LIMA tahun lalu, suatu malam, seorang anak muda dari kampung kami—Heri—dikeroyok massa desa tetangga. Lukanya lumayan parah, ada bekas puntung rokok di telinga, wajah dan tubuhnya pun babak belur. Dia dilaporkan ke pihak berwajib atas tuduhan yang tidak masuk akal menurut kami. Yakni pencurian. Iya, terdengar tak logis karena kami kenal siapa Heri ini. Rasanya tidak mungkin dia mencuri. Kami kaget mengetahui kabar tersebut.

Sejak bakda isya hingga dini hari, Heri masih mendekam di kantor polisi. Akhirnya, tanpa banyak pertimbangan, ayah Heri—Pak Wawan—meminta pada Pak Man untuk membantu menyelesaikan kasus tersebut. Siapa Pak Man ini? Beliaulah yang akan menjadi fokus dari kisah yang kutulis kali ini.

Kembali ke kisah Heri. Pukul tiga pagi, Pak Wawan membangunkan Pak Man. Mereka pergi ke kantor polisi. Pihak kepolisian menyarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan terlebih dulu. Alhasil, diadakan pertemuan dengan pihak penuntut bersama kepala desa mereka. Lucunya, setelah ditelusuri, Heri tidak mencuri apa pun. Dia dikeroyok karena memacari gadis yang menjadi idola di desa tersebut.

Awalnya, Pak Wawan tidak terima atas perlakuan yang terjadi pada anaknya. Namun, karena pertimbangan-pertimbangan yang disampaikan Pak Man mengenai manfaat dan mudarat jika melaporkan balik, Pak Wawan mengurungkan niatnya. Kasus ini pun selesai.

Ada yang menarik di sini, mengapa Pak Wawan mesti mendatangi Pak Man? Kenapa bukan kepala desa atau perangkat desa yang lain saja? Pak Man tergolong warga biasa, tentu tak ada kewajiban beliau bangun dini hari untuk melayani masyarakat. Meski sebagai imam masjid, beliau pasti tahu tentang kewajiban menolong tetangga.

Mulai dari sanalah aku kepo pada sosok Pak Man tadi. Aku pun bertanya-tanya pada Umi. Mengingat mereka sebaya, pastilah Umi tahu banyak tentang Pak Man ini.

“Kenapa, ya, Mi, masyarakat di kampung kita, kalau ada masalah sering minta bantuan Pak Man? Padahal beliau bukan perangkat desa, ustaz, atau yang lainnya. Ya, walau pun termasuk tokoh agama, sih,” selidikku.

“Kok, kamu tiba-tiba tanya begitu?” Umi bertanya balik padaku.

“Yah, maksudnya, kan, ada Pak Kepala Desa, Mbah Bayan, dan tokoh agama lain. Kenapa mesti ke beliau?”

Aku penasaran, karena ini bukan kali pertama warga mendatangi beliau saat menghadapi masalah. Dan menurutku, kasus yang dialami Heri berbeda. Akan lebih baik jika Pak Wawan membawa seorang Kepala Desa yang jelas pengaruhnya lebih luas dibandingkan Pak Man.

“Ya, warga sudah percaya dengan beliau, Dek. Ini biar kamu tahu saja, ya, Pak Man ini sering diminta warga untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa, loh,” jelas Umi sambil memotong sayur yang akan kami masak, “Bahkan, ada salah seorang masyarakat yang bersedia membiayai semua kepentingan beliau seandainya beliau mau menjadi kandidat kepala desa.” lanjut Umi.

“Lah, gratis, Mi? Kok, enggak mau?” Aku semakin penasaran.

“Kalau alasannya, Umi kurang tahu.”

“Yang paling membuatku penasaran, sih, kenapa warga begitu percaya dengan beliau, ya, Mi?”

“Oh, kalau itu, ceritanya panjang, kamu yakin mau dengerin?”

“Siap, Mi …,” kataku sembari mengangkat tangan—hormat—pada umiku.

Umi sibuk berkisah di sela-sela proses memasak. Aku pun mendengarnya dengan tekun. Jadi, ternyata, kira-kira tiga puluh lima tahun silam, beliaulah yang menjadi tombak utama didirikannya masjid di kampung kami.

Kampung kami terletak hampir di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tergolong pelosok. Perlu waktu minimal setengah jam, untuk sampai di ibukota kabupaten dengan menggunakan sepeda motor atau mobil. Saat itu, jangankan mobil, sepeda saja hanya satu-dua orang yang punya. Terlebih, kondisi jalan masih banyak lubang.

Warga yang ingin melaksanakan salat Jumat, harus berjalan kaki sejauh tujuh kilometer untuk sampai ke masjid kecamatan. Melihat keadaan ini, Pak Man dan beberapa temannya—yang masih berusia remaja—berinisiatif untuk membangun masjid kampung.

Bagian ini yang membuatku terharu, sangat terharu malah. Betapa kegigihan Pak Man beserta kawan-kawannya menjadikan masjid itu kini kokoh berdiri. Kata Umi, langkah awal yang dilakukan Pak Man kala itu, membujuk para remaja untuk bersama-sama mendirikan masjid.

Tidak banyak yang mau turut membantu. Dari lima puluhan remaja, hanya sekitar dua puluh orang yang bergerak. Wajar, sebab, kejawen di kampungku masih sangat kental. Bahkan, ada kuburan yang dijadikan tempat ritual tertentu oleh masyarakat. Jadi, sebagian besar orangtua melarang anaknya untuk ikut bergabung membangun masjid. Mereka khawatir, kalau-kalau tradisi sakral yang sudah turun temurun akan hilang tergantikan dengan adanya kegiatan baru di masjid.

Sebelumnya, sudah ada warga yang berusaha menggerakkan remaja untuk membangun masjid. Namun, usaha tersebut gagal karena kurang dukungan dari orangtua tadi. Untuk kali ini, Pak Man telah cukup persiapan. Prinsipnya, tidak masalah bekerja dengan sedikit orang asalkan istiqomah, insyaallah berhasil.

Masalah belum selesai di situ. Mendirikan sebuah masjid tentu perlu banyak pengorbanan. Mulai dari waktu, tenaga dan pastilah dana yang tidak sedikit. Tenaga, telah teratasi dengan adanya beberapa pemuda yang bersedia bergabung. Waktu, tidak terburu-buru karena bukan kepentingan perorangan yang mesti cepat selesai.

Tinggal masalah dana yang perlu pemikiran cukup dalam. Mungkin jika terjadi sekarang, kita cukup mencari donator, selesai. Tetapi, keadaan saat itu, akses ke mana-mana masih sangat sulit. Pak Man juga belum kenal dengan orang-orang yang aktif di kegitan sosial. Akhirnya, Pak Man mengusulkan, upah kerja mereka di lahan tebu dikumpulkan untuk membeli bahan bangunan yang diperlukan.

Usul Pak Man diterima oleh lima belas orang. Sedangkan lima orang yang lain, mundur karena merasa tak sanggup. Lima belas orang inilah yang bekerja keras merampungkan pendirian masjid.

Setiap pagi hingga siang, mereka bekerja—yang seluruh gajinya diinfakkan. Sore hari, mengangkut batu dari jarak sekitar 250 meter menuju lokasi pembangunan. Malamnya, mereka mencicil bangunan masjid bersama-sama. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih setahun.

Setelah masjid bediri, warga pun sepakat menjadikan beliau sebagai imam utama. Sejak saat itu, beliau jadi tokoh masyarakat yang lumayan disegani. Begitulah kesimpulan yang kudapatkan dari cerita Umi.

***

Selepas mendengar cerita dari Umi, aku semakin ingin tahu tentang alasan-alasan laki-laki yang kini menjabat RT tanpa bayaran itu. Paginya, kuputuskan untuk menemui beliau. Aku cukup akrab dengan keluarga Pak Man. Sudah seperti keluarga sendiri. Jadi, kalau mau ketemu, ya, tinggal datang ke rumah beliau saja.

“Assalamualaikum,” sapaku pada wanita yang tengah asyik berolah raga di halaman rumahnya—istri Pak Man.

“Waalaikumsalam, wah ada apa ini, Dek? Kok tumben.”

“Pengin ngobrol sama Bapak, Bun, beliau kemana, nggih?”

“Oh, Bapak di sawah belakang, yuk tak antar!” ajaknya sambil menggandeng tanganku.

Sampai di sawah, kulihat beliau sedang sibuk mencabut bibit padi untuk ditanam. Atau istilah dalam bahasa jawa disebut, ndaut. Bapak satu ini memang pekerjaan utamanya bercocok tanam. Lumrah pagi-pagi sudah beraktivitas di sawah.

“Itu, beliau.” kata Bunda padaku.

“Waaaah, assalamualaikum Pak RT baru.” Aku setengah berteriak menyapa Pak Man. Tanganku melambai pada beliau.

“Waalaikumsalam, wah-wah ada Mustika. Ngapain ke sini, Mus?”

“Main Pak RT, mau ikut Bapak nyabut bibit padi. Hahaha ….”

“Loh, enggak usah! Kotor nanti,” cegah beliau. Namun sayang, aku sudah terlanjur menyelupkan kakiku ke lumpur dan berjalan menuju beliau.

Aku duduk di samping beliau, turut mencabuti bibit padi yang ada di hadapanku.

“Kok enggak minta tolong tetangga, Pak? Biar cepat selesai.” Aku membuka pembicaraan.

“Ya, selagi bisa dikerjakan sendiri, kenapa minta tolong, Mus? Nanti juga selesai, insyaallah,” jawab beliau enteng.

“Hahaha … paling bentar lagi ada yang datang bantuin, Pak,” sambungku.

“Nah, itu, saya enggak enak kadang-kadang.”

Pembicaraan kami pun berlanjut. Mulai dari bahas kuliahku, sampai pada pertanyaan utama yang membuatku penasaran sekian lama. Kenapa beliau menolak dicalonkan menjadi Kepala Desa?

Kata beliau, “Menerima jabatan itu berat, Dek, sekarang mungkin saya bisa gembar-gembor menyalahkan para koruptor, tapi saya sendiri tidak bisa membayangkan kalau di posisi mereka. Apa iman saya cukup kuat untuk tidak tergoda menggunakan hak orang lain?” Beliau berbicara tanpa menatap ke arahku. Terus fokus pada bibit-bibit padi yang belum semua tercabut.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Selain itu, saya takut jadi sombong, Dek. Merasa berkuasa dan akhirnya besar kepala. Jadi, ya, lebih enak begini. Mengabdi semampunya, dan menghindar dari keburukan yang mungkin saja saya lakukan.”

“Jadi Pak RT aja, ya, Pak? Hehehe ….” Aku menanggapi dengan sedikit candaan.

“Itu pun sebenarnya saya enggak mau. Sekarang, saya cuma berharap Allah selalu membantu saya menunaikan kewajiban-kewajiban saya pada masyarakat. Kalau kata Pak Kyai, kan, Allah akan senantiasa membantu dia yang menerima jabatan karena dipilih, bukan mengajukan diri. Tolong doakan saya termasuk di dalamnya, ya, Dek!” sambung beliau bersama senyum teduhnya.

Aku membalas senyum beliau. Kuhirup napas dalam, ternyata begitu cara beliau berpikir. Pantas, warga sering mencari-cari beliau ketika menghadapi masalah. Lalu, aku berkaca pada diriku sendiri. Seberapa takut kamu pada Rabbmu? Tiba-tiba aku merasa teramat kecil.

Beberapa menit kemudian, datang serombongan orang yang berniat membantu beliau. Aku pamit, beralih menolong Bunda menyiapkan sarapan untuk para relawan yang baru tiba. Ketika aku membersihkan kaki di air mancur dekat sawah, sekilas aku menoleh pada Pak Man. Beliau telah asyik bercanda-tawa dengan yang lain. Dalam hati, aku berdoa, semoga Allah selalu menjaga Bapak dalam keimanan dan ketaatan, ya, Pak. Terima kasih sudah menginspirasi.

***

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: