SAAT usiaku menginjak remaja terkadang terbersit keinginan memiliki pasangan. Teman-teman banyak yang sudah memiliki kekasih. Ada perasaan iri bersemayam setiap kali mendengar mereka bercerita tentang pujaan hatinya. Entah kapan aku bahagia dengan pasanganku? Pikirku saat itu.

Sebenarnya, sejak SMP Bapak sudah mewanti-wantiku untuk tidak pacaran. Bapak berharap aku fokus belajar dan meraih cita-cita.   

“Nanti, kalau kamu sudah bekerja baru kamu pikirkan jodoh, An. Sekarang tugas kamu adalah belajar dan menjadi kebanggaan Bapak. Nanti kamu lanjutkan ke perguruan tinggi. Terserah kamu mau menjadi apa. Bidan boleh atau guru. Bapak hanya membiayai dan berdoa agar besok kamu berhasil. Itu saja permintaan Bapak, An.” Bapak menepuk pundakku pelan. Ya Alloh, Bapak ingin agar aku kuliah dan berhasil. Aku tidak boleh membuatnya kecewa dan berjanji untuk tidak pacaran dulu.

Beberapa orang terkadang memuji wajahku yang katanya cukup manis, tetapi embel-embel di belakang tidak enak di dengar.

“Manis sih Ani sebenarnya tapi sayang gemuk ya.”

“Kurus dulu baru aku mau jadi pacar kamu, An.” Banyak kalimat yang cukup memekakkan telinga. Sejak saat itu, aku tidak berharap punya pacar lagi seketika kandas ketika ingat fisikku.

***

Ketika duduk di bangku SMA kelas tiga, aku ikut kursus di sebuah lembaga dekat sekolah. Sepekan dua kali aku dan sahabatku mengikuti kursus komputer. Siti adalah sahabat sejak kami sama-sama diterima di SMA yang sama. Sebenarnya kami sudah lama sudah saling kenal karena satu desa.

Kami hampir selalu bersama ditambah satu bangku dengan jurusan yang sama. Kami anak IPS. Siti itu cantik juga pintar dan mudah bergaul. Banyak teman laki-laki di sekolah yang menyukainya. Tentu Siti lebih mudah untuk memilki kekasih. Alhamdulillah sejak berteman dengan para jilbaber di sekolah, aku sering dipinjamkan majalah Islam.

Pernah aku membaca sebuah tulisan bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Pacaran mendekatkan kita dari perbuatan zina. Astaghfirullah.

Keinginan mempunyai pacar sudah tidak menggebu lagi dan aku merasa lebih nyaman. Aku sudah tidak perduli olok-olok tetangga karena malam Minggu tidak pernah ada yang apel ke rumah. Aku memang tidak pernah sama sekali pacaran. Teman laki-laki banyak bahkan beberapa pernah datang ke rumah tetapi sekadar untuk kerja kelompok karena tugas sekolah.

Hari Selasa adalah jadwal aku kursus komputer. Saat memasuki ruangan tempat kursus seperti biasa aku dan Siti menyapa Mbak Sela. Dia bekerja di bagian administrasi. Tetiba Mbak Sela berbisik kepada kami.

“Ani, Siti di dalam ada cowok ganteng anak kuliahan lho,” ucapnya pelan takut kedengaran. Wajah Siti langsung sumringah.

“Ada gebetan baru, An. Anak mahasiswa lagi,” katanya antusias. Aku hanya tersenyum. Mbak Sela menyuruh kami masuk kelas karena pelajaran akan segera dimulai.

Kelas tidak begitu penuh masih banyak yang belum datang. Mataku sibuk mencari tempat duduk yang pas biar mudah menangkap pelajaran sedangkan Siti langsung mengambil tempat duduk dekat mahasiswa yang Mbak Sela ceritakan.

Dia pun memperkenalkan dirinya. Namanya Hadi. Dia mahasiswa di kota kami. Tubuhnya cukup tinggi. Kulitnya putih dan wajahnya cukup tampan mampu melelehkan hati Siti. Sejak perkenalan itu, Siti selalu saja membicarakan Hadi. Penyakit orang yang sedang jatuh cinta. Aku menanggapi hanya dengan senyum dengan sesekali iseng dengan melontarkan kata ciee.

Sejujurnya aku sedikit tertarik dengan Hadi. Bukan karena tampangnya saja, tetapi keramahan dan akhlaknya. Dia sangat sopan dan asyik diajak ngobrol juga bertukar pikiran. Baru kali ini aku punya teman laki-laki yang bisa diajak ngobrol asyik. Membicarakan banyak hal apa saja bahkan tentang agama dan politik. Dia bisa mengimbangi pemikiranku bisa jadi karena statusnya sebagai mahasiswa dan aktif di beberapa organisasi di tempat tinggalnya.

Aku merasakan ketertarikan yang lebih. Teman-teman yang lain biasanya pembicaraan hanya tentang pelajaran, seputar sekolah, fashion yang sedang tren dikalangan anak muda. Bagiku, Hadi sedikit berbeda.

Sepulang kursus kami bertiga sering pulang bersama. Hadi pun tidak sungkan berjalan dan mengobrol bersama kami. Meski tidak searah, Hadi akan menaiki kendaraannya setelah mengantar kami naik angkot terlebih dahulu. Siti semakin meleleh karenanya dan aku diam-diam mulai menyukainya.

“An, awas ya kamu ga boleh sama Hadi. Dia buat aku,” ucap Siti suatu ketika. Aku sedikit terkejut, namun aku berjanji bahwa aku dan Hadi tidak terjalin lebih dari sekadar teman biasa.

“Aku kesal Hadi tanya tentang kamu terus juga tentang keluarga kamu, An.” Aku yang sedang baca buku sedikit penasaran.

“Tanya apa?”

“Kamu sudah pacar belum dan kamu itu orangnya gimana, kriteria cowok Ani kaya apa terus keluarga Ani seperti apa? Sebel aku,” sahut  Siti kesal.

“Aih, ada yang cemburu. Terus kamu jawab apa, Ti.” Aku jadi penasaran padahal hatiku dag-dig-dug tak keruan.

“Gitu. Kamu tuh ga pernah pacaran, kamu dan keluarga kamu orang yang baik. Ah, pokoknya gitu.” Aku mendekati Siti.

“Aku janji. Aku akan memilih persahabatan daripada seorang Hadi. Kita sudah lama temenan Ti, sedangkan dengan Hadi kita baru saja kenal. Kita akan jadi sahabat selamanya,” janjiku.

Kami berpelukan. Sejujurnya aku sedikit sedih, tetapi aku lebih memilih persahabatan dari pada mencintai seseorang, tetapi melukai sahabat sendiri.

Sebenarnya beberapa hari yang lalu, Hadi menembakku untuk menjadi kekasihnya. Sejak awal Hadi menyukaiku, bukan Siti. Aku sampai heran apa yang dia lihat dari seorang Ani yang dengan wajah biasa dan bertubuh gemuk. Berbeda jauh dengan Siti yang cantik dan gaul. Pernah aku bertanya kepada Hadi, mengapa dia lebih memilih aku yang gemuk dan tidak malu jalan denganku?

“Kamu orangnya tulus, asyik diajak ngobrol apa saja, supel. Aku tidak melihat fisik kamu, An. Tapi hati kamu.” Hadi menatapku.

Sejujurnya hatiku melambung tinggi, tapi aku sadar persahabatanku di ujung tanduk. Beberapa hari ini, Siti uring-uringan terus. Aku tahu semua ini tentang Hadi yang terlihat lebih memperhatikanku.

“Bagaimana dengan Siti?” tanyaku.

“Siti baik dan cantik. Tapi hatiku telah memilihmu.”

Aku terdiam. Ah, Hadi kau datang pada saat aku mulai mengerti tak ada pacaran dalam Islam. Kau datang untuk menguji keimanan, juga persahabatanku. Tapi aku tidak menyesal dengan keputusanku.

“Terima kasih atas perhatianmu. Terima kasih telah memilihku. Aku juga sudah berjanji sama Bapak untuk tidak pacaran dan aku lebih memilih sahabatku. Maaf ya, aku tidak mau pacaran,“ kataku mantap.

Hadi berusaha tersenyum atas penolakanku.

Apa kabar hatiku?

Alhamdulillah, hatiku baik-baik saja kalaupun sakit hanya seperti digigi semut dan insyaAllah cepat sembuh. Sejak awal aku sudah berjanji sama Bapak dan berkomitmen untuk tidak pacaran sampai Allah menemukan dengan pasangan halalku kelak. InsyaAllah.

Oleh: Deasy Hana.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: