tidak mau menikah muda

Maaf, Mak, Jangan Paksa Aku Segera Menikah

Tepat pada bulan Maret usiaku genap 23 tahun. Usia rawan bagi seorang gadis sepertiku, mengapa aku mengatakan usia rawan? Karena usia ini akan bermunculan pertanyaan kapan menikah ditambah kelulusanku yang jatuh pada bulan ini juga. Lengkap sudah. Sejujurnya ketika pemindahan toga waktu upacara kelulusan S1, ada rasa was-was di dalam benak.

Benar saja, kekhawatiran itu terbukti. Emak mulai cemas melihat teman-teman seusiaku mengakhiri masa lajangnya. Namun aku selalu menangapinya dengan senyuman, karena belum terselip sedikit pun dalam hatiku untuk segera membina rumah tangga. Aku masih ingin menikmati kebebasan ini.

Mungkin di tempatku usia 23 tahun tergolong tua, melihat teman-teman sebayaku banyak yang mengakhiri masa lajangnya setelah lulus SMA. Ya, aku memakluminya jika Emak mulai resah. Tapi, sekali lagi, bukanya aku tak ingin menikah, aku pun juga sama seperti teman-teman lain ingin menikah lalu memiliki anak. Tetapi bukan untuk saat ini.

Banyak hal yang harus aku capai terlebih dulu, misalnya bermain sepuas-puasnya dengan teman-teman, berkarier, jalan-jalan, dan melakukan hobi yang belum aku lakukan saat masih kuliah. Aku juga masih ingin melanjutkan S2 dan menurutku usia 23 tahun di luaran sana masih terbilang muda.

Aku sering meyakinkan Emak akan hal itu. Awalnya beliau mau menerima, sampai hari itu tiba. “Ya, murid yang kamu ajar waktu PPL menikah bulan depan.” Saat aku sedang membaca buku di kamar, tiba-tiba Emak membuka pintu dan berkata demikian.

“Siapa?” Jawabku santai sambil menatap Emak.

“Deni,” jawabnya. Aku tersenyum, melihat ekspresi Emak seolah bisa membaca pikirannya. Aku tetap berusaha tenang seperti biasa. “Ya syukurlah.” Jawabku, lalu kembali membuka buku yang sempat aku tutup tadi. Emak keluar.

Tak lama beliau masuk lagi. “Orang yang kamu ajar aja udah mau nikah. Terus kamu kapan?” Nada suara Emak terdengar tajam, aku tersenyum. “Lho berarti memang sudah waktunya,” jawabku sekenanya. Emak keluar lagi.

***

Hari ini sekitar pukul satu siang saat aku baru selesai sholat, ada motor berhenti di depan rumah. Aku mengintip dari jendela kamar, rupanya saudara dari Batanghari. Sebenarnya bukan saudara dekat melainkan orang lain sudah seperti saudara sendiri. Usai membukakan pintu, aku memanggil Bapak dan Emak, lalu bersiap-siap pergi ke rumah Okta. Sebelum pergi aku berpamitan pada Emak, Bapak, dan Mas Rendra.

Sepulang dari main, tiba-tiba Emak menyuruhku duduk. Ada rasa khawatir, biasanya kalau seperti ini pasti ada apa-apa. Dan ternyata memang benar.

“Tadi Rendra ke sini mau ngomong serius sama kamu, malah ditinggal pergi.” Emak menatapku serius. Aku mengernyit bingung. Biasanya kalau Mas Rendra ke sini yang dicari pasti Bapak kalau bukan Emak. Belum pernah Mas Rendra nanyain aku. Aneh, pikirku.

“Tadi dia minta izin Emak sama Bapak. Katanya mau serius sama kamu, dia udah nungguin kamu lima tahun, lho.”

Aku melongo. Asli, ini sungguh berita di luar perkiraan. Selama ini tak pernah terselip sedikit pun, pikiran kalau Mas Rendra naksir aku. Masalahnya kalau ketemu biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi, mana mungkin orang seserius Emak berbohong. “Benarkah, Mak?” Aku meyakinkan. Siapa tahu Emak lagi bercanda. Walaupun mustahil karena Emak tipe orang yang serius.

“Iya.” Jawab Emak mantap.

Gawat. Pikirku.

“Terus Emak bilang apa?” Jujur aku agak takut kalau Emak mengambil keputusan tanpa melibatkan aku.

“Bilang apa? Ya, Emak sama Bapak bilang tanya langsung ke kamu, karena yang berhak menjawab kamu bukan Emak atau Bapak.” Alhamdulillah, aku bisa bernapas lega.

“Tapi sebaiknya jangan kecewakan Rendra, keluarganya sama kita terlalu baik. Malahan kamu udah dianggap seperti anak sendiri, lagi pula kita udah tahu seluk beluknya jadi kalau jadi keluarga udah ndak kaget lagi.” Kalimat Emak seketika menggoncang kembali ketenanganku.

Beberapa hari setelah kedatangan Mas Rendra ke rumah, aku jadi gelisah. Tidak tenang. Ya Allah, aku masih ingin berkelana, aku masih ingin jalan-jalan ke Malang bareng Okta, masih ingin mencari kerja tetap, masih ingin lanjut kuliah. Intinya aku masih ingin bersenang-senang dulu.

Mungkin benar setelah menikah masih bisa melakukan semua aktivitas itu, tetapi berbeda dengan anggan-angganku sekarang. Aku masih ingin melakukan banyak hal sebelum menikah. Sungguh, aku pusing luar biasa. Ditambah tekanan-tekanan yang Emak berikan agar aku segera menikah.

Akhirnya pagi itu setelah Emak pulang dari pasar, aku beranikan diri untuk bicara dengan Emak tentang keputusanku tak bisa menerima pinangan Mas Rendra. Meskipun terlihat kecewa tapi Emak menerimanya. Alhamdulillah.

Aku pikir setelah aku mengutarakan semua tujuan dan visi misiku kepada Emak, beliau akan berhenti menyuruhku menikah muda. Dugaanku salah besar. Emak semakin meraja lela apalagi setelah mendengar teman-teman SMA dan teman kuliahku mulai bertunangan satu persatu. Emak kembali geger.

“Dulu mbak-mbakmu menikah belum genap 20 tahun. Kamu tahu, perempuan semakin tua semakin tak laku. Kamu mau nyari yang model gimana, ini itu ditolak. Yang inilah, yang itulah. Kebanyakan nampik (menolak) orang itu ndak baik. Dikiranya kita pilih-pilih. Apa ndak malu kita ini cuma orang biasa bukan orang berpangkat.” Tak biasanya Emak semarah ini.

Aku sampai menghentikan aktivitasku mengetik novel. Kebetulan ada saudara dari Teluk datang, duduk di sebelah Emak. Mau tak mau aku ikut duduk di sebelahnya.

“Apa kamu ndak kepingin kayak teman-temanmu yang lain. Menikah dan punya anak? Emak sama Bapak udah tua, Emak tahu kamu lagi mikirin nyari kerjaan terus bisa membahagiakan Emak sama Bapak. Tapi, asal kamu tahu, Nduk. Mana bisa Emak sama Bapak bahagia walaupun kamu kasih uang banyak, tapi kamu masih melajang. Temen-temenmu udah gendong anak, udah punya pasangan, dan kamu masih sendirian. Emak ndak tega, Nduk. Emak cuma pengin lihat kamu sama pasanganmu.”

Deg. Hatiku bergetar mendengar Emak berkata seperti itu. Apalagi beliau berkata sambil berkaca-kaca. Pikiranku semakin kacau. Aku semakin bingung. Emak kembali mengungkit orang-orang yang pernah datang di hidupku. Aku hanya bisa diam, mulutku terkunci. Entahlah, hatiku risau.

***

Tak jauh dari peristiwa itu. Ada tetangga datang ke rumah dengan tujuan ingin meminangku, beliau mendapat amanah dari saudaranya. Malam itu sebelum aku mengantar Emak kondangan, orang itu ngobrol serius dengan Emak. Dari dalam kamar aku mendengar semuanya. Aku hanya bisa pasrah.

Sejujurnya ingin berontak namun teringat dengan Emak tempo hari, saat beliau berbicara panjang lebar yang intinya beliau ingin melihatku segera menikah. Alhasil semalaman aku tidak bisa tidur. Aku menghubungi teman-teman dekatku, meminta pendapatnya.

Semua menyarankan agar aku sholat istikharah. Minta petunjuk dari Allah. Sayangnya aku sedang kedatangan tamu bulanan. Jadi aku tak bisa melakukan itu, aku hanya berdoa kepada Allah agar segera diberi petunjuk. Rasanya aku sudah lelah berdebat dengan Emak.

“Apa aku terima saja?” Tanyaku pada diri sendiri.

Pagi, siang, sore, malam aku kepikiran hal itu. Makan pun tak napsu. Aku bingung tak karuan. Rasanya hariku tampak suram. Tapi setelah aku bertemu dengan Okta dan meminta sarannya, aku jadi punya keberanian. Aku harus menyelesaikan semuanya.

Malam itu sebelum tetanggaku datang kembali meminta jawaban, aku menggumpulkan Emak dan Bapak di ruang tamu. Menyampaikan tekadku kalau aku belum bisa memenuhi keinginan mereka. Syukurnya Bapak mendukung keputusanku. Tinggal Emak.

“Mak, aku ingin menikah dengan seorang yang aku kenal baik sebelumnya. Emak tak perlu risau, aku pasti menikah tapi bukan sekarang.” Aku pandangi Emak dengan tatapan takut, Emak diam tak membalas perkataanku.

Dalam hati aku membatin, maafkan aku Mak, aku belum siap menikah muda.

Oleh: Novia Yusnita.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

1 thought on “Maaf, Mak, Jangan Paksa Aku Segera Menikah”

  1. Nice, aku setujuuuu. Buat lagi dong, tentang saling sayang dan dikenal baik tapi beda jarak. Kaya aku haha😂

Tinggalkan Balasan