Sore itu, dia mengajakku pergi ke acara talk show yang digelar sebuah stasiun televisi. Kebetulan, pembicara yang diundang adalah seseorang yang kami kenal. Dan entah bagaimana, sesampai di tempat, talk show telah selesai, kami kecewa dibuatnya, kemudian dia dan teman-temannya membawaku ke alun-alun. Kami mengobrol di tengah keramaian. Dia membeli kopi dalam gelas kemasan plastik, membiarkan aku menemani Ririn—salah satu teman satu fakultasnya yang sibuk memilih jam tangan terbaik untuk pacar barunya.

“Bagusan warna hitam, cokelat, atau putih?” Tanya Ririn menunjuk barisan jam tangan di hadapan kami.

“Hitam bagus.”

Aku iseng ikut mencoba jam tangan yang menarik perhatian tanpa berniat membelinya sama sekali. Di kos ada beberapa jam tangan dari semasa SMA yang habis batrey dan tak ada niatan untukku menghidupkannya kembali. Aksesoris memang sering bikin perempuan kalap, dan aku tidak akan lengah untuk kali ini. Ririn menemukan pilihannya hampir setengah jam kemudian, selepas kami mengunjungi seluruh stan yang berjejer di sana.

“Kamu nggak mau beli couple-an sama Kak Jojo?”

“Ti … dak.” Aku sedikit gagap menjawabnya. Bagaimana tidak, pertanyaan itu sungguh menyentakku. Aku dan Jojo, beberapa orang mengira kami sudah jadian. Padahal Jojo belum pernah menyampaikan perasaannya. Kami baru pendekatan, dan meski aku menginginkan seorang pacar—yang rasa-rasanya menjadi hal wajib dimiliki anak-anak usia kuliahan, aku belum yakin jika pilihanku akan jatuh pada cowok berkumis tipis bernama Jojo.

Saat kami kembali bergabung ke rombongan, mereka sudah bersiap untuk pulang. Jojo sudah men-stater motornya. Dia membawaku pergi dengan kecepatan tinggi, jauh meninggalkan yang lain. Sepanjang perjalanan hanya ada deru kendaraan juga dingin angin tengah malam yang menerpa wajah. Ada rasa khawatir yang menyelusup kalbu. Ini merupakan pengalaman pertamaku berpergian dengan seorang lelaki di malam hari. Apalagi kata teman-temanku juga beberapa temannya, kami cocok. Kami yang sedang dimabuk asmara.

*** 

“Kapan kamu punya pacar, Tik? Dengerin gue, makin kamu dewasa, bakalan makin  sulit dapet pasangan. Soalnya, kamu bakalan lebih pemilih, lebih banyak kriteria. Dari yang mapanlah, sampai tingkat pendidikan yang kudu setara,” oceh Rani teman satu jurusan.

“Beneran kamu belum pernah pacaran, Tik? Jujur ya, aku juga belum. Dan kayaknya kita udah harus mulai belajar saling mengenal dan memahami antar lawan jenis deh.”

Sahabatku Marliana juga makin sering nyeramahi hal yang sama. Sayangnya, Marliana satu nasib sama aku. Kami jomblo yang tadinya bahagia dan mulai terombang-ambing dengan adanya pandangan-pandangan baru tentang pentingnya memiliki seorang pacar.

Lamunanku buyar saat motor yang Jojo bawa hampir saja sampai di halaman kosan tempat aku tinggal dan tiba-tiba dia nge-rem mendadak. Sambil nyengir, dia berujar, “Aku laper nih, kamu temenin aku makan dulu, ya?”

“Mau makan nasi atau yang lain?” tanyanya kembali selepas aku menganggukan kepala.

“Aku ngikut. Kan Kakak yang laper.”

Dia membawaku ke warung tenda penjual bakso di trotoar jalan. Banyak cerita yang dibaginya yang kesemuanya itu perihal pencapaian-pencapaian yang telah diraih dan bagaimana keluarga mendukungnya. Aku dengan antusias menjadi pendengar yang dengan sigap sesekali  menanggapi, tanpa pernah merasa curiga ada pasang mata yang diam-diam mengamati dari salah satu meja.

***

“Kamu gila ya, Tik? Cowok yang ditaksir sahabat sendiri kamu gebet?” tanya Rani,

“Maksud kamu apa?”

“Gue liat kamu sama Jojo jalan berdua semalem. Kamu nggak mikirin perasaan Marliana? Tega kamu, Tik!”

Rani terus nyerocos tanpa henti, menyudutkanku sebagai orang yang telah mengkhianati sahabatnya sendiri. Dia mengaku, semalam dia berada di warung tenda yang sama dengan kami. Memesan bakso, duduk di bagian pojok, menutup wajahnya dengan kertas minyak supaya aku tidak perlu merasa canggung. Dia terpaksa tetap di sana meski baksonya telah habis, menunggu kami beranjak lebih dulu.

“Marliana?”

“Iya. Masa kamu lupa kalau Marliana suka sama Jojo? Dia kan curhatnya juga sama kamu.”

Aku belum juga mengerti saat Rani mengatakan itu. Marlianalah dibalik awal kedekatanku dengan Jojo. Saat aku datang ke Surabaya selepas mudik dan sampai larut malam, Marliana menghubungi Jojo untuk menjemputku di terminal. Aku bahkan cerita pada Marliana apa saja yang aku dan Jojo lakukan ketika kami berdua baru saja pergi mengunjungi seminar-seminar di universitas lain secara bersama. Jojo yang menyukaiku, begitu orang-orang berkomentar. Aku yang kalem, sama seperti mantannya.

“Itu satu tahun yang lalu, dan sekarang kamu juga tahu kalau Marliana naksir Kak Doni.”

“Tapi, Tik. Itu tidak menghapus fakta bahwa Marliana pernah jatuh cinta sama Jojo, dan perasaannya bertepuk sebelah tangan. Kita nggak pernah tahu isi hati orang lain, Tik. Kalau aku sendiri jadi Marliana … jujur, aku bakalan cemburu melihat kamu dekat dengan Jojo. Aku pernah ngalamin, Tik. Dan rasanya sakit banget.”

Aku diam, tak tahu harus mengatakan apa. Terlambat menyadari jika selama ini aku sudah dengan begitu tega menyakiti perasaan Marliana. Bagaimana pun, Marliana pernah sangat menyukai dan mengharapkan Jojo. Kabar buruknya, aku mulai nyaman bersama Jojo. Jojo yang selalu menyanjungku dan memanggilku dengan sebutan tuan putri. Meskipun awalnya panggilan itu menggelikan, akhirnya kini aku terbiasa. Merasa Jojo spesial dan menganggap diri sama spesial.

Hari-hariku terasa rumit. Aku tidak tahu bagaimana harus menghentikan perasaan sendiri yang sedang menggebu-gebu. Juga tidak enak hati pada Marliana. Mendadak, sejak saat itu banyak kabar tentang siapa Jojo sebenarnya. Aku bukan satu-satunya yang dia dekati, bukan satu-satunya yang dia sebut-sebut sebagai tuan putri. Ya Allah, aku menyesal telah terlena dengan status pacaran. Aku yang merasa terasing ketika yang lain memiliki pacar, sedang aku masih singgle. Aku yang merasa aneh ketika berada di jalan yang Kau ridhai. Ampuni aku ya, Allah, yang takut kesulitan mendapat jodoh, seakan-akan akulah yang mengatur takdirku sendiri.

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.     

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: