Saat ini sedang ramai-ramainya pendaftaran CPNS diberitakan. Tentang syaratnya yang banyak, tata cara pendaftarannya yang makin rumit, juga tentang kemungkinan adanya ‘jalur belakang’ alias ‘menyuap’.

Selalu ramai diperbincangkan tentang ‘jalur belakang’ itu saat pendaftaran CPNS seperti saat ini. Bahkan bisa jadi, banyak yang beranggapan, orang yang saat ini berprofesi sebagai PNS dulunya menempuh ‘jalur belakang’ saat mendaftar CPNS. Duh!

Hal ini tak dapat disalahkan sepenuhnya. Pada kenyataannya, hal itu memang ada. Diperparah dengan PNS yang saat ini bekerja di kantor-kantor pemerintah juga banyak disoroti. Mereka mendapat sorotan karena etos kerjanya kurang bagus, kurang disiplin, dan sederet tudingan buruk lainnya. 

Sedih juga sebenarnya mengetahui kondisi ini. Ingin sekali berteriak, tak semua PNS seperti itu. Masih banyak PNS jujur yang bekerja sepenuh hati dengan dedikasi dan pengabdiannya yang sedemikian tinggi, bahkan meraih berbagai prestasi.

Andai saja mereka tahu jalan panjang yang kutempuh hingga menjadi PNS, belum tentu mereka bisa menjalaninya.  

***

Aku dibesarkan dalam lingkungan yang kental dengan dunia pendidikan. Bapak berprofesi sebagai guru PNS yang mendapat tugas tambahan sebagai Kepala di sebuah SD swasta. PNS yang diperbantukan istilahnya. Inilah yang membuatku sejak kecil ingin mengikuti jejak bapak.

Ya, aku kecil bercita-cita menjadi seorang guru. Cita-cita yang bisa dibilang sangat sederhana. Tak banyak anak yang bercita-cita menjadi guru saat itu. Mungkin karena melihat kehidupan kebanyakan guru sangat sederhana. Selepas SMA, dengan mantap aku melanjutkan kuliah di IKIP Malang yang saat itu dalam proses menjadi Universitas Negeri Malang. Aku memilih jurusan Biologi.

Semenjak menjadi mahasiswa baru, aku berinisiatif mengajukan beasiswa di kampus. Saat itu memang ada pengumuman di fakultas bahwa dibuka pendaftaran untuk beasiswa pengganti. Beasiswa pengganti ini sebenarnya diberikan bagi kakak tingkat, namun yang bersangkutan telah mengurus yudisium alias kelulusan. Jadi, beasiswanya dialihkan ke mahasiswa baru.

Beberapa minggu setelah pengajuan, muncul pengumuman yang ditempel di papan pengumuman fakultas. Namaku ada dalam deretan mahasiswa penerima beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Dosen Penasehat Akademikku menyampaikan bahwa beasiswa itu bisa diperpanjang setiap semesternya, dengan catatan IP yang didapat harus stabil.

Syukurku tak terkira. Walau aku tak bisa kuliah sambil bekerja, setidaknya aku bisa meringankan beban orangtua dengan beasiswa itu. Pada semester akhir, beasiswa PPA tak dapat diperpanjang. Oleh pihak kampus, beberapa mahasiswa (termasuk aku) diajukan menjadi penerima TID (Tunjangan Ikatan Dinas).

TID ini merupakan beasiswa khusus. Setelah lulus, alumni penerima TID mendapat kesempatan untuk menjadi PNS tanpa tes. Begitulah biasanya yang terjadi pada alumni penerima TID.  

Setelah aku lulus kuliah, harusnya pemberkasan sebagai alumni penerima TID bisa segera diurus untuk diproses pengangkatannya sebagai CPNS. Kami telah menyiapkan berkas-berkas untuk pengangkatan tersebut. Namun, pada saat itu ada kebijakan baru otonomi daerah.

Kebijakan otonomi daerah yang mencuat saat itu (mulai tahun 2000) berakibat pada kewenangan pengangkatan pegawai negeri. Kewenangan pengangkatan pegawai yang tadinya dipegang oleh pemerintah pusat berpindah ke daerah. Ini berarti bahwa proses pengangkatan pegawai melalui TID pun harus menyesuaikan.

Saat menanyakan ke pihak kampus, dijelaskan bahwa pihak kampus akan tetap mengirimkan data dan berkas-berkas alumni penerima TID ke pusat (Depdiknas). Lalu pihak pusat akan mengirimkan usulan ke masing-masing daerah asal mahasiswa. Mengenai keputusan pengangkatannya tergantung pada pemerintah daerah. 

Pupuslah sudah harapanku untuk segera diproses menjadi CPNS. Walau ada kemungkinan pemerintah daerah memerhatikan, namun aku merasa kemungkinan ini sangat kecil. Mengingat bahwa yang memberikan TID adalah pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah. Adakah yang tahu rasanya di PHP-in? Seperti itulah yang kurasakan saat itu.   

Namun hal ini tidak menyurutkan langkahku untuk menjadi guru. Keinginanku menjadi guru bukan semata-mata mencari pundi-pundi rupiah, tapi lebih dari itu aku ingin menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Menjadi guru kuanggap sebagai sebuah profesi yang sangat erat dengan berbagi, yaitu berbagi ilmu dengan sesama. Aku tekadkan untuk tetap menjalani profesi guru walau harus diawali sebagai tenaga honorer.

Singkat cerita, aku segera pergi ke sekolah-sekolah untuk mengirimkan lamaran. Surat lamaranku diterima dengan baik di salah satu SMAN. Suatu hari aku dipanggil dan diwawancarai. Selain mengajar, ditanyakan juga keahlian apa yang kupunya. Kusampaikan bahwa saat kuliah aku juga aktif berorganisasi di beberapa UKM kampus, salah satunya di KSR PMI, sehingga bisa menjadi pelatih atau pembina ekstrakurikuler PMR.

Seminggu kemudian aku diminta menghadap kepala sekolah dan saat itu aku dinyatakan diterima sebagai guru. Selain itu juga diberi tugas tambahan untuk membina ekstrakurikuler PMR.

Alhamdulillah, keinginanku menjadi guru sudah tampak di depan mata. Aku berjanji untuk bersungguh-sungguh walau masih berstatus sebagai tenaga honorer/guru tidak tetap. Mulailah aku berinteraksi dengan murid-murid dan aku langsung jatuh cinta pada profesi ini.

***

Jika saat itu aku hanya melihat dari honor sebagai GTT yang sangat kecil, tentu tak kan sanggup bertahan menjadi guru. Namun kukuatkan tekad untuk tak menyerah, karena aku sudah meniatkan hidupku untuk mengabdi sebagai guru. Betapa pun rendah gajinya, aku teramat mencintai profesiku dan aku akan tetap bertahan.

Dalam perjalanan dua tahun mengajar, ada pendaftaran sebagai guru bantu, bukan CPNS. Saat itu keuangan pemerintah sedang kurang baik, sehingga penerimaan CPNS ditiadakan. Sebagai gantinya, diadakan penerimaan sebagai guru bantu. Guru bantu ini mirip dengan pegawai kontrak, digaji oleh pemerintah, namun tidak sebesar CPNS dan tidak berhak mendapat pensiun.

Ya sudahlah, kutempuh jalan ini melalui tes. Tesnya mirip tes CPNS. Singkat cerita, aku diterima sebagai guru bantu.

Sekian tahun kujalani hingga aku menikah dan memiliki anak. Setelah sekian tahun berjalan, pemerintah berencana mengangkat guru bantu menjadi CPNS. Hal ini didasarkan bahwa guru bantu juga sudah menjalani tes seperti layaknya CPNS.

Proses itu dilakukan secara bertahap. Dimulai dari guru yang berusia di atas 35 tahun terlebih dahulu. Saat itu usiaku belum ada 30 tahun, jadilah aku diproses paling belakangan.

Ketika gaji sudah dihentikan dari pemerintah pusat, dan pemberkasan sebagai CPNS masih dalam proses, di situlah timbul masalah. Pemerintah pusat sudah tidak memberikan gaji, pemerintah daerah pun belum mengangkat kami sebagai CPNS.

Status kami menjadi tidak jelas. Benar-benar tidak jelas. Saat itu aku merasa di PHP-in untuk kedua kalinya oleh pemerintah. Aturan terus saja mengalami perubahan tanpa tahu pelaksanaannya di daerah itu seperti apa. Allah, aku serasa diuji lagi.

Seakan Allah bicara padaku, “Masihkah kau bertahan untuk menjadi guru?”

Sebulan, dua bulan tanpa gaji. Aku masih berharap semua akan segera terselesaikan. Bulan ketiga, rasanya sudah mau berontak, namun aku sadar, ini ujian. Kukuatkan untuk bertahan. Aku dan teman-teman senasib mencoba menghadap pimpinan sekolah agar mendapat kebijakan yang diharapkan. Namun pihak sekolah tak dapat berbuat apa-apa.

Kami memang bukan GTT lagi dan tak berhak mendapat honor dari sekolah. Betapa pahit rasanya. Kerja kami tak dibayar. Tak hanya satu bulan, tapi ini sudah memasuki bulan keempat!

Bulan berganti dan status pun tetap tidak jelas. Aku mulai kehilangan semangat mengajar. Ingin berteriak saja rasanya untuk menumpahkan kekesalan. Kapan ini akan berakhir? Kapan kami mendapat SK? Pihak pemerintah daerah pun tak dapat menjawab.

Sungguh kami merasa dipermainkan. Entahlah apa yang terjadi dalam pemrosesan pengangkatan kami ini. Jawaban pemerintah daerah bersifat diplomatis saja, tak memuaskan. Kami tetap mengajar di kelas, namun tak menerima gaji. Jika ini terjadi pada kalian, masih sanggupkah bertahan? Sungguh, hanya mereka yang benar-benar ingin mengabdikan diri menjadi gurulah yang masih mampu untuk bertahan.  

Kami harus memutar otak agar dapur tetap mengepul. Agar susu anak tetap terbeli. Hal ini terus berjalan hingga bulan kelima, enam bahkan bulan ketujuh. Pada bulan kedelapan, barulah kami bisa bernapas lega, menerima SK dan sekaligus gaji kami. Allahu Akbar, inilah buah dari kesabaran kami.  

Oleh: Fithriyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: