lebih memilih karier ketimbang menikah

Maafkan Aku, Kupilih Karier daripada Kamu

Juni Menyayat Hati

Oleh: Aku yang Selalu Rindu Kepadamu

 

Juni …

Kau menyapaku selembut salju

Namun kau hempaskanku tiada tentu

Kau datang dengan senyum mengembang

Namun kau akhiri dengan sayatan pedang

Juni …

Aku bimbang karenamu

Aku ragu olehmu

Namun kuakhiri keduanya

Semoga ini terbaik bagiku

Meski harus ku lukaimu

***

Pagi itu, Kepala Sekolah tiba-tiba mendatangi meja kerjaku. Aku yang pagi itu sedang tidak ada jam memang hanya duduk di meja kerjaku. Beberapa tagihan tulisan sedang aku kerjakan. Mulai dari tulisan-tulisan fiksi beberapa majalah hingga naskah buku yang sudah semakin mendekati deadline. Sebuah aktivitas baru yang menurutku sangat mengasyikkan. Selain dapat berbagi, aku pun bisa memperoleh penghasilan tambahan.

“Pak sedang sibuk ya?” tanya Kepala Sekolah memecah lamunanku.

“Oh Ibu, ini sedang mengerjakan beberapa tagihan tulisan dan naskah buku Bu. Ada yang bisa saya bantu?”

Kucoba membalas sapaan Kepala Sekolah dengan menawarkan diri jika memang ada pekerjaan yang bisa aku bantu untuk diselesaikan.

“Oh tidak kok! Kalau sedang tidak sibuk kebetulan Pak. Saya mau menyampaikan sesuatu. Tetapi mohon maaf, jangan tersinggung apalagi marah. Saya mohon maaf sebelumnya ya.”

“Silakan Bu. Saya tidak akan tersinggung atau marah Bu. Ada apa ya Bu, sepertinya kok serius sekali?”

Sambil menyodorkan sebuah amplop, Kepala Sekolah tidak menjawab pertanyaanku. Beliau hanya tersenyum. Aku penasaran apa maksud senyum itu. Senyum yang bermakna bahagia atau senyum kemenangan alias ejekan bagiku.

“Dibuka ya Pak!” jawabnya singkat.

Aku sangat terkejut, bahagia.

Awal Juni sebuah berkah besar aku terima. Melalui Kepala Sekolahku, aku mendapat berita bahwa pengajuan beasiswa kami (aku dan Kepala Sekolah) dikabulkan oleh Pengurus Daerah organisasi yang menjadi induk sekolahku.

Sungguh berkah yang luar biasa. Sesuatu yang tidak akan mudah didapatkan oleh siapa pun, termasuk aku sendiri. Kuota yang tersedia hanya 20, pendaftar mencapai hampir 1000an. Cita-cita untuk menjadi magister pendidikan sudah ada di depan mataku. Berita baik ini aku kabarkan kepada Ibuku dan juga orang yang ku sayangi.

Alhamdulillah Bu, aku lolos mendapatkan beasiswa. Doakan semoga studi S2 ku ini menjadi jalan yang baik untukku.”

“Selamat ya anakku. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukkmu Nak!”

Seorang gadis yang selama ini singgah di hatiku pun ikut berbahagia dengan keberhasilanku meraih beasiswa ini. Gadis itu adalah perempuan yang aku harapkan akan menjadi pendamping hidupku.

Belum sampai pertengahan bulan Juni, berkah lain datang tiada dapat kukira. Sebuah surat panggilan ke kantor yayasan aku dapatkan tanpa aku tahu apa maksud dan tujuannya. Di hari yang telah ditentukan aku hadir ke kantor. Entah harus bahagia ataukah berduka.

Sebuah kenyataan aku dapatkan. Aku diangkat menjadi Kepala Sekolah menggantikan Kepala Sekolahku yang harus bertugas ke sekolah lain. Dengan proses yang sangat kilat atau mungkin aku yang tidak mengetahui bahwa kepala sekolahku telah dimutasi akhirnya aku mendapat amanah baru sebagai kepala sekolah di sekolahku sendiri. Sebuah tanggung jawab baru yang jelas tidaklah mudah bagiku. Namun, harus aku terima dan aku laksanakan amanah ini.

Oh iya, sebelum pengumuman beasiswa aku dapatkan, sebenarnya aku telah melanjutkan studi S1 yang sesuai dengan bidang ketugasanku. Pendidikan. Aku memang sarjana, tetapi bukan sarjana pendidikan. Sulitnya mendapat pekerjaan akhirnya memaksaku untuk mengabdikan diri di lembaga perguruan.

Sekolah Dasar adalah tempatku mengabdi. Sudah satu tahun aku menjalani kuliah tinggal satu tahun lagi. Maka sembari menyelesaikan tugas akhir kabar baik menghampiriku. Beasiswa S2. Belum selesai aku menikmati kebahagiaan tersebut, amanah baru sebagai Kepala Sekolah aku terima. Aku sangat bersyukur menerima seluruh nikmat ini.

Sampai suatu malam sebuah pesan Whatsapp masuk ke gawaiku.

“Mas, selamat ya atas amanah baru sebagai kepala sekolah. Semoga bisa membawa sekolah ke prestasi yang lebih baik. Namun, jujur aku takut Mas.”

“Dilla. Dialah gadis yang selama kurang lebih dua tahun ini menyita hati dan perasaanku. Nyaman sudah aku dapatkan. Dengannya aku merasakan kesepian telah pergi. Ketika bersamanya, semangat untuk terus berkarya sangat besar dalam diriku. Entah energi apa yang ia bawa untukku. Bahkan capaian beasiswa tidak dapat aku mungkiri salah satunya adalah karena motivasi Dilla.

“Takut apa Dil? Ini semua aku dapatkan juga karena motivasimu. Doronganmu. Kamu ingatkan bagaimana dulu aku ragu-ragu untuk melanjutkan S1 pendidikan dan mengusulkan beasiswa. Kini aku sudah mendapatkan keduanya. Ingatkan kamu dulu yang memotivasiku?”

“Aku takut kamu terlalu sibuk dengan tugas-tugasmu sekarang, lalu kita tidak bisa dekat lagi.”

“Tenang, aku tidak akan seperti itu. Kamu harus ingat impian kita membangun rumah tangga kan. Ibuku sudah sangat ingin menimang cucu. Aku sebagai anak sulungnya sangat ingin juga mewujudkan impian ibuku itu.”

Pesan terakhir ini tidak lagi dibalasnya. Hingga seminggu, setiap aku berkirim pesan kepadanya, tidak pernah ada tanggapan sama sekali. Hanya dibaca tanpa pernah dibalas sekalipun. Aku menjadi bingung, cemas, sekaligus penasaran ada apa dengannya. Aku sudah berusaha menemuinya, namun bagaimana bisa, pesan saja tidak pernah direspon. Aku berusaha mencarinya di kantor, namun sial, tidak pernah juga aku dapat menemuinya.

Pada saat aku putus asa dan tidak berdaya, entah mengapa tiba-tiba Dilla datang ke rumah. Tepat saat aku pulang kuliah S2 dan sedang berbincang serius dengan Ibu. Ya, berbincang tentang masa depanku sebagai seorang laki-laki. Tidak kusangka, Dilla masih mau menemuiku. Yang membuatku sangat terkejut kali ini kedatangannya dengan membawa perasaan sedih.

“Bapak dan Ibuku ingin menanyakan keseriusan hubungan kita Mas. Aku tidak mau digantung seperti ini. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku ingin kita segera mengakhiri saja hubungan kita kalau kamu terus seperti ini. Atau kita segera melangsungkan pernikahan agar aku tidak dikejar-kejar perasaan bersalah kepada Bapak Ibuku. Pliss Mas, mengertilah keadaanku.” Panjang lebar Dilla merengek di hadapanku.

Aku menjadi bingung. Lama tidak berkomunikasi tiba-tiba dia datang dengan sejuta tangisnya. Aku masih menyayanginya. Terlebih jika aku ingat dia lah salah satu yang memotivasiku hingga aku sampai pada titik ini.

Namun, menikah tidak bisa dilakukan dengan sebuah keterpaksaan. Aku belum siap. Kuliahku dua jurusan belum selesai. Belum lagi ditambah dengan tugasku sebagai Kepala Sekolah. Aku tidak boleh gegabah memutuskan suatu hal yang teramat penting. Teramat penting bagiku, juga teramat penting bagi Dilla. Jujur aku sangat berharap dia adalah pendamping hidupku. Teman yang akan membersamaiku untuk menghabiskan waktu. Namun, aku tidak yakin mampu menjalani seluruh hidupku yang masih harus berjuang keras ini. Aku bimbang.

Ibu adalah perantara Allah untukku berkeluh kesah. Tidak hanya ketika ada masalah seperti ini. Saat bahagia pun aku selalu membaginya dengan ibu. Beliaulah pemecah kebuntuan di saat-saat genting. Kali ini ketika aku tidak mampu mengambil keputusan aku menyerahkan kepada ibu bagaimana baiknya. Setelah melalui diskusi panjang dengan mempertimbangkan banyak hal, maka kutemui Dilla. Perasaannku sangat tidak menentu kala itu. Namun, aku harus yakin dengan keputusan yang ku ambil dengan pertimbangan ibuku.

“Dilla, aku harap kamu mengerti keadaan ini. Aku yakin kamu memahami segala kesibukanku saat ini. Aku juga yakin, bahwa kamu masih percaya sepenuh hati bahwa aku masih mencintaimu, menyayangimu. Aku sudah berdiskusi dengan Ibu. Aku harus memutuskan bahwa kita belum bisa menikah. Aku harap kamu mengerti. Tunggulah aku hingga kuliahku selesai dua-duanya. Dua tahun bukan waktu yang lama tentunya. Aku harap kamu mau bersabar dan mengerti keadaanku.”

“Terima kasih atas keputusanmu, Mas. Bapak sudah memberikan pula pilihan kepadaku. Menikah denganmu atau aku harus menikah dengan pilihan orang tuaku. Bapak dan Ibuku tidak mau aku terlalu lama dalam hubungan yang belum ada kejelasan ini. Aku berat sebenarnya jika harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Namun, aku bisa apa, ketika orang yang selama ini aku perjuangkan, tidak bisa memberi kepastian.”

“Maafkan aku, Dilla.”

Malam itu terasa menyakitkan, tak hanya baginya. Bagiku juga. Ditemani gerimis pada musim kemarau, dingin menusuk sampai ke ulu hati. Di tengah kegundahan hati, aku sempatkan menulis puisi berjudul: Juni Menyayat Hati.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan