“Winda, jangan lupa cuci bajumu. Jangan biarkan numpuk di kamar. HPnya simpen dulu.”

“Win, makan dulu! Jangan main HP terus.”

“Win, makan, ya makan aja. Jangan sambil main HP!”

“PR kamu udah selesai? Kamu udah sholat? Kok, main HP terus!”

“WINDA! HP KAMU IBU SITA!”

***

Aku membanting pintu kamar keras-keras. Ibu masih marah di luar, mengeluhkan semua sikapku yang menurutnya keterlaluan. Keterlaluan apanya, sih? Ibu itu yang keterlaluan. Semua diributin!

Lagipula, aku main ponsel bukan sekadar main ponsel saja seperti yang dikira Ibu. Aku, tuh, ngerjain PR bareng sama temen. Kami diskusinya lewat grup chat. Ya, meskipun sekali-kali menggosipkan masalah bintang basket sekolah yang jadian sama bintang cheerleader sekolah, tapi tetap aja enggak sekadar main ponsel.

Kami banyak berdiskusi soal teori-teori Einstein buat tugas fisika atau senyawa-senyawa untuk ujian kimia minggu depan. Kadang-kadang, malah PRnya dititipkan ke ketua kelas dan ketua kelasnya ngasih tahu via ponsel. Jadi, mana mungkin aku enggak main ponsel di rumah?

Ibu yang enggak ngertiin posisiku!

***

Besoknya, setelah semalaman menolak keluar kamar, aku pergi sekolah tanpa sarapan dan hanya pamit seadanya pada Ibu. Ibu masih bermuka masam saat bertemu denganku di dapur. Wajahku juga tidak kalah masamnya, masih merasa kesal soal ponsel.

“Ini ponselmu, buat pesan ojek online nanti. Pulang sekolah, kasihkan lagi ke Ibu,” kata Ibu dengan nada kaku. Aku menjawabnya dengan gumaman sambil meraih ponsel itu dari tangannya. Setelah selesai pakai sepatu, aku langsung keluar rumah.

“Enggak sarapan dulu kamu, Win?”

“Enggak,” kataku singkat sambil mencoba buka pagar.

“Kenapa? Nanti perutmu sakit, kena mag! Berobat ke dokter sekarang mahal!”

“Aku enggak mau sarapan!” kataku keras, lalu keluar rumah. Menuju jalan besar untuk menunggu tukang ojek. Mau pesan ojek online di jalan besar aja. Rasanya malas berada di rumah lebih lama bersama Ibu. Nanti dicerewetin lagi! Kan, akunya yang kesal kalau begitu!

“Nakal banget kamu jadi anak, Win!”

Kudengar gerutuan Ibu di belakangku. Hatiku panas mendadak, tapi kudiamkan saja. Apanya yang nakal, sih? Ibu enggak tahu aja gimana kelakuan temenku yang lain. Ada yang pulangnya sampai jam 10 malam gara-gara main. Aku masih mending, enggak pernah main keluar. Cuma sekali-sekali saja. Itu juga sudah dibilang nakal.

Aku melanjutkan langkah meninggalkan Ibu di belakang yang masih teriak-teriak menyuruhku sarapan. Bodo amat!

***

“Kenapa mukamu, pagi-pagi udah asem banget! Lemon yang dijual di Alfapril kalah asem, tuh!” kata Nina, teman sebangkuku, begitu aku tiba di sebelahnya. Aku mencebik, tapi tidak mengatakan apapun. Kubuka tas dan mengeluarkan buku pelajaran pertama.

“Kenapa, toh, Win? Kok, diam aja?” tanya Nina lagi. Mukanya kelihatan khawatir benar samaku. Aku menghela napas, bersiap cerita.

“Aku tuh, lagi kesel sama—”

“Win, semalem, kok, chat kami enggak dibalas?”

Tahu-tahu saja Indri, sahabatku yang lain, mendatangi mejaku untuk menanyakan keabsenanku dari grup chat kemarin. Memotong percakapanku dengan Nina. Aku merengut semakin asam saat mengingat ponsel yang disita Ibu semalam.

“Ih, apa, sih, Ndri. Datang-datang main tanya saja. Pertanyaanku aja belum dijawab Winda,” kata Nina pada Indri. Indri cengengesan sambil membentuk tangan menjadi huruf V pada Nina. Lalu mereka berdua kembali memusatkan perhatiannya padaku.

“Ponselku disita Ibu,” jawabku ketus. Indri dan Nina melebarkan matanya terkejut. “Aku, tuh, lagi kesel sama Ibu. Cerewet banget! Sedikit-sedikit ngomel. Sedikit-sedikit marahin aku. Enggak boleh begini, harus begini. Kesel.”

“Loh, kenapa, kok, ponselmu bisa disita?” tanya Indri penasaran.

“Karena balasin chat kalian, waktu kita diskusi soal pegas semalem. Ibu bilang kerjaanku main ponsel terus sampai lupa kerjain PR. Padahal, kan, aku ngerjain bareng kalian.”

“Pantes mukamu asem begitu,” komentar Nina dengan muka paham. “Terus, tadi pagi pasti berantem lagi, kan? Makanya hawa angkermu itu masih lanjut?” tanya Nina lagi.

Aku mengiyakan kalimat Nina. “Iya. Aku dipaksa sarapan. Padahal, kan, aku enggak mau sarapan! Kenapa, sih, emak-emak selalu nyebelin?”

Indri mengangguk setuju padaku. “Bener, tuh. Mamaku juga begitu. Sering banget ngomelin aku. Kayak enggak pernah muda aja.”

Nina merengut mendengar perkataanku dan Indri. “Kalian, kok, jahat banget sama orangtua sendiri. Mama lagi. Harusnya kalian bersyukur punya Mama. Nanti kalau udah enggak ada lagi kayak Mamaku, baru tahu rasa.”

“Apa, sih, Nina ngomongnya. Kami ini bersyukur punya Mama, tapi kalau cerewetnya enggak kira-kira begitu ya, sebel juga kali!” kataku sewot. Nina meringis.

“Ya udahlah. Maklumi aja, nanti dosa, loh,” kata Nina. “Tugas kimia nomor empat aku enggak ngerti, ajari boleh?”

***

Pulang sekolah, Ibu sudah menungguku di depan pintu. Tangannya langsung menengadah kepadaku yang baru selesai melepas sepatu.

“Hpnya, sini. Habis ini makan, lalu sholat.”

Aku merogoh saku kemeja dan menyerahkan ponsel pada Ibu sambil merengut. Ibu menyimpan ponselku ke saku dasternya. Aku melewatinya begitu saja, tanpa mencium tangannya seperti biasa. Kudengar helaan napas Ibu yang berat di belakang.

Aku masuk kamar untuk ganti baju. Tapi tidak keluar lagi. Malas makan. Tidak berapa lama, Ibu mengetuk pintu kamarku keras-keras.

“Winda, makan dulu, terus sholat. Habis itu baru tidur! Jangan tidur dulu.”

“Aku enggak tidur,” sahutku dari dalam kamar. Malas membuka pintu. Ibu mengetuk lagi.

“Kalau gitu makan sana. Buruan, nanti waktu dzuhur keburu habis!”

Aku diam saja. Aku lagi mogok makan.

“WINDA! Keluar makan!”

“Ibu apa, sih?!” aku berteriak sambil membuka pintu kamar. “Aku enggak mau makan!”

“Kenapa kamu enggak mau makan? Tadi pagi kamu juga enggak mau sarapan! Makin hari kamu itu makin nakal! Males-malesan aja kerjaannya. Kesel Ibu liat kamu!”

“Aku juga kesel liat Ibu! Cerewet banget! Apa-apa dilarang, sekarang HP aku kena sita! Salahku apa, sih, Bu?”

“WINDA! Berani kamu ngelawan Ibu sekarang?” teriak Ibuku dengan keras, mukanya memerah. “Kalau HP kamu enggak Ibu sita, kamu akan main HP terus! Lupa ngerjain segalanya! Anak dinasihati, kok, bandel banget.”

“Aku enggak main HP terus! Ibu aja yang sensi samaku! Aku, tuh ngerjain tugas bareng temen di HP!” aku balas teriak pada Ibu lalu langsung menutup pintu kamar.

Ibu masih teriak-teriak di luar. Aku diam saja sambil menangis di kamar. Ibu itu enggak pengertian banget! Marahin aku terus! Padahal, Ibu yang enggak ngertiin aku. Tapi, malah aku yang dibilang bandel! Aku sebel sama Ibu!

***

Entah berapa lama aku menangis, tapi yang jelas, aku menangis sampai ketiduran. Aku bangun dari tidur waktu mendengar ada ribut-ribut di luar. Berisik sekali. Seperti ada orang berkumpul di ruang tamu. Pintu kamarku juga diketuk berulang kali. Aku menguap sekali, lalu membuka pintu dengan malas-malasan.

“Apa lagi, sih, Bu?” tanyaku sebal. Tapi yang ada di depan pintu rupanya bukan Ibu. Tapi Bik Ratna, istri ketua RT. “Eh, Bik Ratna. Ada apa, Bik?”

Muka Bik Ratna basah oleh air mata dan memelukku sambil tersedu-sedu. Aku balas memeluk Bik Ratna dengan keheranan.

“Winda, kamu yang sabar, ya, Nduk. Kuat-kuat, ya.”

Aku semakin keheranan mendengar perkataan Bik Ratna. Kuat-kuat kenapa? Bik Ratna melepas pelukan, lalu meraba-raba wajahku, dan kembali memelukku erat-erat.

“Sabar, ya, Winda. Kuat, ya, Nduk.”

“Bi, ada apa, sih? Winda harus sabar kenapa?”

Bik Ratna semakin tersedu. “Ibu kamu meninggal, Nduk. Ketabrak mobil waktu ke warung tadi.”

HAH?

Aku melepas pelukan Bik Ratna dengan cepat. Jantungku berdegub kencang disertasi rasa takut yang mulai naik ke ubun-ubun. “Bibik jangan bercanda, dong,” kataku dengan suara bergetar. “Tadi aku pulang sekolah Ibu masih ada, kok.”

“Iya, tadi,” kata Bik Ratna. “Sekarang sudah enggak ada lagi. Winda yang sabar ya, Nduk.”

Tiba-tiba Bapak menerobos pelukan Bik Ratna dan memelukku kuat-kuat. Bapak menangis juga sambil mengelus punggungku. “Kita kuat, ya Winda. Ikhlas, ya Winda.”

***

Jenazah Ibu diselimuti kain batik cokelat. Bagian wajahnya pakai kain putih tipis. Ada rasa tidak percaya dalam diriku, tapi ini kenyataannya. Ibu sudah enggak ada. Padahal aku belum baikan sama Ibu. Ya Allah, kenapa Kau panggil Ibuku secepat ini?

Aku menerobos kerumunan orang-orang dan menyingkap kain penutup muka Ibu. Ibu kelihatan cantik, tapi pucat pasi. Kulitnya dingin dan keras. Kaku. Matanya tidak terbuka lagi dan napasnya sudah tidak ada. Aku memanggil-manggil nama Ibu.

“Ibu …, Ibu …, bangun.” Biasanya, Ibu akan bangun kalau aku panggil begitu. Tapi kali ini Ibu enggak bangun. Dia tetap terpejam. Tangisku pun tumpah. Kupeluk tubuh kaku Ibu dan menangis sampai aku sesenggukan. Rasanya enggak percaya. Padahal aku tadi baru berantem sama Ibu dan belum minta maaf. Ibu meninggal padahal dia belum memaafkan aku. Padahal aku belum bahagiain dia dan masih jadi anak nakal.

“Ibu. Jangan tinggalin Winda, Bu. Winda minta maaf.”

***

Badanku diguncang-guncang dengan keras. Aku membuka mata dengan masih tersedu-sedu. Di sebelahku, Ibu membangunkan sambil menatap khawatir padaku.

“Kamu kenapa, Win? Tidur, kok, sambil nangis?”

Aku menatap tak percaya. Aku mendengar suara Ibu lagi. Ibu masih hidup. Berarti tadi itu? Langsung kupeluk Ibu sambil menangis.

“Ibu, maafin Winda tadi bentak Ibu. Maafin Winda, ya, Bu. Winda bandel, main HP terus. Tapi Winda main Hpnya buat belajar, kok, Bu. Beneran. Huhuhu, maafin Winda, ya, Bu.”

Ibu tersenyum balas memelukku. “Iya, Ibu maafin. Ibu tahu kamu belajar di HP, kok. Barusan Nina telepon ke HP kamu dan Ibu angkat. Dia mau tanya rumus apa gitu ke kamu.”

“Ibu maafin Winda?”

“Ibu maafin,” kata Ibu lembut. “Kamu kenapa tidur sambil nangis begitu?”

Aku mengurai pelukan dari Ibu dan menghapus air mata. Aku tersenyum, merasa lega dan bahagia sekaligus. “Enggak apa-apa, Bu. Mungkin karena belum sholat jadi mimpi buruk.”

Ibu menyentil dahiku pelan. “Makanya Ibu bilangin juga apa! Sana makan terus sholat. Jangan bantah lagi, ya.”

Aku tersenyum lebar dan bangkit dari tempat tidur. “Siap grak, Ibu!”

***

“Winda, jangan lupa nanti habis sholat, kamu kerjakan PR dulu baru tidur,” kata Ibu sambil mengintip ke kamarku. Aku sedang mengetik makalah biologi yang akan dikumpulkan lusa. Ibu mengangguk melihatku masih mengerjakan PR. Kemudian, dia melihat sekeliling, memindai kamarku dan mengernyit.

“Ini kamarmu juga dibersihkan. Nanti ada hantunya!”

Aku tertawa kecil mendengar kata-kata Ibu. Hantu apaan, sih? Memangnya, hantu lahir dari kamar yang berantakan, gitu? Pikiran emak-emak memang sulit ditebak, kadang. Heran, deh.

“Jangan cekikikan, buruan itu kerjain,” kata Ibuku lagi. Aku berhenti tertawa dan menghadiahkan Ibu senyum lebar. Lalu melipir ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sambil lewat, aku memeluk tubuh kurus Ibu yang harum keringat.

Aku tersenyum makin lebar. Tubuh kurus ini sudah bekerja keras untuk merawatku sampai harum keringatnya tercium di hidungku. Sampai wajahnya menua karena lupa dirawat sebab dia sibuk merawatku. Dadaku terasa hangat mengingat semua itu.

Masih beruntung, aku punya Ibu yang masih hidup dan perhatian lahir bathin padaku.

***

Oleh: Dina Pertiwi.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: