Kalau ada ungkapan bilang bahwa father is a daughter’s first love, maka aku adalah salah satu yang menyetujuinya. Bagiku, Bapak adalah pendukung nomor satu, beliaulah yang paling berpengaruh dalam banyak hal di hidupku. Salah satunya, karier yang sekarang ini kupilih. Bapak juga yang tanpa diminta, selalu bersedia mengajari dan jadi teman diskusi untuk banyak topik.

Bicara soal ‘warisan’ dari Bapak, Bapaklah yang memenangkan persaingan kromosom di tubuhku. Meski belum pernah coba tes DNA, tapi aku merasa Bapak lebih banyak mewariskan sifat-sifatnya kepadaku dibandingkan Ibu. Kalau Ibu, menang menyumbangkan kromosom untuk fisikku. Jadi, secara tampilan banyak yang bilang aku mirip Ibu, tapi kalau sifat memang lebih mirip Bapak.

Saking kuatnya menyumbang sifat, bahkan aku punya kebiasaan yang sama plek dengan beliau. Kalau lagi baca buku, kedua tangan kami enggak mau diam. Ketika tangan kanan pegang buku, tangan kiri kami bergerak-gerak di kepala, menyisir kulit kepala. Mbuh, kami enggak kutuan sih, tapi rasa-rasanya kayak berburu sesuatu di kulit kepala. Kebiasaan inilah yang sering bikin kami diprotes sama Ibu dan Mas, tapi maaf-maaf aja, udah refleks dan susah banget dihilangkan.

Begitulah, kami sama-sama suka baca buku. Sering diskusi dan saling merekomendasikan buku. Yang lucu, kalau di rumah duduk sampingan dan sama-sama lagi baca, tangan kami akan bergerak dengan cara yang sama. Semakin fokus kami baca, semakin kami refleks menggerakkan tangan. Duh, ini aib bukan ya? Oke, skip. Lanjut cerita lain aja.

Sebagai pendukung utama, Bapak jadi sosok yang mengenalkan banyak dunia kepadaku, salah satunya menulis. Kalau bukan karena Bapak, mungkin sekarang ini aku cuma bisa nulis di lembar-lembar buku diary, atau halaman-halaman kosong di buku bergaris.

Dulu, ketika usiaku tujuh tahun—waktu itu aku kelas dua SD—aku selalu senang kalau hari Kamis datang. Hatiku berbunga-bunga menunggu Bapak pulang, membawakan majalah ber-cover tokoh kelinci. Bapak memang rutin membelikanku majalah anak-anak, meski aku sama sekali enggak pernah minta.

Bapak juga rajin membawakan buku dari perpustakaan tempat beliau mengajar. Aku ingat sekali, pernah ada dua buku dongeng baru yang sengaja dibawa dulu ke rumah supaya aku bisa baca saat kondisi bukunya masih mulus. Sampai sekarang aku masih ingat cerita dari buku itu, dongeng kerbau dan monyet dari relief candi Borobudur. Ah, pokoknya Bapak adalah pahlawan bacaanku. Orang pertama yang mengenalkan aktivitas membaca sampai bikin aku ketagihan.

Sebenarnya, aku enggak pernah tuntas kalau baca majalah Bobo—yang rutin Bapak belikan. Aku cuma suka rubik tertentu, salah satunya yang isinya puisi dan cerita-cerita pendek atau komik. Sampai suatu hari, aku jadi terinspirasi untuk bikin puisi. Dulu, niatku benar-benar iseng, ya … cuma tiba-tiba terlintas kata-kata di benakku. Akhirnya, aku menuliskannya di halaman belakang buku catatan sekolah. Aku enggak kepikiran untuk kasih tahu tulisanku ke Bapak, tapi akhirnya Bapak lihat sendiri dan baca apa yang aku tulis.

Iki adik sing nulis?” (Ini adik yang nulis?) tanya Bapak. Aku cuma manggut-manggut ragu, soalnya enggak percaya diri. Takut kalau Bapak nasihatin supaya enggak ngotorin buku catatan sekolah dengan bikin coretan yang enggak penting. Meskipun ternyata, respon Bapak enggak sesuai prasangkaku, “Apik puisine, Nduk.” (Bagus puisinya, Nduk.)

Diam-diam, Bapak menyalin puisi yang kutulis dengan mesin tik. Lalu memasukkannya ke amplop coklat, menuliskan alamat dan menempelkan perangko di sudut kiri atas. Bapak menyerahkan amplopnya kepadaku, lalu aku diminta menuliskan kata “HALAMANKU” di sudut kanan atas. Setelahnya, beliau bilang, “Nduk, bawa pas berangkat sekolah ya, sesuk dimasukin ke kotak pos depan lapangan itu.” Aku menuruti apa yang diminta Bapak, keesokan harinya.

Aku enggak pernah tahu kalau aku punya bakat nulis, setelah dua minggu kemudian Bapak bawa majalah Bobo dan bilang kalau puisiku dimuat. Ya Allah, aku girang bukan main sampai-sampai majalahnya kubawa ke sekolah, aku pamer ke teman-teman kelasku. Selain pahlawan bacaan, memang Bapaklah pahlawan untuk tulisan-tulisanku.

Setelah puisiku dimuat pertama kali di majalah, Bapak lalu mengajariku memakai mesin tik dan kasih tahu kalau mau kirim ke majalah, ketiknya harus dua spasi. Sejak saat itu, hampir setiap tahun selama aku SD, puisiku dimuat terus. Aku jadi tahu kalau aku punya bakat merangkai kata-kata karena Bapak. Beliau yang jadi editor kalau tulisanku kurang sempurna. Saat puisiku dirasa kurang bagus, Bapak biasanya langsung bilang “Ini jelek, ganti yang lain.”

Peran Bapak untuk bakatku enggak sampai di situ. Dari kecil, aku hobi banget bersenandung, aku juga mudah hafal dengan lirik-lirik lagu. Bapak bilang suaraku bagus, meski aku enggak gitu percaya soalnya pernah ada teman sekolahku bilang, “Kok kamu kalau nyanyi suaranya gemetar-gemetar gitu, sih? Lucu.” Kemudian, setelah aku tumbuh besar, aku tahu bahwa getaran suara yang dimaksud temanku adalah vibrasi. Salah satu teknik yang sering dipakai dalam menyanyi.

Bapak tentu mau membuktikan instingnya soal bakatku. Beliau beli satu kaset kosong untuk merekam suaraku. Aku diminta nyanyi pakai mic, ketika Bapak memutar satu kaset karaoke. Waktu itu, masih pakai tape recorder, sisi kaset yang satu berisi kaset kosong dan beliau memencet dua tombol paling kanan—tombol record dan play. Sementara musik berjalan, aku menyanyi. Rekamannya pun berjalan. Setelah hasil rekaman diputar, Bapak bilang aku punya bakat nyanyi. Katanya, aku bisa mengikuti tempo dan nada bernyanyiku enggak lari-larian.

Tapi, dasar aku ini memang bukan bocah yang pede. Aku malah nangis dengerin suaraku sendiri. Rasa-rasanya kalau direkam suaraku jadi beda, lebih tipis dan melengking. Dalam hati aku berkata, masa suara kayak gitu dibilang bagus, sih? Aku malah malu nanti kalau teman-teman dengar.  Ternyata, aku memang kurang belajar aja, suaraku melengking sebetulnya karena jenisnya memang gitu. Aku ini ternyata seorang mezzosoprano alias perempuan bersuara tinggi. Ya, semi-semi penyanyi opera kali ya. Hehe.

Bapak enggak ada berhentinya berjuang mengarahkan dan membuat bakat putrinya berkembang, beliau enggak jarang minta aku untuk ikut lomba nyanyi. Paling awal banget, aku ikut lomba di tingkat RW untuk acara Agustusan. Eh, menang soalnya pas aku nyanyi lagu berjudul Layu Sebelum Berkembang, ada beberapa Ibu-Ibu yang nangis. Bisa juga ya, aku menyampaikan emosi itu lewat lagu. Duh.

Akhirnya, hobi nyanyi ini berlanjut sampai aku besar. Aku juga nge-band waktu di SMA. Ada satu momen yang benar-benar merasakan pengorbanan Bapak. Tahun 2008, Bapak mendaftarkanku ke satu festival tembang lagu kenangan. Kebetulan, lokasi lombanya di Saung Bu Mansur, Banjarnegara. Jauh kalau dari rumah. Sebelum lomba, aku harus datang ke lokasi untuk ambil nada dasar, itu juga Bapak yang ngantar.

Pas hari H lomba, Bapak yang ngawal aku sampai ke lokasi. Beliau yang nemenin dan tepuk tangan paling keras pas aku tampil di panggung. Padahal, malamnya Bapak habis ada acara dan pagi sebelum antar lomba, Bapak ada job nge-MC. Betul-betul belum cukup istirahat, Bapak memang enggak pernah kelihatan punya capek. Sayangnya, aku gagal masuk final karena kepleset di overtune pas nyanyi, kurang naik setengah nada.

Maaf ya, Pak. Pengorbanan Bapak dulu itu enggak kebayar. Udah capek-capek nganter, udah enggak cukup waktu buat istirahat, malah yang didukung pulang dengan tangan kosong. Bapak waktu itu cuma bilang, “Enggak apa-apa, festival besar gini itu bagus buat nambah pengalaman.” Sambil usap-usap kepalaku Bapak melanjutkan, “Udah bagus tadi, dik. Nada tingginya mulus, nada rendah enggak ada masalah. Kok ya ndilalah, overtune-nya meleset, ya. Besok-besok jangan grogi, santai aja kalau nyanyi.”

Ya Allah, semoga bakat menulisku bisa jadi ganti untuk bakat nyanyiku yang cuma gitu-gitu aja. Paling banter aku cuma dapat juara level kecamatan. Padahal, Bapak udah kelihatan kerja keras untuk ngarahin hobiku yang satu ini.

 Oh iya, ada satu hal yang bikin aku takjub sama Bapak. Semua hal yang terjadi sama aku, enggak lepas dari doa Bapak. Waktu mau kuliah dulu, Bapak pernah bilang, “Nduk, kalau positif daftar jurusan Ilmu Kelautan, insyaallah diterima. Bapak yakin.” Beneran aja deh, yang Bapak bilang, aku beneran diterima. Terus, waktu menjelang aku lulus, Bapak juga pernah bilang gini, “Wah, besok kalau lulus terus diterima kerja di konsultan, enak lho, Nduk.

“Enaknya gimana?” tanyaku ke Bapak.

“Ya enak, kerja bisa sambil jalan-jalan.”

Entah bagaimana cara doa Bapak bekerja, sebulan setelah diwisuda aku diterima di konsultan pendidikan. Sebagaimana yang pernah diucap Bapak, aku juga bisa kerja sambil jalan-jalan. Dalam tujuh bulan aku bekerja, beberapa kota di Jawa bisa kukunjungi. Sebenarnya ada lagi sih, doa Bapak yang lain. Tapi, aku enggak mau cerita ah, malu. Hahaha.

Sampai sekarang ini, kalau aku punya keinginan, aku selalu bilang ke Bapak. Biasanya, Bapak akan minta aku untuk kasih tahu apa yang aku minta secara spesifik. Misal ingin diterima kerja, ya harus jelas kerja di mana dan sebagai apa. Bapaklah yang bikin aku pede sama doa dan mimpiku.

Ada satu lagi kebiasaan Bapak, tapi kadang bikin aku geleng-geleng kepala. Bapak suka banget badminton, punya jadwal rutin. Tapi, beliau dengan senang hati nambah jadwal kalau lagi senggang. Ini yang bikin beliau capek dan minta dipijitin jari-jarinya. Padahal hari sebelumnya juga udah dipijitin. Belakangan, kalau minta pijit Bapak sering nambahin kalimatnya, “Nduk, tolong pijitin jari kaki Bapak. Besok kalau udah nikah, kudu minta izin suami.”

Enggak tahu kenapa hatiku jadi ngerasa gemetar tiap Bapak bilang gitu. Aku selama ini dekat banget sama Bapak. Dari kecil sampai remaja, bahkan enggak malu kalau kudu keluar jalan-jalan cuma sama Bapak. Jalan berdua dirangkul Bapak, di saat teman sebaya dirangkul pacar.

Ada momen yang bikin hatiku lebih enggak karuan lagi. Selasa, tanggal 25 Desember kemarin, aku enggak begitu sehat. Beberapa hari aku terus batuk-batuk dan sakit tenggorokan. Malam pas lagi instirahat, Bapak minta aku tiduran di karpet depan TV. Lalu, beliau mijitin aku. Besok paginya, batukku yang tadinya masih parah itu hilang.

Bapak bagiku adalah laki-laki nomor satu. Sahabatku, pelindungku, pendukungku. Tapi, Pak, sedekat apa pun seorang anak perempuan dengan Bapak, pada akhirnya dia harus rela berpindah pundak. Dia harus bersedia mengganti daftar laki-laki nomor satunya dengan laki-laki yang bahkan sebelumnya orang asing. Enggak mudah untuk menghilangkan rasa cemas ya, Pak? Ah, Bapak, apa anak perempuan Bapak sudah benar-benar siap?

***

Ditulis oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasi dari sini.

 

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: