Masuk sana! Awas kalau pulang, Papa hajar kamu!

Gendheng (gila) masih pagi sudah teriak-teriak. Aku sedikit berlari menuju teras, mendekat pagar untuk bisa melihat siapa laki-laki nggak waras itu. Kemarin-kemarin sih aku masih cuek, tapi pagi ini rasa kepoku nggak kecegah.

Ya Allah … aku mengelus dada. Nelangsa melihat seorang gadis kecil menangis ketakutan di luar pagar sekolah. Gemes pada sosok besar tinggi yang tengah berkacak pinggang di hadapan anak itu. Tampak sekali dia sedang marah besar. Berulang kali telunjuknya mengarah ke kepala si anak disertai kata-kata kasar. Ternyata perempuan kecil itu anak yang setiap pulang sekolah menunggu jemputan ojek online. Kasihan.

Tiba-tiba aku ingat seorang laki-laki berambut ikal, wajahnya bulat dan berkulit hitam. Laki-laki yang tidak pernah membiarkanku menangis dan ketakutan. Laki-laki yang penuh kasih sayang mengajariku apa itu tanggungjawab. Beliau adalah laki-laki terbaik yang kupanggil bapak.

Kenangan masa kecil hadir silih berganti. Betapa aku merindui saat-saat itu. Akan kah semua kembali terulang, Pak? Ah, sekalipun terulang mungkin nggak akan seindah dulu ya, Pak? Aku kan sudah nggak selucu dan seimut dulu. Hehehe.

Pak … aku benar-benar bersyukur menjadi anak Bapak. Bersama Ibu, jenengan membesarkan dan membimbing aku dan adik dengan penuh kelembutan. Meskipun Bapak hanya seorang petani yang nggak lulus SD, tapi jenengan selalu berusaha membahagiakan dan memberikan yang terbaik bagi kami.

Aku bersyukur masa kecilku nggak pernah terlantar. Jenengan selalu menomer satukan kami. Pagi sebelum ke kebun karet jenengan selalu mengantar kami ke sekolah. Begitu juga waktu pulang, selalu menjemput kami tepat waktu. Aku dan adik senang bukan main meski jenengan jemputnya pakai tomblok (keranjang bambu) bukan sepeda motor yang asap knalpotnya wangi.

Naik tomblok yang jenengan pikul adalah salah satu kebahagiaanku. Kebahagiaan yang nggak akan bisa terulang. Sekalipun bisa aku nggak mau naik, Pak. Berat badanku akan menyiksa jenengan. Sedang tenaga jenengan sudah nggak sekuat dulu sewaktu aku dan adik masih kecil. Lagi pula aku malu sama calon cucu baru jenengan yang sedang kugembol ini. hehehe.

Oh, ya bagaimana rumah kita, Pak? Sudah mulai musim hujan ini. Ada yang bocor nggak? Hmm … Jenengan ingat nggak dulu waktu aku SD kalau hujan Bapak pasti mengurungku di kamar? Jenengan nggak ngasih aku izin hujan-hujanan sama teman-teman. Padahal aku suka sekali main sepeda waktu hujan. Berenang di got depan rumah sampai simpang empat.

Aku ingat betul saat itu, waktu aku ngamuk dan berantakin seisi kamar. Aku ngambek gara-gara jenengan ngurung aku dan ngelepasin rantai sepeda. Sedangkan adik diizinkan keluar. Kalau sudah begitu bagiku jenengan adalah bapak yang jahat.  

Ah, nggak jahat juga sih, Pak wong nggak lama kemudian jenengan nuntun aku keluar. Jenengan ngasih izin aku main sama teman-teman tapi pakai payung. Sebenarnya aku tahu kenapa jenengan ngelarang aku main hujan. Tubuhku nggak sekebal adik. Aku pasti langsung demam (malaria) dan sesak napas setelahnya.

Hmm … namanya juga sayang ya, Pak? Jenengan nggak akan tega lihat aku sedih menyaksikan teman-teman berenang di selokan sambil berhaha-hihi. Terimakasih sudah membiarkanku bahagia meski setelahnya jenengan dan Ibu kerepotan gara-gara penyakitku kambuh.

Oh, ya, Pak maafkan aku yang selalu menyusahkan jenengan kalau sedang sakit. Aku selalu bikin jenengan dan Ibu cemas. Aku nggak akan pernah lupa perjuangan kalian merebut nyawaku. Setiap sakitku kambuh jenengan kalang-kabut membawaku berobat. Seperti waktu itu, saat aku kecapekan latihan menari dan akhirnya drop. Jenengan lari sana-sini mencari obat padahal semua tetangga dan saudara bilang aku nggak akan bisa sembuh.

Aku yang nggak tahu apa-apa cuma bisa manut waktu jenengan gendong ke mana-mana. Apapun obat yang jenengan kasih aku minum. Aku juga ingat jelas hadiah yang jenengan janjikan kalau aku sembuh. Diminum ya, Nduk. Nanti kalau sembuh bapak ajak keliling Pasar Minggu beli boneka gundul sama rok mekrok. Bapak belikan juga pesawat sama tembakan seperti punya Dian biar kamu bisa ikut perang-perangan lagi.

Duh, Pak aku benar-benar pernah membuat jenengan susah dan sedih. Maafkan aku ya, Pak. Aku janji akan menjaga kesehatan agar penyakit kecil itu nggak kambuh lagi. Aku pingin berkesempatan menemani dan merawat jenengan dan Ibu.

Ngomong-ngomong, nih, Pak. Bulan depan ada tetangga yang nanggap jaranan (kuda lumping). Bapak mau nonton nggak? Biar dijemput Mas ya? Eh, tapi nggak usah ya, Pak. Aku takut jenengan ndadi (kerasukan) lagi. Seperti dulu waktu aku kelas tiga SD. Hiks. Kejadian itu menyakitkan bagiku.

Bapak ingat nggak? Waktu itu kita sekeluarga nonton jaranan di RT.05. Seperti biasa aku dan adik jajannya cuma minta bakso sama fanta merah. Pas lagi enak-enaknya makan bakso Dian dan teman-teman datang ngejek aku ‘anaknya kuda lumping’. Mereka julur-julur lidah sambil tepuk tangan. Aku nangis sejadi-jadi karena nggak melihat jenengan.

Pak Min kerasukan! Pak Min njadi! Teriak teman-teman sambil terus tepuk tangan. Aku melihat jenengan sudah kalungan selendang pink dan naikin kuda bambu spontan lari ke tengah lapangan. Bakso yang tadi kuhadap tumpah terkena tangan Ibu yang berusaha mencegahku mendekati jenengan.

Ah, Bapak … sedih sekali saat tubuhku ditangkap dan didekap Pakde. Katanya jenengan bukan Bapakku tapi setan. Aku nggak percaya lah wong rambutnya, bajunya, mukanya itu jenengan kok. Aku menangis dan terus meronta, memanggil ‘Bapakku’ selama raga jenengan disinggahi setan jaran wedok.

Jenengan tahu, Pak keesokan harinya saat di sekolah dan di tempat ngaji? Aku nggak punya teman. Semua anak menjauhiku. Alasanya mereka takut kalau jenengan kumat dan nggigit mereka. Mereka mengolok-olokku begini ‘Titi anaknya kuda lumping, anaknya setan yang pakai selendang pink’.

Di kelas aku duduk sendirian. Waktu istirahat diem di perpustakaan sendirian. Pas ngaji juga aku di kasih duduk di barisan paling belakang. Padahal belakang adalah tempat yang paling kubenci baik di kelas maupun di tempat ngaji. Mungkin di TK adik juga gitu. Gak punya teman.

Bapak ingat nggak alasanku melarang jenengan datang acara perpisahan kelas enam waktu itu? Padahal jauh-jauh hari aku mewajibkan jenengan dan Ibu hadir sebab aku manggung. Jujur, Pak aku takut campur malu. Aku malu kalau jenengan ndadi lagi soalnya acara hiburannya kuda lumping.

Jenengan mengabulkan permintaanku untuk tidak datang. Padahal nggak ada satu acara sekolah pun yang terlewatkan tanpa kehadiran kalian. Ah, Bapak maafkan aku pernah minta jenengan nggak hadir saat aku pentas. Biasanya jenengan dan Ibu selalu duduk di depan memberiku semangat. Maafkan kau pernah malu memiliki dan mengakuimu, Pak.

Terlepas dari itu banyak sekali kenangan masa kecil yang kerap kurindukan. Duduk di pundak sambil memegang rambut ikal jenengan salah satunya. Aku ingat betul terakhir jenengan panggul saat aku kelas satu SMP. Waktu itu kita pulang dari rumah Pakde yang sedang sakit sekalian berpamitan.

Sepanjang jalan jenengan cerita banyak hal. Tentang masa kecil, bertemu dan menikahi Ibu. Perjuangan kalian berdua untuk bertahan hidup di tanah kelahiran orang sampai harapan-harapan jenengan padaku. Selain berharap aku betah tinggal bersama nenek di jawa, jenengan juga minta aku untuk semangat belajar dan menjaga prestasi.

Jangan sering nonton tv apalagi sampai ketiduran di depannya. Kalau ketiduran si Mbah nggak bisa gendong kamu ke kamar. Begitulah pesan jenengan yang kutanggapi dengan tawa terbahak. Aku juga rindu saat-saat itu loh, Pak. Aku selalu rindu jenengan gendong.

Sayangnya sekarang ada rasa malu untuk melakukan itu. Malu sama ponakan juga uban di kepalaku. Padahal dulu aku sering pura-pura tidur di depan tv supaya di gendong ke kamar. Aku pernah kembali ke ruang tengah dengan manyun ya, Pak? Gara-gara sinetron ‘Bidadari’ belum selesai tapi jenengan sudah bopong aku ke kasur. Padahal jenengan tahu aku cuma pura-pura tidur. Hehehe. Kadang kalau ingat saat itu aku senyam-senyum sendiri seperti orang nggak waras.

Pak … Bapak, maafkan aku yang masih kerap bermanja jika pulang. Sungguh aku nggak bisa menahan diri untuk nggak ndusel di antara jenengan dan Ibu. Meletakkan kepalaku di paha jenengan saat bersantai di depan tv juga hal yang selalu kurindu. Apalagi kalau jenengan ngelus-elus kepalaku. Duh, berasa aku ini tetap gadis kecil yang umbelan itu.

Ya, meski sebenarnya bagi jenengan aku dan adik tetaplah gadis kecil yang manja. Seperti kata jenengan sebelum kami menikah dulu. Nduk, biarpun kalian nanti sudah menikah dan menjadi seorang ibu,kalian tetap anak Bapak. Di mata Bapak kalian tetap gadis-gadis kecil yang nggak becus bersihin umbel. Kalau nanti kalian dibawa suaminya pergi dari rumah Bapak, Bapak dan Ibu bisa apa selain berdoa dan merindukan kalian.

Aku benar-benar bersyukur menjadi anak jenengan. Sejak kecil aku nggak pernah merasa kesepian. Nggak pernah merasa kurang kasih sayang dan perhatian. Nggak sedikit pun merasa terkekang. Dari jenengan juga aku belajar bertanggung jawab. Berkat jenengan aku jadi pemberani. Saking beraninya merantau ke luar negeri bondo nekat tok-til (berbekal nekat saja).

Ngomong-ngomong soal keberanian aku jadi ingat jenengan melabrak Kasiadi–kakak kelasku mengaji. Waktu itu hujan deras, aku pulang dalam keadaan basah kuyup dan berderai air mata. Aku nangis menahan sakit karena jidatku benjol sebesar telur angsa. Gara-gara apa? Dipentung dengan pompa sama Kasiadi gara-gara aku nggak mau kasih payungku ke dia. Huaaa. Kasihannya aku.

Jenengan bawa aku ke rumah Kaisadi menemui orangtuanya. Sepanjang jalan jenengan nasihati aku untuk berani melawan kalau nggak salah. Jenengan nggak mau aku pulang sekolah, ngaji atau main dalam keadaan nangis lagi. Jadi perempuan itu nggak boleh takut. Harus berani. Kalau nggak salah ya balas saja.

Sayangnya, kalimat itu nggak tercerna dengan baik. Suatu hari aku melukai seorang teman yang menggangguku. Hanya gara-gara Belimbing aku melukai kepala anak tetangga dengan sabit sampai darahnya muncrat. Orangtuanya nggak terima dan marah-marah. Hampir se-rt nyalahin jenengan karena kenakalanku. Bapak pasti ingat, kan? Kejadian itu membuat jenengan marah besar dan menghajarku habis-habisan.

Pak, maafkan aku yang pernah salah mengartikan keberanian. Maaf juga dulu aku pernah malu mengakui jenengan sebagai bapak. Terlepas dari aku pernah marah, ngambek sampai pernah kabur waktu dijodohin. Sejujurnya aku sayang sekali sama jenengan. Tanpa dukungan dan doa jenengan dan Ibu, aku nggak akan bisa menjadi seperti sekarang.

Terimakasih sudah berusaha menjadi Bapak terbaik bagi aku dan adik. Doakan kami bisa menjadi anak yang berbakti dan shalihah. Semoga Allah mengizinkan kami untuk membahagiakan, menemani, meringankan beban dan merawat kalian. Insyaallah bersama laki-laki yang jenengan pilih, aku akan terus berusaha jadi yang tebaik untuk kalian, Bapak-Ibu tercinta.

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: