Masa Lalu itu untuk Dikubur di Lubang Paling Dalam

“Aku masih terus mengingatnya,” pekikku saat malam mulai larut.

Sesekali  aku stalking beranda facebooknya. Aku tahu ini salah, tapi makin ditolak justru makin bergejolak.

Dua tahun sudah aku menikah, tapi ada bagian masa lalu yang rasanya belum terselesaikan. Ternyata cerita masa lalu jusru menjadi celah setan merasuki pikiranku. Aku terus saja merasa bersalah dan makin hari rasanya makin menggunung, terasa amat sulit lepas dari jeratan masa lalu itu.

“Kamu lihat apa?” suamiku bertanya kala aku asyik dengan gawai di hadapanku. Segera mungkin aku mengalihkan pandangan dan berusaha menyembunyikan semuanya. Aku hawatir jika dia tahu yang istrinya lakukan akan menjadi sumber masalah bagi kami.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa kuketahui, tiba-tiba muncul seorang yang ku kenal di ruang kepala sekolah. Hatiku berdegup kencang. Kugelengkan kepala seraya beristighfar.

Sosok itu adalah mantan yang dua tahun lalu tiba-tiba aku tinggal menikah. Kami menjalin hubungan cukup lama, namun sama sekali dirinya tak memiliki niat mengajakku menikah. Usiaku tak lagi muda, hingga ahirnya suamiku mendekati dan aku juga orang tuaku memilihnya.

Namanya Syafi’i. Dulu dirinya sempat menelfonku berkali-kali untuk memastikan kabar yang dia dengar. Tapi aku selalu mengabaikan, karena tak bisa menjelaskan. Hawatir  dipikir menghinanya yang kala itu belum memiliki pekerjaan. Karena suamiku termasuk lelaki yang mapan.

Aku seakan kabur dari cerita hubungan kami. Dan suami memboyongku ikut bersamanya. Disini aku meniti karir. Dan entah kenapa tiba-tiba bujang itu justru berada di dekatku di saat aku mulai intens mengingatnya.

Syafi’i kukenal sebagai sosok cerdas sedari dulu, kemauannya besar hingga apa pun yang diinginkan akan berusaha ia capai. Sembari mengajar kini dirinya melanjutkan S2 di kota kami sekarang mengajar. Itu alasan kenapa ahirnya kami bertemu. Banyak kelebihannya berkumpul dimataku. Hingga ada rasa menyesal telah meninggalkannya kala itu.

“Assalamualaikum, Humaira,” sapanya saat aku duduk di ruang guru.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku singkat. Hatiku berkecamuk. Tapi wajahku berusaha kukondisikan.

“Kamu sibuk?” tanya Syafi’i seakan mencari celah.

“Maaf, aku ada jam di kelas.” Segera aku bangkit melangkahkan kaki keluar dari kantor. Bukan untuk mengajar tapi hanya ingin menghindar.

Namun, tak cukup lama aku mampu lari darinya. Sekarang diri ini mulai terperdaya dengan rasa bersalah yang tak berfaedah. Kami mulai banyak mengobrol di ruang guru. Sesama pengajar, menganggap kami selayaknya teman lainnya.

 “Kenapa kamu belum juga menikah?” tanyaku di sudut kantor.

Dia diam sesaat, “Karena aku menunggumu,” jawabnya dengan wajah mendongak.  Aku gelagapan menanggapi. Hanya diam yang bisa aku beri.

“Kamu tak bahagia, kan?” tanyanya lancang. Mata ku terbuka lebar.

“Kamu belum juga memiliki anak,” sergahnya kemudian.

Aku hanya diam seakan mengiyakan, karena benar ada sisi lain dari pernikahanku yang menyebabkan kurangnya kebahagiaan di dalamnya. Sisi itu tentang keturunan.

“Kamu tak berhak bicara sejauh itu,” berusaha aku menutupi kegusaran.

Diakui atau tidak, belum memiliki momongan di usia pernikahan yang berjalan menuju tahun ketiga itu rasanya hampa. Iri terus saja mendatangi. Diperkeruh dengan ocehan dari sekitar. Aku dan suami sudah berikhtiyar hingga lelah secara batin dan meteril. Namun belum juga diamanahi. Ada bagian hatiku yang kosong. Menjadi lubang yang terkadang penuh pengandaian.

“Andai saja dulu aku bersabar menunggu Syafi’i melamar mungkin aku tak perlu diuji dengan kekosongan rahim selama ini,” terkadang bisikan semacam itu datang. Mengusikku hingga menoreh penyesalan.

Intensitas pertemuan yang makin rapat antara aku dan Syafi’i membuatku menjadi lebih terbuka dengannya. Banyak hal yang aku ceritakan. Awalnya dirinya terdengar bijak, terus menguatkan dan memupuk sabar. Setahun berselang, kini dirinya terasa makin lancang.

“Bercerai saja dengan suamimu, lantas kau menikah denganku,” usulnya saat aku berkeluh tentang momongan. Khilafku, bercerita padanya bahwa masalah reproduksi ada pada suamiku.

“Hush, diam!” Aku tidak marah. Berujar demikian karena memang sewajarnya harus demikian.

Pembicaran  berikutnya dia makin berani, “Buat apa hidup terus-terusan dengan laki-laki mandul,” ucapnya mengejek.

Kali ini hatiku rasanya disayat, segala penilaian yang kulayangkan padanya selama ini amat salah. Aku terkagum dengan kecerdasan dan ketekunannya. Tapi ternyata aku abai memperhitungkan akhlaknya.

Sampai hati dirinya menghina suami dari perempuan dihadapannya. Meski bukan aku yang dicerca, tapi aku merasa amat terhina.

Rasa bersalah yang selama ini menggelayuti pikiranku tiba-tiba sirna. Tak seharusnya aku merawat rasa yang tak tepat. Amat salah aku membuka pintu untuk kenangan menjerusmuskanku makin jauh. Lebih salah aku mendakatkan diri dengan orang dari masa lalu.

Padahal Allah telah memilihkan jodoh terbaik bagiku. Apa yang kumiliki jelas telah ditetapkan penuh perhitungan. Namun, aku amat kufur dengan berbagai nikmat itu. Aku yang tak kuat diuji, aku yang sama sekali tak mengerti bersyukur. Aku lalai.

Segera ku langkahkan kaki untuk pulang menuju suamiku. Tampak dirinya asyik membaca buku diruang tamu. Aku menangis tergugu. Suamiku pasti amat bingung mendapati istrinya pulang yang sudah tersedu-sedu.

Pikirnya, siapa yang telah melukai ku. Padahal perilakuku yang menjadi penyebabnya. Tak ada orang lain yang salah.

“Maafkan aku, Bang. Maaf.” Bibirku tak bisa mengeluarkan kata lain.

Pelan-pelan dengan penuh sabar dirinya menungguku lega kemudian mau bicara. Ku taruh kepalaku di pangkuannya. Masih penuh dengan sesak aku memulai cerita.

Lelaki yang dipilihkan Allah untuk ku itu sungguh amat mulia. Sama sekali tak menunjukkan amarahnya. Justru kata yang keluar membuatku makin malu. Sama sekali tak menjelekkan orang lain.

“Maafkan Abang, ya. Belum bisa memberi kamu keturunan.” Ucapnya lirih. Terlihat bulir dari ekor matanya. Hatiku makin terenyuh.

“Cukup, Bang. Maafkan aku.” Mulutku terkatup. Hanya sesal yang makin mendesak.

Kejadian menyakitkan yang kutemui ini menjadi cambukan untuk menyadari bahwa sebaik apa pun masa lalu, tetap lebih baik masa sekarang.

Sesempurna apa pun masa dulu, tetap lebih sempurna yang ada dihadapan. Semanis apa pun mantan tetap manis takdir yang sudah di petakkan. Karena masa itu hanya untuk dikubur di lubang paling dalam.

Oleh: Nida Fatah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan