Mau Cinta Seharga Coklat atau Akad?

Hari ini, 14 Februari 2018.

Ya ampun, Ukh. Kalau tidak karena mendapat bingkisan yang tiba-tiba ada di laci meja kerjaku, aku tidak akan ingat ini tanggal berapa. Ada sebatang mawar merah, sebungkus coklat yang ukurannya cukup besar ditambah dengan sebuah amplop berwarna merah muda. Kubuka amplop dan menemukan tulisan ‘Happy Valentine Day’, di bawahnya dibubuhi tandatangan seseorang.

Ternyata, setelah kutanya pada teman-teman kantor, bingkisan itu diberikan oleh seorang mahasiswa magang. Jujur, menurutku dia berwajah tampan–meskipun sedikit genit—dan untuk ukuran anak magang, kerjanya oke. Tapi Ukhti, aku sebetulnya tidak bangga dengan itu, malah rasanya sedikit kesal. Ukhti cantik, please jangan mau deh kalau dikasih mawar dan coklat! Nih, aku curhatin sedikit ya.

Apakah kasih sayang hanya terbatas kepada lawan jenis?

Kalau valentine dianggap sebagai hari kasih sayang, kok ya hanya mereka yang mengaku pasangan saja yang merayakannya? Coba, kutanya kalau demikian itu nafsu apa kasih sayang?

Islam, sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin ini kan mengajarkan bahwa yang disebut kasih sayang adalah perasaan yang tidak terbatas. Kasih sayang bagi seluruh alam. Jadi sudah jelas dong, bahwa kalau kamu mengasihi tentulah bukan sebetas untuk seseorang melainkan juga semua manusia, alam, hewan juga tumbuhan. Itu baru namanya bukan nafsu. Nah, pernah kepikiran juga untuk memberi makan kucing liar?

Bersedekah di saat merasa kekurangan? Atau sepele saja deh, pernah menyingkirkan batu di jalan raya supaya tidak mengganggu perjalanan orang lain yang bahkan tidak dikenal? Hallo, Islam ini memberi banyak peluang menunjukkan kasih sayang. Kok ya masih saja klise, nggak kreatif bin ikut-ikutan.

Tapi aku kan, melakukan kebaikan spesial?

Satu alasan yang biasanya dijadikan penguat untuk ikut-ikutan merayakan valentine. Katanya sih, berbuat kebaikan. Ya menurutku sih Ukh, ngapain ya harus nunggu setahun sekali untuk berbuat baik. Lha, sisanya ngapain?

Sayang banget nggak, sih? Masih ada 364 hari lain yang bahkan bisa selalu diisi untuk kebaikan-kebaikan lain. Terus, ngasihnya coklat? Kalau aku sih, bisa beli sendiri. Lagian coklat itu bukan barang langka, bahkan orang yang dirasa tidak spesial pun, kalau lagi baik dia juga mampu membelikan. Betul kan, Ukh?

Kita tahu, untuk mencari coklat dan bunga mawar itu mudah sekali. Coba bandingkan sama perjuangan menemui orangtua dan nembung, menyerahkan diri untuk jadi laki-laki yang menggantikan tanggung jawab seorang Ayah. Ah, ini lebih manis daripada coklat!

Beli coklat pakai uang jajan dari orangtua?

Ini lagi, bikin geregetan. Si mahasiswa magang yang ngasih bingkisan valentine buatku, masih belum bisa cari uang sendiri. Magang ini aja untuk syarat skripsi. Please jangan bangga deh, kalau ada cowok yang ngasih sesuatu ke kita tapi masih ngerepotin orangtuanya.

Bayangkan aja ya, orangtua susah, kerja banting tulang memenuhi kebutuhan, bayar biaya kuliah yang tiap tahun makin naik. Eh, kok dengan enaknya si anak bermewah-mewahan tanpa berpikir. Beruntung, aku sudah bekerja sekarang ini, kerasa banget bagaimana berharganya uang.

Tiap terima gaji udah kebayang kebutuhan, langsung hitung-hitungan sendiri. Nggak berani beli macam-macam ataupun hura-hura nggak jelas. Bisa-bisa belum datang waktu gajian selanjutnya, uang udah habis duluan. Makanya, coba dipikir baik-baik kalau mau bertindak dengan uang dari orangtua. Benar deh, cari uang nggak segampang itu.

Simbol kasih sayangnya coklat aja, nih?
Duh, ini yang bikin aku ngelus dada, Ukh. Kalau cinta atau kasih sayang itu dilambangkan dengan coklat dan sekuntum mawar artinya nggak tahan lama dong. Coklat mah tahun depan juga kedaluarsa. Kalau dimakan, bisa habis dalam waktu sesingkat-singkatnya. Terus kalau kena panas, gampang meleleh. Mawar juga layu, terus habis itu dibuang. Kalau disimpan juga buat apa, toh wanginya pudar. Setelah itu, beberapa hari ke depan udah lupa sama coklat dan mawarnya. Lucu nggak sih?

Apakah nilai tukar perempuan itu hanya sebatas coklat? Mending jangan mau dibawain mawar. Senanglah jika dibawakan mahar lalu ucap akad. Peristiwa sakral yang disaksikan malaikat dan ucap janji sekali tapi sangat mungkin kedaluarsanya tidak ada, sampai akhirat. Itu baru yang namanya cinta, Ukh.

Senang yang hanya sesaat

Kita bandingkan ya Ukh, antara coklat dan akad. Memang sih, rasanya menyenangkan mendapatkan hadiah atau bisa makan coklat secara gratis. Tapi itu kan, kesenangannya cuma sesaat aja, kalau sudah habis, ya sudah. Udah gitu, kesempatan untuk berbagi kebahagiaan karena diberi coklat itu, jauh lebih sedikit. Biasanya juga dimakan sendiri, kalau pun berbagi nggak akan bisa untuk banyak orang.

Sekarang, kalau akad nih, selain bisa membahagiakan kita dan pasangan, tentu orangtua ikut bahagia. Keluarga besar juga ikut berbahagia. Lebih mudah lagi untuk berbagi dengan lingkungan sekitar atau kerabat dengan menyediakan makanan saat walimah. Itu juga bagian dari menyenangkan hati orang lain, kan? Bisa jauh lebih banyak jumlah orang yang kita buat bahagia! Satu lagi yang nggak kalah penting kalau sudah akad, kita dengan pasangan bisa menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang setiap hari tanpa menunggu tanggal 14 Februari.

Gimana? Kalian setuju kan sama pendapatku? Perempuan itu lebih suka hal yang pasti-pasti aja deh. Ikatannya jelas dan halal. Makanya, tadi kukembalikan bingkisan dari si mahasiswa magang itu, Ukh. Aku tegaskan ke dia bahwa yang aku itu mau akad, bukan coklat. []

Oleh: Hapsari TM

Tinggalkan Balasan