Mantannya Sahabat Ngajak Nikah? Duh, Gimana Nih?

Usia remaja mengenal cinta memang bisa membawa hidup kita menuju ruang yang dipenuhi dilema. Ada-ada saja kisah yang harus dilewati, ada saja hal yang membuat hati ini galau.

Dalam situasi ini, memilih bukan saja asal main tunjuk. Di belakang setiap pilihan, ada perjalanan terjal yang mungkin akan melukai hati kita sendiri atau hati orang lain.

Memang, dunia ini dipenuhi banyak macam manusia. Perempuan dan laki-laki yang mungkin akan kita jumpai sebagai takdir. Tapi di antara mereka semua, kok bisa ya, tiba-tiba yang datang kepada kita justru orang yang dikenal baik.

Orang yang tidak kita cari, bahkan tidak sama sekali kita pikirkan. Makin membingungkan, orang tersebut adalah mantan pacar dari sahabat kita sendiri? Jahat enggak sih, menerima mantannya sahabat untuk jadi pacar?

Kamu #TimCinta atau #TimPersahabatan?

Cinta dan persahabatan. Dua hal ini sering dibandingkan, sahabat dulu baru cinta, kata sebagian orang. Yang lain, bilang bahwa keduanya harus berjalan seiring karena apalah arti memiliki cinta jika kita kehilangan sahabat? Katanya, cinta itu mudah dicari sementara sahabat sulit diganti. Apa iya?

Boleh saja berpendapat begitu, tapi akankah lebih baik jika keduanya seimbang. Dapatkan persahabatan dan cinta yang semestinya kamu dapat. Mengorbankan persahabatan untuk cinta? Itu hal konyol. Sedangkan mengorbankan cinta untuk persahabatan? Tidak selalu menunjukkan bahwa kamu bersikap bijaksana. Kenapa bisa? Iya, kalau ternyata mantan pacar sahabat memang orang yang terbaik buat kamu.

Hubungan itu Seharusnya Untuk Masa Depan

Ketika menjalani hubungan dengan seseorang, bukankah kita ingin membangun sebuah masa depan? Bisakah kita mengubah masa lalunya? Tentu, tidak!

Mantannya sahabat. Sudah mantan, sudah lalu. Kalau sudah mantan, sudah tidak ada hubungan. Ketika mantan pacar sahabat menyatakan cintanya pada kita, artinya ia sudah siap untuk membuka lembar baru, membuka jalan dengan seseorang yang kini menjadi pilihannya.

Kamu mungkin merasa menyalahi sahabatmu, tetapi coba renungkan baik-baik bahwa bisa jadi takdirmu memang dia. Ketika hubungan sahabatmu dan sang mantan sudah berakhir, artinya wajar saja jika kamu kemudian menerima cintanya. Yang salah, adalah menerima cinta dari pacar sahabat. Masih pacar, tega banget kalau kamu menerimanya!

Komunikasi adalah Jurus Jitu!

Untuk menyeimbangkan antara cinta dan persahabatan, kita tentu perlu komunikasi yang baik. Berbicara dari hati ke hati, tanpa memaksakan kehendak. Berdiskusi, mencari solusi. Ketika mantan pacar sahabat menyatakan cinta, bicarakan sejujurnya, hati ini punya rasa yang sama, tapi rasa tidak nyaman ini harus dihilangkan dulu. Jangan buru-buru melangkah, jangan segera menerima. Hubungan ini tidak akan mudah!

Carilah waktu yang tepat, datangi sahabat dan berbicara dengan hangat. Sampaikan, utarakan dengan jujur tentang kebenaran perasaan yang sempat disembunyikan. Pastikan, apakah ia telah merelakan? Jika belum, kata maaf sangat perlu diucapkan.

Tetapi, yang namanya sahabat seharusnya akan saling mengerti dan memberi solusi, kan? Semisal bersaing secara sehat, atau berjalan bersama: yang lalu berusaha melupakan sedangkan yang satu, bersabar menunggu sedikit waktu.

Ada yang Harus Kamu Hadapi

Selain menghadapi sahabat dan perasaannya yang mungkin masih tersisa, barang kali, pandangan orang lain adalah hal yang harus disadari.

Mereka—di luar sana—mungkin akan mengatakan ‘kamu jahat, merebut pacar sahabatmu sendiri’, ‘kenapa mau menerima mantan pacar sahabat sendiri’ atau kalimat lain yang menyakitkan. Tutup telinga saja, gunakan hati kita untuk meyakini pilihan kita, semua rintangan pasti akan menguatkan.

Memilih sahabat, mungkin membuat kita kehilangan cinta. Yakin, akan ada lagi sosok yang sama yang bisa menggantikannya?

Kadang, kesempatan tidak datang dua kali, kalau pun ada yang datang lagi, tidak akan pernah sama persis. Memilih cinta, membuat sahabat menjauh? Pilihan ini tidak selalu merusak persahabatan. Kalau di awal sahabat menjauh, pasti ada waktu di mana ia akan luluh dan memaafkan, menerima kenyataan bahwa sosok yang dicinta telah menjadi masa lalu.

Ia hanya butuh waktu untuk menyembuhkan rasa kecewa. Sahabat akan bahagia, ketika menemukan pengganti. Berdoalah untuk sahabatmu, untuk kebahagiaannya. Berdoa agar sahabat menemukan pengganti yang jauh lebih baik baginya dan masa depannya. Bersabar saja, ini ujian.

Yang Sebenarnya Pantang Dilakukan …

Dalam kondisi yang dilematis, berbohong akan membuat semuanya semakin keruh. Jujur terkadang menyakitkan, memang benar. Tapi jujur akan membuat jalanan di depan semakin terang. Kita tidak akan kehilangan lebih banyak hal. Kita akan berjalan dengan hati yang lebih ringan.

Berbohong, akan membuat semua hal menjadi lebih menakutkan. Mungkin, kita akan melipatgandakan kebohongan menjadi kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang besar. Di mana bisa mendapatkan hidup tenang dengan begitu?

Kedua, menerima mantan pacar sahabat artinya kita dekat dengan masa lalunya. Mengungkit dan mengumbar masa lalunya adalah hal bodoh. Masa lalu bukan milik kita, pun masa lalu yang membuatnya bisa ada di titik sekarang. Mungkin, masa lalu yang membantunya menjadi lebih baik.

Cemburu boleh, itu hal wajar. Tapi jika berlebihan? Kamu sendiri yang akan kehilangan rasa nyaman.

Menerima mantan pacar sahabat menjadi kekasih, tidak berarti kita boleh memamerkan keromantisan di depan sahabat. Walau sahabat bisa menerima kondisi ini, kita tidak benar-benar tahu bagaimana suasana hatinya. Itu juga bentuk perasaan sayang kepada sahabat, bukan?

Dengan siapa pun kita bersahabat, bagaimanapun sebuah persahabatan itu dijalani, akan selalu ada masalah datang untuk menguji. Yang jelas, setiap pilihan melahirkan konsekuensi.

Pilihlah satu jalan yang kamu sendiri bisa berkompromi dengan apa yang menjadi risiko dari pilihan yang kamu buat. Kebahagiaan memang saudara kembar dari kesedihan, keduanya hanya sesaat saja, apalagi jika di dunia.

Menerima mantan sahabat menjadi pacar tidak selalu salah, siapa tahu dia memang jodohmu?

Oleh: Hapsari TM.

Tinggalkan Balasan