Maaf Kawan, Aku Belum Mencintaimu

Girls, kamu pasti paham, jika kamu pernah memiliki beberapa teman dekat yang jenis kelaminnya cowok. Kalau belum paham pun, tak apa. Nanti kau bisa tahu sendiri, bahwa tak ada semacam persahabatan abadi antara cowok dan cewek. It’s nonsense.

Aku Tya, si anak tomboy. Dari kecil, aku sudah terbiasa bermain ditemani Om dari Ayah atau Ibuku. Pun aku punya Tante yang juga tomboy. Aku suka pakai celana dibanding rok. Punya rok pun hanya rok sekolah atau rok yang “dipaksa” oleh Ibu untuk memakainya. Rambutku pendek model baggy sampai usia masuk SMP. Karena ibuku memberi warning untukku agar aku agak “kecewekan”, maka selepas SD aku membiarkan rambutku panjang.

Dulu aku berusaha punya temen cewek yang banyak saat SD, tapi mereka menjauhiku. Katanya sih, satu temanku yang superior di kelas nggak suka padaku, jadinya mereka pun takut berteman denganku. Takut sama-sama dikucilkan, hehehe. Ya sudah, tak ada temen cewek, temen cowok pun jadi.

Aku mengenal mereka. Dua orang teman cowok yang paling kusayang. Sayangnya sebagai teman loh, ya. Atau kalau boleh dibilang sebagai sahabat. Kami bertiga, aku, Hima dan Didit. Kami mulai akrab saat naik ke kelas 3 SMP. Padahal, kami selalu sekelas dari kelas 1. Dulu, sistem kelas kami tidak diacak. Selama tiga tahun, kami berteman dengan anak sekelas yang itu-itu saja. Sebelnya, kelas kami jadi monoton. Tapi asyiknya, ikatan emosional di kelas kami jadi kuat.

Tapi bukan kelas kami yang akan kubahas di sini, tapi kisah cinta monyet kami yang unik. Aku berteman dengan Hima dan Didit karena sebuah alasan unik pula. Hima adalah teman dekat Didit. Tak tahulah kenapa mereka berdua sangat klop, di mana ada Hima di situlah ada Didit. Didit lebih persis seperti anak yang kehilangan induk kalau nggak ada Hima.

Sebulan lagi, adikku akan ikut lomba porda (pekan olahraga daerah) bidang tenis meja. Tak tahu menahu, adikku yang bahkan tak pernah pegang bet (alat pemukul bola tenis meja), bisa terpilih menjadi wakil sekolahnya. Ah, mungkin gurunya sedang galau, ya. Adikku yang ikutan galau juga bagaimana nasibnya nanti, akhirnya kusarankan belajar dengan ahlinya. Eng ing eng, usut punya usut, setelah kutanyai teman sekelasku, Diditlah yang menjadi nominasi terbaik mengajar adikku main tenis meja.

“Dit, mau nggak ngajarin adikku tenis meja?”

Didit agak mundur saat aku tiba-tiba menghampirinya. Saat istirahat, keadaan kelas lengang. Hima yang biasanya ada di dekatnya, sedang entah ke mana. Didit memang dikenal anak yang pemalu terhadap perempuan. Ini juga hal pertama yang aku khawatirkan saat aku ingin minta bantuannya. Soalnya, adikku, calon muridnya, adalah cewek.

Susah nih ngebujuknya, pikirku.

Didit terdiam sebentar. Aku melanjutkan lagi.

“Tenang, nanti kutraktir bakso tiap selesai ngajarin. Gimana?”

Kupikir taktik ini masuk akal. Anak sekolah mana ada sih yang nolak dijajanin, apalagi bakso.

“Ehm, nanti ya nunggu Hima?”

“Hah?”

Aku bingung, kok dia ngomong tentang hidupnya sendiri harus nunggu temannya? Baiklah. Setelah Hima masuk kelas, akhirnya disepakatilah Didit akan mengajari adikku tiap pulang sekolah seminggu 2 kali, tapi dengan syarat harus ditemani Hima. Okelah, yang penting urusan beres.

Akhirnya tibalah perjanjian kami. Aku, Didit dan Hima pulang dari sekolah langsung bertolak ke rumahku. Ada meja tenis yang bisa dipakai untuk bermain. Aku dan Hima hanya menonton. Sekitar 1 sampai 2 jam, mereka–Didit dan adikku–berlatih. Dari yang awalnya canggung menjadi biasa saja. Bahkan, dari alasan inilah, kami–aku, Hima dan Didit–bisa akrab.

Hampir tiap pulang sekolah, kami selalu bermain bersama di salah satu rumah. Kadang ke rumah Hima atau ke rumah Didit. Kami biasanya lebih banyak mengobrol, Hima jadi pemimpinnya dan aku juga Didit menjadi pendengar. Terkadang kami hanya melepas lelah sambil menonton tivi dan makan camilan. Aku, sebagai cewek satu-satunya di grup itu, merasa biasa saja terhadap mereka. Tak ada rasa “merah jambu”. Kuanggap mereka adalah sahabat terdekatku, yang selalu ada buatku, yang mengisi hari-hariku.

Sayangnya, mereka tidak merasakan hal yang sama. Aku tak tahu persis kapan rasa “merah jambu” itu mereka rasakan. Bagi Didit, hal sentimental seperti bertukar surat sahabat di disket yang ditukar tiap selesai diisi adalah hal yang luar biasa baginya. Namun, bagi Hima yang suka speak up, dia lebih memberi perhatian. Sayangnya lagi, aku tidak peka. Dan ternyata, cewek bisa juga tidak peka.

“Ya, main yuk ke rumah Didit?”

Hima datang ke rumah, menjemputku untuk bertandang ke rumah Didit. Baru beberapa minggu ini, Didit pindah rumah. Dan kami memang memutuskan main ke sana. Sekitar 15 menit naik sepeda motor.

“Okay, sebentar. Aku ganti baju dulu.”

Tak lama, kami sudah ada di atas motor Hima. Membelah jalanan sore itu.

Tok, tok, tok! Assalamu’alaikum.

Beberapa menit yang lalu kami sampai di depan rumah bercat putih hijau itu. Karena rumah Didit yang baru agak jauh, kami sekarang menjadikan rumah Hima sebagai markas kami. Ini hari Minggu, makanya kami bisa main ke rumah Didit.

Sepi. Sepertinya Didit dan keluarganya pergi. Kami coba menunggunya di depan teras. Persahabatan kami saat itu sudah menginjak satu tahun. Aku sudah sedikit mengenal kebiasaan mereka. Aku yang tadinya melamun, merasakan hal aneh. Hima yang biasanya selalu pede saat bicara denganku, mendadak gagap. Mau bicara, tapi urung.

“Ehmmm. Ya?”

“Apa? Mau ngomong apa?”

“Ehm, nggak apa-apa kok. Anu ….”

Aku yang saat itu fokus melihat-lihat sekeliling, menatap Hima lagi. Dia terdiam.

“Apa sih? Ini Didit kayanya lama deh, apa pulang aja yuk?”

“Ah, pulang, o ya ya.”

Aku merasakan ada yang aneh dari sikapnya. Seperti mau mengatakan sesuatu yang “merah jambu” itu. Nembak, apa ya? Pikirku.

Bukan aku yang geer, lo. Aku cuma dengar gosip aja dari teman-teman. Ada salah satu teman cowokku yang pernah dicurhati, kalau sahabat-sahabatku ini suka sama aku.

Hmm, aku harus ambil tindakan. Aku nggak mau persahabatan ini hancur karena cinta. Kalau keduanya suka aku, aku kan nggak bisa memilih. Nanti persahabatan kami jadi canggung, lalu hancur. Aaaaah tidaaaak. Aku nyaman seperti ini.

“Him, kamu tahu nggak, kita temenan udah lama. juga sama Didit.”

Aku tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, gawat nih sebelum “tertembak”.

“Ah, iya. Udah setahun.”

“Iya, setahun. Lama ya? Aku pengen banget, kita selalu seperti ini.”

“Seperti ini, gimana maksudnya?”

“Ya gini. Jalan bareng, main bareng. Jadi temen selamanya.”

Aku menolak bahkan sebelum Hima menembak.

Seketika senyum Hima kecut. Ada sesuatu di matanya yang menggambarkan kesan bahwa ia kecewa.

“Iya Ya. Okay. Aku juga mau kok.”

Aku tersenyum manis. Maaf kawan, aku belum mencintaimu. Aku ingin kita bersahabat saja. Semoga kamu bisa mengerti.

Oleh: Dhita Erdittya.

 

Tinggalkan Balasan