Jam di ruang tunggu bandara Soekarno – Hatta menunjukan pukul 22.00 WIB. Aku duduk termenung menunggu pesawat ke Makassar yang akan berangkat pukul 23.00 WIB.

Kepulangan saat ini sangat istimewa karena untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan kedua orangtua bakal calon istri. Enam tahun lalu kami lulus dari SMA yang sama. Selama 3 tahun bersekolah di sekolah yang sama, kami jarang berinteraksi, hanya sebatas teman di sebuah organisasi keagamaan yang saling kenal nama dan wajah. Saat ini dalam hitungan jam aku akan menemui kedua orangtuanya untuk mengajukan niatku menikahinya.

Udara ruangan terasa semakin dingin ketika petugas maskapai mempersilakan semua penumpang untuk naik. Aku masih ingat dengan jelas saat itu, setelah take off sekitar 30 menit, dari kokpit, pilot menyampaikan sebuat pesan yang membuat semua penumpang cukup tegang,

“Mohon maaf! Karena alasan teknis, pesawat harus kembali ke bandara Soekarno Hatta. Sambil menunggu jadwal mendarat dari otoritas bandara, kita akan berputar-putar beberapa waktu dulu di atas pulau Jawa.” Ucap sang pilot.

Sekitar satu jam berkeliling di udara, akhirnya pesawat bisa mendarat kembali di Bandara Soekarno Hatta. Satu jam kemudian, maskapai menyiapkan pesawat pengganti dan mengantarkan penumpang dengan selamat ke Makassar.

Berbekal alamat yang diberikan dan peta di Google, jadilah aku berangkat ke rumah bakal calon istri. Walaupun baru pertama kali ke rumahnya, tidak sulit menemukannya. Pembicaraan berjalan lancar untuk lebih saling mengenal orangtuanya dan pribadi masing-masing, dengan janji bakal calon istri akan memberikan jawaban tiga hari kemudian.

Tiga hari berjalan lambat untukku. Tibalah waktu yang dinantikan. Handphone berdering, sebuah SMS masuk dari bakal calon istri dan jawabannya: DITOLAK!

Setelah ditolak, bukannya mundur, aku meminta untuk diberi kesempatan kedua untuk menjelaskan diriku dan menepis semua keraguan bakal calon istri.

Akhirnya hati bakal calon istri luluh juga dan kami pun menikah.

Tiga hari setelah pernikahan, aku harus meninggalkan istri di Makassar untuk kembali tugas ke Jakarta dengan bekal nafkah 500 ribu rupiah. Sementara yang tersisa di dompetpun tidak lebih banyak dari jumlah tersebut. Sebagai siswa prajabatan di sebuah anak perusahaan BUMN, gajiku waktu menikah memang tidak terlalu besar untuk ukuran kota Jakarta, apalagi untuk hidup berdua di Jakarta.

Namun, prasangka baik kepada Allah dan tentu saja doa yang tak pernah putus menjadi modal kami untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Waktu berjalan lambat bagi kami. Dua insan ini baru mau merajut cinta kini harus terpisah oleh lautan.

Karena istri masih sulit untuk dibawa tinggal ke Jakarta. Di sisi lain, kesempatan untuk mendapat penempatan di Makassar juga sangat kecil. Akhirnya satu-satunya pilihan agar kami bisa bersama adalah dengan meninggalkan pekerjaan di Jakarta dan kembali ke Makassar dengan harapan mencari pekerjaan baru. Niat tersebut sudah bulat dan sudah aku sampaikan ke atasan di kantor.

“Ketika niat kita baik dan tulus, Allah tidak akan menyia-nyiakan ikhtiar dan doa hamba-Nya. Sebagai istri, aku siap hidup dalam keterbatasan selama kita bisa bersama.” Kata istri suatu saat untuk membesarkan jiwa dan menguatkan imanku. Dalam sujud, di antara adzan dan iqamah, saat hujan turun, menjadi momen memunajatkan doa-doaku kepada Allah.

Menjelang pengumuman pengangkatan pegawai, aku mendapat penugasan ke Makassar. Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, aku mendapatkan kesempatan untuk bersua kembali dengan istri.

Dalam kesempatan itu, aku mendapat sebuah panggilan telepon dari seorang teman kantor,

“Mas, selamat ya. Surat pengangkatan sebagai pegawai sudah ada dan ditugaskan di Makassar.”

Alhamdulillah atas pengabulan doa-doa kami, ya Allah.

Oleh: Syafri Gunawan.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: