Dia meneleponku lagi. Menceritakan tentang kehidupannya yang super mengagumkan. Lelaki sibuk yang selalu meluangkan waktu untuk berbicara denganku. Setidaknya itulah yang kupikirkan. Di antara ribuan wanita di dunia, nyatanya dia memilihku untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Ah … apa mungkin ini karena aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya? Seperti kata Nayla—teman satu indekosku—yang mengatakan, “Hati kamu itu  buta, makanya enggak bisa melihat mana yang baik dan mana yang pura-pura baik alias topeng!”

Entahlah, menghabiskan waktu berjam-jam di telepon bersamanya selalu menyenangkan. Jangankan telepon, pergi berdua dengannya tak menjadi masalah bagiku. Padahal dulu, aku adalah orang yang paling anti dekat dengan lawan jenis di antara teman-teman. Sejak kami dekat, aku jadi kehilangan slogan no khalwat until akad yang biasa kugembar-gemborkan. Karena dia, aku sering senyum-senyum sendiri. Mas Akbar, begitu ia biasa dipanggil. Lelaki bertubuh jangkung, berkulit sawo matang, dan memiliki suara bening yang tak henti-henti menggetarkan hatiku. Kami berada di satu organisasi yang sama, Himpunan Mahasiswa Islam. Bertambah dekat semenjak ia menjadi ketua panitia seminar yang kami adakan.

“Heh …  melamun aja! Pasti habis teleponan sama Kak Akbar, ya?” Seru Nayla yang tiba-tiba nongol tanpa permisi di kamarku.

“Haha … iya, kenapa? Cemburu?” ledekku.

“Apa? Gue cemburu? Sorry ye, tukang tebar pesona kayak dia jauuuh dari tipe gue,” jawabnya sinis.

“Eh, lu belum kenal aja sama dia. Coba kalau kenal, dia enggak seburuk prasangkamu kok!” aku berusaha membela.

“Hahaha … iya enggak seburuk persepsi gue tetapi lebih buruk lagi. Gue bersyukur enggak mengenal dia. Jadinya enggak kayak lu yang termakan rayuan dan gombalannya.” Sangkalnya lagi.

“Aaah, udah jangan dibahas lagi! Entar ujung-ujungnya kita bertengkar. Ada apa, kok kesini?” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“O, iya ini loh mau ngajak kamu ke rumah sepupuku, Mbak Hafsah, dia baru pulang dari Jepang. Siapa tahu kamu tertarik tanya-tanya, kan katanya pingin S2 di sana.” Tutur Nayla.

“Serius? Waaah, mau bangeeeet. Kapan?” tanyaku penuh semangat.

“Jum’at minggu depan apa, ya? Kan kita kuliah cuma sampai jam sebelas. Minggu ini Mbak Hafsah sibuk,” ajaknya.

“Okee, aku insyaallah siap.” Sambutku semakin bersemangat.

“Yaudah, gue mau mandi dulu,” ujarnya.

“Ihhh dasar jorok, malam begini baru mandi.”

Nayla tak berlama-lama di kamarku. Ia segera masuk ke kamar mandi. Aku tersenyum bahagia di kamar. Mendapat ajakan dari Nayla untuk bertemu Mbak Hafsah adalah hal yang kutunggu-tunggu. Sudah lama aku mengagumi sepupu Nayla itu. Parasnya yang cantik, terbalut anggun dalam hijab lebarnya. Terlebih lagi ia baru saja menyelesaikan S2-nya di Jepang. Cantik, cerdas, dan solihah. Itulah gambaranku tentang Mbak Hafsah berdasarkan cerita-cerita Nayla. Iya, aku belum pernah berjumpa dengannya.

***

Hari kamis yang melelahkan. Kuliah full mulai setengah enam pagi sampai jam enam sore. Badan terasa sakit semua meski seharian hanya duduk mendengarkan dosen. Ditambah, sudah seminggu Mas Akbar tak mengirim pesan sama sekali. Walaupun sibuk, tak biasanya dia seperti ini. Sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, kuliahnya tak sepadat aku, anak keperawatan. Tetapi bertambah sibuk dengan aktivitas BEM, HMI dan part time mengajar piano. Sesibuk apa pun, ia belum pernah tak menghubungiku lebih dari dua hari. Aku jadi kepikiran tentang perkataan Hafiq—teman satu kontrakan Mas Akbar—tempo hari ketika kami makan bersama di kantin.

Katanya, Mas Akbar sering telepon cewek berjam-jam menjelang tengah malam. Jelas itu bukan aku. Ia selalu menelepon sebelum jam sembilan. Jika Hafiq yang berbohong, buat apa? Untuk merenggangkan hubungan kami? Kurasa ia tidak tahu tentang kedekatanku dengan Mas Akbar. Kami tak pernah terang-terangan pergi tanpa alasan yang logis. Misalnya membahas proposal kegiatan organisasi HMI atau diskusi yang lain.

Pikiranku semakin berkecamuk. Aku tak ingin bercerita pada Nayla. Dia hanya akan membuatku semakin kesal pada saat seperti sekarang.  Tetapi apa yang harus kulakukan? Aku butuh teman bicara. Kulirik Al Qur’an di atas meja belajarku. Sudah hampir dua bulan ini aku tak menyentuhnya. Aku asyik dengan dunia baruku bersama Mas Akbar. Barangkali Dia ingin aku membacanya. Tak berapa lama adzan isya berkuman dang. Aku bersegera mengambil air wudu dan salat.

Selepas salat, aku berniat mengambil Al Qur’an. Namun gagal karena HP-ku telah lebih dulu berdering. Mas Akbar. Hatiku bersorak riang. Kusambut ia dengan ucapan salam dan berusaha sebiasa mungkin. Aku tak bisa menanyakan kenapa seminggu ini ia menghilang. Sebab, dia memang tak memiliki kewajiban untuk menghubungiku. Aku bukan pacarnya. Mungkin hanya sebatas teman curhat.

Assalamu’alaikum … ada apa, Mas?” Aku bertanya seakan tak terjadi apa-apa.

Wa’alaikumussalam, LPJ seminar sudah jadi, Dik? Bisa minta tolong dikirim ke email?” katanya tanpa berbasa-basi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya.

“Alhamdulillah sudah, Mas. Mau dikirim sekarang?”

“Iya. Makasih, assalamu’alaikum.” Ia menutup telepon

Itu saja? Ya Rabb … ada apa sebenarnya? Kenapa Mas Akbar berubah? Aku segera mengirim laporan yang ia inginkan. Setelah itu, aku tak bisa berhenti kepo pada aktivitasnya. Kulihat dia masih online di whattsapp, tetapi tidak membalas pesanku tentang konfirmasi email sudah masuk apa belum. Kucoba meneleponnya.

Sedang dalam panggilan

Astaghfirullah … hatiku semakin tak karuan. Apalagi setelah kuamati, ia online lebih dari satu jam di whatssapp. Tentu bukan telepon penting ke teman-teman cowoknya. Aah, aku galau semalaman. Kerjaanku hanya mengotak-atik HP. Sesekali membaca ulang chatt-ku dengan Mas Akbar. Aku baru tertidur kira-kira jam dua dini hari. Padahal kami full praktikum pukul 06.30 wib hingga siang. Hasilnya, aku tidak bisa fokus pada praktikum. Responsiku berantakan. Remedi, aku mesti mengulang minggu depan. Allah … kenapa aku begini?

***

Beruntungnya, hari Jumat kuliah hanya sampai jam sebelas. Aku berencana tidur sepulang dari kampus. Kulihat motor Nayla telah terparkir di halaman. Ia lebih dulu selesai praktikum kayaknya. Kami memang tak satu kelompok. Aku membaringkan badan di kasur. Setengah terlelap, tiba-tiba Nayla menggedor kamarku.

“Mil… Mila, udah siap belum?”

Malas-malasan aku membuka pintu, “Ada apa, Nay?”

“Kok belum siap? Kita kan mau ke rumah Mbak Hafsah,” ujar Nayla.

“Oh, iya … ya ampun aku lupa. Sebentar aku siap-siap dulu.” kataku meminta ia menunggu.

Aku tak berlama-lama dandan. Kami langsung meluncur ke Bantul. Kira-kira empat puluh lima menit kami tiba di rumah Mbak Hafsah. Bangunan minimalis dengan taman yang tak begitu luas di depan rumah. Mbak Hafsah menyambut kami dengan hidangan makan siang yang ia masak sendiri. Hemm… lagi-lagi ia membuatku terkagum.

Apa yang kubayangkan tentang Mbak Hafsah tidak mengecewakan.  Ia sangat ramah. Untuk ukuran orang yang baru kenal, aku tak canggung bertanya-tanya. Meski lebih banyak diam karena rasa kantuk yang tak tertahan. Kami pulang dari rumah Mbak Hafsah bakda ashar. Tadinya aku mau meminjam buku-buku Mbak Hafsah, tetapi belum sempat karena Mbak Hafsah terburu-buru ada acara. Akhirnya kami berencana bertemu lagi di lain hari.

***

Sudah sepuluh hari berlalu, Mas Akbar kian menjauh. Aku pun sengaja tak menghubunginya. Entah kenapa, semakin ke sini, Allah seakan menunjukkan siapa Mas Akbar sebenarnya. Teman-teman seringkali membicarakan dia yang suka mendekati beberapa cewek. Kata mereka, Mas Akbar biasa bercerita, “Sekarang saatnya kita mengoleksi lalu menyeleksi, besok kalau sudah siap, baru resepsi.”

Mudah sekali dia berkata begitu. Memangnya kami ini barang? Aku masih tak percaya, apa yang ia tampilkan di hadapanku selama ini hanyalah sebuah pencitraan. Ada rasa tidak terima dia pergi begitu saja. Sibuk mendekati cewek lain. Aku menutup muka dengan kedua tangan. Menahan air mata yang hampir tumpah. Berusaha menghapus pikiran-pikiran negatif yang membuatku semakin bersedih.

Setelah lebih tenang, aku bergegas menemui Mbak Hafsah. Di kafe yang terletak tak jauh dari indekosku, kami membuat janji bertemu. Mbak Hafsah membawakan setumpuk buku yang kemarin ingin kupinjam. Ia terlihat semakin berkarisma dengan gamis hitam bermotif dan hijab abu-abunya. Awalnya aku sedikit segan karena membuatnya menunggu. Tetapi ternyata ia menyambut dengan senyum manis dan rentetan pertanyaan tentang aktivitasku. Menjadikanku merasa aman menceritakan keluh kesah. Termasuk tentang Mas Akbar. Aku meminta saran Mbak Hafsah agar segera sembuh dari baper.

“Yang paling utama, berdoa, Dik! Allah yang berkuasa atas hati kita, jadi memintalah pada-Nya!” kata Mbak Hafsah sambil tersenyum lembut.

“Iya, Mbak. Tetapi semakin Mila berdoa, kok semakin terlihat yang buruk-buruk tentang Mas Akbar ya, Mbak? ” ucapku sembari menunduk.

Mbak Hafsah menanggapiku dengan senyum tipis, lalu berbicara, “Itu berarti, dia memang tidak baik, untukmu. Dik, laki-laki yang benar-benar baik, tidak akan sempat membuatmu baper. Dia sibuk menata masa depan bersamamu. Baginya, menjalin hubungan denganmu sekarang, hanya akan menghambat kesuksesan. Kenapa? Sebab, berhubungan dengan lawan jenis yang belum halal, sama dengan menumpuk dosa. Sedangkan dosa, selalu akan berdampak pada kehidupan kita, entah di dunia atau besok di akhirat. Jadi dia tak akan berani mengambil resiko itu,” Mbak Hafsah menjelaskan dengan lugas.

“Maksudnya dosa berdampak pada kehidupan kita, Mbak?”

“Begini, satu contoh, ketika Imam Syafi’i lupa satu ayat hafalan Al Qur’an atau hadis, beliau langsung introspeksi diri tentang dosa apa yang telah beliau lakukan. Ini kehilangan hafalan loh, Dik. Lalu bagaimana dengan kita yang kesulitan menghafal, berapa banyak dosa yang kita perbuat? Itulah salah satu contohnya. Masih banyak lagi yang lain.” Tutur Mbak Hafsah.

“Hemm… rasanya masih susah melupakan dia, Mbak. Bawaannya pingin nangis setiap ingat tentang dia,” ucapku lemah.

“Pelan-pelan, Dik! Melupakan tidak bisa terburu-buru. Sabar, nikmati saja prosesnya. Sambil terus menyibukkan diri. Ikuti majelis-majelis ilmu, perbaiki ibadah, insyaallah lama kelamaan akan lupa.”

Aku mengangguk tanda mengerti. Kami melanjutkan obrolan ditemani segelas Hazelnut milk hot, Vanilla milk ice dan sepiring mendoan. Mbak Hafsah menceritakan tentang kehidupan di Jepang. Aku mendengar dengan tekun sambil sesekali bertanya antusias. Sepupu Nayla ini memang luar biasa.

***

Hari-hari berikutnya, aku tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Kuliah, rapat organisasi dan kegiatan lain. Tak ada yang berubah selain Mas Akbar tidak pernah lagi intens chatt, menelepon atau mengajak pergi. Tidak masalah. Patah hati memang awalnya menyakitkan. Tetapi selalu akan baik-baik saja ketika kita batasi dengan iman. Insyaallah. Move on-ku masih on processing. Kini, aku ingin memperbaiki diri. Semoga dengan begitu, Allah rida menjodohkanku dengan dia yang sibuk dengan kebaikan hingga tak sempat bertemu maksiat. Aamiin.

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: