“Nggak. Istriku nggak mandul.”

Suara itu terdengar jelas olehku. Gelas yang sedang kucuci nyaris jatuh ke panci sebab hati ini mendadak perih. Dapat kupastikan percakapan via telepon antara suamiku dan saudaranya adalah tentang aku. Perihal pernikahan kami yang belum memiliki keturunan. Memang bukan untuk pertama kalinya orang mengatakan aku mandul, tapi tetap saja perih itu menyayat.

Ya Allah, kuatkan hatiku. Kuatkan kami.

“Ya, nanti. Kalau sudah saatnya pasti ada juga.”

Ya Allah beri kami kesempatan seperti mereka. Setidaknya sekali saja untuk menjaga amanah-Mu. Meski sejatinya berapa banyak dan berapa kali pun kami bersedia. Insya Allah.

“Nangis, Dek?” Tanya suami mengagetkanku.

Buru-buru kuseka pipi yang basah. “Sudah selesai teleponnya, Mas?”

“Kok malah balik tanya.”

“Eng … gak kok, Mas. Cuma kecipratan sabun saja.”

“Pasti tadi dengar Mas teleponan, ya? Sudah biarin aja mereka ngomong apa.”

Ya Allah, bagaimana jika apa yang mereka katakan benar? Kebahagiaan yang seperti apa yang bisa kuberikan pada suamiku, orangtuaku juga keluarga kami?

“Sudah. Ayo siap-siap katanya kangen ibu.” ujar suamiku mengingatkan rencana kami berkunjung ke rumah Ibu.

***

Satu minggu. Waktuku melepas rindu bersama Bapak-Ibu telah habis. Mau tidak mau aku harus ikut suami yang pagi tadi menjemput untuk kembali ke kota. Ada rasa berat ketika melepas pelukan Ibu. Mataku panas dan bulir bening tak dapat kubendung.

“Anak ibu kuat, kok. Sabar dan terus berdoa.”

Aku semakin tergugu dalam dekapan Ibu. Aku tahu maksud nasihat beliau. “Nggeh, Bu. Insya Allah.”

Kami pun keluar pintu setelah berpamitan pada Bapak, Ibu, adik serta suaminya. Aku yakin, bersama doa-doa terbaik mereka aku kuat menghadapi ujian rumah tangga kami. Air mataku menderas seiring roda sepeda motor berputar meninggalkan halaman rumah.

Ya Allah, izinkan aku mewujudkan dan membahagiakan orang-orang yang mencintaiku. Beri aku kesempatan itu, ya Rabb.

Udara dingin pegunungan mengiringi perjalanan kami. Gigil yang biasanya kurasa kali ini tak ada. Hati dan pikiranku gerah. Panas akibat perkataan salah satu saudara suamiku tempo hari. Perempuan mana yang tidak sakit hati jika terang-terangan dikatakan mandul? Di depan banyak orang. Tentunya tidak ada.

Begitupun aku. Aku memang berwatak keras tapi tidak hatiku. Memiliki kesempatan hamil, melahirkan, menyusui dan merawat buah hati adalah dambaanku juga. Aku pun rindu dipanggil ibu oleh darah dagingku.

Tapi, untuk terwujudnya itu semua tidak semudah membuat boneka dari pelepah daun pisang. Sekeras apapun keinginan dan sekuat apa usaha kita semuanya kembali pada Sang Maha Kuasa. Semua tahu itu. Termasuk saudara-saudara suamiku. Hanya saja mereka tidak paham. Dan bisanya hanya membanding-bandingkan. Seperti sore itu saat aku berkujung sendiri karena suami sedang di kota – kerja.

“Wulan loh sudah enam bulan. Padahal nikahnya selisih sepuluh bulan sama kamu.” ujar paman.

“Mas Toto, istrinya sudah melahirkan. Malah anaknya sudah bisa tengkurap. Nikahnya selisih seminggu sama kalian.” tambah Santi. Saudara sepupu suamiku.

Aku yang sudah bosan menjawab nyinyiran mereka memilih bungkam. Lalu tak lama berpamitan pulang. Niatnya silahturahmi malah dapat sakit hati.

“Ngisi bensin dulu, Dek.”

Aku mengendurkan lingkaran tangan dari pinggang suamiku lalu turun. Berjalan menjauh dari tempat pengisian bensin dan berusaha membersihkan sisa air mata di pipi. Sebenarnya ingin sekali aku menceritakan apa saja yang telah dikatakan saudaranya. Tapi, aku teringat pesan Ibu untuk diam.

“Mau cilok, Dek?” Tanyanya usai mengisi bensin.

Aku hanya menggeleng lemah. Menutup kaca helm cepat-cepat agar sembab di mataku tak terlihat. “Langsung pulang saja, ya, Mas. Nggak usah mampir-mampir.”

“Suaramu serak. Sakitkah?”

Aku menyandarkan kepala di punggungnya. Menggeleng. Kutahu pasti dia sedang menyimpan tanya. Ya Allah, aku ikhlas berpisah dengan laki-laki ini demi kebahagiaannya. Aku tahu betul dia amat sangat menginginkan aku hamil. Mengandung anaknya. Tapi apa? Ketika teman dan saudara yang nikahnya hampir bareng sudah Kau karuniai momongan, hanya aku yang belum.

Bayangan berpisah dan membiarkan suami menikah lagi membuat mataku kembali basah. Aku  benar-benar lelah. Berbagai progam hamil yang disarankan teman telah kulakukan. Aku capek menghadapi sindiran mereka yang tidak terlalu suka padaku.

Lima puluh lima menit perjalanan sudah kami tempuh. Sepanjang perjalanan itu mataku tak kering. Air mata terus mengalir. Pun rasa takut kehilangan silih berganti dengan kalimat-kalimat yang memojokanku beberapa hari lalu.

Sesampainya di kontrakan aku hanya melepas sepatu dan meletakkan helm sembarangan. Hati dan pikiran yang kacau membuatku memilih bersembunyi di balik selimut. Melanjutkan tangis yang sedari keluar pintu rumah orangtuaku tak surut.

“Dek, kamu kenapa? Dari tadi mas perhatikan kamu nangis terus. Kenapa?”

Aku hanya menggeleng. Tangisku semakin menjadi saat suamiku memeluk.

“Ada apa? Cerita sama Mas.”

Perlahan aku membalikkan badan. Kuraih tangannya dan kuciumi penuh kasih sayang. “Mas, aku ….”

Dia merengkuhku. Mendekap sangat erat. “Cup-cup. Sudah. Ada apa?”

“Kita … pi … sah saja.” ujarku terbata. “Mas … nikah lagi aja …  Aku nggak apa-apa.”

Ssstt … ngomong apa sih. Ngawur.”

“Aku nggak bisa kasih Mas keturunan. Aku perempuan sial yang nggak sempurna.”

“Siapa yang bilang seperti itu? Bagi Mas, adek itu istimewa. Perempaun hebat dan terbaik buat Mas. Bukan nggak bisa kasih keturunan, Dek. Hanya belum saatnya kita dapat amanah itu. Mungkin Allah masih mau kita pacaran lebih lama. Kan kita nggak pernah pacaran sebelumnya. Atau mungkin, menurut Allah mas belum pantas jadi ayah. Buat jadi suami yang baik saja mas belum bisa.”

“Tapi, Mas ….”

“Sudah. Sekarang kita fokus ke rumah tangga kita. Jangan pedulikan omongan orang. Ingat pesan Bapak-Ibu, harus lebih sabar dan banyak berdoa. Jadi ikthiar kita bukan hal yang sia-sia.”

Air mataku menyurut. Meski dada masih sesak setidaknya rasa panas dan perih di hati sudah sedikit berkurang. Tapi, niat mengizinkan suami menikah lagi masih tetap ada. Karena aku yakin inilah satu-satunya cara membuat dia bahagia.

Maafkan hati yang terbesit untuk bercerai ini, ya Allah. Padahal kutahu Engkau membencinya. Tapi

“Aku ada teman. Insyaa Allah baik buat istri Mas.”

“Dek ….” Pelukannya semakin erat. “Mas nggak mau pisah sama kamu. Mas nggak mau nikah lagi sekalipun perempuan itu pilihanmu. Mas cuma mau sama adek sampai nanti. Sampai akhirat. Sama-sama adek sampai di jannah.”

Aamiin. Lirihku. Tepatnya batinku. Aku tidak menyangka, mantan anak jalanan yang hidupnya tidak karuan semenjak ibunya meninggal punya keinganan seperti itu. Harus kuakui, dia memang bukan laki-laki berpeci putih dan sesoleh suami sahabatku. Tapi dia terus berusaha untuk menjadi suami dan laki-laki yang baik.

Bisa jadi benar katanya tadi ‘mungkin, menurut Allah mas belum pantas jadi ayah. Buat jadi suami yang baik saja mas belum bisa’. Mudahkan kami dalam usaha memperbaiki diri, ya Allah. Izinkan kami saling melengkapi, mencintai, memahami dan membahagiakan dalam situasi buruk sekalipun. Aamiin.

“Janji, ya, Dek jangan pernah diulangi ngomong yang tadi. Kita harus tetap semangat. Kita harus tunjukin sama mereka kita bisa dan kuat. Sekalipun Allah nggak kasih kita kesempatan punya anak sendiri, mas gak akan tinggalin kamu. Mas akan tetap mencintai dan membersamaimu. Insya Allah.”

Aku hanyak bisa mengangguk. Kembali menangis tapi tangisan haru.

***

Suatu pagi aku ditemani adik sedang berada disebuah ruang tunggu. Lebih tepatnya ruang tamu sebuah rumah seorang dukun pijat. Kata orang, dukun ini bisa membantu orang-orang yang sulit untuk hamil. Antara percaya dan tidak, mau tidak mau aku harus mencoba. Berbagai program hamil yang disarankan teman dan saudara sudah kulakukan. Berbagai vitamin dan jamu sampai bosan kutelan.

Jika ikhtiar ini tak juga membuahkan hasil, aku ridha suamiku menikah lagi, ya Allah. Demi kebahagiaanya. Batinku mantap. Aku pasrah, teramat pasrah.

Setelah beberapa orang pulang tibalah waktuku. Bersama adik, aku menuju kamar tempat dukun itu praktik. Aku berbaring di dipan yang disediakan. Sedang adikku duduk di sebelahku sambil menggenggam jariku.

“Insya Allah bisa, Nak. Sabar saja. Mak cuma membantu membenarkan posisi rahimmu. Ada atau tidak dan kapan waktunya cuma Allah yang tahu.”

Aamiin. Aku mengangguk dan berusaha tersenyum merespon tutur dukun pijat itu. Hanya sebentar perempuan paruh baya itu memijat, lebih tepatnya mengelus area perutku.

“Rutin minum jamu, ya. Jamu bisa membantu menyuburkan kandungan.”

“Jamu apa, Mak?”

“Jamu biasa. Kunir asem, macan kerah. Tapi jangan pakai ragi, panas.”

Aku merasa lega. Meskipun dia dikatakan dukun tapi enggak pakai syarat aneh-aneh. Jamu yang direkomendasikan juga jamu tradisional seperti yang biasa ibuku bikin. Kata Bapak, jamu itu jus jawa. Minuman kesehatan yang murah meriah.

Waktu berlalu, aku sudah tidak pernah kembali pijat lagi setelah melakukannya lima kali. Bukan karena dana atau apa. Tapi karena aku merasa lelah. Aku putus asa dan nyerah.

Suatu siang di tempat kerja, aku merasa pusing, mataku panas dan sedikit menggigil. Karena tak tahan dengan kepala yang pusing aku izin pulang. Sesampainya di kontrakan aku langsung membanting tubuh di kasur. Menyembunyikan tubuhku yang kian menggigil dalam selimut. Tak lama kemudian suami pun datang.

“Demamnya tinggi, Dek. Ke dokter, ya?”

Aku menggeleng. “Aku cuma kecapekan saja dan butuh waktu istirahat.”

Sampai empat hari demamku datang dan pergi. Selama itu pula suami izin kerja karena khawatir dengan kondisiku. Berkali-kali dia menawariku ke dokter tapi kutolak. Dan akhirnya dia menghantarku pulang ke rumah ibu. Dan mau tidak mau aku berangkat juga ke dokter dihantar oleh rombongan. Yang mereka khawatirkan penyakit kecilku kambuh. Malaria dan tifus.

Pada dokter kupaparkan apa saja yang kurasakan. Yang begitu kurasa panas di hidung, seperti gejala flu. Dokter mengatakan sinusitisku semakin parah. Dan beliau memberiku berbagai macam obat dan surat rujukan ke dokter spesialis THT.

Tapi, bukannya membaik. Setiap kali minum obat, dadaku rasanya panas, bergemuruh. Bapak-Ibu kembali membawaku ke dokter lain. Dan barulah kami tahu kalau saat itu aku sedang mengandung dengan usia kandungan lima minggu.

Alhamdulillah, ya Allah. Telah Kau kabulkan doa-doa kami. Maafkan aku yang kerap putus asa dan menyerah begitu saja.

“Masih ragu sama Allah? Masih mau nikahkan aku sama perempuan lain?”

“Hush. Gak baik ngomong gitu.” Sergah Ibu.

Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Maafkan aku yang pernah berniat cerai dengan laki-laki itu, ya Allah.

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: