Ini hari Sabtu dan aku libur dari segala aktivitas kerutinan lima hari seminggu, pun libur dari kuliah yang sering membikin pening. Pagi ini, aku melakukan hal yang biasa dikerjakan wanita di rumah, yaitu berbenah. Tiada yang spesial, hanya mungkin ingin sedikit butuh penyegaran dari kejenuhan hidup yang monoton.

Pagi ini, kami—Ibu lebih tepatnya—disambangi seseorang. Seorang wanita yang masih dikategorikan sebagai tetangga datang untuk menjahit. Ya, Ibu adalah penjahit, walau tidak serapi tukang jahit profesional, tapi hasil kerja tangannya cukup nyaman dipakai dan biayanya pun murah. Jadi, rumah kami memang rutin didatangi orang.

Assalamualaikum,” kata wanita itu langsung masuk.

Kami jawab serempak.

Aku yang masih sibuk membiarkan mereka berdua bercakap.

“Ini tolong jahitkan. Begini, ini dibikin kayak gini,” titahnya.

Ibu yang sedang tidak ada pekerjaan mendesak pun menuruti kemauan si empunya pakaian.

“Aku bingung, nih, sebentar lagi anak yang kedua mau wisuda, si bontot yang masih bingung mau lanjut ke mana. Tambah lagi abangnya yang pertama minta dikuliahin S2 lagi,” jelas ibu itu membuka topik lain tanpa di minta.

Aku masih mondar-mandir. Membilas pakaian lalu merendam dengan pewangi, lantas kembali ke ruang tamu untuk siap menyapu.

“Kenapa bingung? ‘Kan kebunnya banyak,” jawab ibu yang kurasa sedang mengerjakan tugasnya.

“Entahlah, kebun itu pun nggak ada yang mau ngurusin. Anakku yang pertama sibuk minta kuliah lagi. Katanya kalau libur dulu, nanti sudah malas mau kuliah lagi. Anakku yang kedua, nggak mau pula ke kebun. Padahal kerja di tempat orang, seharian kerja paling gajinya sejuta lebih, mana ‘kan cukup untuk hidupnya.  Si bontot juga katanya belum tahu mau masuk mana nanti, niatku nanti pengin masukkan dia ke akademi polisi saja.”

Entah apa yang Ibu jawab, aku tak dengar.

“Padahal kalau mengurus kebun, seminggu saja bisa dapat sejuta lebih. Itu pun cuma lihat ke sana 2 kali seminggu. Anakku yang kedua itu entah kenapa pengin kerja di luar, pacarnya sudah sibuk ngajak nikah, entah kalau nikah nanti nggak tahu mau dikasih makan apa anak-istrinya.”

Telingaku mendengung. Mendengarnya saja, aku jengah. Seperti dia saja yang punya bahan topik pembicaraan yang isinya hanya tentang anaknya, anaknya dan anaknya, atau sesekali kebunnya. Entah, rasanya seperti tak ada hal faedah lain yang harus dibicarakan selain kebanggaan akan harta dan kepemilikannya.

Seperti tak ada kesempatan bagi Ibu untuk menceritakan ketiga anaknya yang ikut berjuang demi bertahan hidup. Tentang anak sulungnya yang mampu membiayai kuliah dan memenuhi kebutuhan sendiri, tentang anak keduanya yang sudah belajar usaha bahkan sejak kelas dua SMK walau tak suai dengan jurusan, tentang bungsunya yang dulu rajin meraih peringkat atas di sekolah.

Beberapa kali wanita itu datang ke rumah, berkali itu pula dia menceritakan hal serupa. Sampai aku hafal tentang hal apa saja yang akan diceritakannya sampai akhir.

Dia seperti mengatakan bahwa anaknya tak bisa memenuhi kebutuhan kalau tak dari kebunnya dan bukan dari pekerjaan lain. Seperti mengartikan bahwa orang yang tak memiliki uang banyak adalah orang uang tak bisa makan. Dan cara mendapatkan uang yang cukup adalah hasil tuai dari kebun sawitnya.

“Ya, ‘kan masing-masing orang punya rezekinya sendiri. Kami yang nggak punya kebun dan hanya sebatas tukang becak dan penjahit pun masih bisa makan. Semua sudah diatur porsinya.” Ibu menjawab.

Aku setuju dengan Ibu. Sangat. Bahkan aku hanya bergaji sebulan itu tak lebih dari lima ratus ribu saja bisa membiayai kuliah dengan segala teteknya.

Di samping itu, aku pun menjadi kasihan pada Ibu sebab memilikiku yang tak bisa jadi bahan pembicaraan membanggakan dan mengangkat martabatnya. Entah itu dari segi fisik, kecerdasan, materi dan hal lain. Tak ada yang bisa dijadikan ceritaan berharga. Namun memang, tak semua hal perlu di ceritakan.

Wanita itu pulang dan aku gembira. Kakiku melangkah ke belakang, menghampiri Ibu.

“Setiap ibu itu datang, pasti selalu ceritain anak-anaknya. Nggak pernah gitu cerita lain atau ngasih Mamak kesempatan untuk cerita apa yang bisa dibanggakan,” aku mendengus, “ya, walau nggak ada yang bisa dibanggain dari kami.”

“Biarin aja dia kayak gitu. ‘Kan setiap ada kelebihan tentu ada kekurangan. Suaminya ‘kan sakit, jadi nggak bisa dia ceritain. Ya, akhirnya cuma anak-anaknya saja yang dibanggain.”

“Maaf ya, Mak, kami belum bisa membanggakan dan jadi bahan cerita yang bikin Mamak berbesar hati.” Aku mendengus.

“Kalian sudah cukup membanggakan dengan kemandirian. Walau Mamak nggak bisa kuliahin kamu, tapi kamu bisa melanjutkan sendiri tanpa bantuan Mamak. Lagipula, nggak semua hal perlu diumbar kepada orang lain. Biarlah kita saja yang rasa, jangan pula membuat orang lain sakit karena tak mampu menjadi seperti yang kita ceritakan.”

“Iya, Mak.” Aku mengangguk.

“Satu hal lagi, rezeki itu sudah diatur sama Yang Kuasa. Kita nggak punya hak untuk bilang profesi ini gajinya sedikit dan bikin nggak bisa makan, jadi seperti itu enak karena gajinya besar, pun lainnya. Sebab kita nggak pernah bisa pastiin gaji besar itu hidupnya melulu bahagia dibanding orang miskin sekalipun. Sebab orang yang kaya pun tak selamanya diberi sehat, sementara kaum melarat pun tak selamanya hidup sengsara. Hidup itu seperti roda. Yah, semua sudah sesuai porsinya.”

Ah, ibuku ini, pintar sekali berkata-kata. Habis lenyap rasa gondokku pada wanita pencerita tadi. Kini hanyalah syukur yang kuharapkan selalu terucap.

Tak ada pelukan pada ibu hari ini, sebab aku merasa bau badan sebab belum sempat mandi dan jemuran harus segera dituntaskan.

Oleh: Essy Febrianti.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: