Apa yang terbesit di pikiran lo tentang cowok bad boy? Preman berhati Hello Kitty, tampang Rambo berhati Rinto? Mereka memang punya banyak sebutan manis, meski di baliknya ada racun yang sulit lo cari penawarnya. Kalau bisa, jangan sampai lo terhembus pesona bad boy. Jangan! Dengerin cerita gue tentang jenis laki-laki ini.  

Gue kenal sosok bad boy pertama kali pas kelas 1 SMA. Dia kakak kelas gue. Siapa sih yang nggak kenal doi? Tampangnya sih nggak ganteng-ganteng amat. Tapi, yang bikin gue terpesona itu gayanya. Berani, punya motor gede (gue nggak tahu apa jenisnya), pengikutnya banyak. Bayangin kalo lo jadi ceweknya, kayak apa lu bakal “dilindungi”.

Dia juga sering bolos, males ngerjain PR, tapi nggak ada tu ceritanya dia dikeluarin dari sekolah. Meski terkesan garang,  doi langsung berubah jadi malaikat kalo udah ketemu orang yang baik sama doi.

Singkat cerita, gue jatuh cinta sama doi. Lama-lama doi juga nerima sinyal dari gue, sampai akhirnya kita jadian. Waktu itu gue udah kelas 2 SMA, doi udah kelas 3. Banyak yang dukung hubungan kita, nggak sedikit juga yang baper. Gue ngerasa jadi cewek paling terkenal, walaupun cuma karena pacaran sama bad boy level SMA.

Satu bulan pertama masa pacaran, gue ngerasa bahagia banget. Jalan bulan kedua, baru gue mulai ngerasa ada yang aneh. Gue ngerasa mulai nggak bisa masuk ke dunia dia, lingkungannya, temen-temennya, seolah gue ini asing. Dia juga mulai jarang ngajak gue jalan. Tapi, gue tetep masih sayang banget ama doi. Gue ngerasa tertantang buat bikin pacar gue jadi lebih baik. 

BrakAstahgfirullah. Belum selesai baca tulisanku sendiri, aku langsung membenturkan HP ke meja. Rasa malu menenggelamkanku dalam-dalam, terkubur bersama memori kealayanku saat itu. Tanpa pikir panjang, status yang pernah kutulis delapan tahun yang lalu itu kuhapus dari timeline facebook.

Aku ingat, status itu kubuat setahun setelah kami putus dan dia sudah lulus SMA. Pun, aku mengunduhnya dengan akun palsu. Norak deh! Aku kecewa, aku yang disakiti, kenapa dia yang minta putus? Oh, kurasa memang itu benar-benar kutukan pesona bad boy. Kalau saja hari itu aku nggak memergokinya sama cewek lain dan nggak ada yang ngasih tahu kalau dia pemakai narkoba, apalah jadinya aku sekarang?

Masa lalu memang biarlah berlalu. Persis seperti lirik lagu dangdut yang menggema di bus antarkota. Tapi, derita malu pernah mengejar “cinta” bad boy harus kutanggung seumur hidup.

Bagaimana mataku berbinar melihatnya dari kejauhan, rasa bangga memamerkan pacar yang sebenarnya minus prestasi terus membayangiku. Duh! Bahkan aku dan dia pernah dengan sengaja tertawa terbahak-bahak, saat melewati anak-anak Rohis yang entah sedang melakukan apa di masjid sekolah. Hey lihat kami,  jadilah seperti kami yang bebas dan bahagia. Pesan itu yang ingin kami sampaikan pada mereka.

Demi sedikit padamnya rasa malu, aku selalu berusaha meyakinkan diri, bahwa memang itulah jalan Tuhan agar aku belajar. Life is a test. Iya kan? Tentu saja, aku selalu berdoa pada Allah untuk diampuni segala kesalahanku. Apalagi saat ini usiaku sudah 25 tahun. Memikirkan calon suami adalah PR selanjutnya. Life must go on.

***

Aku bukan kehilangan arah dalam mencari sosok pendamping hidup. Tapi, setiap kali ada laki-laki yang mendekat dan menyatakan keseriusannya, jawaban doaku selalu menjauh dari kata iya. Di saat yang sama, Mama dan Papa juga belum menyetujui sosok-sosok yang pernah mencoba mengambil hati anak gadisnya ini. Apalagi, kadang ada saja laki-laki aneh yang coba mendekat. Mungkin aku harus lebih gencar mendekati Sang Maha Daya, Allah SWT, hingga Allah pun hadirkan sosok yang mendekat pada Nya.

“Mbak, kamu kan disukai banyak laki-laki, tinggal pilih aja lah, Mbak.” Ujar Purnomo, seorang OB di kantor yang juga sering jadi pengantar hadiah “misterius” untukku. Sampai sekarang, Purnomo belum juga mau jujur, dari mana asalnya kue brownies alpukat yang lagi hits, bolu Jepang, coklat dan sekuntum bunga yang sering berlabuh mejaku itu.

“Eits, emang aku lagi milih buah di pasar, Pur? Ini mah milih pendamping hidup, calon imam, calon bapak anak-anakku, calon anak mantu buat orangtuaku. Mesti hati-hati lah, Pur.”

“Iyaya, Mbak. Eh, ngomong-ngomong, kayanya ada cowok kantor sebelah yang naksir mbak deh.”

“Siapa, Pur? Jangan-jangan cowok itu ya?”

“Wah, saya belum kenalan, Mbak. Kemarin dia nanya-nanya ke Ujang pas saya udah ganti shift.”

“Jangan boong lho, Pur! Ingat loh, Pur, bulan depan kamu janji mau kasih tahu siapa yang sering kirim kue buat aku!”

“Kagak boong saya, Mbak. Siap, saya bakal kasih tahu Mbak Meila, siapakah laki-laki misterius yang tergila-gila sama gadis manis dari Ciamis yang bikin jantung kembang kempis.”

“Ngarang kamu, Pur. Hehehe …”

***

Hari ini aku janjian sama Purnomo, di roof top kantor jam 17.30 sore. Purnomo sudah janji akan memberitahu identitas laki-laki yang katanya pengagum rahasiaku itu. Sebenarnya aku cukup deg-degan. Diam-diam aku berharap dialah sosok yang kucari selama ini. Perhatiannya dan juga sikap misteriusnya sungguh nggak bisa kuabaikan begitu saja.

“Mbak … Mbak … Ini masnya mau ngomong di telepone.” Ujar Purnomo sambil berlari tergopoh-gopoh mendekatiku, lalu menyodorkan handphonenya.

Dan akhirnya aku berbicara dengan laki-laki itu lewat telepone. Namanya Danar. Dialah laki-laki dari kantor sebelah yang pernah diceritakan oleh Purnomo. Dia bicara singkat, pingin kenalan dan bertemu. Selama ini dia sudah memperhatikanku dari jauh, juga banyak bertanya pada Purnomo tentang kebiasaan dan karakterku.

“Ini, Mbak, fotonya Mas Danar.”

Ya Allah, ternyata inilah lelaki yang pernah menyita perhatianku waktu itu. Kami sering berpapasan memang. Aku mudah menandainya, karena gaya dan kebiasannya yang sangat mirip mantan pacar bad boyku.

“Ini yang naik motor ninja, pake jaket kulit hitam, sering makan dan ngerokok bareng teman-temennya di warteg Bu Inah kan, Pur?”

“Iya, Mbak. Kok mbak udah tahu?”

Pupus sudah harapanku. Laki-laki ini sudah lama menghembuskan kembali ingatanku akan masa lalu. Sebaiknya aku langsung bilang aja, cari yang lain saja mas, sebelum aku melanjutkan lebih jauh.

***

Persoalan menolak Danar nggak semudah yang kubayangkan. Dia belum mau menerima alasanku menolak tawarannya berkenalan. Dia malah semakin gencar mendekatiku. Titip pesan ke Purnomo, kirim hadiah, mencoba follow akun sosial mediaku yang disetting private, bahkan sampai sering berdiri di depan kantorku waktu jam pulang kerja.

Hingga suatu hari, Danar memberanikan diri menemuiku di salah satu kafe. Sepertinya dia habis membuntutiku.

“Kenapa, Mei, kamu nggak mau kenalan sama aku?”

Aku tahu, laki-laki macam ini memang suka nekad. Jangan tergoda Mei. Baca istighfar banyak-banyak.

“Kamu ngerokok?”

“Iya, tapi udah berkurang. ”

“Kamu minum?”

“Dikit. Dulu. Maksudnya, dulu aku memang minum.”

“Mohon maaf, sebaiknya kita nggak usah kenalan terlalu dekat ya, Mas.” Jawabku ketus

“Lho, kenapa, Mei?”

“Gini ya, Mas. Saya itu sedang mencari calon suami. Saya bukan lagi mau main-main dan pacaran nggak jelas.”

“Siapa juga yang mau main-main? Kamu nggak baca suratku yang terakhir ya?

Seketika aku langsung terdiam. Oow, itu adalah surat yang langsung kubuang tanpa membukanya sama sekali.

“Oh, berarti memang kamu nggak baca. Yaudah aku pamit. Assalamu’alaikum.” Danar pun berlalu dari dua bola mataku. Meninggalkanku kebingungan.

Keesokan harinya, aku langsung menemui Purnomo. Ternyata, surat yang kubuang itu sudah dipungut kembali olehnya. Ah, lega rasanya. Aku sudah didera rasa bersalah karena membuang surat ini.

Assalamu’alaikum

Dear Meila,

Singkat saja Mei. Aku suka sama kamu. Aku tahu, di matamu mungkin aku bukan gambaran laki-laki baik. Tapi, sejak melihatmu, Mei, demi Allah aku ingin jadi orang baik. Aku nggak tahu gimana caranya deketin wanita sholihah sepertimu, apalagi mau serius sama kamu. Aku ingin berubah. Tolong, Mei, ajari aku. Kalau pun kamu nolak aku, tetaplah bantu aku jadi baik. Aku serius Mei.

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum.

Ya Allah, hatiku langsung berdesir oleh rasa bersalah. Aku sudah begitu jahat dan sombong. Menganggap diriku lebih baik dari orang lain yang kulihat belum baik. Padahal, dulunya aku pun jauh dari menjalankan Islam yang sebenarnya. Di hadapan Allah,  belum tentu juga aku lebih baik darinya.

***

Sudah sepekan sejak hari itu. Aku masih bimbang, apakah harus menjawab surat Danar atau mengabaikannya begitu saja. Aku masih melabelinya sama saja dengan mantanku yang dulu. Nekat, keras kepala, berani dan punya daya tarik tersendiri. Akhirnya, aku memutuskan untuk bertanya kepada ustazah yang mengisi kajian pekanan di kantor.

“Dek, niat itu bisa diperbarui. Meski awalnya dia bilang niatnya jadi baik karena kamu, bisa jadi kalau nanti niatnya terus diperbaiki, akan jadi niat murni karena Allah. Dia sedang berusaha mencari jalan. Tak ada salahnya kamu bantu dia, minimal dengan doa atau hadiahkan buku agama untuknya. Asal kamu selalu ingat, jangan terjebak dalam hubungan terlarang ya. Mintalah petunjuk dari Allah SWT.”

Masyaallah, jawaban dari ustazah begitu lembut, tapi tajam menusuk ke hati. Masalah niat itu, memang benar kata ustazah. Bagainana aku bisa lupa kelakuanku sendiri? Waktu itu aku niat berhijab juga karena ingin melepas image pacar bad boy. Niatku belum tulus karena Allah. Tapi, lama-lama, aku semakin tak peduli kata orang dan makin menikmati prosesku mendekat pada Sang Illahi.

***

Bismillah, aku memutuskan untuk membalas surat Danar. Aku memohon kepada Allah agar ia selalu diberi petunjuk dan bisa merasakan nikmatnya hijrah seperti yang kurasakan.

“Pur, tolong sampaikan buku ini ke Mas Danar ya. Di dalamnya ada catatan juga, jangan sampai hilang.”

“Alhamdulillah … Saya seneng banget, Mbak. Burung gelatik hinggap di jendela, buat Mbak Mei cantik, Purnomo siap sedia.”

“Hehehe … Ada-ada aja, Mas Pur. By the way, terima kasih ya Mas.”

Aku melihat Mas Pur belalu, hatiku seakan melepas jutaan ragu. Akankah pesan itu berujung sesuatu? Wallahu’alam, hanya Allah yang tahu. []

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: