjadi makan bersama Yumna yang terakhir bagiku. Setelahnya aku mulai menjauh. Sedikit demi sedikit aku mengurangi frekuensi komunikasiku dengannya. Namun aku merasakan Yumna masih saja terus ingin menghubungiku. Rasanya dia masih ingin terus dekat denganku.

Aku merasakan dia nyaman bersamaku. Aku melihatnya ceria saat bersamaku. Entah apa yang dia rasakan. Apakah dia mendapat tempat untuk mencurahkan keluh kesah hatinya. Atau mungkin dia mendapatkan tempat nyaman untuk berteduh di saat tempat lain terasa gersang dan panas baginya. Aku tidak memahaminya.

Desakan Yumna untuk bertemu denganku akhirku aku penuhi. Saat itu tercatat sudah satu bulan kami tidak bertemu. Padahal sebelumnya setiap minggu aku bertemu dengannya. Aku datang ke rumah kontrakannya dengan perasaan campur aduk.

“Mas, kenapa susah banget dihubungi? Njenengan menghindar atau sedang sibuk dengan pekerjaan? Maaf kalau aku terus mengganggu!”

“Maaf Dik. Bukannya menghindar, tetapi memang ada beberapa pekerjaan yang menuntut konsentrasiku,” jawabku asal.

“Aku masih butuh nasihat-nasihatmu, Mas. Saat ini tidak ada seseorang yang bisa meredam kekalutan hatiku ini. Orang rumah semuanya ikut memojokkanku. Mereka mengatakan bahwa pertunanganku tidak mungkin dibatalkan. Tetangga sudah tahu semua. Apa kata mereka jika sampai pertunganku batal. Cuma njenengan yang bisa mengerti aku.”

Aku tersenyum. Senyum kecut antara senang ada seseorang yang bahagia dengan kehadiranku, namun aku juga merasa kecut, menyadari keberadaanku ini harus segera kuhentikan.

“Dik, terima kasih njenengan sudah merasa nyaman dengaku. Terima kasih pula njenengan merasa butuh nasihatku. Kalau diperbolehkan, aku akan memberikan satu nasihat lagi untuk njenengan.

“Tentu Mas. Aku sangat senang kamu nasihati.”

“Begini Dik. Pertama, aku sampaikan bahwa aku prihatin dengan permasalahanmu. Aku terus berdoa semoga permasalahanmu segera usai. Pernikahan adalah penyatuan dua buah keluarga, tidak hanya penyatuan dua orang manusia. Penyatuan dua orang akan jauh lebih mudah daripada penyatuan dua buah keluarga. Semua butuh proses. Namun, niat suci untuk ibadah kepada Allah tentu akan memudahkan proses tersebut. Yakinlah akan hal itu.”

“Yang kedua njenengan harus paham bahwa keberadaanku ini dapat melanggar syariat jika diteruskan. Njenengan sekarang dalam posisi dikhitbah seorang pria. Haram hukumnya bagi seorang pria mengkhitbah di atas khitbah saudaranya sesama muslim.”

“Dik, jika aku maju untuk mendapatkanmu, aku yakin itu tidak akan membuatmu bahagia. Malah aku yakin keberadaanku hanya akan menambah masalah bagimu. Kamu akan semakin bimbang dengan calon suamimu. Namun, kita juga tidak akan pernah yakin dengan hubungan kita ini, kan? Maka dari itu, aku sarankan, lanjutkan hubunganmu dengan calon suamimu. Jalani prosesnya, yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya. Rebutlah hati keluarga calon suamimu. Keluargamu pasti akan terus mendukung kalian.”

Yumna tampak terdiam. Entah apa yang dia rasakan. Tiba-tiba dia berkata.

“Baru kali ini aku dibuat klepek-klepek oleh seeorang pria. Terima kasih Mas untuk semua perhatian dan nasihat njenengan. Aku akan melanjutkan hubunganku dengannya, Mas. Doakan semoga aku bisa menjalaninya.”

Tercatat mulai saat itu aku mundur teratur dari upaya pendekatanku terhadap Yumna.

Pada akhirnya aku pun bisa mengucapkan “Selamat menempuh hidup baru Yumna, Semoga bahagia bersama pilihan hatimu.”

Oleh: Wawan Murwantara.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: