Memang perkara jodoh tuh rada sensitif. Apalagi kalau orangtua kita sering ngasih kode perihal kriteria, atau malah terang-terangan menyampaikan kandidat jodoh pilihannya. Mau nolak enggak enak, mau nerima nyatanya memang enggak cinta. Duh, pusing jadinya.

Kalau Bapak sih nyantai banget orangnya. Bahkan, beliau malah ngasih saran kalau cari jodoh jangan yang cantik. Jelek wajahnya enggak masalah, asal masih ada napas.

“Delok’en emakmu kui, Le. Bapak biyen ra golek ayune, tapi atine,” (lihatlah Ibumu itu, Nak. Bapak dulu enggak nyari cantiknya, tapi hatinya) nasihat Bapak pada saat itu.

Enggak cantik dari mana? Justru Ibu tuh di mataku sosok perempuan komplit. Cantik wajah dan hatinya, pintar mengaji, lugu, juga dari keluarga baik-baik. Mungkin memang waktu itu Bapak enggak memandang fisik, tapi kan aku hidup di zaman yang beda dengan Bapak.

Mungkin di zaman Bapak belum ada tuh yang mikirin pendamping wisuda, atau si doi yang enak dipandang ketika diajak kondangan. Butuhnya nikah, punya anak, sudah. Yang penting bisa nerusin keturunan. Lah, zaman sekarang kan eranya bullying. Sekali kelihatan janggal, kelar hidup kita jadi bahan gunjingan.

Karena Bapak adalah idolaku, maka nasihatnya pun kupakai. Berangkatlah aku pedekate sama cewek. Tanpa memandang rupa, harta, apalagi kedudukan sosialnya. Asal ada napasnya, bungkus! Perkara bullying, bodoh amat.

Aku beneran buta soal dia. Wong nyatanya aku nembak dia cuma lewat hape doang. Bahkan belum pernah ketemuan atau pun lihat fotonya. Jangan tanya soal cinta, ya?

Sampai beberapa lama setelah jadian, aman. Soalnya aku enggak blak-blakan kalau sudah punya pacar. Rasanya lucu aja kalau tiba-tiba ortu (orangtua) minta dikenalkan sama si doi, padahal selama pacaran cuma LDR-an. Aku di Jogja, doi di Bandung.

Kan repot kalau mau mempertemukan ortu yang di Banyuwangi dengan doi yang ada di Bandung. Sedangkan aku sendiri belum tahu bakal jodoh beneran atau enggak.

Begitu sudah mantab dengan doi (sebenarnya karena sudah males cari jodoh lain, sih), langsung atur jadwal temu keluarga. Biar lebih serius aja. Belum lamaran sih, baru tahap penjajakan. Bapak dan Ibuku main ke rumah si Doi di Gunungkidul. Ya, semacam silaturahim gitu.

Maka berangkatlah aku bersama keluarga ke Gunungkidul. Waktu itu ortu ke Jogja karena acara wisuda sarjanaku. Sekalian aja, sehari setelah acara wisuda, kuajak ortu silaturahim ke rumah si Doi.

Baru sampai di jalan masuk ke dusun tempat tinggal si Doi, ibu nanya, “Iki kok iso kenal cewek sing omahe nggunung koyo ngene seko ngendi, Le?” (Ini kok bisa kenal cewek yang rumahnya di gunung kayak gini kenal dari mana, Nak?).

Ya, aku cengar-cengir aja. Enggak mungkin kan, kalau aku terus terang cerita sama Ibu. Bukannya enggak mau terus terang, cuma aku pikir waktunya aja belum pas.

Ibu bertanya soal itu karena memang lokasi rumah si Doi rada off road gitu jalurnya. Jalan cor-coran, samping kanan-kiri jurang, beberapa meternya berjajaran gunung batu kapur. Kalau pas tandus, gunung-gunung batu kapur itu kelihatan mirip dunia bawah laut. Kayak tumpukan terumbu karang kering yang ditinggal biota laut.

Entah apa yang ada di pikiran Ibu saat itu, rasanya kayak meragukan cewek pilihanku gitu. Ya, aku sih bisa memaklumi. Karena itu aku cengar-cengir aja.

Sempat merasa ragu mengenai pilihanku, setelah Ibu beberapa kali menanyakan kemantapan hatiku. “Wis yakin arep rabi karo cah gunung?” (Sudah yakin akan menikah dengan anak gunung?).

“Insyaallah sampun, Ibu.” (Insyaallah sudah, Ibu).

Aku enggak mau menunjukkan keraguan itu sedikit pun di depan Ibu. Meskipun aku sedikit melihat raut kekecewaan di wajah Ibu. Saat itu kupikir hanya karena akses rumah si Doi yang menjadikan Ibu kecewa, tapi ternyata bukan. Ibu diam-diam sedang mencarikanku calon.

Memang Ibu tidak pernah cerita soal itu, tapi aku tahu dari Bapak. Beliau pernah cerita bahwa ada temannya yang datang ke rumah. Niatnya ingin besanan. Mencoba menjodohkan anaknya dengan aku.

Bapak bilang, temannya ini punya pondok pesantren, tapi Bapak belum mantap dengan perjodohan itu. Maka Bapak belum mengiyakan permintaan temannya.

Kalau melihat fisik, kayaknya si cewek ini sosok jodoh yang ideal. Insyaallah salihah, karena anak seorang kyai. Misalnya aku nikah sama dia, jelas enggak perlu mikir kerjaan. Bisa-bisa bakal jadi pengelola pesantren. Ini impian Ibu banget. Punya menantu salihah, dan dari keluarga terpandang.

Namanya jodoh, kan Allah yang kuasa mengatur. Bukan anak kyai yang dihadirkan dalam hidupku, melainkan anak seniman. Ya, sebenarnya masalah pilihan sih. Tinggal bagaimana nanti menjalaninya.

Ternyata enggak sesederhana yang aku pikir. Bagaimana pun juga aku harus bisa mengobati kekecewaan Ibu. Tapi bagaimana caranya?

Maafkan aku yang belum bisa memenuhi harapanmu, Ibu.

Untungnya aku enggak tinggal serumah dengan Ibu. Jadi, rada aman. Aku di Jogja, sedangkan Ibu di Banyuwangi. Eh, jauh dari Ibu tuh untung apa rugi, sih? Ada ruginya kali, ding.

Namun, tetap aja perasaan enggak enak itu ada. Siapa sih yang bisa tenang membiarkan ibunya dirundung kecewa? Bahkan kadang aku merasa bersalah.

Yang bisa kulakukan adalah selalu berdoa. Memohon kepada yang maha membolak-balikkan hati untuk memberi yang terbaik buat Ibu, juga buatku. Aku meminta agar Allah menghapus kekecewaan di hati Ibu. Menggantinya dengan restu dan kebahagiaan atas apa yang jadi pilihanku.

***

“Sampean wis manteb tenan arep rabi karo Dian?” (Kamu sudah yakin mau nikah sama Dian?) tanya Bapak waktu itu.

Ada Ibu juga, kami sedang ngobrol di ruang tamu. Ini terakhir kalinya Bapak bertanya tentang itu. Rasanya rada deg-degan, tapi ya kudu dijawab. Pikiranku sudah mengarah macam-macam. Jangan-jangan Bapak dan Ibu enggak sreg dengan Dian. Jangan-jangan sudah ada calon lain yang dijodohkan. Jangan-jangan ….

Ah, aku masih takut jika jawabanku kali ini semakin menambah kecewa hati Ibu. Aku khawatir jika nanti akan menjauhkan hubunganku dengan Ibu. Ya, Rabb ….

Bismillah, “Insyaallah sampun manteb, Pak.” (Insyaallah sudah yakin, Pak).

“Yen sampean wis manteb, tak golekne dino go ijab.” (Kalau kamu sudah yakin, kucarikan hari untuk acara ijab qabul).

“Opo sampean ra pengin golek bojo pegawai toh, Le? Kan nek podo-podo pegawai koyo sampean iso eyeng-eyengan.” (Apa kamu enggak ingin cari istri pegawai, Nak? Kan kalau sama-sama pegawai seperti kamu bisa saling mencukupi).Tiba-tiba saja Ibu melontarkan pertanyaan itu.

“Mangke yen sami-sami pegawai ndak jarang ketemu ten griya, Mak,” (Nanti kalau sama-sama pegawai malah jarang bertemu di rumah, Bu) jawabku sambil bercanda.

“Weh, yo ora toh!” (Weh, ya enggak lah!)

Aku sedikit tertawa. Sekadar mencairkan suasana, berharap Ibu baik-baik aja. “Mboten kok, Mak. Kulo namung pengin benjang yen gadah anak kersanane mboten kapiran. Kersane saget dirawat piyambak kaliyan bojo kulo.” (Enggak kok, Bu. Aku cuma ingin besok kalau punya anak biar enggak terlantar. Biar bisa dirawat sendiri sama istriku).

“Iyo, Le. Bab bondo donya iso digoleki bareng-bareng. Bapak karo emakmu biyen yo wong ra nduwe. Ojo kuwatir, rezeki wis ono sing ngatur.” (Iya, Nak. Terkait harta benda bisa dicari sama-sama. Bapak sama ibumu dulu juga orang enggak punya. Jangan khawatir, rezeki sudah ada yang mengatur). Untunglah Bapak membelaku. Jadi tidak perlu berdebat panjang dengan Ibu.

Ternyata enggak mudah meyakinkan hati Ibu. Entah karena rasa kecewa itu masih ada, atau sebab lainnya. Atau jangan-jangan masih ada rasa cemburu di hati Ibu karena setelah menikah, aku tidak tinggal serumah dengan Ibu?

Aku coba melihat kehidupan rumah tangga orang lain. Mengamati bagaimana hubungan antara para ibu dengan menantu. Ternyata memang sebagian besar pernah bermasalah di antara mereka. Enggak ada yang benar-benar bisa dijalani tanpa masalah.

Nah, karena keduanya (Ibu dan Istri) adalah wanita yang paling kucintai, maka aku ingin berikan yang terbaik buat mereka. Karena di telapak kaki mereka ada surga. Di kaki Ibu ada surga buatku, di kaki istriku ada surga buat anak-anakku kelak.

Apa kekecewaan di hati Ibu kelak akan hilang? Aku selalu yakin Allah akan mengabulkan doa-doaku. Oleh karena itu aku akan terus berdoa, dan memberikan yang terbaik buat Ibu, pun buat istriku.

Alhamdulillah, Allah menunjukkan jawaban atas doa-doaku. Aku melihat kedua wanita yang kucintai itu saling menguatkan ketika Bapak pulang ke pangkuan Ilahi mendahului Ibu. []

Ditulis Oleh: Seno Ners.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: