Maafkan Aku Udah Jalan Sama Dia

Sudah hampir sepuluh menit aku di sini. Menunggu kehadiran Andira—sahabatku, yang akhir-akhir ini aku enggak ngerti dengan pola pikirnya. Seorang sahabat yang sudah kuanggap saudara kandungku sendiri, tega memberikan pernyataan yang begitu menyakitkan.

Waktu itu aku yang sebagai sekretaris OSIS, memang sedang sangat direpotkan dengan proposal untuk acara class meeting. Dan karena itu juga mau enggak mau, aku harus sering-sering menemui bahkan bersama dengan ketua OSIS.

“Gimana, Nisa, sudah selesai?” tanya Putra menghampiriku.

Aku mengangkat wajah, “Tinggal nge-print sih. Tapi tintanya habis. Ini mau berangkat beli di luar dulu, tadi sudah cek di koperasi sedang kosong.”

“Sama siapa?” tanyanya ketika kumulai berkemas merapikan beberapa berkas di meja.

“Sendiri bisa kok,” jawabku lalu berdiri.

“Aku ikut.”

“Enggak usah, Putra. Aku sendiri saja,” ujarku. Aku memang menghindari hal ini terjadi. Enggak mau ada hati yang tersakiti.

“Enggak, aku harus ikut. Karena ini acara kita dan aku sebagai ketua nanti yang bakal tanggung jawab kalau kamu ada apa-apa.”

Mendengar alasannya, aku pun enggak bisa mengelak lagi. Dengan sedikit terpaksa kami pun pergi bareng. Dulu, aku memang sempat memiliki rasa dengan cowok yang satu ini. Bagaimana enggak? Dia itu pintar, baik, pokoknya cowok idola banget deh di sekolahan.

***

‘Sekarang zamannya temen makan temen ya?’

Begitu status WA milik Andira. Seketika itu juga aku menanyakan maksud dari kalimat tersebut, ‘Kenapa sayang?’

‘Udah deh. Gak usah sok polos!’

‘Lah, aku benar-benar gak paham maksudnya statusmu.’

‘Asyik kencannya? Gak nyangka aku Nis sama kamu.’

‘Ya Tuhan. Aku sama Putra cuma beli tinta, Andira.’ Aku mengetik pesan tersebut dengan hati teriris. Pasalnya aku enggak ada maksud apa-apa sama cowok itu.

‘Tapi gak harus makan bareng segala, kan? Mana pakek gak bilang-bilang lagi.’

‘Astaghfirullah! Terserah kamu deh Andira. Aku juga gak nyangka kamu begitu. Itu makan karena sakit maag Putra kambuh, karena belum sarapan.’

‘Ya.’

Mendadak oksigen seakan menipis. Daripada semakin terjerat oleh emosi yang enggak terkontrol, aku memutuskan untuk berhenti berbalas pesan dengannya. Segitu buruknya aku di mata sahabatku sendiri.

***

Sejak kejadian itu. Andira pun menjauh dari hidupku, kami berada di kelas yang sama tapi seperti ada dinding yang menjulang tinggi, memisahkan kami. Aku sudah enggak mengenal Andira lagi, atau mungkin sebaliknya, entahlah.

“Kamu tahu enggak, aku suka banget sama Putra. Aah, andaikan aku bisa jadi pacarnya,” ucap Andira ketika melihat cowok bertubuh tinggi itu melewati di depan kelas. Mengetahui hal tersebut. Aku hanya tersenyum. Perlahan aku pun mengubur perasaanku sendiri. Aku enggak mau hanya karena cinta persahabatan ini hancur.

Tapi sekarang, justru kecemburuan Andira yang mewujudkan rasa takutku. Untuk sementara ini syukurnya aku disibukkan dengan acara ini, jadi cukup menyingkirkan sementara masalah aku dan Andira.

“Eh, ngelamun aja,” suara Firda si wakil sekretaris menyadarkanku.

Aku merindukan waktu-waktu bersama Andira; di mana kami ke kantin bareng, bahas drama korea, pergi ke cafe sambil baca novel. Kusandarkan punggung ke kursi, kemudian menyisir rambut ke belakang dengan jari-jari. Aku menghela napas, “Entahlah, pikiranku sedang kacau.”

Cewek itu pun menarik kursi, lalu duduk di sampingku. “Pantesan, kamu enggak biasanya loh gini. Cerita aja kalau mau, ya seenggaknya akan membuatmu lega.”

Aku mengenal Firda sudah cukup lama. Benar, enggak ada salahnya untuk berbagi masalah ini padanya. Aku pun mulai bercerita. Di luar anak-anak sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sesekali satu-dua pasang mata melihat ke dalam ruang OSIS, sembari lewat membawa makanan dari kantin.

“Oalah, salah paham ternyata.” Firda berkomentar setelah mendengarkan curhatanku.

“Iya, karena itu, aku sama Putra jadi jaga jarak. Aku enggak nyangka dicap gitu sama sahabatku sendiri.”

“Sudahlah …. tenang. Nanti coba aku ngobrol sama Andira.” Firda langsung berdiri begitu saja.

“Lah, mau ke mana?”

“Ke kantin, lapar. Ikut?”

Aku tersenyum, menggeleng pelan. Sedang enggak mood untuk ke mana-mana. Firda pun melanjutkan langkahnya. Di ruangan ini seenggaknya aku bisa melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

Jariku terhenti ketika Putra masuk ke ruangan. Terlihat wajah cowok itu enggak seceria biasanya. Dia menuju lemari, hanya mengambil tali, kemudian keluar tanpa sepatah kata untukku. Aku memaklumi, apalagi kalau bukan perihal hubungannya dengan Andira yang sedang enggak baik.

***

Aku meminum jus mangga yang tinggal setengah gelas. Mata ini melihat Andira sudah sampai di mana dia memintaku untuk bertemu. Cewek bertubuh tinggi itu menuju ke arahku, karena keadaan cafe yang memang sedang sepi, membuat aku mudah ditemukan.

“Hai,” sapanya dingin begitu sampai di depan meja.

Aku tersenyum, mempersilakan dia duduk. Kami hening beberapa saat, sampai seorang waitress datang menghampiri. “Jus mangga aja, Mbak,” ucapnya.

“Nis,” Kali ini dia menatapku, “maaf,” tambahnya dengan nada bergetar. Terlihat di pelupuk matanya penuh dengan buliran air mata, yang dengan satu kedipan saja pasti menitik ke pipi.

Aku menyambut air matanya dengan senyuman lalu mengangguk. Dia lalu berdiri dari tempat dudukmya, kemudian memelukku. “Aku bener-bener minta maaf, Nis. Aku bego,” ujarnya sambil terisak, “Firda telah menceritakan semuanya.”

“Iya, Andira, aku juga minta maaf ya.” Aku melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajahnya, “Udah aah, malu, kamu jelek tahu kalau nangis.”

Dia tertawa sesaat sambil melap pipinya yang basah, “Kamu memang sahabatku yang paling baik. Seharusnya aku enggak segitu cemburu buta, bahkan sampai membabi buta,” ujarnya lalu duduk kembali.

“Haha, sudahlah. Aku senang kamu mengerti sekarang,” ucapku bahagia, “Terus, hubunganmu sama Putra?” tanyaku. Dia justru diam. Aku menggigit bibir bawahku, Duh, sepertinya aku salah tanya?

“Kami selesai. Enggak apa-apa,” ujarnya ketikaku hendak bertanya kenapa, “Aku sudah enggak mungkin melanjutkan hubunganku sama dia. Ini bukan karena masalah ini kok. Sebelumnya memang kami sering ribut, aku enggak cocok saja dengannya. Setelah aku pikir-pikir juga, buat apa menghabiskan waktu mengurusi cinta yang enggak pasti. Ini sudah pilihan hati. Pilihan untuk nyaman dalam menjalani masa mudaku.”

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.

Oleh: Nurwa R.

Tinggalkan Balasan