Main Game Boleh, Tapi Jangan Sampai Kecanduan

Saat merasa jenuh atau sedang santai, kita pasti berpikiran untuk main game. Baik itu di komputer atau di smartphone. Main game memang menjadi kesenagan tersendiri bagi kita yang bermain. Apalagi game yang kita mainkan itu seru.

Bagi orang yang keasyikan main game, kadang sampe lupa atau malas makan, malas keluar rumah, parahnya jika sampai malas belajar dan ibadah. Kamu tahu nggak, kenapa itu bisa terjadi? Satu-satunya jawaban yang tepat adalah karena kecanduan. Ya, kalau sudah kecanduan main game, orang tersebut akan terus ingin bermain seakan tanpa ingin berhenti.

Ngomongin kecanduan main game, bolehlah kita sebut orang itu sebagai ‘pecandu’. Ets … tapi buka pecandu narkoba ya. Awas, jangan coba-coba dengan narkoba. Oke, kembali ke kacanduan main game. Biasanya, orang bisa kecanduan main game disebabkan beberapa hal. Ini lho, penyebab kita bisa kecanduan game:

Merasa kurang puas bermain

Kalau sudah seru dan asyik bermain, apalagi menang sekali dua kali, pasti merasa kurang puas bermain. Pasalnya, ingin menang terus berkali-kali. Ya, namanya juga berlomba-lomba meraih koin atau skor dalam game itu. Namanya juga manusia, memang memiliki naluri ketidakpuasan akan apa yang dimiliki atau yang dilakukan.

Main satu kali, ingin dua kali. Main dua kali, ingin main tiga kali. Kemarin main dari pagi sapai siang, besoknya dari pagi sampai sore. Besonya lagi ingin main sampai malam. Ah … masa sih nggak ada bosan-bosannya? Apa sih untungnya main game lama-lama?

Memangnya, dapat gaji? Hehe … Sudahlah, main sih boleh, tapi jangan sampai gunakan waktu berharga kamu hanya untuk main game aja. Gunakan juga untuk bantu orangtua, belajar, baca buku, silaturahmi, dan kegiatan positif lainnya.   

Penasaran dengan game baru

Nah, kalau ngomongin game, tentu banyak. Merasa puas main game satunya, pindah ke game satunya. Atau, bosan main game satunya pindah ke game lainnya. Kebanyakan orang, kalau ada game baru pasti penasaran dan ingin bermain. Apalagi saat ada waktu luang.

Ya, namanya juga manusia. Memang punya naluri rasa penasaran dalam dirinya. Mungkin kamu termasuk. Eh, tapi hati-hati ya, jangan sampai terus-terusan penasaran sama game baru saja. Mending penasaran sama ilmu pengetahuan yang belum kamu ketahui saja dan jangan lupa belajar nggih. Itu lebih bermanfaat. Hehe …

Mengira game sebagai obat antibosan, stres bahkan depresi

Bagi orang yang terbiasa atau sering main game, kadang merasa main game adalah satu-satunya obat bosan, stres bahkan depresi. Hmmm. Itu persepsi yang salah. Masih banyak kok obat anti bosan, stres bahkan depresi. Berwisata bisa, silaturahmi bisa, atau ngajak teman jalan-jalan. Mungkin, main game bisa menghilangkan bosan akan sesuatu itu sesaat. Tapi ingat, main game juga bisa membuatmu hanya buang-buang waktu saja.

Orang tua terlalu membiarkan

Anak kalau dibiarkan asyik bermain game baik sebentar maupun lama, jangan heran jika akan kecanduan. Ketika kecanduan, jangan heran pula kalau si anak akan mengabaikan waktu belajarnya, diminta bantuin ini itu tidak mau, bahkan disuruh makan pun kadang malas.

Nah, buat Anda pada orang tua. Jangan sampai membiarkan anak Anda terlalu dalam main game. Kalau memang mau dizinkan main, berilah ia waktu. Misal, 20 sampai 30 menit saja di sela-sela waktu setiap harinya. Jika dalam waktu yang sudah ditentukan masih tidak berhenti, berilah peringatan. Kalau perlu, berilah hukuman ringan.

Misal HP disita beberapa waktu. Kalau perlu, hapus game yang ada di HP anak. Ketika melakukan itu dianggap tega, tidak jadi masalah. Itu demi kebaikannya. Terkadang, kita memang harus tega memberikan hukuman yang wajar pada anak jika melakukan hal yang negatif.

Buat kamu para penyuka game, aturlah waktumu. Kapan harus bermain game, kapan harus belajar, kapan harus tidur, kapan harus membantu orang tua, dan kapan harus melakukan kegiatan lain yang semestinya kamu lakukan. Dengan begitu, kamu akan terbiasa hidup dengan disiplin.

Kurang perhatian

Di mana-mana, orang butuh perhatian. Utamanya kasih sayang. Konteks ini bisa diperhatikan betul oleh orang tua. Anak yang merasa kurang kasih sayang, ada sebagian yang menjadikan game sebagai pelarian. Sebagai orangtua, seharusnya memberikan perhatian yang cukup buat anak. Tidak perlu pada hal-hal besar. Contohnya saja pada hal-hal kecil. Misal ketika mau makan di rumah, temani atau ajak makan mereka.

Bentuk perhatian yang lain bisa ketika anak datang dari sekolah. Sambutlah ia dengan senyum. Tanyakan, bagaiman dengan sekolahnya, punya masalah apa tidak dengan belajarnya.

Misal tidak bisa menyambut mereka karena anda belum pulang bekerja, masih ada cara lain memberikan perhatian sederhana buat mereka. Apa itu? Sebelum tidur, sapalah dia dengan memberikan ucapan, “Selamat tidur sayang, jangan lupa berdoa.” Dengan begitu, insyaallah anak akan merasa sangat diperhatikan oleh Anda sebagai orangtuanya.

Sekali lagi, hati-hati main game. Jangan sampai kecanduan. Kalau boleh berkata, kecanduan game ternyata termasuk dari slah satu gangguan mental seseorang. Makanya, sebelum terlanjur, aturlah waktu kamu. Kalau boleh memberikan pilihan antara main game dan tidak, lebih baik tidak bermain. Mending gunakan waktu luang kamu buat hal-hal bermafaat saja.

Oleh: Gafur Abdullah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan