Suasana gedung dosen masih sepi ketika aku datang. Aku duduk menunggu di kursi seberang ruangan Pak Hendro. Pagi itu, aku sengaja datang setengah jam lebih awal agar dapat segera menemui Pak Hendro, dosen penguji skripsiku. Jika draft akhir ini sudah disetujui, aku bisa mengumpulkan syarat pendaftaran wisuda.

Sejujurnya, ada keinginan untuk segera hengkang dari sini, selesai dengan urusan kampus dan tidak perlu lagi sering-sering datang ke gedung dosen, berpapasan dengan Mas Dika. Satu hal membuatku kesal ketika berpapasan dengan Mas Dika adalah reaksi teman-teman dan beberapa senior. Mereka sering menggoda kami. Ah … pokoknya malu-maluin!

Aku menunggu tanpa ada teman, ini memang masih pukul 7.15. Biasanya, gedung aktivitas di gedung ini dimulai pukul 08.00 pagi. Ternyata, nasib buntungku datang sepagi itu juga. Mas Dika, kulihat dia datang ke arahku. Tentu saja, tanpa bertanya atau izin kepadaku, ia mengambil posisi duduk di sebelahku. Ya, Allah. Bisa kuminta hilangkan laki-laki ini dari hidupku?

“Rajin banget kamu, Han. Pengin buru-buru lulus, ya?” Dia menggoda, tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya. Sok manis.

“Iya, biar nggak ketemu Mas Dika lagi,” jawabku ketus.

Dia tertawa mendengar jawabanku. Aku selalu heran, semakin aku jutek, Mas Dika justru terlihat senang. Aku langsung ingat dengan perkataan Lia dulu. ‘Hana, laki-laki akan makin penasaran sama perempuan yang cuek. Itu alasannya, kenapa Mas Dika masih berusaha nempel sama kamu.’ Jangan-jangan, benar yang dikatakan Lia. 

Kami berdua diam sampai tiba-tiba aku mengatakan sesuatu yang bahkan aku tidak paham, bagaimana bisa hal semacam ini terpikir olehku.

“Mas Dika mau apa sih? Kalau niatnya baik, Mas Dika harusnya datang ke orang tua-ku saja, deh.” Sedetik aku diam menerka apa yang kusampaikan. Ah, tidak apa-apa. Pasti, dia nggak akan berani datang ke rumah. Dia kan memang hobi menggodaku. Pikirku.

Dia kemudian menjawab, “Tunggu aja, Hana.”

Dia tampak begitu tenang. Kalau dilihat, laki-laki ini memang ganteng. Apalagi kalau sedang diam atau senyum tipis. Eh, aku nggak boleh lemah. Jangan berpikir aneh-aneh, Hana.

***

Aku menemui sahabatku, Lia di kantin kampus. Siang itu kami membeli cappuccino cincau favorit kami. Aku duduk berhadapan lalu bercerita panjang lebar soal draft skripsi, tentu aku juga menceritakan pertemuanku dengan Mas Dika.

Setelah bercerita hingga berbusa-busa, aku sibuk mengusap layar ponsel. Membuka satu per satu media sosial yang kupunya. Agak terburu, ada perasaan kesal bercampur bingung. Haruskah kublokir akun Mas Dika?

Lia yang sedang memainkan sedotan itu, tertawa ringan. Sambil menyeruput pelan satu cup es yang dipegangnya. Ia kemudian berusaha menasihatiku,

“Han, kamu aneh. Cewek lain mah bakal senang kalau dideketin Mas Dika. Udah ganteng, mantan ketua himpunan, penerima beasiswa pula. Kurang apa sih?”

“Pokoknya aku nggak suka, dia terlalu agresif!” Kujawab dengan nada sedikit meninggi.

“Han, mestinya kamu jangan berlebihan benci sama orang. Apalagi, kamu belum kenal betul sama orangnya. Hati-hati, barangkali yang kamu benci itu adalah sosok yang kamu butuhkan, lho.”

Aku diam …

“Kalau Mas Dika beneran datang ke rumah, kamu siap, Han?” Tanya Lia penasaran.

“Aku yakin dia tidak akan berani datang. Lihat saja,” Kataku percaya diri.

Lia hanya menggelengkan kepala lalu sibuk menghabiskan minumannya.

***

Sebulan ini, aku memasuki masa tunggu wisuda. Seusai memenuhi syarat pendaftaran, aku banyak bersantai di rumah. Siang itu, aku sedang di kamar. Kusumpal telinga dengan headset yang terpasang di ponselku. Aku merebahkan badan, ditemani suara lembut Raisa dan beberapa penyanyi lain yang lagu-lagunya sudah kukumpulkan di playlist-ku. Tanganku memegang buku setebal 300-an halaman bersampul biru karya Profesor Rando Kim. Nikmatnya bebas dari beban akademik kampus.

Aku sedang membuka halaman baru, ketika Bapak mengetuk pintu kamar dan memintaku untuk menemaninya ke ruang tamu. Ada yang ingin Bapak kenalkan padaku, katanya. Tanpa bertanya, kukenakan cardigan dan jilbab instant yang sudah tergantung di kapstok. Aku hanya membatin, siapa yang hendak Bapak kenalkan padaku?

Di ruang tamu, kudapati Ibu sedang ngobrol dengan … Mas Dika. Aku tidak sedikit pun menyangka, laki-laki itu berani datang ke rumah. Sambutan Ibu terlihat hangat, sepertinya mereka berdua sudah cukup lama berbincang.

Aku duduk di sebelah Ibu, Bapak dan Mas Dika bersebelahan juga. Entah, sihir apa yang digunakan Mas Dika, kali itu Bapak juga terlihat menyambut baik tamu yang tidak sengaja kuundang.

Insyaa Allah, lusa, Ibu saya datang ke Jogja. Kalau Bapak mengizinkan, saya ingin mengajak Hana bertemu dengan Ibu saya.”

“Oh, iya. Silakan, Nak Dika. Saya tidak akan melarang.”

Obrolan Bapak-Ibu dengan Mas Dika berlanjut, sementara aku lebih memilih diam. Tidak jarang aku salah tingkah, bingung bersikap. Suasana hatiku tidak terdefinisikan.

***

Bapak dan Ibu pandai sekali membujukku. Sholat istikharohku selama ini pun tidak membuat Allah mengirim ‘sinyal’ bahaya, akhirnya aku menerima ajakan pertemuan itu. Suatu siang, di sebuah restaurant aku menemui Mas Dika dan Ibundanya—perempuan cantik, berusia 40-an tahun.

Aku merasa sangat diterima, sapaannya ramah bahkan aku dipeluk dengan erat ketika baru saja datang. Aku tahu, dia pasti Ibu yang baik. Single parent yang tangguh. Lalu, aku—yang awalnya berkeringat dan merasa dingin—menjadi merasa sangat nyaman bercerita bebas,

“Mas Dika itu jahil, Bu. Waktu ospek, saya dikerjain terus. Pernah, saya sampai harus joget sendirian di tengah lapangan. Kan, malu. Saya jadi punya kesan buruk ke Mas Dika, pokoknya jadi nggak suka terus.”

Ibundanya tertawa mendengar ceritaku, lalu menimpali dengan cerita tentang Mas Dika, “Dika memang jahil dari kecil. Wong, Bunda aja biasa dijahilin. Tapi bener deh, itu tanda dia sayang.”

Aku hanya tersenyum, tersipu malu. Sementara kebencian yang lama bersarang di dada, perlahan runtuh. Aku menyukai perjumpaan dengan Ibunda Mas Dika. Sungguh, dia Ibu yang lembut. Pun hari itu, aku melihat sikap Mas Dika yang begitu menghormati Ibunya.

Laki-laki itu mengambilkan makanan, berkata sopan dan bahkan sangat mengutamakan restu Ibunya. Ah, itulah akhlaknya yang sebenarnya.

***

Aku telah diwisuda, dua hari setelahnya, keluarga Mas Dika datang untuk mengkhitbah-ku. Setelah melewati hari-hari yang amat mengejutkan, aku berpikir bahwa selama ini kebencianku hanya berasal dari rasa dendam. Hanya berakar dari kekesalan karena ospek.

Kalau kuanggap Mas Dika itu agresif, nyatanya tidak. Ia memang mendekatiku dengan baik. Pun tidak pernah ada perempuan di dekat Mas Dika, tidak pernah kudengar ia memacari siapa pun, sekalipun itu Kak Lisa, selebgram, seniorku juga. Kabarnya, Kak Lisa sangat menyukai laki-laki jangkung itu.

Lalu, aku luluh dengan jawaban Ayah, saat Mas Dika datang ke rumah untuk kedua kalinya, ‘Saya tidak punya alasan untuk menolak lamaran laki-laki baik seperti kamu. Saya hanya tidak rela, jika ada laki-laki yang datang kepadanya hanya sekadar mengajaknya pacaran. Saya, merestui kamu.’ Rasanya, Bapak memang sudah menemukan pundak yang tepat, untuk diletakkan tanggungjawab yang sebelumnya ia pikul.

***

Mas Dika mengirimiku sebuah pesan, sebelum ia berangkat ke luar kota, melaksanakan penelitian untuk tesis bersama rekan satu tim. Ia memutuskan mengendarai motor karena menurutnya, lokasi pengambilan data tidak memungkinkan dilewati mobil. Aku hanya memintanya untuk hati-hati dna jangan ngebut.

‘Kamu yang harus jaga diri. Kalau nggak ada aku, rajin-rajin hubungi Bunda, ya.’ Begitu pesan yang kuterima sesaat sebelum nomor hp-nya tak bisa dihubungi.

Dua jam berlalu dari waktu Mas Dika pamit, ponselku berdering. Bunda menelponku. Aku segera mengangkatnya, kudengarkan suara isak tangis dari balik telepon, “Dika udah nggak ada, kecelakaan.”

Sempat tak percaya, tapi detik itu juga aku bersama Bapak dan Ibu menuju rumah duka. Mas Dika benar-benar sudah terbujur kaku. Aku memeluk Bunda dan jatuhlah butir bening dari sudut mataku. Doaku benar dikabulkan. Iya, aku ingat sering meminta pada Allah untuk menghilangkan laki-laki ini di hidupku. Kemudian, hari ini, harapan itu dikabulkan. Kini, aku hanya merasakan sesal.

Barangkali, Allah mengirim pelajaran pada kata terlalu yang kuletakkan untuk sebuah kebencian. Tapi pelajaran yang kudapat membuatku mengerti bahwa Allah telah meluruskan kesalahanku. Hingga ketika kamu pergi, aku sudah tidak menaruh rasa benci. Sampai jumpa di kehidupan abadi nanti, Mas. []

Oleh: Hapsari TM.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: