“Jaga kesehatan ya, Nduk. Jangan lupa makan sama istirahat yang cukup.”

Ah, Ibu … pesan sederhanamu di ujung percakapan kita lewat telepon berhasil mengaduk-aduk sanubari. Betapa aku tersiksa dengan keadaan ini. Memikul rindu seorang diri di negara orang. Dan rindu itu semakin terasa berat saat tubuh ini tidak begitu sehat.

Dapat kurasakan aroma khawatir dari setiap kalimat yang kauucap. Seberapa pandai kau berusaha tenang mengetahui keadaanku, gelagat resahmu tercium olehku. Bu, maafkan aku yang mencoba menyembunyikan kabar darimu.

Petang ini, biarlah kunikmati demam bercampur rindu dengan merapal doa pada Allah. Aku yakin doa-doa yang kau langitkan akan menjagaku di sini. Insyaallah aku pasti baik-baik saja.

Brrr! Angin musim dingin menampar jendela. Dinginnya menembus selimut tebal yang menutupi tubuhku. Menusuk persendian dan meninggalkan rasa nyilu. Aku mengigil. Ah, Ibu … andai kau ada di sini mungkin aku tidak akan kedinginan. Kau pasti akan segera memberiku kehangatan seperti saat-saat itu–waktu kita bersama.

“Ini diminum biar badannya anget.” ujarmu sembari meletakan segelas wedang jahe di dekat beberapa bukuku yang berserak.

Kutuang minuman itu dengan setengah hati sebab aku tidak suka minum wedang jahe. “Ini teh dikasih jahe kan, Bu?”

“Ya bukan. Wedang jahe itu ya cuma jahe digeprek, kasih gula sama air panas.” jawabmu detil. Kau menjawab sama persis seperti yang sudah-sudah.

Brrr! Angin malam menampar lagi jendela. Lagi, lagi dan terus seolah ingin menghancurkan kacanya dan menyiksaku dengan dingin yang luar biasa.

Pong o hoi luin lo, Mui (tolong nyalakan penghangat ruangan, Nduk)!” perintah Nenek dengan suara seraknya. Mau tidak mau aku harus keluar dari balik selimut untuk memenuhi perintah Nenek–ibunya Pak Bos.

Kadang aku ingin menertawakan diriku sendiri yang begitu sok. Kukira aku sudah benar-benar dewasa dan bisa jauh darimu. Kukira aku bisa memutuskan apa-apa sendiri tanpa melibatkanmu. Jauh darimu memang membuatku mandiri, sebab apa-apa kulakukan sendiri.

Nyatanya tidak begitu, Bu. Terlepas dari tugasku membantu dan menjaga seorang nenek, aku tetap membutuhkanmu dalam satu waktu. Seperti saat ini, Hongkong tengah berada di puncak musim dingin. Walaupun tidak turun salju, tetapi dinginnya luar biasa menyiksaku. Rata-rata suhunya 12 °C – 20 °C, bisa turun 10 °C. 

Aku yang sejak kecil tidak bisa terkena hawa dingin, harus berjuang seorang diri melawannya. Tanpamu aku harus tetap sehat agar mampu menyelesaikan tugas dari majikan juga tugas sekolah.

Bu, aku rindu minuman hangat yang kau racik saat musim hujan. Minuman sederhana yang kau seduh penuh cinta untuk mengusir dinginnya hawa pegunungan kota Malang. Kau tahu? Aku sering mencoba membuatnya, tapi tidak senikmat dan sehangat buatanmu. Entah salahnya di mana, padahal porsi jahe, gula dan air panasnya sama persis dengan punyamu.

Hou tung a (dingin sekali).” gerutu Nenek dari balik selimutnya. Mau tidak mau aku keluar lagi dari balik selimutku untuk mengecek Nenek.

Sebenarnya kantuk sudah menyerangku dari tadi. Tetapi mata ini sulit untuk kupejamkan. Tidurku tidak pernah senyenyak saat di dekatmu. Meskipun telah kunyalakan penghangat ruangan, dingin tetap saja membuat tubuhku nyilu. Berlapis pakaian yang kukenakan tidak bisa melawan gigil yang menyerang.

Ah, ingin rasanya aku segera pulang, Bu. Kembali memeluk dan mencari kehangatan darimu. Salahku juga, sih, karena bersikeras kembali merantau. Nyata-nyata kau sudah melarangku dan menyarankan lanjut kuliah di ibu kota saja. Aku sedikit menyesal pernah abai dengan permintaanmu, Bu. Kau tahu pasti alasannya; aku belum ingin menikah sebelum kuliahku selesai, apalagi dengan laki-laki yang Bapak pilih.

“Tapi janji, ya, setelah lulus langsung pulang.”

Spontan kupeluk erat tubuhmu saat itu. Apalagi saat kau berkata akan mencari alasan yang tepat untuk meyakinkan Bapak. Kau benar-benar peri penyelamat bagiku, Bu. Tidak hanya sekali, dua, tiga, empat kali kau membantuku. Tetapi berkali-kali dan sudah tidak terhitung.

Betapa aku beruntung memiliki peri sepertimu. Kau tidak pernah membiarkanku sendiri dalam kesulitan. Kau selalu membantuku keluar dari masalah. Kau selalu menyelamatkanku dari bahaya sekecil apapun itu. Kau pun selalu berusaha membahagiakan aku. Mungkinkah aku bisa membahagiakanmu melebihi itu, Bu?

***

Janji tetaplah janji yang harus dipenuhi, sebab janji adalah hutang. Atas saranmu, Bu, telah kuambil keputusan besar itu. meninggalkan Hongkong dan kembali ke Malang. Tidak kutambah lagi kontrak kerja yang telah habis masanya. Aku pun menolak tawaran Pak Bos untuk bekerja di perusahaan miliknya. Aku juga tidak mengikuti wisuda bersama teman-teman sebab izin tinggalku di Hongkong telah berakhir.

Insyaallah walaupun sedikit rezekinya tetap berkah. Terpenting deket keluarga. Bapak dan Ibu juga tenang. Ditelateni saja, Nduk.” ujarmu mencoba meredam kegelisahanku yang belum dapat pekerjaan dan gaji seperti yang kuinginkan. Dari dulu pitutur sederhanamu selalu ngena di hati, Bu.

“Besok ada pesanan kue basah untuk syukuran. Lusa pesanan kue kering buat souvenir nikahan. Bisa bantu Ibu, Nduk?”

“Ya harus bisa. Toh, tiap hari cuma hp-an sama leptop-an.” celetuk Bapak sedikit sinis.

Aku paham kenapa Bapak begitu. Bapak maunya aku kerja kantoran dengan gaji yang besar. Sesuai jurusan yang kuambil. Bapak juga pernah bilang ‘sekolah bayar larang rugi lek ijasahe gak kenek gawe golek duit’ (sekolah bayar mahal rugi kalau ijasahnya tidak bisa untuk cari uang).

Nduke itu hp-an sama leptop-an kerja loh, Pak. Bukan mainan.”

Duh, Bu … lagi-lagi kau membelaku. Kuakui, kalian memang sama-sama mencintai dan menyayangiku. Tetapi kau lebih mengerti aku dari pada Bapak.

Ngomong-ngomong soal pembelaaan, aku ingat waktu kecil kau berdiri di depanku, melindungiku dari pecutan Bapak. Saat itu Bapak sedang marah besar gara-gara aku melukai kepala anak tetangga sampai dengan arit (sabit). Sungguh, andai saat itu tidak ada dirimu, mungkin tubuhku sudah memar.

Bu, aku juga ingat, sangat ingat. Beberapa tahun lalu, saat aku cuti kerja kau juga melindungiku dari amukan Bapak. Kau bilang pada Bapak aku pergi sudah izin padamu. Padahal itu tidak benar. Aku kabur karena enggan dikenalkan dengan anak teman Bapak. Di belakang Bapak, kau memarahiku habis-habisan–sampai menangis.

Nduk-nduk, ojo gawe ibu jantungan (Nak-nak, jangan bikin ibu jantungan). Kan bisa ngomong baik-baik kalau memang nggak mau.” katamu sedikit emosi.

“Apa Bapak mau dengerin, ngertiin aku, Bu? Wes nggak mungkin.” ujarku datar dengan sedikit penyesalan.

“Kan Ibu bisa bantu ngomong. Kalau seperti kemarin, Ibu bisa apa? kamu pergi ke mana sama siapa juga Ibu nggak tahu. Terus kalau ada apa-apa sama kamu, Ibu harus bilang apa ke Bapakmu?!” suaramu kian tinggi. Kau juga menangis.

“Ya doanya yang baik toh, Bu. Jangan sampai aku kenapa-napa.”

Air matamu kian deras. “Kurang apa Ibu sama kamu, Nduk? Ibu sering berbohong pada Bapak demi kamu. Membela dan menutupi kesalahanmu, juga adikmu. Mbok yo tolong jangan bikin Ibu khawatir seperti kemarin. Bisa-bisa Ibumu ini mati sebelum waktunya ….”

Nduk minta maaf, Bu.” lirihku, “kemarin Nduk diantar teman. Nduk janji nggak akan gitu lagi.” jelasku seraya memelukmu. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyesali perbuatanku.

“Ibu juga minta maaf sudah marah-marah. Asal kamu tahu, marahnya Ibu itu karena sayang. Khawatir karena anak perempuan ibu pergi diam-diam. Apalagi selama ini nggak pernah kabur-kaburan kayak gitu.”

Setiap kali aku ingat marahmu waktu itu, hatiku sakit, Bu. Sungguh aku minta maaf. Aku pernah membuatmu berbohong pada Bapak. Aku pernah membuatmu menangis, marah dan khawatir. Harapanku semoga Bapak memaafkanmu.

“Gimana, Nduk? Bisa bantu nggak? Kalau nggak bisa Ibu tak telepon adik saja.”

Pertanyaanmu membuyarkanku dari lamunan. Bagiku itu adalah kenangan sedih.

Insyaallah bisa, Bu. Belum ada panggilan tes dan interview. Bikin apa saja?”

“Bolu gulung, pastel basah, bolu pisang, bikang, agar-agar susu … “

Mendengarmu merinci kue pesanan membuatku rindu masa kecil. Aku rindu memainkan adonan yang akan kau cetak. Rindu mainan tepung bersama adik. Memakan pinggiran roti yang baru saja matang. Aku juga rindu marahmu. Kau menghukumku dengan menyuruhku duduk di pojokan, membersihkan loyang dan cetakan kue yang lengket.

Tetapi hukuman itu tidak berlangsung lama. Kau memanggilku untuk mendekat dan memintaku untuk memerhatikan caramu mencetak kue. Sambil mencetak kau bercerita banyak bagaimana kau bisa membuat bermacam bolu dan kue kering.

Kau akan menertawakan hasil cetakanku yang berantakan. Kau akan kembali memberi contoh sambil melantunkan harapan. Ya, sebuah harapan yang belum bisa sepenuhnya kuwujudkan.

Aku ingat jelas bagaimana harapan itu. Kalian–kau dan Bapak berharap salah satu dari kami, aku atau adik bisa mewarisi dan meneruskan usaha kecil keluarga kita. Tetapi aku belum sepenuhnya bisa mewujudkan itu. Aku hanya bisa membantumu menerima dan menyelesaikan pesanan saja.

***

 “Yang benar kalau belajar itu. Perhatikan Ibu kalau nyetak. Jadi nggak asal-asalan. Nggak sukur mbantu.” Komentar Bapak.

“Sudah, toh, Pak. Itu sudah bagus kok cetakannya Si Nduk. Nanti kelihatan kalau sudah mateng.”

Lagi dan lagi kau membelaku, Bu. Entah sampai kapan kau memberi pembelaan pada anakmu ini? Aku selalu merasa dirimu tidak pernah terima kalau Bapak mengomentariku.

“Punya Si Nduk itu sudah bagus. Wes toh (sudahlah).” katamu lagi membuat Bapak melengos, meninggalkan dapur, menyisahkan kita berdua untuk beberapa saat. Ya, hanya sebentar dan Bapak kembali lagi ke dapur.

“Gosong! Kuenya gosong. Anake ke mana, Bu? Kalau ditinggal mbok ya suruh nunggu itu oven.” Teriak Bapak.

“Si Nduk di kamar mandi. Aku lupa kalau yang di oven waktunya ngangkat, Pak. Jadi tak tinggal ngambil daun pandan.” jelasmu dengan suara tenang.

Tuh, kan, lagi-lagi kau membelaku, Bu. Jelas-jelas ini kesalahanku. Padahal dirimu sudah mewanti-wanti kalau dua menit lagi kuenya diangkat. Aku benar-benar payah. Sebesar ini masih saja banyak salah. Ya, mungkin memang begitulah caramu mencintaiku, Bu.

Aku ingat kau pernah berkata, ‘Begitulah Ibu, Nduk. Akan selalu berusaha melindungi anaknya. Ibu nggak terima aja kalau anaknya dimarahi gara-gara hal sepeleh. Sekalipun bapaknya sendiri yang marahin’.

Mungkin, apa yang kulakukan tidak akan pernah sebanding untuk membalas cintamu. Sebagai perempuan aku ingin sepertimu. Sesabar dirimu, dan kelak menjadi pelindung bagi anak-anakku.

Aku tahu tulisan ini tidak akan terbaca olehmu, Bu. Tidak apa, aku hanya ingin dunia tahu, kau adalah ‘malaikat tak bersayap’ itu. Terimakasih untuk cinta dan kasihmu. Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu, Bu.

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: