kado yang cocok untuk ayah pas hari ayah sedunia

Maafkan Aku, Pak, Terlambat Mencintaimu dengan Tulus

Baru kali itu Bapak berpesan lirih, di atas ranjang kamar No. 11 RS Bethesda, Yogyakarta. Kata-katanya begitu lembut dan rapuh menyentuh kalbu, “Nduk, kowe seringo nginguk aku yo.” (Nak, kamu sering-sering nengok aku ya.) Matanya sembab, seakan air mata masih mengantung di kulit keriputnya. Air mataku luruh di hati. Tak sanggup aku menangis di depannya yang kesakitan lagi menyimpan dalamnya kehangatan.

Ini kali pertamanya Bapak berpesan untuk lebih diperhatikan, lebih disayangi, lebih dijaga anak-anaknya. Biasanya ia hanya akan berpesan, “Jangan lupa sholat, jaga kesehatan.” saat kami berpamitan kembali ke tanah rantau masing-masing. Jangan-jangan sebenarnya selama ini Bapak juga ingin bilang, “Nak, jangan pergi jauh-jauh dari Bapak.” Tapi ia menahan kuat-kuat inginnya, demi menyaksikan bahagia kami.

Hari itu,  pesan Bapak seakan mengalir ke seluruh tubuhku, seperti aliran darah ke seluruh organ yang membuatnya hidup. Dengan lirih kujawab pintanya, “Njih Pak, insyaallah.” (Iya Pak, insyaallah.) dan menepuk pundaknya yang sedikit membungkuk.

Aku tak mengerti mengapa Bapak tiba-tiba memintaku sering pulang. Di antara kakak-kakak yang merantau, kurasa akulah yang paling sering menjenguk orang tua. Pun Bapak tahu, aku sering keluar kota karena tugas, Sabtu Ahad juga tak selalu merah di hari kerjaku. Ada event, meeting mendadak atau mungkin bencana yang membuat pekerjaan di lembaga kemanusiaan tak punya hari libur.

Entah. Aku tak begitu tahu dalamnya perasaan Bapak. Sejujurnya, aku tak begitu dekat dengan sosok yang usianya sudah di atas 65 tahun ini. Tak banyak memori yang bisa kubangkitkan untuk mengingatkan kebersamaan bersama Bapak di masa kecil. Pun, segelintir memori bahagia yang terpanggil juga tergambar samar-samar. Tak sejelas memori yang menyisakan kesedihan.

Adegan menangis adalah yang paling sering kuingat. Pojokan kamar, sudut itu begitu nyaman untuk memproduksi air mata. Kalau suara di rumah terlalu bising, aku akan memutar kaset Linkin Park sekencang-kencangnya di kamar. Tujuanku cuma satu, menyaingi suara pertengkaran orang-orang dewasa yang tak kenal jeda. 

Banyak hal terjadi, sampai aku merancang angan kalau sebenarnya aku bukan anak Bapak. Aku adalah anak orang lain yang tertukar bayinya di RS. Konyol memang. Telenovelalah yang memberiku percikan ide itu. Sebagaimana ide kabur dari rumah lalu menginap di rumah teman dengan bahagianya tanpa ketahuan.

Untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bapak kala itu bukanlah hal yang mudah. Tak ada yang benar-benar mau menemuiku dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang terdengar hanyalah keluhan, ancaman dan amarah. Mungkin anak kecil ini dikiranya tak tahu apa-apa sampai tak berhak atas sedikit pun penjelasan. Lalu kepada siapakah lantas aku bertanya?

Waktu, jawablah pertanyaanku, mengapa dulu kau begitu serakah menyerobot hidup Bapak? Apakah malam yang digumuli kelelahan adalah sisa-sisa waktu yang kau berikan untuk seorang ayah pada anaknya? Tapi, aku hanyalah anak kecil yang sudah dihinggapi kantuk di jelang TVRI menayangkan “Dunia Dalam Berita”, jam 21.00 adalah harga mati untuk tidurku.

Ego, bisakah kau juga menjawab pertanyaanku, mengapa kau dulu merenggut kedamaian hati Bapak? Apakah kehadiranku sebagai anak, sebagai permata hatinya membuatmu iri dan ingin merubahnya? Aku cuma seorang anak kecil yang ingin melihat Bapak juga bahagia dengan hidupnya dan aku turut merasakannya

Apa mungkin aku harus bertanya pada hikmah, apakah ini semua yang kau inginkan? Setelah lelah mengejar kenapa dan mencari sebab yang tak kunjung memuaskan, mendekatimu mungkin adalah cara terbaik menikmati pil pahit ini.

Ingatanku pun mengudara pada tulisan yang pernah kubuat di buku diary. Kala itu, aku melihat di televisi kacaunya perang di Irak akibat kejadian 9/11. Tangisan anak-anak kecil yang sekujur badannya dilumuri darah menuntunku menulis sebuah pesan, kamu bukan anak paling menderita di dunia ini

Alhamdulillah, bersyukur Allah menuntunku untuk sedikit meminjam pemikiran orang dewasa kala itu. Benar juga, aku harusnya bersyukur, meski tak banyak masa kecil terlewati dengan indah bersama Bapak, tapi aku masih bisa bersamanya hingga sekarang.

Bapakku adalah seorang dokter. Bapak adalah orang yang selalu marah kalau aku telat sholat, mengajariku dzikir tasbih, tahmid, takbir 33x wajib setelah sholat, hingga jadi kebiasaanku sampai sekarang. Bapak juga yang menasihatiku untuk tidak sombong saat mendengarku pamer sesuatu ke teman yang mampir ke rumah.

Aku juga adalah saksi, betapa sering Bapak bekerja tanpa dibayar uang. Kadang pisang, kadang mie goreng atau bahkan ada yang tidak membayar sama sekali, sudah biasa Bapak terima sebagai pasiennya. Kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang. Di jatuhnya hari wage (nama hari dalam sistem pasaran Jawa) di desaku, pasti ada “langganan” yang datang ke rumah untuk meminta sumbangan. Bapak sudah hafal dan tak pernah membuatnya pulang bertangan hampa.

Jangan tanya kalau aku sakit. Bapak adalah orang yang paling ketat merawatku. Bapak dokternya, ia juga yang jadi perawat galak kalau aku tidak menurut. Dulu, kalau aku sakit tifus, Bapak akan menggendongku keluar kamar, ke kamar mandi atau ke ruang keluarga untuk nonton TV. Itulah kenapa sampai sekarang aku tidak pernah merasakan ruang inap di RS, walau sedang terkulai karena tifus, demam berdarah atau asma.

“Kowe manuto Bapak to. Bapak ki judeg nek kowe loro.” (Kamu nurut Bapak ya. Bapak itu khawatir kalau kamu sakit). Kira-kira kalimat itu yang selalu Bapak ucapkan kalau tahu aku telat minum obat atau nekat mandi air dingin di saat sakit.

Saat beranjak dewasa, barulah aku mulai mengerti situasinya. Akhirnya aku paham, siapa pun bisa melakukan kesalahan. Saat Bapak mengukir kesalahannya di masaku bertumbuh dan membuatnya sering mengabaikanku, itu bukan tanda bahwa aku tak berharga di matanya. Bukan karena aku tak pantas dicintai. Itu adalah dua hal yang berbeda. Seorang dewasa dengan ujian hidupnya dan pemikiran anak kecil yang belum tahu apa-apa.

Bisa jadi, Bapak memintaku sering pulang juga karena merasa banyaknya waktu kami yang terenggut dulunya. Itulah kenapa aku merasa kalimat permintaannya kala itu begitu dalam.

Ajaibnya, kini aku sudah resign dari pekerjaanku di tanah rantau. Mungkinkah ini imbas permohonan Bapak yang menembus langit? Padahal, setelah Bapak keluar RS, ia tak pernah mengungkit permintaan itu lagi di depanku.

Sumpah, saat Bapak bilang ingin aku lebih sering pulang, tak pernah terbayang sedikit pun aku akan resign lima bulan setelahnya. Tak pernah ada rencana untuk mengakhiri pekerjaan yang kucintai dan kembali ke kampung halaman. Namun, gelombang takdir mengantarku untuk kembali menjalani hari bersama Bapak.

Seakan dipaksa mengulang memori masa kecil, tak lama dari aku resign, badanku tumbang. Lagi-lagi penyakit lama menyapa, Si Tifus.

“Cobo melet Nduk…Iki tipes iki.” (Coba julurkan lidah Nak…Ini tifus ini.)

“Wes, saiki istirahat total, ra oleh adus, mlaku-mlaku, trus maeme bubur.” (Udah, sekarang kamu istirahat total, nggak boleh mandi, jalan-jalan, terus makannya bubur.)

Selama delapan hari di rumah, Bapaklah yang menyediakan makan tiga kali sehari dan membawakannya ke kamarku. Tiap pagi, segelas teh hangat juga Bapak buatkan untukku. Siang-siang adalah saatnya Bapak menawarkan cemilan seperti roti tawar atau roti kering ala makanan orang sakit.

“Iki mau obatmu wes tak kekne durung to?” (Ini tadi obatmu sudah aku berikan belum?)

Sejak Bapak sakit pembekuan darah di otak yang membuatnya dirawat di RS, ia jadi kesulitan mengingat. Melihat Bapak kebingungan mencari obat yang dia kira sudah aku terima, rasanya hatiku terenyuh meluruh. Dia bahkan nggak membiarkanku membantunya.

“Wes kowe rasah mlaku-mlaku.” (Udah kamu nggak usah jalan-jalan.)

Bapak sudah mulai bisa berjalan pelan, namun dalam redup penglihatan dan ingatan yang tak lagi jernih masih merawatku, seakan aku tak pernah tumbuh dewasa. Harusnya aku yang merawatnya seperti itu. Mengambilkannya makanan, membuatkan teh dan membelikan cemilan kesukaan.

Oh, Bapak. Sekarang aku mampu menatap wajahnya tanpa tanya-tanya yang menghujam. Tanpa beban emosi apalagi kekecewaan, karena aku sudah merelakan semuanya. Kini, ini yang ingin aku sampaikan, maafkan aku, Pak, terlambat mencintaimu dengan tulus.

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan