“Nak Lasmi, ini loh ada tamu dari jauh, katanya dari Jakarta, mau ketemu Nak Lasmi,” suara ibu kos membangunkan istirahatku sore itu. Tamu dari Jakarta? Siapa, ya, tanyaku. Dengan sangat malas kubuka pintu kamar, kulihat ibu kos sudah berdiri di sana.

“Itu, katanya teman lama Nak Lasmi.”

“Siapa ya, Bu?” ujarku.

“Kalau enggak salah namanya Nak Agus apa ya, tadi.”

Deg. Jantungku sekejap berhenti berdetak, pun aliran darahku seperti berhenti mengaliri pembuluh-pembuluhnya. Rasa kaget dan gugup beradu dan kini kurasakan detak yang lebih kencang bergemuruh tak karuan. Nama itu sudah lama kuhapus dalam memoriku. Hampir dua tahun aku berjibaku untuk tak lagi mengingat namanya. Dia sudah membuatku terpuruk sekian lama. Segala harap yang kugantung padanya, juga telah pupus bersama waktu.

Tak kunyana, laki-laki bertubuh tegap yang dulu pernah menghiasi hari-hariku, sekarang tiba-tiba datang. Dari mana dia tahu alamat kosku? Bukankah dia sudah tak lagi menginginkanku ada dalam hidupnya. Beribu pertanyaan menyapa bergiliran di otakku. Aku berdiri mematung di depan kaca almari tua yang bayangannya mulai memudar. Aku masih menimbang-nimbang apa aku sanggup menemuinya, ketika ibu kos kembali memanggilku.

“Nak Lasmi…”

Injih, Bu, sekedap (sebentar),” jawabku sambil bergegas mematut diri dan akhirnya memutuskan keluar untuk menemui tamu tak diundang itu. Aku tak mau nantinya harus menjawab banyak pertanyaan dari ibu kosku tentangnya. Jantungku berdegup dua kali lebih kencang daripada tadi. Sesampai di ruang tamu, kulihat seorang laki-laki berpenampilan rapi sedang duduk terpaku menghadap meja ruang tamu. Perlahan aku melangkah mendekatinya.

“Dek Lasmi,” sapanya menyambut kehadiranku. Dia ulurkan tangannya sembari tersenyum. Senyuman yang masih sama seperti dulu, ketika terakhir kali dia berpamitan padaku untuk mengejar cita-citanya di ibu kota. Aku kikuk menyalaminya dan mempersilakannya kembali duduk.

“Dek, maafkan aku ya, selama ini enggak pernah berkirim kabar padamu. Aku terlalu sibuk mengejar karierku dan itu semua kupersiapkan untuk masa depan kita, Dek.”

Hah, dengan sangat entengnya laki-laki itu mengatakan maaf padaku. Padahal masih jelas dalam ingatanku kata-katanya dalam surat ketika itu, saat aku mempertanyakan tentang keseriusan hubungan kami.

Dek, tolong jangan ganggu aku, ya. Aku mau mengejar karierku dulu sampai aku berhasil, jadi kalau Dek Lasmi memang sudah ada calon, ya silakan menikah saja dulu, aku enggak akan menghalangi.

Penggalan kalimat dalam surat itu yang kuingat sampai kapan pun. Bisa-bisanya dia menulis kalimat itu, bukankah itu berarti dia memang tidak mengharapkan aku dalam hidupnya lagi. Lantas dia anggap apa aku. Apa dia pikir aku ini hanya mengemis cintanya. Tak sudi rasanya untuk bertemu, jika kuingat lagi kenangan buruk tentangnya. Sekarang, dengan begitu percaya diri, dia datang dan meminta maaf. Sungguh manusia tak punya hati.

“Dek, kenapa diam saja?”

Laki-laki itu kini menggeser duduknya agar lebih dekat denganku. Tangannya ingin menyentuh tanganku. Aku bergeming tak membiarkannya melayangkan jurus untuk menaklukkanku.

“Tidak apa-apa, Mas. Eh, iya, itu silakan diminum dulu tehnya!” ujarku menutupi rasa marah yang berkecamuk dalam dada sambil menunjuk secangkir teh hangat yang tadi telah disajikan oleh Mbak Marni, pembantu di rumah kosku.

“Dek, ini ada sedikit oleh-oleh, tolong diterima, ya, sebagai tanda permintaan maafku, dan aku harap kita masih bisa bersama lagi seperti dulu.”

Dia menyodorkan dua kotak kado berwarna merah jambu, yang satu berukuran besar dan yang lainnya berukuran kecil, entah apa isinya, aku tak mau tahu. Tapi aku tetap menerimanya hanya sekadar untuk menghargai pemberiannya.

“Terima kasih, Mas, sudah repot-repot segala,” ucapku basa-basi.

“Tidak apa, Dek, yang penting aku bisa ketemu lagi dengan kamu.”

Aku tak banyak mengajaknya bicara sore itu, bahkan aku lebih senang kalau laki-laki itu cepat beranjak pergi. Dia yang lebih banyak bercerita tentang karir dan jabatannya yang sekarang sudah mapan, tentang bisnisnya yang sudah makin maju dan lain sebagainya. Mungkin dia pikir dengan menceritakan semua kemapanannya tersebut akan membuatku terkesan. Ah, picik sekali dia, gumamku dalam hati.

Mas Agus, dia memang lelaki pertama yang sukses membuatku jatuh cinta. Dia kakak tingkatku di kampus. Kepopulerannya di organisasi kemahasiswaan membuatnya dikagumi banyak gadis, termasuk aku. Dan aku merasa sangat beruntung menjadi gadis pilihannya kala itu. Tapi semua berubah ketika dia lulus.  Ambisinya yang besar untuk menjadi seorang pengusaha, menuntunnya untuk hijrah ke Jakarta dan meninggalkanku begitu saja. Aku terombang-ambing dalam penantian tak berujung. Dan kini ketika semuanya telah hancur tak bersisa, dia kembali datang menawarkan cinta yang dia bungkus dengan limpahan materi.

***

Sabtu sore, seperti biasa, aku selalu kangen rumah. Kangen dengan suasananya yang hangat, jauh dari hiruk pikuk kota. Jarak yang tak terlampau jauh, memudahkankanku untuk pulang. Bertemu bapak dan ibu, sebagai wujud baktiku pada mereka. Itu adalah rutinitas akhir minggu yang tak mau kulewatkan, setelah lima hari di perantauan, mengabdikan ilmuku sebagai seorang guru di sekolah dasar swasta.

Wuk, ke sini sebentar, Bapak ingin bicara.”

Injih, Pak, ada apa?” sahutku dari arah ruang keluarga, lalu bergegas menghampiri bapak di ruang tamu. Bapak memang sering mengajakku ngobrol ringan sembari menasihatiku atau sekadar berbicara dari hati ke hati tentang apa saja.  Tapi sore itu tak seperti biasanya, raut muka bapak tampak sedikit tegang. Aku duduk di hadapan bapak sambil menerka tak pasti.

 “Wuk, kamu itu anak wedok (perempuan) ragil (bungsu) kesayangan Bapak. Sebenarnya siapa to yang kamu pilih untuk jadi bojomu (suamimu)? Bapak dengar yang suka sama kamu itu kan banyak, lha mbok sudah tinggal pilih saja mana yang sreg di hatimu.”

Bapak bertanya dengan serius. Beliau menghela napas panjang, lalu menyeruput kopinya yang tersisa separuh.  Kemudian kembali menatapku yang hanya terdiam. Tatapannya kali ini begitu tajam menyelidik.

Wuk, kalau kamu belum bisa jawab sekarang, terus mau kamu jawab kapan, Bapak dan Ibumu ini sudah tua. Kangmas dan mbakyumu sudah menikah semua, tinggal kamu, tok yang belum. Masalah biaya, kamu jangan khawatir, Bapak sudah siapkan, yang penting kamu segera menentukan pilihanmu.”

Aku tertunduk dan tetap mendengarkan bapak sebagai tanda patuhku. Aku tak ingin mengelak atau membantahnya. Buatku petuah bapak adalah sabda pandita ratu yang harus kutaati. Tak ingin aku mengecewakannya.

Injih, Pak. Saya belum bisa jawab sekarang, nyuwun pangapunten (mohon maaf),” ujarku kemudian.

Dalam hatiku ada rasa sedih karena belum bisa membuat orang tuaku tersenyum bahagia menyaksikan anak bungsunya memasuki gerbang kehidupan baru bersama pria pilihannya. Sedihku, bukan karena tidak ada yang mendekati atau berniat melamar, tapi justru kebalikannya.

Sudah beberapa orang lelaki yang menyatakan perasaannya dan berniat melamarku, tapi tak seorang pun di antara mereka yang sanggup mengobati lukaku sebelumnya. Hatiku tetap sedingin es. Bagiku, mereka itu hanya pandai berjanji dengan kata-kata manis tanpa ada kesungguhan di sana. Buktinya setelah cinta mereka tak kugubris, mereka dengan sangat mudah berpindah hati. Ya, aku memang kadang sengaja menguji keseriusan mereka. Aku ingin melihat sampai seberapa besar pengorbanan mereka mendapatkan cintaku. Aku tak mau lagi dibuang seperti layaknya sampah yang tak berguna, seperti yang Mas Agus lakukan dulu.

***

Sudah tiga hari aku terbaring lemah di rumah sakit. Penyakit lambungku tiba-tiba saja kambuh. Kebiasaan makan yang tidak teratur dan pikiran yang begitu deras sejak kedatangan Mas Agus dalam kehidupanku lagi, menjadikan lambungku memproduksi asam yang lebih banyak dari biasanya. Tak ada keluarga yang tahu, karena aku tak ingin mereka mengkhawatirkanku. Hanya beberapa teman kerja yang datang menjenguk dan Mas Iman yang selalu setia memantau keadaanku melalui pesan whatsapp.

Dek Lasmi, jangan lupa minum susu dan obatnya, ya. Jangan sampai terlambat makan. Maaf, aku tak bisa menemani Dek Lasmi, tapi aku selalu mendoakan supaya Dek Lasmi cepat sembuh dan sehat lagi.

Mas Iman seolah tak bosan mengingatkanku untuk makan, minum obat dan minum susu setiap hari. Laki-laki sederhana itu menunjukkan perhatian yang begitu besar padaku selama aku dirawat. Itu semua membuatku merasa begitu tersanjung.

Sudah enam bulan aku mengenalnya dan tiga bulan yang lalu dia menyatakan rasa cintanya padaku. Namun hatiku masih belum bisa menerima kehadirannya. Aku masih ingin menguji seberapa besar rasa cinta itu ada dalam dirinya. Aku juga masih ingin tahu seberapa besar pengorbanannya untuk mendapatkan cinta itu. Rasa sakit hati pada Mas Agus masih belum serta merta hilang. Ada rasa takut yang berlebihan ketika aku akan melabuhkan harapku pada laki-laki lain, termasuk pada Mas Iman.

Jika dibanding dengan Mas Agus, Mas Iman memang bukan siapa-siapa. Dia masih belum lulus sarjana dan sekarang terancam dropout. Skripsinya belum selesai, karena kendala biaya. Orang tuanya tak mampu membiayai kuliahnya lagi. Dia harus kerja serabutan hanya untuk sekadar menyambung hidup. Tapi dia adalah seorang lulusan santri pondok yang sangat memegang teguh agama. Selama ini yang kutahu, dia selalu berusaha menjaga kehormatanku sebagai wanita.

Pernah sekali Mas Iman sengaja mampir ke rumah, bertemu dengan bapak dan ibuku. Orang tuaku begitu terkesan padanya, terutama bapak. Beliau begitu terkesan akan sikap Mas Iman yang tawadu dan sopan, tidak seperti Mas Agus yang terlihat seperti orang sok di mata bapak.

Dan kini Mas Iman mulai merebut hatiku. Aku mulai merasakan hangat cintanya menyelimutiku. Rasa takut itu terkikis perlahan oleh ketulusannya. Tapi aku masih perlu waktu untuk meyakinkan diriku. Aku tak mau gegabah memilih pasangan hidup. Bagiku hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui. Kulantunkan segala keluhku dalam munajat untuk memohon petunjuk-Nya.

***

Malam itu, aku dikejutkan oleh kehadiran Mas Agus dan Mas Iman yang datang secara bersamaan di kosku. Aku tak habis pikir. Bagaimana mungkin dua laki-laki itu datang di hari yang sama. Rasanya tidak mungkin mereka janjian, kan mereka tidak saling mengenal. Ya, Allah, apa ini tanda dari-Mu agar aku segera menentukan pilihan secepatnya. Aku bingung bagaimana harus menghadapi mereka berdua dalam satu waktu seperti ini.

Aku lihat Mas Iman dan Mas Agus saling mengobrol, mungkin saling berkenalan. Keduanya terlihat santai. Aku melangkah perlahan mendekati mereka sambil membawa baki dengan dua cangkir teh panas.  

“Dek Lasmi, udah enggak usah repot, aku cuma mau mampir sebentar, mau melihat keadaan Dek Lasmi, kayaknya sekarang udah tambah seger, kan?” ujar Mas Iman seketika mendinginkan suasana hatiku yang tengah panas dan kacau.

“Alhamdulillah, Mas,” sahutku sambil berusaha tersenyum.

“Sekarang aku lebih baik pamit saja ya, Dek, soalnya udah ada janji sama teman lagi.”

Duh, aku kecewa mendengar Mas Iman yang justru berpamitan lebih dulu. Aku tahu Mas Iman sudah tahu tentang Mas Agus, karena aku sudah pernah menceritakannya. Dia sangat besar hati merelakan Mas Agus yang menemuiku. Seandainya Mas Iman tahu, kalau aku lebih memilih menemuinya daripada Mas Agus. Ah, aku menghela napas panjang.

“Dek, Iman itu siapa?” tanya Mas Agus membuyarkan lamunanku.

“Mas tidak berhak menanyakan Mas Iman itu siapa,” jawabku ketus.

“Tapi aku ini kan calon suamimu, Dek.”

“Itu dulu, Mas. Dulu sekali.”

“Maksudmu apa, Dek?”

“Sebaiknya Mas jangan pura-pura lupa. Mas sendiri yang telah mempersilakan aku menikah lebih dulu, waktu itu, seolah Mas tidak mau mempedulikan perasaanku, yang telah begitu setia menanti Mas.”

“Tapi kan….”

“Mas pikir aku akan terkesan dengan jabatan dan kekayaan yang Mas miliki sekarang? Hem, Mas salah berpikir tentang aku. Cinta itu tentang kedekatan emosi dan ketulusan, Mas, bukan tentang harta dan kemewahan.”

Mas Agus tertunduk. Wajahnya merah padam menahan emosi dan penyesalan yang begitu dalam. Sedangkan dadaku sesak oleh amarah hingga tumpah bergulir menjadi air mata yang menderas.

“Sekarang, lebih baik Mas pergi dari sini. Sampai kapanpun aku tak mau bertemu Mas lagi!”

Suaraku tertekan di antara tangisan yang menjadi, demikian juga emosiku makin meluap tak terkendali, hingga aku berani mengusir Mas Agus. Laki-laki itu berdiri lunglai. Dia menatapku dalam-dalam dan kemudian berlalu tanpa kata.

***

Sebulan begitu sepi tanpa kabar dari Mas Iman. Kemanakah dia ya Allah, pikirku. Aku coba mencari tahu pada beberapa orang temannya, tapi tak jua kutemukan jawaban dari mulut mereka. Hanya satu petunjuk yang kutangkap dari penuturan sahabat dekatnya, bahwa Mas Iman sebulan lalu pernah mengatakan akan pergi jauh, karena dia hanya ingin melihatku bahagia. Rupanya dia pikir aku akan kembali lagi pada Mas Agus sejak pertemuan terakhir itu.

Rasa pilu yang bercampur rindu ini tiba-tiba membuncah. Ah, apa yang harus kulakukan jika sudah begini, tanyaku. Ada rasa sesal yang dalam. Mengapa dulu sering kuabaikan perhatian-perhatian manisnya padaku. Mengapa dulu tak kubalas saja rasa cintanya. Seandainya dia tahu apa yang sebenarnya kurasakan sejak pulang dari rumah sakit dan seandainya dia tahu bahwa aku telah mengusir Mas Agus malam itu, gumamku dalam derai air mata yang tak bisa berhenti. Aku pasrah, biarlah Allah saja yang menuntun hati kami agar bisa bersatu. Entah bagaimana caranya.

Dan kuasa Allah benar-benar terbukti. Dengan begitu mudahnya Dia mempertemukan dua hati yang sedang dilanda rindu ini. Mas Iman diberitahu oleh sahabatnya bahwa seminggu lalu aku pernah berlinang air mata mencarinya. Dan kini seolah Mas Iman tak mau lagi menyiakan kesempatan untuk membuktikan cintanya.

Dia datang bersama keluarganya untuk langsung melamarku hari itu. Aku tak kuasa menahan air mata haru dan rasa syukur pada-Nya. Bapak dan ibu serta keluarga besarku pun menyambut mereka dengan sangat baik. Kini hatiku hangat kembali oleh cinta Mas Iman dan berharap akan selamanya begini hingga maut memisahkan kami.

***

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: