Tahun 2009.

Subuh yang menggigil mengejutkanku, ditambah lagi sikap Ibu yang mendadak berubah. Keputusan berangkat ke pesantren dimajukan dari rencana sebelumnya.

“Nak, bangun yuk. Berangkat ke pesantren hari ini saja, yaaa. Supaya ada jeda untuk persiapan masuk sekolah,” kata Ibu, sambil membangunkanku.

Aku tergeragap, setengah sadar dan tidak. Antara perasaan bahagia dan sedih yang datang secara bersamaan. Bagaimana tidak, aku akan dikirim ke sebuah tempat asing yang tidak aku kenal. Sebuah tempat untuk mewujudkan mimpi Ibu. Akan tetapi, tetap saja aku masih menjadi gadis kecil yang merasa berat untuk pisah dengan orangtua.

Aku melirik tas yang telah berjejer rapi, sepasang baju muslimah terlipat di samping tas tersebut. Tentu, semua itulah perlengkapan yang akan aku bawa ke pesantren. Tidak heran, jika Ibu sudah menyiapkan semuanya pagi buta. Setiap pukul dua pagi, Ibuku sudah bangun, mulai masak setelah usai melaksanakan salat malam.

“Jadi berangkat ke pesantren hari ini, Bu?  Nggak jadi hari Rabu?” tanyaku dengan nada melemah.

“Iya, sekarang saja. Lebih cepat lebih baik. Hari Rabu masih empat hari lagi.”

“Baiklah.” Aku bangkit, membersihkan diri, merapikan semuanya dan siap-siap berangkat ke pesantren meski dengan setengah hati.

***

Tahun 2007.

“Ayo, murojaah juz dua puluh tujuh!”

“Yeey.”

Aku paling suka jika disuruh murojaah juz dua puluh tujuh. Bagiku ayat-ayatnya asyik. Aku baca saja dengan enjoy seolah tanpa mikir, nada tartil tidak terbiasa masa itu. Yang penting cepat, dan segera selesai. Lalu bisa nonton TV setelahnya.

Awalnya biasa saja, aku membunyikan hafalan sambil bermain alat tulis. Ibu masih terlihat tenang mendengarkan. Meski sesekali menyuruhku lebih tartil dan lebih menjelaskan makhorijul huruf. Tiba-tiba, mushaf dalam genggamanku direbutnya.

“Kalau lupa ya jangan buka mushafnya. Ayo ulangi dari awal!” nadanya cukup meninggi. Bibirku mulai kelu, gerogi sekaligus ketakutan menyelimuti.

“Hah, diulang dari awal? Sudah dapat setengah juz loh, Bu.”

“Tapi Ibu gak tahu di mana letak hafalan yang lupa atau belum lancar. Bisa jadi tadi melirik mushaf terus!”

Aku menelan ludah, ya Allah, bantu hamba-Mu ini. Aku takut dicubit Ibu kalau hafalannya tidak lancar. Aku menunduk lebih dalam.

“Suaranya harus lantang! Jangan malah perlahan!”

Mulai pembacaan surat Ar-Rohman, di sini yang aku khawatirkan ialah terbolak-balik urutannya. Sedari tadi aku belum melirik urutan surat Ar-Rohman. Aku takut ya Allah.

“Nah, kan. Surat Ar-Rohman saja kok urutannya sering lupa! Ini akibatnya kalau pulang sekolah siang gak mau tidur, mainan terus. Malam ngantuk kalau disuruh murojaah. Pagi jatahnya nambah hafalan. Terus kapan ngelancarinnya? Harusnya sebelum disimak Ibu ya harus dilancarkan dulu!” satu cubitan melayang ke lenganku, aku menangis tersedu-sedu.

“Ayo lanjutkan bacaannya. Jangan malah nangis!” bentak Ibu.

Aku menarik napas, berusaha tidak nangis lagi. Ya, aku memang cengeng sejak kecil. Adikku selalu mendekat dan menenangkanku setiap mendapati aku menangis gara-gara dimarahi atau dicubit Ibu.

“Sabar ya, Neng. Sabar. Pasti bisa lancar kok hafalannya.” Adik selalu mengatakan seperti itu. Dia belum pernah merasakan sebagai anak pertama yang dididik keras. Aku merasa berbeda. Adikku tak pernah dipaksa untuk menghafal Qur’an.

Aku hanya mendengus sebal. Melirik adikku yang ikut ketakutan.

***

Tahun 2009.

Masih teringat permintaan Ibu empat tahun yang lalu.

“Setelah wisuda khotmil Qur’an, besok mulai menghafal juz dua puluh sembilan, yaa,” rayu Ibu.

“Hafalannya dituntun loh ya, seperti biasanya.”

“Iya, iya nanti Ibu tuntun.”

Sejak wisuda TPQ, aku mulai manja kalau disuruh menghafal Qur’an. Aku jarang-jarang mau mengambil mushaf. Aku selalu meminta Ibu membacakan ayatnya, lalu perlahan aku tirukan sampai hafal. Sedikit demi sedikit Ibu telaten membimbingku untuk menghafal. Bahkan jika menambah hafalannya sebelum tidur malam, sering kali aku pura-pura ketiduran lebih awal, he-he ….

Bedanya, aku tak lagi bisa mengaji sambil ayunan. Tahun 2003, saat aku masih duduk di TK, Ibuku selalu memanggilku ketika waktu istirahat. Ibu mengajakku duduk di ayunan dan mengajari baca Qur’an. Aku tak punya banyak teman, aku sangat pendiam dan takut dengan orang-orang baru. Maka, dengan adanya Ibu di waktu istirahat adalah waktu yang paling aku nantikan.

Ibu tak pernah menjanjikan apapun untukku. Bahkan Ibu tak memberi tahu mengapa anaknya harus menghafal Qur’an. Yang aku kira, setiap manusia pasti belajar Qur’an dan sedikit banyak pasti menghafalnya. Pun dengan bayangan pergi ke pondok pesantren, sudah tergambarkan di anganku. Kurasa, setiap manusia pasti akan mengalaminya. Sayang, nyatanya tidak. Teman-temanku tidak semua melanjutkan belajar di pesantren.

Kadang aku ingin seperti teman-temanku. Bebas bermain kemana pun. Bebas memilih sekolah mana pun, dan bebas melakukan apa pun setiap harinya. Seolah tiada peraturan, tiada ikatan, dan tiada paksaan dalam menjalani kehidupan.

Bukan, bukan berarti aku tidak terima dengan jalan takdir yang telah digariskan-Nya. Hanya saja, pemikiran luguku saat masih kecil terlalu sepele jika dipermasalahkan sekarang.

Di balik itu semua adalah dengan adanya peran Ibu. Malaikat yang terkadang aku kenal jahat, tapi kadang juga penuh dengan kasih sayang. Aku terlalu takut menolak permintaannya, apalagi membantah. Meski awalnya aku harus melakukan perintah Ibu dengan setengah hati.

Seperti hari ini, hari paling bersejarah dalam hidupku. Aku dikirim ke pesantren, tentu aku akan jauh dengan Ayah dan Ibu. Ayahku pendiam, dan tak pernah melarang anaknya untuk belajar agama, meski sebenarnya Ayah berlatar pendidikan umum. Termasuk saat anaknya akan dikirim ke pesantren ini, Ayah sama sekali tak melarang Ibu.

Satu tahun belakangan ini, Ibu menyuruhku istirahat dari menambah hafalan. Ibu memintaku untuk fokus mempersiapkan ujian sekolah Madrasah Ibtidaiyah. Maka, hari-hariku belajar lebih banyak bersama Ayah. Pelajaran umum sekolah Ayah lah andalannya, sedangkan pelajaran Agama, ada Ibu yang aku andalkan.

Meski begitu, setiap Ibu yang mengantarku sekolah, ia tak pernah membuatku diam. Jarak sekolah dan rumahku cukup jauh. Terlebih, dulu masih dijangkau dengan sepeda ontel. Di sepajang jalan, Ibu selalu menyuruhku murojaah. Dan posisi seperti ini yang paling aku suka, sebab tak ada lagi cubitan dan tak ada lagi marahan. Tidak mungkin kan di tengah jalan aku di marahi atau dicubit Ibu, he-he.

Satu tahun sebelum berangkat ke pesantren terasa begitu damai, Ibu benar-benar memberiku leluasa untuk belajar pelajaran sekolah. Aku tak dituntut yang aneh-aneh untuk menghafal sekian juz sebelum lulus, kecuali perbanyak murojaah saja. Masa-masa itu, aku benar-benar jauh dari cubitan dan marahan Ibu.

Suatu ketika, usai kelulusan, Ibu menyuruhku membaca semua yang aku hafal. Aku mulai dilanda rasa gelisah. Meski tidak begitu takut dicubit lagi, bagiku sudah sangat biasa, dan anggap saja sudah kebal.

“Harus lancar, gak boleh ada yang lupa. Awas, loh!” lirikan tajamnya mulai menatapku.

Perlahan satu juz demi juz lainnya aku selesaikan. Masih dengan nada cepat. Belum terbiasa tartil. Di tengah-tengah itu, aku menemukan ayat-ayat yang sama, terbalik, dan bahkan lupa urutannya.

“Nah, kaan. Kangen sama cubitan Ibu?” goda Ibu mengangkat tangannya sambil melirikku, tanpa senyum.

Aku menggeleng cepat, “Gak ah, gak ada cubitan lagi. Aku sudah besar. Sebentar lagi mau mondok, yee.”

Ibu hanya tertawa, lalu membetulkan hafalanku.

Mengingat semua itu, aku mendadak rindu. Padahal aku belum berpisah dengan Ibu. Mulai esok dan seterusnya aku akan ngaji dengan guru baruku. Bukan dengan Ibu lagi, aku gak akan bisa nego hafalan, gak akan bisa menunda nanti dan nanti. Apa aku mampu menghafal di pesantren tanpa Ibu? Padahal jelas aku tidak akan pernah dicubit atau dimarahi lagi sama Ibu kalau tidak lancar hafalannya. Harusnya ya senang.

“Sudah siap, kan? Ayo berangkat! Ayah sudah menunggu di depan.”

Kuucapkan selamat tinggal sementara untuk rumahku, rumah yang penuh dengan kenangan. Canda, tawa, tangis dan segala rasa yang ada di dalamnya. Suatu saat aku akan merindukannya. Merindu penghuni rumah ini juga, yang tak lain ialah Ayah, Ibu, dan satu adikku.

Ibu tak lagi membersamaiku untuk menghafal Qur’an. Aku dititipkan ke sebuah pesantren. Tentu, prosesnya akan jauh berbeda. Pasti akan banyak aturan di pesantren nanti. Pun dengan model hafalan yang berbeda dengan di rumah bersama Ibu.

Kini aku sadar mengapa Ibu begitu semangat membimbingku untuk menghafal Qur’an, terlebih dimulai dari juz belakang. Semua itu karena Ibu ingin meringankan bebanku di kemudian hari. Pengalaman Ibu dulu ketika menghafal Qur’an, Ibu merasa sulit saat hampir selesai. Kata Ibu, juz belakang itu termasuk sulit jika dibandingkan juz awal, maka yang sulit itulah harus didahulukan. Supaya tidak terlalu berat nantinya.

Terimakasih, Ibu, atas semua perjuangan Ibu untuk membimbingku menghafal Qur’an. Mohon doa semoga kelak aku bisa menjaga amanah besar ini, semoga Allah selalu memberi jalan kemudahan selama aku berproses menghafal. Berjuta maaf dariku, sebab selama aku menghafal bersama Ibu, aku sering berkata bahwa Ibu jahat. Maaf, Bu, sebenarnya akulah yang jahat jika tidak menuruti perintah Ibu.

***

Tahun 2017.

Semakin bertambah umur, aku semakin jauh merantau. Pun semakin jarang bisa pulang dan bertemu Ibu. Selama perantauanku yang kedua, Ibu belum pernah mendatangiku. Sekarang, hari ini, Ibu rela datang dari Jawa Timur seorang diri menjengukku. Ibu ingin tahu aku berada di lingkungan seperti apa. Ibu ingin tahu seperti apa kampus tempat belajarku.

“Bu, kebetulan esok hari Ahad pahing, jatahnya khotmil Qur’an. Baca bilghoib—tanpa melihat Qur’an, juz belakang. Ibu bantu, yaa. Yang baca soalnya hanya dua orang, yang nyimak banyak.”

“Ya, kamu bantu baca toh.”

“Tadi Ustazah juga bilang gitu, tapi aku gak berani. Kan yang mahasiswa nyimak, yang baca para Ustazah.”

“Gak papa, nanti Ibu temenin. Juz belakang kan?”

“Iya, Bu.”

“Halah, kalau juz belakang mah aku kalah sama anakku sendiri lancarnya. Kan dulu hasil cubitan Ibu tuh yang buat hafalannya awet,” Ibu mulai meledek, aku hanya meliriknya sewot.

Bu, kini aku tahu. Mengapa engkau dulu sering marah kalau aku tidak lancar hafalannya, atau bahkan Ibu sering mencubit juga. Itu semua demi kebaikan akhirat bukan, Bu? Maafkan aku ya, Bu. Aku sering mengatakan bahwa Ibu jahat. Maaf juga kalau aku pernah tidak yakin bahwa aku ini adalah anak kandung Ibu. Ya, semua itu hanyalah perasaan, karena adanya perasaan khawatir dan takut sebab sikap Ibu kala itu.

Terimakasih atas bimbingan Ibu. Semoga kelak kita semua termasuk yang membaca tulisan ini, akan dibimbing oleh Allah menuju jannah-Nya.

***

Oleh: Hamba Allah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: