Laki-Laki, Tolong Jangan Suka Obral Janji

Malam menjelang Pukul 21:00 WIB.

Aku duduk diam menatap layar laptop, kutatap beranda facebook. Sulit untuk percaya dengan apa yang sedang kuamati. Suara hujan seperti memenuhi langit malam dan petir menyambar seisi kamar. Sesak, jatuhlah butir bening dari mataku. Malam itu, benar-benar gelap buatku.

Apa yang sebetulnya terjadi? Kenapa Risa mengunggah foto bersama Mas Bram? Aku masih bertanya-tanya, apakah Risa mengenal Mas Bram? Lalu, kenapa tiba-tiba mereka bisa foto berdua seperti sedang dekat. Ya Allah, aku penasaran tapi tak ingin berburuk sangka.

Aku ingat, lebih dari seminggu lalu Mas Bram masih membalas whatsapp-ku. Memang sudah tidak seperti biasanya sih, dia hanya membalas seperlunya dan tidak membalas bertanya. Kupikir dia masih stres karena permasalahan dengan dosen yang membuatnya nyaris tidak bisa mendaftar wisuda di semester ini. Maka, aku tenang saja, berusaha maklum. Mungkin, dia sedang ingin fokus menyelesaikan semuanya. Aku sempat penasaran, kukirimi dia pesan,

“Bagaimana urusan pendaftaran wisuda? Sudah selesai?”

Alhamdulillah sudah, Dik.”

“Selamat ya … Ikut senang, akhirnya Mas bisa ikut wisuda bulan April.”

Begitu saja percakapan kami karena setelahnya, ia tidak membalas pesanku. Tidak juga menanyakan kabarku lebih dulu di hari-hari berikutnya. Aku hanya mengawasinya lewat sosial media. Melihat status dan komentar-komentar yang ada pada facebook-nya. Tapi aku semakin gundah setelah lebih dari tiga hari dia tidak menghubungiku.

Apa aku melakukan kesalahan?

***

Bramantyo Ahmad. Seorang asisten dosen, senior satu prodi. Kami saling kenal di facebook kemudian semakin dekat saat aku menjadi koordinator kelas dan harus berkomunikasi dengannya untuk membahas praktikum. Di dunia nyata dia terlihat seperti pendiam, di dunia maya sangat hangat dan bersahabat. Tapi mengenalnya, aku menjadi suka.

Mas Bram bertubuh tinggi dan berkulit putih. Rambutnya sedikit ikal dan punya sepasang gingsul yang membuatnya terlihat manis. Sayangnya, kisah cintanya tidak semanis rupa wajahnya. Belum lama ia putus dari kekasihnya. Mas Bram tidak canggung menceritakan kisah cintanya. Itu membuatku merasa menjadi sosok yang istimewa baginya.

Suatu sore, Mas Bram menelponku. Dia mengajakku makan di warung sate favoritnya, warung tenda yang terletak di sebelah barat GOR kampus. Aku mengiyakan ajakannya. Perasaanku mengatakan bahwa akan ada hal baik yang terjadi diantara kami. Ah, memikirkannya saja aku sudah dibuat senyum-senyum sendiri.

Keesokan harinya, Mas Bram menjemputku selepas maghrib. Aku sudah siap berdiri di depan indekos, mengenakan setelan kaos putih dan rok coklat muda bermotif bunga-bunga. Kupakai jilbab paris polos berwarna senada dengan rok. Kupoles bibirku dengan lipgloss merah muda yang baru saja kubeli siang hari. Pergi makan saja, aku sudah seniat ini. Sepertinya, hatiku memang sudah tercuri.

***

Di warung tenda, aku hanya berdua saja. Tidak tampak pelanggan lain, sepertinya kawasan ini memang sedang sepi. Mas Bram memesan dua porsi sate ayam, dari situ kami saling tahu jika kami sama-sama tidak suka daging kambing. Bagiku, hal semacam ini seperti menjadi petunjuk. Perasaanku seperti mengatakan … barangkali laki-laki ini jodohku. Hatiku berdebar, iramanya lari ke mana-mana. Ini pertama kali selama masa kuliah, aku pergi makan bersama seorang laki-laki.

Tidak perlu lama menunggu, pesanan kami sudah terhidangkan bersama dengan satu gelas teh hangat manis dan satu gelas jeruk hangat.      

“Ini tempat makan favoritku dan baru kali ini aku ngajak cewek ke sini. Hahaha …“ Mas Bram mengawali pembicaraan dengan sedikit tawa ringan.

“Serius Mas? Memangnya biasanya ngajakin siapa?” Tanyaku, sepertinya pipiku memerah ketika itu.

“Sama anak-anak kelas yang biasa futsal bareng. Kami makan di sini kalau sudah selesai futsal,” kata Mas Bram bercerita. “Enak kan? Rasanya nggak berubah dari aku awal kuliah di sini. Makanya aku ajak kamu ke sini.”

“Iya, enak. Aku suka.” Kataku dengan senyum tipis, sementara jantung masih berdebar.

Mas Bram melempar senyumnya yang manis. Kami diam dan kembali menikmati sate ayam tenda hijau. Saat kami sedang menyeruput minuman, Mas Bram kembali mengajakku mengobrol.

“Kamu ada rencana nikah kapan, Dik?” Mas Bram bertanya dengan wajah serius

“Eh, nikah? Hehe … skripsi aja belum, Mas. Tapi kayaknya aku mau langsung nikah kalau udah lulus. Hehehe …”

“Bagus kalau gitu. Sama aku mau kan, Dik? Hehehe …”

“Hehe … bercanda aja nih, Mas Bram. Padahal belum move on dari mantan, kan?” aku meledek, berusaha meredam tegangku sendiri

“Udah move on, lah. Udah berteman kok sekarang. Berarti kamu nggak mau ya sama aku?”

“Mas serius nggak sih? Aku nggak mau pacaran, Mas. Aku mau cari suami. Langsung nikah aja kalau udah nemu yang cocok.” Jawabku

“Aku juga sama, Dik. Udah kapok ah, pacaran gagal terus. Hehe … jadi kapan kamu lulus?”

“Insyaa Allah, tiga semester lagi ya, Mas. Mudah-mudahan lancar.” Jawabku dengan senyum penuh arti.

“Sip. Jangan lama-lama, aku udah mau wisuda loh. Hahaha …” Mas Bram tertawa renyah, gingsulnya tampak dan sungguh manis sekali.

***

Sejak ngobrol di warung tenda itu, aku dan Mas Bram semakin sering bertemu. Kami dekat tapi tidak berpacaran. Semacam punya perjanjian secara tidak langsung. Awalnya aku ragu, benarkah pilihanku ini?

Aku berkomitmen untuk tidak berpacaran dengan siapa pun. Tetapi, hubunganku dengan Mas Bram hampir seperti orang pacaran. Hanya saja kami tidak mendeklarasikan atau memiliki tanggal jadian. Tapi, kutepis keraguan itu. Toh, aku dan Mas Bram sudah seprinsip, tidak mau berpacaran dan punya tujuan menikah.

Pernah sekali, Mas Bram datang ke indekosku untuk memberikan sebuah hadiah. Sebuah binder kecil berwarna ungu, dia tahu warna favoritku. Hadiah itu diberikan untuk keberhasilanku memperoleh nilai A di mata kuliah yang ia menjadi asistennya. Binder itu tidak pernah kupakai, kusimpan agar bisa tetap bersih dan terlihat baru. Aku tidak ingin benda itu rusak.

***

Hampir setahun aku dekat dengan Mas Bram, tapi tidak sekalipun tahu bahwa ia kenal dengan Risa. Foto yang kulihat tadi malam betul-betul mengganggu pikiranku. Sampai-sampai pagi ini aku kena marah dosenku. Hampir setengah jam aku datang terlambat menemui Pak Guntur untuk bimbingan proposal. Semalam aku sulit tidur hingga bangun kesiangan. Belum lagi, saat bimbingan aku tidak bisa mengulangi apa saja koreksi yang disampaikan Pak Guntur. Aku tidak bisa fokus.

Keluar dari ruangan Pak Guntur, aku melihat Risa sedang duduk di bangku ruangan pojok bersama dua temannya. Mereka sedang bercanda dan tertawa-tawa. Ada perasaan ingin menghampiri dan bertanya pada Risa. Tapi … aku hanya sebatas tahu Risa. Hanya mengenal wajah dan nama karena kami teman satu angkatan, namun berbeda prodi. Kuurungkan niatku dan segera aku pulang menuju indekos.

***

Merebahkan diri ke kasur memang hal yang paling nyaman dilakukan, apalagi ketika mood sedang kacau dan pikiran berlarian entah ke mana. Kuambil ponsel, segera membuka facebook untuk kembali memastikan bahwa aku tidak salah lihat.

Seketika, di beranda, muncul sebuah pemberitahuan: Bramantyo Ahmad berpacaran dengan Audina Risa. Serasa disambar petir di siang bolong. Semuanya semakin jelas dan aku benar-benar tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Akhirnya, aku coba untuk mengirimkan pesan kepada Mas Bram.

“Mas Bram sama Risa udah pacaran?”

Ternyata Mas Bram segera membalas pesanku, “Kok kamu update banget sih, Dik. Tahu aja. Hehehe … Iya, Dik. Belum lama kok.”

“Mas Bram katanya nggak mau pacaran lagi? Kok gitu sekarang? Aku kecewa …” Aku memang tidak bisa marah-marah, hanya itu yang bisa kutanyakan.

Mas Bram lalu memberi sebuah jawaban yang membuatku betul-betul patah hati, “Dia yang ajak aku pacaran, Dik. Aku coba saja jalani, dia baik kok. Aku selalu kasih kesempatan kepada perempuan yang berniat dekat denganku. Kamu, tetap jangan pacaran ya. Aku yakin kok, laki-laki yang mendapatkan kamu pasti beruntung banget.”

Aku sungguh tidak bisa memahami apa yang dipikirkan Mas Bram. Tidak ada kata maaf darinya untukku. Sama sekali tidak ada. Aku hanya bisa menangis, melempar ponselku dan tidak membalas pesan Mas Bram. Hari itu juga, kuhapus nomor Mas Bram dan semua sosial medianya kublock. Aku tidak tahan melihat dia dengan Risa, gadis cantik yang menurutku centil.

Mulai hari itu, sampai kapan pun, aku tidak akan percaya pada laki-laki manapun yang mengajakku menikah, kecuali dia datang ke rumah dan menemui Ayah!

Oleh: Hapsari TM.

2 thoughts on “Laki-Laki, Tolong Jangan Suka Obral Janji”

Tinggalkan Balasan