Tinggal satu orang lagi. Dialah Bapak. Begitu bapak bilang, “iya” maka kelar urusannya. Mamak, dan juga kakakku yang selama ini tak setuju pun bakal ikut. Tetapi, bagaimana caraku meluluhkan hati bapak dan mengatakan tentang seriusnya hubunganku ini?

Bapak selalu diam. Padahal dia sudah tahu tentang hubunganku sama Heni. Aku yakin, bapak juga pasti sudah dengar ketidaksetujuan Kak Mira dan Mamak. Entah apa yang akan menjadi keputusan bapak, tapi aku tidak akan menyerah. Aku harus buktikan janji setiaku sama Heni. Mereka akan kubuat merestui hubunganku dan Heni.

***

“Jadi hanya karena aku lulusan SMA, lalu keluargamu tak memberi restu?”

Bola mata coklat Heni mulai berkaca.

“Mereka bilang, seharusnya aku bisa dapet cewek yang lebih baik. Minimal yang setara lulusan sarjana. Aku sudah coba meyakinkan mereka. Bahwa kamulah cewek yang kupilih.”

“Tapi mereka tetap tidak peduli, kan?” Bibir Heni bergetar, lalu air matanya jatuh. Dia menatapku nanar. Aku seperti melihat seribu duri sedang tertancap di hatinya.

Ini bukan pertama kalinya kami berdebat. Sebelumnya, kami juga pernah berdebat tentang hal yang sama. Mengenai komitmen dan janjiku yang ingin menikahi dia. Dia mendesakku agar segera melamarnya. Karena orang tua Heni merasa tidak sabar ingin menikahkan kami berdua. Sepertinya mereka sudah tidak nyaman dengan desas-desus tetangga yang membicarakan hubunganku dengan Heni. Seperti yang pernah dikatakan Roni padaku.

Kuhapus air mata di pipi Heni. “Bersabarlah, kita pasti akan mendapat restu dari orangtuaku.”

“Iya, tapi sampai kapan? Kita sudah lima tahun pacaran. Aku capek jika masih tak jelas kayak gini.” Heni menyibakkan tangannya, membuat tanganku terlempar saat sedang mengusap air mata di pipinya.

Sepatah kata pun belum ada di benakku untuk menjawab pertanyaan itu. Aku benar-benar tak bisa memastikan akan seperti apa hubunganku dengan Heni. Aku hanya bisa janji, dan kembali berjanji untuk memupuk kesabaran di hati Heni. Memang hanya itu yang kumampu saat ini. Aku terlalu lemah menentang kemauan orang tua, apalagi menyakiti hati mereka. Hati orang tuaku, pun orang tua Heni.

Kutinggalkan sebuah jam tangan di meja. Di antara sepasang gelas Capuccino dan sepiring mendoan yang masih hangat. Gelang itu sengaja kubeli untuk hadiah ulang tahun Heni. Sebagaimana tradisi di hari ulang tahun kami, saling memberi kado spesial adalah bentuk ungkapan kata selamat.

Kuharap hadiah kecil itu bisa menyenangkan hatinya. Setidaknya bisa selalu mengingatkan cewek berlesung pipi itu pada putaran waktu yang masih harus kami lalui. Syukur-syukur bisa mengobati beberapa janji yang sampai saat ini sudah berkali-kali kuingkari.

Aku pamit dari rumah Heni karena sudah hampir jam delapan malam. Aku harus bergegas menuju lokasi pementasan. Kutinggalkan Heni dengan mata yang masih merah dan pipi yang basah. Dia masih terduduk di ruang tamu ketika aku melaju dengan motor CBR meninggalkan halaman rumahnya.

Remang jalan membebat perbukitan. Hijau pepohonan di kala siang, serupa bayang pewayangan di balik pakeliran. Pepohonan dan bukit-bukit itu tampak hitam menyatu dengan pekat malam. Aku menerjangnya, melaju pada aspal yang dikelilinginya. Hanya satu dua kendaraan yang berseliweran. Seperti kunang-kunang yang mendekat, lalu berubah seperti rembulan yang dibopong mesin melaju kencang. Sepanjang perjalanan menuju tempat pementasan, penggalan kenangan tertata dalam ingatan. Memaksaku berdialog dengan hatiku sendiri.

Sudah beberapa kali aku main ke rumah Heni. Kadang hanya sekadar mampir dan ngobrol dengan kakaknya. Kebetulan aku dan kakaknya adalah teman akrab. Kami pekerja seni pertunjukan yang sering bertemu dalam proyek pementasan yang sama. Roni, kakak kandung Heni, sering menanyai soal hubunganku sama Heni. Memberi saran dan tak segan-segan menunjukkan contoh bagaimana dirinya mampu membuat orangtuanya memberi restu setelah awalnya menentang pernikahannya.

Mungkin selama ini hanya Roni yang tahu bahwa aku dan Heni menjalin hubungan secara diam-diam. Karena sampai saat ini aku tak pernah bercerita pada siapa pun, kecuali Roni dan beberapa sahabatku. Kurasa hanya Roni yang bisa memahami masalah-masalah yang sedang kuhadapi. Secara dia pernah berada dalam situasi asmara yang hampir sama dengan yang kualami. 

Roni selalu bilang, “Sebagai lelaki kamu harus mampu menunjukkan bahwa kamu bisa mengurus keluargamu sendiri. Mampu menafkahi tanpa membebani orangtua.”

Kupikir ada benarnya juga apa yang dikatakan Roni. Barangkali bapak akan berubah pikiran setelah yakin bahwa aku mampu menafkahi dan mengurus rumah tangga sendiri. Maka, untuk mewujudkan hal itu, aku bekerja pontang-panting demi menunjukkan kemampuanku menafkahi dan mengurus keluarga. Malam hari pentas, siang harinya aku kerja serabutan mengajar ekstra kesenian di beberapa sekolah dan desa-desa. Alhamdulillah, kerja kerasku tidak sia-sia.

Setiap bulan aku bisa menyisihkan sebagian penghasilanku untuk Mamak. Sisanya kupakai untuk memenuhi kebutuhanku sendiri, juga untuk menyenangkan hati Heni. Bagiku, bisa membahagiakan hati orang-orang yang kusayangi adalah bentuk penghargaan bagi mereka. Maka dari itu aku terus berusaha agar bisa selalu membagiakan mereka.

Tahun ini, aku berencana membantu Heni agar bisa melanjutkan kuliah. Entah bagaimana caranya. Jika dia lulus kuliah, tentu tidak ada alasan lagi bagi bapak untuk memberi restu pada hubunganku dengan Heni. Tinggal selangkah lagi, lalu aku tak perlu lagi ingkar janji.

***

“Sekarang terserah kamu saja, mau nikah sama Heni atau siapa aja itu hakmu. Jadi kalau kamu tuduh aku tidak setuju karena sebab sakit hati, itu salah besar. Aku enggak ada urusan dengan Heni.” ujar Kak Mira.

“Ya udah, enggak perlu ngotot gitu. Artinya Kak Mira enggak masalah kan kalau aku nikah sama Heni?”

“Kalau mau nikah, ya nikah aja! Tinggal bilang sama bapak untuk melamar cewekmu itu.”

“Masalahnya bapak selalu diam kalau kuajak rembukan soal itu.”

“Harusnya kamu peka. Kalau bapak diam, itu tandanya ada masalah. Bisa jadi bapak memang belum siap menikahkan kamu sama Heni.”

“Tolonglah Kak … bantu ngomong sama bapak.”

“Loh, kan kamu yang ngebet pengin nikah. Kenapa harus aku yang susah?”

“Ayolah, kak ….”

“Kamu tahu enggak, kenapa bapak selalu diam kalau ngomongin hubunganmu sama Heni?”

“Memangnya kenapa, Kak?”

“Sejak berhubungan sama Heni, sikapmu itu berubah. Jadi aneh. Kayak orang kena guna-guna. Jangan-jangan memang kamu kena guna-guna.”

“Aneh, gimana? Perasaan biasa aja.”

“Kamu nyadar enggak kalau sikapmu akhir-akhir ini jadi gampang emosian? Susah dinasehati, enggak pamit kalau pergi, mudah berprasangka buruk, bahkan aku sendiri merasa agak jauh sama kamu. Enggak kayak dulu. Bapak pasti juga sudah bosan nasehatin kamu. Maka, dia milih diam daripada pusing berdebat sama kamu.”

“… oh, udah selesai ceramahnya?”

“Dasar kamu ini memang keras kepala. Dibilangi baik-baik malah begitu sikapmu. Udah! Terserah kamu aja! Asal kamu ingat, apapun yang sudah dikasih cewek itu ke kamu enggak bakalan sebanding dengan apa yang sudah bapak mamak korbanin buatmu. Jadi kalau kamu lebih memilih cewek itu daripada kebahagiaan bapak mamak, sebaiknya kamu pikir-pikir lagi. Surga tidak berada di telapak kaki pacarmu, tapi ada di telapak kaki mamakmu.”

***

Aku pikir tidak ada gunanya meminta bapak melamar Heni, sekarang. Mungkin masih butuh waktu lebih lama lagi untuk meyakinkan mereka bahwa Heni memang sosok yang tepat untuk jadi pendamping hidupku. Belum cukup bukti untuk menunjukkan bahwa Heni adalah sosok itu, bisa berbaur dengan keluargaku. Ini artinya aku masih harus mengumbar janji sama Heni. Barangkali juga akan kembali mengingkari janji-janji hingga entah sampai kapan, atau barangkali sampai kata maaf terasa hambar di lidah dan telinga kami berdua.

Mungkin sebaiknya kubiarkan saja kesibukan kerja menjauhkan diriku dari keinginan menikahi Heni. Kalau memang jodoh, tentu Allah akan mendekatkan hatiku kembali dengan Heni. Atau jangan-jangan Allah telah menyiapkan cewek lain yang lebih baik dari Heni? Kalaupun itu terjadi, aku sungguh tidak kuasa mengubah takdir yang sudah digariskan-Nya. Aku hanya mampu sebatas berusaha mendapatkan jodoh terbaik untuk keluarga.

Aku sadar telah salah memilih jalan. Mengabaikan kebahagiaan keluarga, dan lebih mementingkan kebahagiaanku sendiri. Benar kata Kak Mira, surga tidak ada di telapak kaki pacarku. Surga itu ada di telapak kaki mamakku yang sudah kehilangan banyak tenaga dan waktu untuk membesarkanku.

Sunyi, senyap, dalam gelap di sepertiga malam. Kuletakkan semua beban di atas hamparan sajadah yang sudah lama kusimpan. Jauh dari ingar bingar seni pertunjukan. Pun tertutup dari perdebatan baik buruk para insan. Aku menghadap-Nya dengan membawa segunung dosa. Kuminta satu lagi kesempatan untuk menjemput pintu surga.

Astagfirullah ….

Oleh: Seno Ners.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: