Mamak, aku kangen.

Samo, Mas. Mamak jugo kangen. Mas, apo kabar?

Alhamdulillah, sehat, Mak. Maafin Arman ya, Mak.

Bola mataku terasa memanas, pandangan memburam. Kulap bulir mata yang berhasil membasahi pipi dengan lenganku. Setelah beberapa bulan merantau, aku baru menyadari kalau masakan terenak adalah masakan Mamak, meski itu sekadar telur ceplok. Tempat terhangat adalah pelukannya. Sandaran ternyaman adalah pangkuannya. Memoriku mencuat, pada masa aku masih di rumah, sebelum berada di sini, di tanah perantauan.

***

Aku Arman, seorang kakak dari kedua Adiknya, dan anak pertama yang sangat dekat dengan sang Mamak. Saking dekatnya, sudah berseragam putih abu-abu saja sesekali minta disuapi, atau makan sepiring berdua, dan tanpa malu mencium Mamak di depan teman-teman. Ya, aku enggak pernah malu dengan hal itu.

Suatu sore, aku berkali-kali menyengir lebar di depan cermin, merasa terganggu dengan adanya gigi gingsul. Entah kenapa, aku merasa semakin enggak percaya diri karenanya. Terdengar suara deru motor yang sudah enggak asing di telinga, memasuki teras rumah. Bapak dan Mamak pulang.

Aku langsung ke luar kamar, menghampiri mereka untuk membantu membawakan tas anyaman ke dalam. Begitu Mamak sudah di dalam, aku langsung bertanya, “Mak, gigiku yang ini …,” aku menaikkan bibir atas bagian kiri, menunjukkan gigi yang menyembul di antara barisan gigi lainnya, “kucabut, ya?”

“Halah! Dak usah aneh-aneh, lagian dak sakit, kan?” ucap Mamak setelah melihatku.

Iya, sih, enggak sakit, batinku. Lalu aku memilih untuk melangkah keluar rumah. Semalaman itu juga, dorongan untuk mencabut gigi gingsul ini begitu besar. Sampai keesokan harinya, di sekolah. Aku nekat minta izin pada guru untuk pulang cepat, mau periksa gigi alasanku saat itu.

Sekitar jam sembilan pagi, aku menuju Puskesmas dengan naik ojek yang biasa mangkal di depan sekolah. Entah, kekuatan apa yang mendorongku begitu ingin untuk mencabut gigi tersebut.

“Kamu yakin, Nak, ini mau dicabut?” ucap dokter gigi yang kutemui.

“Iyo, Bu.”

“Coba naik sini,” perintah dokter sambil membuka kursi pemeriksaan gigi.

Aku pun naik ke kursi itu, lalu diarahkannya lampu led bundar di atas wajahku, dokter menyuruhku membuka mulut.

“Ini gigi sehat, lho. Masih kuat malah akarnya,” ucap dokter terdengar menyayangkan kalau aku mencabut gigi itu.

“Cabut aja, Dok,” pintaku.

Dokter lalu menyemprotkan suatu cairan, bius mungkin, di area gigi yang dimaksud, kemudian mengambil alat seperti tang berukuran kecil. Dengan meyakinkan diri, dokter muda itu mulai menggoyang-goyangkan gigiku. Terlihat susah, karena terasa kepalaku juga sesekali terangkat karenanya.

Dokter menghentikan gerakan tangan. “Tahan, ya,” ucapnya lagi, terus disusul dengan aktivitas pencabutan, terlihat dengan jelas bagaimana bahu si dokter sekuat tenaga menarik gigi gingsulku.

Setelah kurang lebih sepuluh menit dokter bersusah payah, akhirnya gigi yang enggak kusukai terlepas. Ada perasaan lega yang kurasakan. Aku enggak kembali lagi ke sekolah, memilih pulang, dan bermain playstation.

Di rumah ada Makwo (Nenek dari Bapak), dia bingung melihatku pulang cepat. Ya, aku ceritakan saja sebenarnya. Makwo hanya geleng-geleng mendengar alasanku. Enggak ada satu jam aku bermain playstation, dari dalam bibirku tiba-tiba terasa basah dan asin. Aku ke luar sebentar untuk meludah, dan yang keluar adalah darah.

“Makwo!”

“Allahu, Arman, koe ngopo e?” Makwo yang panik langsung masuk lagi, dan keluar membawa segelas air mineral. “Nih, dikumur.”

“Yo, dak tahu, Wo. Ujug-ujug (tiba-tiba) berdarah cakitu (begitu).” Aku berkumur dengan air yang diberikan oleh Makwo.

Sejenak mereda, aku masuk ke dalam melanjutkan permainan yang sempat terjeda. Enggak lama kemudian, terasa asin memenuhi rongga mulutku lagi. Aku hanya menyumpalnya dengan tisu, ternyata itu enggak menghentikan laju darah yang keluar.

Ah, nanti juga kering sendiri, pikirku. Aku lihat jam, sudah saatnya menjemput Ama. Selama perjalanan bawaannya ingin terus-terusan meludah, dan tetap darah segar yang keluar.

Sampai di TK, Ama yang melihat bibirku yang sedikit mengeluarkan darah pun langsung bertanya, “Itu, Mamas, kenapa?” tunjuknya sambil menangis kencang.

Dem (sudah), ayo naik. Dilihatin orang-orang, tuh.” Aku menggendong tubuh mungil itu untuk duduk di jok depan. “Mas, dak papo, kok.”

Sampai sore tiba, ternyata darah enggak juga berhenti. Ama sedari tadi ada di sampingku, merasa kasihan padaku. Beberapa saat setelah menjemputnya, kepalaku terasa pusing, itu yang memaksaku untuk rebahan di ruang tengah.

Mamak dan Bapak pulang, Bapak langsung membunyikan klakson berkali-kali, aku tahu maksudnya supaya aku cepat datang dan membawa tas serta beberapa dus makanan yang kadang mereka bawa.

Apa daya, aku enggak sanggup untuk berdiri saat itu.

“Astagfirullah! Ngapo kau, Mas?” tanya Mamak begitu melihat banyak lembaran tisu berserakan di samping tempat tidurku.

“Mak, Mas Arman bibirnyo berdarah teros,” ucap Ama.

Mamak mendekat ke arahku, lalu bertanya, “Ngapo?”

Aku hanya membuka bibir bagian atas.

Rasokelah! Banyak igo rasan! (Rasain! Kebanyakan tingkah!) ucap Bapak sambil lalu.

Deg! Kembali getir kurasakan, meskipun memang begitu wataknya, tetap saja ini hati terasa sakit. Aku belum bisa sekuat karang, yang begitu kukuh meski dihantam ombak berkali-kali.

“Iss, Bapak nih, jahat nian,” komentar Ama yang langsung diusap bibirnya sama Mamak, pertanda enggak boleh berucap begitu.

“Kalau sekironyo dak nak (mau) bantu, mending diam!” ucap Mamak dengan nada tinggi tertuju ke Bapak.

Aku hanya diam. Hal seperti itu sudah sering terjadi, dan Mamaklah yang selalu berada di tengah antara aku dan Bapak.

“Kau, tuh, Mas-Mas. Ado bae (Ada aja), heran Mamak. Manusio yang paling keras kepala ya kamu ini,” ucap Mamak sembali membelai-belai rambutku, “persis Bapakmu,” lanjutnya pelan.

Bahkan, dengan tubuhnya yang lelah Mamak lebih memilih menemaniku sejenak daripada merehatkan dirinya. Terlihat wajah perempuan hebat itu, begitu teduh. Aku sebagai anak sangat sadar diri telah sering kali membuatnya bersedih, sejak aku kecil.

Saat balita paru-paru basah sudah menyapaku, hal itu mengharuskan aku dicek tiap minggu. Setelah paru-paru basah pergi, semasa SD sampai SMP aku terkena maag kronis. Saat SMA pun lebih merepotkan dalam hal luka, kecelakaan motor saja sampai tiga kali.

Pernah suatu waktu, begitu hanya aku dan Mamak yang jaga toko di pasar. Ada teman lama Mamak yang kebetulan mampir. Orang itu langsung bertanya, “Ini putramu, Mbak?”

“Iya, ini yang pertama.”

“Ya Allah, hidup ya. Dulu badannya kurus kecil, sekarang besar begini.”

“Alhamdulillah, Mbak. Hidup dengan obat itu anak, sekarang tingginya melebihi orangtuanya malah.”

Mendengar hal itu, aku benar-benar merasa bersyukur terlahir dari rahim perempuan hebat yang sampai kini kupanggil Mamak.

“Masih biso naik motor, kan?” tanya Mamak.

Aku mengangguk pelan.

“Ya, habis Mamak mandi kito ke dokter.”

***

“Ooo, ini bisa fatal, karena keadaan gigi yang dicabut masih dalam keadaan sehat.”

“Tuh! Ngeyel, sih, diomongin Mamak e,” ucap Mamak sambil menepuk pundakku.

Aku dikasih obat tidur, sama obat untuk pereda rasa nyeri. Kata dokter besok pagi bisa kering. Namun kenyataanya enggak begitu. Jam tiga dini hari, aku terbangun karena tersedak sesuatu, begitu kulepeh ternyata gumpalan darah yang sudah membeku, seperti ati ayam.

“Mak! Mamak!” rengekku karena kurasakan pusing yang amat sangat.

“Astaghfirullah! Mas, itu apo?” tunjuk Mamak pada gumpalan darah yang baru saja keluar.

“Darahku, toh, Mak.”

“Woh, enggak usah beli ati ayam lagi, nih!”

“Buset! Mak. Anaknyo sakit malah dicakituin (digutuin).”

Mamak tertawa sejenak. Lalu duduk di samping tubuhku yang terbaring lemas, tangannya memijat-mijat kepalaku. Membuat diri ini terlelap. Pagi harinya, ketika aku terbangun tetap gumpalan darah yang keluar dari mulutku.  

Entah sudah habis tisu berapa bungkus. Di tong sampah sudah dipenuhi oleh tisu berwarna merah. Orangtuaku tetap berjualan di pasar, karena dari sana keluarga kecil kami hidup. Aku pun enggak mempermasalahkannya, lagian juga ada Makwo.

Ternyata karena keadaanku, Mamak pulang lebih cepat. Kepulangan Mamak bersamaan dengan tukang jamu gendong langganan yang mampir. Aku yang di ruang tengah masih terdengar pembicaraan Mamak dengan Mbok Jamu.

“Itu kenapa putrane?”

“Cabut gingsul kemarin, Mbok, darahnyo belum berhenti-berhenti.”

“Oalaah, ngunyah terung muda wae. Terung mentah, dikunyah, insyaallah mampet.”

Mamak yang duduk di depan pintu, langsung menoleh ke arahku. “Tuh, Mas. Makanan kesukaanmu.”

Aku langsung buka kulkas, nyari terung yang masih muda. “Yang ini, Mbok?” tanyaku menunjukan terung berwarna hijau itu. Setelah mendapatkan anggukan dari Mbok Jamu, aku melaksanakan saran yang diberikannya. Aku mengunyah terung yang sudah kucuci dengan air matang.

Beberapa menit kemudian, darah dari gusiku benar-benar berhenti. “Mak, sudem dak (sudah enggak) keluar lagi darahnyo,” ucapku sambil menotol-notol tisu ke gusi, dan didapatkan tisu tanpa bercak merah.

“Alhamdulillah, itulah, sengajo Allah buat kemarin Mbok Jamu dak jualan jugo, biar kasih pelajaran ke kau dulu. Makonyo, apo yang dem Allah kasih, syukuri. Kecuali gingsul itu memang membuatmu sakit kemarin.”

***

Ah, andai Mamak ada di sini, pasti dia sudah turun tangan untuk mengurusiku. Sejak semalam, aku merasakan perut nyeri yang teramat sakit.

Maaf, ngapo?

Yo, maaf. Dari Arman kecik (kecil), sering buat Mamak susah.

Idak, Mas. Jangan ngomong cak itulah. Kamu lagi sakit, yo?                       

Idak, Mak. Dem dulu yo, Arman nak kuliah.

Aku memilih menyimpan rasa sakit ini. Jangan sampai Mamak dan yang lainnya justru khawatir dan berpikir yang lebih parah dari apa yang kurasakan. Aku kembali meremas perut bagian kanan, sambil beristigfar berkali-kali.

Aku meminta tolong teman satu indekos untuk mengantarkanku ke UGD. Setelah sampai sana, aku disuntik obat pereda nyeri dan sampai pada pengecekan urin.

Hasilnya, aku terindikasi infeksi usus buntu.

Aku kaget mendengar hal itu. Diberi penawaran oleh dokter untuk operasi, tapi aku enggak mau. Aku minta alternatif lain selain operasi, dokter pun memberikan resep plus surat pernyataan yang berisikan kurang lebih begini, dokter sudah menganjurkan untuk operasi, jika terjadi hal yang tidak diharapkan pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab.

Malam harinya, Mamak SMS.

Mas, kau dak papo, kan?

Aku heran, kenapa Mamak bisa tiba-tiba bertanya begitu.

Dak papo, Mak. Kok nanyo cak itu?

Mamak tuh dari tadi siang meraso dak enak, ado apolah, keingetnyo kau terus.

Idak papo, Mak.

Namun, obat dari dokter ternyata enggak bertahan lama. Setelah nyeri itu hilang, beberapa minggu kemudian aku merasakan hal yang sama pada jam satu malam. Ya Allah, ini kenapa? Awalnya aku mengira kena santet, serius.

Seketika aku teringat oleh Om terapis bekam di Tangerang. Aku pun mengirimkan pesan singkat padanya. Jawaban kuterima ketika selesai salat Subuh, dan sama dengan ucapan dokter saat itu, infeksi.

Aku diminta mengirimkan alamat indekos, untuk dikirimkan obat-obatan darinya. Aku mengiyakan. Keesokannya obat-obatan sampai, dan sore harinya. Mamak menelepon.

“Mas! Kau sakit ngapo dak cerito ke Mamak?”

Aku diam. Dasar cengeng memang, mendengar suaranya terdengar kecewa, mataku memanas.

“Kalau ado apo-apo samo kau cak mano?” lanjut Mamak dari seberang. Aku hanya diam, enggak sanggup untuk berbicara, tenggorokanku terasa tercekat.           

Kami saling diam cukup lama.

“Mas, jawab,” ucap Mamak lebih tenang dari tadi.

“Maafin Arman.” Cuma itu yang bisa keluar dari bibirku.

“Mas Arman, kau itu anak Mamak, jadi sampai kapan pun kau tetap anak Mamak. Dak perlulah meraso bersalah atas masa lalu jugo. Kalau ado apo-apo ceritolah, biar jelas. Kalau ujug-ujug kau ‘dak tek’ cak mano (‘enggak ada’ gimana)?”

Aku tergelitik mendengar kalimat yang terakhir itu. Aku mengelap air mata yang membasahi pipi. “Doain Arman sembuh ya, Mak. Dak papo, kok, Mamak dak usah khawatir lagi.”

Ya, itulah Mamak. Bagaimana pun keadaan kita, beliaulah orang yang pertama ada untuk kita, anak-anaknya.

***

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: