Makanya Tanya Dulu, Beneran Apa Cuma Hoax?

Kepalaku panas. Lena, teman baikku di kelas ini, seperti menjauh dariku. Tak hanya dia, Vivi dan Sinta pun sering meninggalkanku saat jam masuk kelas. Aku memang kurang peka, tapi setelah kuingat-ingat, kok aku nggak tahu sebabnya, kenapa mereka menjauh?

“Mungkin kamu nggak sengaja melakukan kesalahan, Nen.”

Mama menjawab pertanyaanku saat kutelepon pada jam istirahat. Aku menceritakan kegelisahanku kepada malaikat Tuhan yang paling kusayangi ini. Mama selalu jadi teman terbaikku, apa pun keadaannya. Beliau adalah tempat curhat paling asyik selama ini.

“Hmm. Tapi masalahnya apa? Kok tiba-tiba mereka menjauh? Katanya teman, kok gitu sih?”

Aku yang kecewa hanya bisa ngedumel. Ya memang harusnya mereka membicarakan saja padaku. Nggak usah pakai perang dingin gini. Aku mau kok menerima kritik. Kami memang baru berteman beberapa bulan yang lalu. Kami berempat bisa dekat karena nomor urut presensi yang berdekatan. Bahkan kami sering bergantian bangku. Kadang aku sama Lena dan Vivi sebangku dengan Sinta, lalu keesokan hari kami bertukar lagi. Kami seperti tak dapat dipisahkan. Tapi, apa sekarang?

“Bisa saja mereka bingung menyampaikannya. Coba minta bicara dulu, siapa tau mereka menunggu kamu mengajak bicara.”

Aku menggaruk pipiku. Sulit menerima saran yang aku saja sudah malas melakukannya. Siapa yang nggak malas, tanpa ba-bi-bu, mereka menjauhiku. Bahkan, aku yang duduk di sebelah Vivi tadi benar-benar seperti anak bawang. Mereka tak memasukkanku dalam obrolan seperti biasa.

Kantin saat jam pulang sekolah agak lengang. Para penggemar setianya sudah menyambanginya tadi saat jam istirahat. Aku yang biasanya makan siang di sini bersama ketiga temanku harus rela sendiri sekarang. Mereka bahkan ngeloyor pergi waktu selesai bel berdentang.

***

Tumben sendirian, Nen.”

Ada seseorang yang mencolek pundakku, lalu tanpa diperintah duduk di sebelahku. Cowok imut berbadan tinggi itu teman akrabku dari kelas lain. Walaupun dia sangat jahil, cowok yang terkadang nyebelin ini adalah sahabatku sejak kami masuk SD.

Selain sekolah kami yang selalu sama, rumah kami pun sangat dekat. Hanya butuh tujuh langkah. Namun, semenjak kami masuk SMA, kami agak menjaga jarak. Bukan hanya karena kelas kami beda, kami tertarget menjadi bahan gosipan. Padahal kami hanya berangkat bareng, itu pun karena aku sudah sangat telat.

“Hmm … gitu deh.”

Aku hanya menjawab sekenanya. Kembali mengaduk mangkok baksoku dan mulai menikmatinya lagi. Untung kantin sudah kosong, tinggal kami berdua saja.

“Mana yang lain? Bukankah kalian biasanya tak terpisahkan?”

Rasya nyengir. Aku manyun.

“Aku lagi bete gara-gara itu. Masa aku nggak tau apa-apa, tiba-tiba ditinggalin gitu aja.”

“Kamu bau kali! Hahahhaaha ….”

Dasar cowok, lagi curhat malah diketawain. Kufokuskan lagi kepada bakso, biarlah hanya dia saja yang bisa menghiburku sekarang.

“Udah, nggak usah dilipet tuh bibirnya. Kamu hari ini free, kan? Temenin aku yuk beli kado buat ultah bunda.”

Bunda adalah panggilan Rasya kepada ibunya. Aku langsung menoleh dan menelan baksoku. Aku lupa, Tante Ami hari ini ultah.

Astaghfirullah aku baru ingat, Ras. Okay, aku juga mau beli kado. Kuhabiskan dulu ya baksoku.”

“Habiskan Nen. Itu mangkok sama sendoknya sekalian ya.”

“Sekalian dimakan?” aku melengos atas joke-nya yang seringnya receh.

“Emang kamu Limbad? Hahaha. Sekalian dicuci lah. Hahaha.”

Hish, emang cowok ini nggak ada matinya nggodain aku. Tapi bersama dia, aku selalu gembira. Seperti sekarang ini, aku bisa sedikit melupakan masalahku dengan teman-teman.

***

Kami–aku dan Rasya–sudah tiba di depan toko yang kami tuju. Sebuah toko serba ada yang menawarkan banyak sekali barang-barang kebutuhan. Tante Ami, bundanya Rasya, suka sekali merangkai bunga atau apa pun tentang bunga. Aku ingin memberikan vas bunga yang cantik. Entah, Rasya mau membelikannya apa nanti.

Setelah memilih, kami menuju kasir. Berderet-deret orang mengantre di kelima kasir yang ada. Aku bolak-balik memilih kasir yang antreannya pendek plus sedikit belanjaannya.

Eh, kok aku kenal gerombolan di depanku ini. Di depanku, Vivi, Lena dan Sinta lagi asyik mengobrol. Mereka tak menyadari bahwa aku berdiri di belakang mereka.

“Eh, Nena bakal suka nggak ya kejutan kita? Kayaknya tadi dia udah bete banget tuh.”

Vivi jelas-jelas memberiku bocoran. Aku terkejut, tapi masih belum memahami apa yang mereka obrolkan. Kejutan? Untuk apa?

“Pasti suka lah. Kan dia penggemar CNBLUE. Aku bisa membayangkan wajah keterkejutannya nanti.”

Kali ini Lena memberikan pendapat.

“Eh tapi, Nena nggak akan marah kan ya? Aku tadi ngeliat dia pas kita tinggal gitu, aku kok takut ya?”

Si sensitif Sinta mulai urun suara. Vivi dan Lena hanya tertawa. Mereka sepertinya sedang merencanakan sebuah kejutan yang aku tak tahu ada peristiwa penting apa di hidupku hari ini.

“Nggak bakal kok! Aku malah pengin nggelitiki kalian sampai nangis.”

Aku yang sudah tak tahan ikutan nyeletuk dari belakang. Sontak ketiga temanku kaget setengah mati.

“Neee … Nee .. Na,” Sinta mulai gagap.

“Kok kamu di sini? Eh … ada Rasya juga. Ha … hai!” Vivi kaget melihat aku dan Rasya.

 

Aku tak menjawab. Semua barang kutaruh di meja kasir dan aku membayarnya. Ketiga temanku menungguku dengan salah tingkah.

***

“Nen, kami minta maaf ya. Kami salah,” Vivi memandangku dengan mata kucing memelas.

Aku, Rasya, Vivi, Lena dan Sinta sudah duduk di salah satu meja kafe. Es krim yang kami pesan mengepulkan asap dingin. Sedingin mukaku sekarang. Aku melirik Sinta, hanya dia orang yang akan langsung mengaku apa yang terjadi sebenarnya.

“Nen, jangan gitu. Aku cuma ikut mereka aja. Kami ingin membuat surprise pas hari ultahmu.”

Aku melongo. Ultah? Si Rasya malah cekikikan. Kutolehkan kepalaku ke cowok yang malah tertawa terbahak-bahak ini.

Sorry teman-teman, aku menjahili kalian.”

Mengalirlah cerita atas semua kesalahpahaman. Ternyata mereka berhasil dijahili Rasya. Vivi tanya hari ultahku via chat, Rasya memberikan info hoax dan malah memberitahu ultahku jatuh di hari ultah bundanya.

Perutku kaku tak bisa berhenti tertawa. Mereka bertiga pun jadi ikut tertawa akan kebodohannya. Informasi kok nggak di-cross check, beginilah akibatnya. Aku hanya bisa mencubit lengan Rasya, si cowok penyebab keisengan ini.

“Ya sudah, sini mana CNBLUE-ku,” tagihku kepada mereka bertiga.

“Lah, kan belum ultahmu. Lima bulan lagi kukasih,” celetuk Vivi.

“Ye, nggak bisa. Kan nantinya itu juga buatku.”

Kami pun akur lagi. Walaupun tadinya karena berita hoax, kami sempat salah sangka. Niatnya mereka ingin mengejutkanku, tapi mereka malah yang terkejut.

“Besok-besok, jangan tanya apa pun ke Rasya. Tanya langsung ke aku. Sumber valid!”

Kami pun tertawa lagi. Benar-benar hari yang konyol. Tapi persahabatanku lebih erat berkat kekonyolan ini.

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan