Dia selalu suka duduk berlama-lama di depan cermin, walaupun sekadar untuk menyisir rambut lurusnya. Aku selalu suka melihat itu–memandang wajah manisnya dari atas pembaringan. Rutinitas seperti itulah yang selalu kami lakukan setiap malam sebelum tidur.

Sering aku bertanya pada Tuhan dalam diam. Mengapa kami berbeda? Kenapa dia terlahir dengan sangat sempurna? Bukankah kami satu rahim? Jarak lahir pun hanya lima menit, bukan lima tahun. Ini bukanlah perasaan iri, hanya sebatas pertanyaan pada Sang Maha Pencipta. Biarpun semua kelebihan ada padanya, aku tetap bahagia. Kasih sayang kedua orangtua kami sama rata. Bapak dan Ibu tidak pernah membedakan kami sedikitpun.

Sama seperti malam-malam yang telah berlalu saat kembaranku duduk di depan cermin, aku selalu memandanginya dari tempat tidur. Bedanya, aku tidak lagi bertanya pada Tuhan kenapa kami berbeda. Tanyaku kali ini kenapa takdir saudaraku itu tidak semanis wajahnya? Ah, tidak seharusnya aku bertanya seperti itu. Tuhan lebih tahu apa-apa yang baik bagi hamba-Nya?

***

Suatu siang, saat jam istirahat kerja aku menuruti ajakan Mas Ibra untuk makan di luar. Katanya ada hal serius dan rahasia yang ingin dia tanyakan padaku. Awalnya sih aku keberatan, sebab di kantor sedang ada acara syukuran salah satu karyawati yang ulang tahun.

Please, Fin! Ini, di sini rasanya sesek. Semua berjubal–tumpang-tindih.” Mas Ibra meyakinkanku dengan meletakkan telapak tangannya di dada sebelah kiri.

Sepuluh menit dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya, aku dan Mas Ibra sampai di sebuah kafe–mini resto tepatnya. Tempat njajan favorit kami sejak aku magang dan mengenal Mas Ibra di kantor percetakan itu.

Laki-laki asal Surabaya itu memesan dua porsi bakso bakar keju dan dua gelas es milo cincau. Makanan dan minuman kesukaanku–entah dia juga suka atau ikut-ikutan saja. Biasanya, sembari menunggu pesanan datang aku selalu banyak tanya. Tapi kali ini tidak, aku sengaja menutup mulut–menunggu laki-laki jangkung yang selalu wangi itu bercerita.

“Menurutmu sekarang ini masih zaman nggak dijodoh-jodohkan? Itu orangtua yang gimana yang menjodohkan anaknya? Terus baiknya sebagai anak harus gimana?”

Heh? Jadi hal serius dan rahasia yang mau dibicarakan tadi masalah jodoh. Batinku. Aku kaget mendengar pertanyaannya yang beruntun. Jujur aku merasa was-was. Aku belum siap berkenalan dengan patah hati. Allah, apakah dia tahu kalau aku mencintainya? Apa dia tahu jika aku ingin menjadi teman hidupnya? Adakah restu-Mu atas perasaan ini?

“Fin …”

Aku sedikit terkejut. Bingung. Untung saja pesanan kami datang. Selepas mbak waiters pergi, segera kuminum es milo sekadar untuk mendinginkan hati yang sedikit terpanggang.

“Jawab dong, Fin.”

Mampus aku.

Kukira Mas Ibra lupa dengan pertanyaan tadi. Terlihat dari matanya, laki-laki yang telah mencuri hatiku itu benar-benar butuh jawabanku.

“Menurutku sih wajar, Mas. Semua orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi masalah pendamping hidup.”

“Terus sebagai anak harus gimana?” tanyanya lagi dengan sedikit kesal.

Sami’na Wa Atho’na.” jawabku singkat.

Kami saling diam untuk beberapa menit. Bakso keju terlezat siang ini kurasakan anyep. Aku resah dan takut. Jujur aku teramat mendamba laki-laki yang statusnya mentorku ini. Telah kutemukan sosok seorang kakak dalam dirinya; penyayang, pengertian, mengayomi … ah, semua sifat baik seorang kakak ada padanya.

“Aku dijodohkan dengan anak teman Ayah, Fin. Aku harus bagaimana?”

Nah, kan benar apa yang kutakutkan dari tadi. Tuhan, bukankah aku telah meminta dia untuk menjadi jodohku pada-Mu? Tidak sampaikah pinta-pintaku? Adakah caraku meminta yang salah?

“Fin ….” Berat suaranya memanggilku, “boleh aku jujur?”

“Ya?”

Sebutir bakso kupotong kecil-kecil, kejunya meleleh–tidak kumakan. Andai dia tahu, seperti itulah keadaan hatiku. Terisis, berantakkan dan tercampakkan.

“Untuk jodoh, aku maunya cuma kamu.”

Ah, itu kata-kata yang telah lama kunanti. Ternyata keinginan kami sama. Apa yang harus kulakukan? Jawaban dari Tuhan atas pintaku telah kudengar. Tidak mungkin aku ngeyel untuk tetap berjodoh dengannya.

“Aku pingin ngenalin kamu ke orangtuaku. Kamu mau kan?”

Belum kutemukan jawaban yang pas alarm dari hp-ku berbunyi. “Jam istirahatnya selesai. Kita balik kantor, ya?” ujarku kaku.

Kami kembali ke kantor dengan kebisuan. Tidak ada jawaban untuk pertanyaannya yang terakhir. Siang itu, aku merasa Mas Ibra asing. Saat pulang pun aku memilih pulang duluan tanpa pamit pada Mas Ibra.

***

Menjelang Isya aku baru sampai rumah. Kukira dengan singgah ke masjid sepulang kerja tadi pikiranku akan tenang. Nyatanya tidak. Aku benar-benar patah hati bahkan sebelum hati itu menyambung.

“Tumben pulang malam, Nduk?” tanya Ibu.

“Iya, Bu. Ada naskah yang harus selesai diedit sebelum Sabtu.”

“Selesai bersihin badan ngumpul, ya. Ada yang mau bapak sampaikan pada kalian.”

Aku mengangguk. Aku harus bisa mengendalikan diri. Jangan sampai Bapak-Ibu tahu aku sedang galau apalagi patah hati. Kenapa? Karena apa yang tengah kurasa murni kesalahanku. Aku abai dengan nasihat yang pernah mereka tuturkan. Nasihat yang mulai kudapat saat kami beranjak remaja.

Hati-hati dalam bergaul. Selain harus bisa jaga diri, sebagai perempuan kalian harus bisa menjaga hati. Jangan sampai tersakiti gara-gara salah menaruh atau menjatuhkan hati. Jatuh cinta boleh, asal pada seseorang yang benar-benar pantas kalian cintai. Siapa? Seseorang yang telah ditakdirkan untuk jadi teman hidup kalian.

Selesai membersihkan diri aku menuju ruang keluarga. Finni, saudara kembarku sudah duduk di hadapan Bapak-Ibu. Di luar, jarum bening nan halus masih setia mencumbui bumi. Tidak deras namun mampu membuat genangan di jalan depan rumah.

“Gini, Nduk ….” Bapak mulai bersuara. Menata kalimat serapi mungkin agar kami tidak salah paham. “Bapak dan ibu telah menerima lamaran seseorang untuk Finni. Bisa dibilang ini adalah perjodohan.”

Aku dan Finni saling pandang. Kaget, tapi tidak berani bertanya apa-apa. Pantang bagi kami memotong pembicaraan orangtua. Jadi, kami hanya terus mendengarkan Bapak dan Ibu yang sesekali melengkapi perkataan Bapak.

“Bapak dan ayah pemuda itu berteman sejak kecil. Kami berpisah saat beliau pindah ke kota setelah menikah. Dan kami saling berujar untuk menjodohkan anak kami apabila berbeda kelamin. Allah, mengijabah. Dan ….”

Bapak menyeruput teh tubruknya. Mungkin tenggorokannya kering. Atau hanya memberi jeda pada jantung kami yang berdebar. Entahlah, yang pasti raut wajah Bapak tenang. Sama sekali tidak ada beban saat menyampaikan berita perjodohan ini.

“Hmmm … Finni, karena kamu mbakyu, jadi perjodohan ini untukmu. Bapak harap keputusan Bapak dan Ibu tidak menyakitimu sama sekali. Kami minta maaf sekiranya ini sebuah kesalahan besar.

Aku memandang Finni yang hanya tertunduk. Aku tahu dia tersakiti. Impiannya bersanding dengan seorang guru SMA kandas. Ingin aku mewakili dia menyampaikan kata hatinya pada Bapak. Mewakilinya menolak perjodohan itu. Sayangnya aku pun tidak bisa berkata apa-apa.

Ah …. Jodoh. Kita memang berhak memilih tapi tetap saja semuanya kembali pada Yang Maha Berhak. Sebab Dia tahu apa dan siapa yang baik bagi kita. Baru siang tadi aku memberi saran pada Mas Ibra untuk menuruti apa yang orangtuanya katakan. Malamnya terjadi pada saudara kembarku.

“Insyaallah dalam waktu dekat keluarga mereka akan datang ke sini. Melamar Finni secara resmi.”

Rabb, luaskan hati saudaraku. Aku yakin ini yang terbaik untuknya. Aku percaya pilihan Bapak-Ibu adalah pilihan-Mu.

Tidak banyak yang Bapak dan Ibu sampaikan selain kabar perjodohan itu. Kami sebagai anak perempuan pun tidak banyak tanya. Setelah Finni mengiyakan keinginan Bapak-Ibu, kami pun pamit istirahat. Puluhan tanya perihal cinta dan jodoh memenuhi pikiranku.

“Semoga nasibmu nggak seperti aku ya, Fin. Kalaupun iya, kamu harus berani menyuarakan hatimu. Aku yakin, Finna tidak seperti Finni.”

Aku memeluk saudara kembarku. Betapa dia gadis yang ikhlas. Dia rela menerima laki-laki pilihan Bapak sebagai pendampingnya. Melepas begitu saja laki-laki yang dia cintai. Bagaimana jika ini terjadi padaku, Ya Rabb?

***

Satu minggu berlalu sudah. Kujalani aktivitas seperti biasanya tanpa Mas Ibra. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Mungkin sakit. Mungkin ada acara keluarga. Mungkin lagi travelling. Dan banyak kemungkinan yang teman-teman kerja katakan. Dimana pun dia berada, pintaku semoga dia sehat dan bahagia. Itu saja.

Duhai gadis idaman, kuharap kebahagiaan selalu untukmu. Aku tahu, sebenarnya kamu pun inginkan aku sebagai jodohmu. Sayangnya ini bukan ingin Tuhan. Menurut-Nya kita tidak akan bahagia jika hidup bersama.

Deg! Hatiku kembali kacau setelah membaca sms itu. Sms tanpa salam yang dikirim oleh laki-laki idaman. Ada hal yang urung kutanyakan padanya dan hanya dapat kutanyakan pada Tuhan dalam diam. Siapa perempuan yang dijodohkan dengannya. Beruntung sekali perempuan itu mendapatkan teman hidup sepertinya. Tidak hanya tampan, tapi juga mapan dan saleh (menurut pandanganku).

Aku mengajukan izin pulang kerja lebih awal. Aku ingin mendampingi saudara kembarku untuk bertemu keluarga calon suaminya. Aku yakin, saat itu dia pasti membutuhkan aku. Kupacu sepeda motorku lebih cepat dari biasanya. Aku tidak sabar ingin tahu siapa laki-laki yang akan menjadi imam saudaraku itu.

Dua puluh menit aku lalui jalanan yang basah dengan hati yang berdebar. Berdebar? Entah kenapa ada getar-getar aneh di balik dadaku. Apa ini yang namanya penasaran atau malah sebuah firasat? Entahlah.

Persiapan menjamu tamu telah sempurna. Finni juga sudah siap dengan balutan gamis biru tosca. Aku gegas membersihkan diri kemudian membantu Ibu yang masih sibuk menata gelas di atas nampan. Hanya lamaran saja serepot ini. Bagaimana saat nikahan nanti? Gumamku memerhatikan aneka masakan di atas meja.

Sebuah Avanza hitam berhenti di halaman. Aku lihat Bapak secepat kilat menyambut rombongan yang turun dari mobil itu. Kebahagiaannya tidak dapat disembunyikan dari caranya menyapa dan memeluk seorang laki-laki beruban.

“Kamu temani Finni ya, Nduk.”

Aku mengiyakan permintaan Ibu dengan mengangguk. Kuhampiri Finni di kamar yang sedang mondar-mandir. Begitukah rasanya saat akan dilamar? Terlebih sama sekali belum tahu siapa orangnya.

“Aku yakin kamu gak akan kecewa dengan pilihan orangtua kita. Kamu pasti bahagia.”

Finni hanya tersenyum kecut mendengar kata-kataku. Wajar sih, saat ini dia sedang berusaha memindahkan hatinya dari orang yang dia cintai pada orang yang baru akan dikenalnya. Semoga ikhlasnya ini salah satu jalan menuju surga-Mu. Harap dalam hatiku.

Nduk, ayok keluar. Semua menunggu kalian.” Ajak Ibu dari ambang pintu.

Aku menemani Finni dengan langkah yang tak kalah gemetar. Harap-harap cemas menuju ruang keluarga di mana semua orang berkumpul.

Bug. Hati dan jantungku seakan runtuh bersamaan saat kulihat laki-laki berkemeja hijau. Laki-laki yang kerap kurindu. Laki-laki yang siang tadi mengirimku sms tanpa salam. Laki-laki yang memiliki keinginan sama denganku, saling berjodoh.

Allah, peran apa yang harus kulakoni pada skenario-Mu ini? Dapatkah aku ikhlas seperti aku meyakinkan Mas Ibra dan Finni untuk menerima takdir-Mu? Apakah bisa kami bahagia sementara dalam hati telah terpercik api kecewa?

“Ini Finna, kembarannya Finni.” Aku tersentak saat tangan Bapak menyentuh pundakku. Ternyata Bapak sudah memperkenalkan Finni pada keluarga Mas Ibra. Aku yang terkejut hanya mampu mengangguk dan tersenyum setengah manis.

Acara perkenalan terus berlanjut sampai pada inti, lamaran. Aku hanya bisa berpura-pura bahagia dan berusaha untuk ikhlas melepas Mas Ibra. Jodoh memang tidak dapat dipaksa juga tidak bisa ditolak. Sebelum makan bersama, laki-laki beruban yang tidak lain ayahnya Mas Ibra memutuskan hari pernikahan. Mereka akan menikah empat puluh hari setelah hari ini.

Mulai sore ini, aku telah merelakan takdirku. Bahagiamu juga bahagiaku. Jangan tanya bagaimana hati ini, biar waktu yang menghapus lukanya. Mas, aku rela melepasmu untuk saudaraku.

Sesak memang saat kutulis sms itu. Dilain sisi ada kelegaan tersendiri setelah sms terkirim. Aku yakin, Allah telah menyiapkan Ibra lain untukku. Ibra yang jauh lebih baik dari mantan mentorku.

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: