Ilustrasi dari koranradaronline.

My Lucky Charm: Kisahku Mendapatkan Beasiswa

Aku bukanlah orang yang suka belajar, tetapi aku termasuk perempuan yang meyakini bahwa menjadi seorang ibu haruslah pintar dan tangguh. Inilah yang menjadi motivasiku untuk terus belajar. Aku ingin ketika menikah dan memiliki anak nanti, suami dan anak-anakku bangga memiliki ibu yang pintar dan tangguh.

Sekitar empat bulan setelah kelulusanku, aku yang ketika itu mulai jenuh dengan ritme kerja, mulai mencari informasi beasiswa program master. Informasi tentang program beasiswa luar negeri, dalam negeri sampai program teacher training mulai kukumpulkan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk apply beasiswa AUSAID ke Australia. Seiring persiapanku apply beasiswa ini, aku membaca pengumuman beasiswa Kaltim Cemerlang untuk guru-guru sekolah RSBI.

Beberapa teman kantorku mulai membujukku untuk mengikuti program beasiswa ini, termasuk kepala sekolahku.

“Miss Devi gak ada rencana buat ikut beasiswa Kaltim Cemerlang?” tanya kepala sekolahku ketika memanggilku ke ruangannya.

“Sepertinya gak, pak.” Jawabku singkat.

Entah kenapa, hari itu aku dan beberapa teman yang berencana mengikuti program ini dipanggil satu persatu ke ruangan kepala sekolah.

Keluar dari ruangan kepala sekolah, aku mulai mencari info lebih detail tentang program beasiswa ini. Tentang program studi yang ditawarkan, universitasnya, sampai biaya hidup selama mengikuti program ini. Termasuk informasi tentang kebijakan sekolah dan yayasan terhadap program ini.

Ternyata banyak sekali konsekuensi yang harus aku terima jika aku mengambil program ini, terutama yang berkaitan dengan kebijakan yayasan sekolah tempatku mengajar. Banyak sekali tunjangan dan fasilitas yang melekat sebagai karyawan dihilangkan jika aku mengambil program ini. Semua tunjangan seperti uang cuti, gaji ke-13, review gaji setiap tahun, insentif, sampai fasilitas kesehatan semuanya ditarik.

Kemungkinan besar aku hanyalah mendapatkan gaji pokok saja, itupun karena statusku tugas belajar. Sedangkan fasilitas yang seharusnya kudapat dengan status tugas belajarku seperti bantuan penelitian, bantuan pembelian buku, dll, malah tidak kudapatkan. Padahal, setelah menyelesaikan masa studyku, aku harus mengabdi di sekolah ini selama lima tahun. Aku mulai gamang dengan keinginanku ini.

“Mah, ada beasiswa master buat guru-guru. Aku pengen ikut, tapi banyak konsekuensinya mah. Piye enak e mah?” tanyaku saat menelpon mama.

“Bismillah dek. Dicoba aja.”

Setelah menutup telepon, aku semakin gamang. Sepertinya kedua orang tuaku sangat mendukung keputusanku ikut program beasiswa ini. Tetapi kalau ikut, apakah aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku selama kuliah. Masih bisakah aku memberikan uang bulanan untuk kedua orang tuaku? Bisakah aku menabung dan menyisihkan uang untuk simpanan tak terduga? Malam itu, aku ambil wudhu untuk shalat istikharah. Kuadukan segala ganjalan di hati sambil memohon petunjuk untuk pilihan terbaik.

Keesokan harinya, aku berdiskusi dengan dua orang teman sekantor yang juga berencana mendaftar program ini. Kebetulan keduanya adalah kepala keluarga yang para istrinya tidak bekerja.

“Kalau aku jadi kamu sist, aku pasti lanjut. Masih single, apa yang kamu beratin Dev?” Pak Akur berusaha menyemangatiku.

“Iya Dev, apa sih yang bikin kamu berat banget? Kalau aku kan kepala keluarga, istriku gak kerja. Kalau aku mau ngotot, anak istriku tak kasih makan apa?” tambah Pak Amul.

“Apa yang aku terima, rasanya gak sebanding sama ikatan dinas yang sebegitu lamanya pak.” Jawabku singkat.

“Lima tahun sebentar sist, kamu masih muda. Setelah ikatan dinas selesai dan kamu bebas ngapain aja. Yang jelas, setelah lima tahun itu kamu punya modal yang cukup baik untuk mengejar semua impianmu.”

Ah, sepertinya apa yang mereka katakan benar. Mengapa aku berat sekali melangkah? Bukankah rejeki sudah ada yang mengatur? Gusti Allah pasti tidak akan membiarkanku mati hanya karena kekurangan uang selama menjalani program beasiswa ini. Berbekal “Bismillah” aku mulai mempersiapkan segala administrasi pendaftarannya. Kumulai dengan menghadap kepala sekolah untuk meminta surat rekomendasi. Lalu satu persatu kukumpulkan berbagai macam kertas sebagai lampiran dari formulir pendaftarannya.

Sejak Bismillah itu terucap, beberapa kali aku dan beberapa teman yang berencana apply beasiswa ini dipanggil ketua dan pengurus yayasan tempatku mengajar. Ternyata ini adalah pertama kalinya terjadi di tempat kami mengajar. Pertama kalinya para guru mengikuti program master dengan meninggalkan lokasi bekerja selama 2 tahun lamanya. Hal ini yang menyebabkan kami melakukan beberapa bargaining dengan pihak pengurus yayasan tentang fasilitas dan tunjangan karyawan selama kami meninggalkan lokasi kerja dan menyelesaikan program beasiswa kami.

Bismillah itu diikuti dengan doa-doa lain untuk kelancaran dan kelolosan usahaku mendaftar. Aku berhasil mengirimkan berkas pendaftaran di detik-detik terakhir. Tak lama kemudian, ada panggilan tes untuk program ini. Ada 10 orang guru dari sekolah yayasan yang menaungi kami ikut terpanggil. Sayangnya, Satu persatu dari kami mundur teratur karena kebijakan yayasan. Di hari tes diselenggarakan, hanya tiga dari kami yang akhirnya bisa bertahan untuk mengikuti tes tersebut.

Tes diselenggarakan di Samarinda, kami harus menempuh kurang lebih lima jam perjalanan dari tempat kami. Meskipun kami berhasil menyelesaikan tes tersebut dengan baik, kami tidak dengan mudah dapat kembali ke pulang. Di tengah perjalanan, mobil sewaan kami mengalami kerusakan dan kami harus menunggu mobil pengganti hingga hampir larut malam. Kebetulan mobil ini mengalami kerusakan di sekitar hutan. Suasana mencekam karena sepi dan gelap harus kami lalui. Segala macam doa dan wirid terucap sambil menunggu mobil pengganti datang.

Alhamdulillah, segala kesulitan yang kulalui membuahkan hasil yang manis. Doa-doaku dan doa mama terkabul. Doa yang dipanjatkan mama ketika pertama kali aku bercerita tentang beasiswa ini sampai ketika aku akan mengerjakan tes seleksi. Doa yang kupanjatkan ketika aku gamang, ketika aku harus berhadapan dengan pihak yayasan untuk bargaining fasilitas dan tunjangan yang melekat padaku saat melaksanakan tugas belajar.

Doa yang kupanjatkan saat aku bersimpuh dalam istikharahku. Doa yang tersirat ketika aku mengirimkan berkas pendaftaranku. Doa yang terucap sesaat sebelum aku mengerjakan tes seleksi beasiswa. Dan doa ketika kami terjebak situasi mencekam di tengah hutan yang sepi dan gelap. Doa-doa itu seperti lucky charm untukku.

Beberapa minggu setelah tes diselenggarakan, kami mendapati nama kami bertiga ada di daftar nama penerima beasiswa. Air mata haru jelas mengalir deras di pipi kami bertiga. Betapa tidak, potongan-potongan kejadian selama kami berjuang seketika muncul tak terbendung bak adegan drama dalam sinetron televisi. Kami bertiga saling berpelukan. Pelukan bahagia, karena akhirnya kami mampu melewati semuanya.

Ini bukan akhir perjuangan kami, bahkan mungkin ini adalah awal perjuangan kami meraih mimpi. Kalimat “Bismillah” kembali terucap dari bibirku. Berharap doa-doaku nanti ketika melalui masa tugas belajar dapat terkabul dan dua tahun itu berakhir dengan manis. Karena doa-doa yang terpanjatkan untukku selama aku masih diberi kesempatan hidup adalah my lucky charm.

Oleh: Devi Ary Bayuning Ratri.

Tinggalkan Balasan