Mau Tambah Pengalaman? Pergilah Merantau

Dulu … waktu kecil aku sering bersorak jika melihat pesawat terbang terlihat dari halaman rumah. Aku dan adik-adik pasti langsung berhamburan keluar sambil bernyanyi-nyanyi jika terdengar suara pesawat. Apalagi kalau begitu dekat. Wah, seperti ada tontonan gratis. Sampai-sampai aku bercita-cita ingin jadi pramugari. Tentu agar bisa naik pesawat. Aneh, ya?

Tak hanya pesawat, kereta api pun juga mengusikku. Gemuruh mesinnya sangat mengganggu telinga. Tapi aku suka melihatnya. Bentuknya yang panjang dan suara yang khas begitu menarik perhatian.

“Ndik, kapan ya kita bisa naik kereta api?” tanyaku pada adik pada suatu hari.

“Iya, Mbak, aku kepingin.”

“Tapi kita gak punya saudara di kota. Kita orang gak punya. Tapi Mbak yakin, suatu saat nanti pasti bisa kesampaian. Bisa naik pesawat, bisa naik kereta api. Iya, suatu hari.”

“Mudah-mudahan saja ya, Mbak.”

Aku pun mengangguk. Walaupun tidak tahu kapan keinginan yang sederhana ini bisa terwujud.

Setiap lebaran tiba, aku selalu melihat tetangga-tetangga penuh dengan keramaian. Anak-anak mereka yang di kota pulang semua. Ada yang bawa mobil, ada yang naik bus, ada juga yang naik kereta api. Senangnya. Rumahku? Tentu tidak ada yang pulang. Anak pertamanya saja masih sekolah.

***

Tak terasa aku sudah lulus SMA. Waktu yang begitu panjang adalah selama sekolah. Keinginan yang menggebu untuk bisa mencari uang sendiri pun akan segera terlaksana. Aku harus mandiri.

Akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan masa kecil. Perantauan selama dua tahun di tanah seberang yang penuh dengan cerita. Bekerja di kilang Panasonic, Johor. Memang gajinya lumayan. Tapi tekanan demi tekanan membuatku pulang setelah masa kontrak selesai.

Aku masih ingin merantau lagi. Keadaan sebagai anak pertama membuatku tidak nyaman jika di rumah terus. Terkadang mendengar bisikan tetangga, kenapa belum kerja lagi? Rencana mau ke mana? Dan pertanyaan lain. Mungkin ada benarnya juga. Anak semestinya bekerja, bisa membantu orang tua.

Setelah 40 hari di rumah, aku berangkat ke Batam. Tentu dengan pesawat lagi. Di sana menjadi karyawan PT Unisem selama 2 tahun. Lagi-lagi, aku ingin keluar. Iya, aku memutuskan bertahan di Batam, sementara teman serekrut pulang ke Jawa. “Maafkan anakmu ini ya, Mak. Suatu hari nanti pasti pulang,” ucapku dalam hati.

Karena tak punya tempat tinggal, aku minta izin untuk tinggal di pondok Yanbua. Ya sambil mengaji, mudah-mudahan hati menjadi lebih tenang. Sambil berpikir ke mana lagi aku mencari lowongan kerja.

Tak disangka, Mbak Septa menelponku. Beliau mengatakan jika ada toko di Panbil Mall sedang membutuhkan karyawati. Aku disuruh cepat-cepat ke sana.

Setelah bertemu dengan karyawan lama, Mbak Lia … kami berbincang-bincang. Banyak hal yang dibahas.

“Tunggu kabarnya besok, ya, Mbak. Saya akan bicarakan dulu dengan Pak Imam di Jakarta,” kata Mbak Lia.

Esoknya Mbak Lia mengabarkan jika aku diterima. Alhamdulillah. Ini yang aku inginkan. Bekerja separuh waktu. Sehingga lebih mudah mengatur jadwal belajar.

Rezeki memang tidak bisa diduga. Setahun bekerja di sana, aku diikutkan acara IBF di Jakarta. Selain mendapat ongkos, Pak Imam memberi kesempatan untuk pulang juga.

Sewaktu berangkat ke Purworejo, aku naik bus. Dan kembali ke Jakarta naik kereta api. Malahan bersamaan dengan Pak Imam yang baru saja dari Brebes. Semua barang bawaan dari Mamak dibantu beliau. Bahkan diantar sampai ke toko pusat. Alhamdulillah.

Terima kasih Ya Allah.

Oleh: Tim Trenlis.co.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan